Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 109


__ADS_3

Nehan POV


"Kamu sudah menemui ibumu?" tanya bapak.


Kami sedang berbincang di apartemen tempatku tinggal. Aku tadi menelepon beliau.


"Ibuku? berhentilah menyebut dia ibuku pak!" hatiku tak mampu menerimanya. Mataku panas menahan embun yang hampir menetes.


Bapak menghela napas, "bagaimanapun dia yang merawatmu Han."


"Jangan memaksa Nehan untuk mengerti dan menerima dia sebagai ibuku, pak."


"Waktu itu aku masih kecil, tidak punya pilihan selain mengikuti takdirku."


"Lagipula bukan Ajeng yang merawatku tapi Mbok Nah. Dia tak pernah peduli pada Nehan. Wanita itu hanya memerintah dan meminta Nehan melakukan sesuatu, tapi tidak pernah memberi Nehan kasih sayang, bahkan induk kucing memelihara anaknya lebih baik dari Ajeng merawat Nehan."


Napasku memburu. Dulu aku tidak menyadari semua itu. Aku hanya menganggap ibu sibuk, tapi sekarang beda.


Bapak diam, tidak lagi membantah, "duduk Han, jangan bersikap kurang ajar pada orang tua."


Aku menurunkan tanganku yang tadi menunjuk-nunjuk bapak dan membanting tubuhku ke sofa.


"Sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan Han."


"Banyak yang ingin Han bicarakan sama bapak. Han butuh bapak untuk percaya, apapun yang Nehan lakukan nanti tujuannya baik dan tidak ingin melukai siapapun."


Bapak mengernyit, matanya penuh tanya, tapi kemudian beliau mengangguk.


"Sampaikan saja, kalaupun kamu ingin mendapatkan keadilan untuk ibumu, bapak tidak akan mencegahnya."


"Satu pinta bapak, bapak tahu kamu tidak bisa menyayangi Ajeng, meski begitu jangan sakiti wanita tua itu, karena dia yang selama ini mendampingi bapak dalam susah dan senang."


"Nehan tidak bisa menjanjikan itu pak!" jawabku dingin. Bapak kembali mendesah pasrah.


Aku mengawali ceritaku tentang Lita. Aku bilang kalau Sekar dengan sengaja ingin memperalat bayi kami untuk mengikatku. Tapi perawat yang dibayar malah ingin memiliki bayi kami untuk dirinya sendiri dan menukarnya dengan jasad bayi yang sudah mati.


Tangan bapak mengepal diatas paha. Aku tahu beliau menahan emosi.


"Sekarang dimana cucuku?"


"Nanti akan saya beritahu pak, tapi bapak harus berjanji untuk membantu Nehan mengungkap semuanya."


"Satu lagi bapak tidak boleh menceritakan semua ini pada Bu Ajeng."


Kesedihan terpancar lagi dengan jelas di wajah bapak. Amarah yang tadi sempat terpancar jadi redup karena tergantikan sedih yang entah karena apa.


"Berhentilah memanggil istri bapak dengan namanya. Tetaplah seperti dulu."


"Kalau bapak masih berputar pada masalah cara Nehan memanggil seseorang, sepertinya Nehan harus melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan bapak," tantangku.


"Baik, bapak mengalah, lanjutkan, ceritakan apa rencanamu."


Aku kembali fokus menjelaskan rencanaku, tapi sekadar pada bagian aku membutuhkan bapak terlibat di dalamnya.


"Sebentar lagi Nehan berencana akan menikahi Sekar Pak."


"Apa?"


"Kamu gila apa!"


"Bagaimana bisa kamu akan menikahi wanita yang tidak bertanggung jawab seperti itu?!"


"Jangan terkejut begitu pak."


"Nehan ingin bapak membantu dengan syarat harus tutup mulut dan mendukung Nehan tanpa tapi."


"Oke, bapak diam!"

__ADS_1


Selanjutnya bapak mendengarkan lagi tanpa komentar. Kepalanya menggut-manggut tanda mengerti. Meski aku tak mungkin menceritakan semuanya.


"Jadi tugas bapak menyiapkan semua perlengkapan pernikahan. Ingat, Nehan ingin menikah di tengah taman mawar milik bapak."


"Kapan bapak harus menyiapkan pernikahan kamu?"


"Secepatnya pak."


"Oke, akan bapak usahakan yang terbaik."


"Tugas bapak hanya menyiapkan tempat untuk beberapa tamu. Nehan tidak ingin ada undangan berlebihan, tidak perlu juga mengundang keluarga besar."


"Meskipun bapak sedikit bingung tapi bapak akan mengikuti apa maumu."


"Untuk menyiapkan Sekar, bapak akan memberitahu ibumu."


Aku menggeleng, "jangan minta ibu melakukan apapun pak."


"Biar kami sendiri yang menyiapkan lainnya."


Bisa kacau dunia perencanaan kalau Mak lampir itu ikut campur.


H-5


"Hari ini kita belanja baju kan mas?"


Tangan Sekar memelukku erat. Kami sedang berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Aku terpaksa menjemput Sekar di rumah yang dia tempati karena dia tidak mau aku ajak bertemu di luar.


"Kamu yakin mau beli baju lagi. Kebaya yang waktu itu kita pakai pas akad nikah kan masih bagus."


"Nggak mau, baju itu menyimpan kenangan buruk, aku nggak mau sial karena memakainya lagi nanti."


Terserah apa katamu lah. Aku akan menuruti semua maumu.


"Yah sudah terserah, aku ikut saja kamu maunya apa," jawabku santai.


Aku meringis lalu berjalan memutar untuk masuk ke sisi kemudi.


"Kearah mana kita?" tanyaku, mobil mulai melaju keluar halaman rumah.


"Ke butik langganan aku aja. Barangnya bagus, aku cocok sama baju-baju disana."


"Kamu bisa sekalian pilih jas yang pas."


Aku melirik sedikit, "aku tak perlu beli baru, jasku masih banyak."


"Tapi kali ini aku pengennya nuansa silver."


"Kan bagus kalau kamu pakai jas warna silver."


Warna silver? Yuni bisa menertawaiku sampai ngompol. Lagi pula aku dan silver? nggak banget.


"Nggak ah, aku pakai hitam saja. Kamu pilih baju atau kebaya yang warnanya putih. Seperti pengantin pada umumnya."


Sekar cemberut, "gimana sih, terus apa bedanya pernikahan pertama kita sama pernikahan kita yang kedua ini. Aku tetap nggak bisa menentukan apapun."


"Yang biasa saja!" Sekar menirukan caraku bicara, "pakai yang warna putih saja, seperti pengantin umumnya."


"Mending kita nggak usah nikah lagi aja sekalian, kamu nggak niat."


Aku tersenyum, "kalau nggak mau ya nggak apa-apa, aku nggak maksa kok."


Dia menghadap padaku dan melotot, tangannya diletakkan di pinggang, "nggak, aku ngalah saja yang penting kita nikah," suaranya terdengar memelas di kupingku.


"Nah, gitu dong, good girl," aku mengacak rambutnya yang terurai.


Sesampainya di butik yang dituju ternyata apa yang diomongkan tidak sesuai dengan yang aku pikirkan. Tadi waktu dia tadi bilang mengalah, aku pikir dia akan mengalah dalam arti yang sebenarnya. Memilih satu baju sudah, tapi nyatanya hampir semua gaun pengantin yang ada dia coba.

__ADS_1


Apa-apaan ini, waktuku habis hanya untuk melakukan hal yang tak berguna begini.


Ting, satu pesan masuk. Grup Neraka Dunia.


Yuni


Lagi ngapain kamu, kesempatan berduaan terus, pakai alasan nyiapin acara pernikahan abal-abal.


Apaan ini anak, tiba-tiba kirim pesan nadanya kayak marah gini? atau Yuni cemburu? Aku memukul kepalaku, pikiran gila.


Rumi


Dari tadi dia gitu mas. Ngomel terus takut kamu terhanyut. Mulai kemarin kamu nggak laporan katanya.


Idih memang dia komandanku apa, disuruh laporan segala.


Aku


Ya sudah ini lapor, lagi di butik belanja baju buat nikahan.


Yuni


Ih, nggak mau tahu. Nggak butuh laporan.


Lah malah marah gimana sih?!


"Mas," aku terkejut melihat Sekar yang tiba-tiba berjalan ke arahku. Dia pasti jengkel, melihat aku dari tadi sibuk memegang hape.


Karena gugup aku bergegas membalik ponselku dan kuletakkan diatas meja.


"Dari tadi lihat hape terus, lihat aku yang lagi nyobain baju dong," Sekar menempelkan dadanya tepat di lenganku, membuat aku berdehem untuk menghilangkan kegugupan dan hawa panas yang tiba-tiba menyergap.


Bagaimanapun aku adalah laki-laki normal. Ada yang empuk nempel begini yang lain jadi mengeras. Dengan halus aku menjauhkan tubuhku.


"Mbak Sekar, ayo sini barangkali mau melihat koleksi kita yang lain," dari jauh pegawai butik melambaikan tangannya memanggil Sekar.


"Itu dipanggil mbaknya," untung...untung, aku bernapas lega.


Samar-samar aku mendengar suara dari bawah. Beberapa orang sedang berbincang. Sepertinya dari ponselku.


Benar saja, aku tadi salah sentuh. Ternyata aku menyentuh ikon telepon grup yang membuat Yuni berteriak, sedangkan Juna dan Rumi tertawa terbahak.


"Woi, Raden mas edan. Sialan kamu, ngapain kamu pakai telepon grup segala, biar kita tahu kamu lagi berduaan sama perempuan kurang garuk itu?!"


"Hahaha..." Rumi tertawa keras.


"Sepertinya Nehan nggak sadar dia pencet tombol telepon grup."


Kali ini Juna yang bicara.


"Maap nggak sengaja," sahutku.


"Siapa telepon mas?!" Sekar bertanya dari tempatnya berdiri, tapi tentu saja masih terdengar di telepon.


Yuni menyahut lagi, "waduh...mesra bener suara mbak Kunti. Siap-siap aja nanti waktu hari H ketemu sama kita-kita, aku buat nangis darah itu perempuan."


"Siapa sih mas yang telepon?" teriak Sekar lagi.


"Woi, jawab itu, sudah kaya orang selingkuh aja kamu!" masih Yuni juga yang bicara. Aku jadi heran kemana Rumi?


"Bukan siapa-siapa," jawabku akhirnya sambil mematikan telepon.


Kenapa sih perempuan gila itu. Sepertinya dia semangat sekali menghujat. Sampai segitu bencinya Yuni sama aku. Dia nyadar nggak sih kalau batas antara cinta dan benci itu hanya setebal sehelai benang. Jangan-jangan dia suka sama aku?!


Ih... amit-amit, jangan sampai. Aku bisa kurus kering kalau sampai berjodoh sama dia.


...***...

__ADS_1


"


__ADS_2