
Mas Han benar-benar menjemputku pada hari yang dijanjikan. Dia pandai benar bersiasat untuk bisa mengajakku. Di depanku sekarang duduk bapak dengan senyum wibawanya.
"Bapak kesini mau mengajakmu pulang Rum," aku hanya menundukkan kepala.
Ibu sibuk menyiapkan suguhan karena Mas Han tidak memberitahu kalau bapak juga ikut menjemputku.
"Rumi masih butuh istirahat pak, kondisi Rumi kadang masih lemah," jawabku yang sepertinya tidak mampu memberi alibi yang kuat.
"Monggo Jeng silahkan duduk, ada besan kok mumet ke dapur terus toh, ada yang ingin saya bicarakan."
"Mbok, tolong dibereskan yang di dapur ya," bisik ibu sebelum akhirnya ibu ikut duduk bergabung dengan kami.
"Ada apa kang mas besan, sampai jemput Rumi segala disini," Mas Han menunduk dalam, tidak biasanya dia seperti itu.
"Begini jeng, ada yang harus saya ceritakan terlebih dulu sebelum saya—untuk kedua kalinya meminta ijin membawa Rumi untuk saya jadikan anak lagi. Tapi kalau tidak diijinkan, saya tidak akan memaksa."
"Sebentar...sebentar, saya kok dengernya agak gimana gitu, memangnya ada apa ya kang mas," aku berdebar, aku takut apa yang akan diceritakan bapak membuat keadaan yang aku sembunyikan dari ibu terbongkar.
"Begini jeng, ceritanya panjang," aku melirik mas Han yang makin menundukkan kepalanya, "intinya Si Han ini melakukan sesuatu tapi karena keinginan ibunya, saya pikir selama ini dia sudah cerita sama jenengan, tapi setelah saya tanya terus ternyata dia belum cerita apa-apa."
Ibu melongong, aku tahu dia terkejut, Mbok Nah yang sebelumnya berdiri di belakangku perlahan menyingkir—aku kira dia menuju dapur.
"Melakukan apa ya kang mas, perasaan saya jadi ndak enak ini, apa ini ada hubungannya sama Rumi?"
Aku merasakan bapak memang benar akan menceritakan semuanya, yang aku tidak tahu sampai batas apa bapak akan bercerita.
"Pak, sebaiknya kita bicara dulu, ibu belum___"
"Sik Rum kowe menengo."
[sebentar Rum, lebih baik kamu diam].
ibu menggerakkan tangannya di depan mukaku dan meminta aku untuk diam, tapi pandangannya lurus ke arah bapak.
Aku segera menutup mulutku, sama seperti yang dilakukan Mas Han aku menunduk pasrah.
"Apa yang dilakukan Nehan, kang mas?"
__ADS_1
"Begini jeng, bukan Nehan yang ingin, tapi ibunya, dia...minta Nehan untuk menikah lagi," bapak tidak diberi kesempatan oleh ibu untuk menjelaskan, mata ibu langsung beralih pada Mas Han.
Wajah ibu merah, matanya terbuka lebih lebar dari ketika waktu itu aku tiba-tiba minta menikah dengan Mas Han, "Han jelaskan pada ibu!"
"Maafkan Nehan Bu," masih dengan kepala menunduk.
"Jelaskan sama ibu!!" teriakan ibu sampai terdengar keluar rumah, dari ruang tamu aku bisa melihat tetangga yang sedang lewat menengok ke arah rumah kami karena teriakan ibu.
"Jelaskan sama ibu, Han!" ibu mengulang lagi permintaannya, tapi kali ini dengan suara lebih rendah.
"Bukan Nehan yang mau Bu, Nehan inginnya setia, tapi karena Rumi tidak bisa punya anak, jadi ibu minta Nehan menikah lagi."
Masih dengan suara ditekan, ibu kembali bicara, "apapun keinginan ibumu, kamu bisa menolak, kamu masih ingat syarat utama yang ibu minta darimu? JANGAN pernah sakiti anak ibu!!!" kembali ibu meninggikan suaranya dan memberi tekanan pada kata jangan.
"Nehan sudah menolak Bu, tapi Rumi yang minta Nehan untuk menikah lagi, seandainya Rumi bisa hamil semua ini tidak akan terjadi Bu."
Mata ibu mulai memerah, aku melirik tangan ibu yang mengepal, rahang ibu mengeras, "kamu sendiri yang bilang kalau Rumi sedang hamil beberapa bulan yang lalu!" aku tahu ibu sedang menahan emosinya sekarang.
"Apa?!" tangan bapak menyentuh lengan mas Han, "benar Rumi hamil Han?"
"Plakk!!" satu tamparan keras melayang ke pipi suamiku.
"Mas...," aku mendekati mas Han, "tolong pak jangan pakai kekerasan," pintaku pada bapak, ternyata aku masih tidak tega kalau Mas Han dianiaya begini.
Ibu mengambil penggaris kayu panjang kemudian memukul punggung Mas Han berkali-kali, "bhug...bhug, kamu membohongi ibu Han...bagaimana kamu bisa melakukan itu Han!" suara gedebug terus terdengar setiap penggaris panjang kayu milik ibu menyentuh tubuh Mas Nehan.
"Sudah Bu...sudah, Rumi juga salah, harusnya Rumi cerita samua ke ibu, bukannya diam-diam dan terus melarikan diri, sudah Bu, tolong...huhuhu," aku menangis sejadinya.
Ibu baru berhenti ketika penggaris kayu berbunyi "krak..." dengan keras dan darah mengucur dari pelipis Mas Han. Bapak hanya melihat dalam diam, mengepalkan telapak tangannya menahan pegangan kursi.
"Kamu tahu tidak Han, ibu bersyukur karena kebohongan mu Allah berbaik hati dan membiarkan Rumi benar-benar hamil," napas ibu masih terengah karena lelah dan amarah.
"Apa Bu?!" Mas Han mengalihkan pandangannya dan melihatku, "kamu hamil Rum?" aku tidak menjawab tapi memegang perutku erat-erat, aku masih terus menangis.
Aku melirik bapak, matanya berkaca-kaca, berdiri, mendekatiku dan memelukku erat, "selamat Rum...selamat nak, bapak ikut bahagia buat kamu."
Aku sesenggukan dalam pelukan bapak. Tangan bapak yang hangat membelai punggungku berkali-kali, "semoga kamu sehat selalu anakku," ada sesuatu yang hangat menetes di pundakku.
__ADS_1
Mas Han masih dalam posisi bersimpuh, dia tidak bergerak, darah mengucur membasahi pipi, dahi dan matanya, tapi dia tidak bergerak. Ibu masih berdiri sambil membawa penggaris kayu yang retak dan memunculkan guratan.
Mungkin Mas Han butuh waktu untuk mencerna perkataan ibu, setelah sadar dia beru bergerak dengan lututnya dan mencium punggung kaki ibuku, "maafkan Nehan Bu, Nehan janji akan memperlakukan Rumi dengan baik, biarkan Rumi pulang sekarang sama Nehan, Nehan masih mencintai Rumi Bu..."
"Bukan aku yang menjalani, kamu mohon ampun sama Rumi, ibu tidak tahu apa kesalahanmu yang sangat fatal hingga membuat Rumi melarikan diri, karena ibu tahu, anak ibu tak semudah itu untuk pergi melarikan diri."
Ibu melemparkan penggaris pecah ke atas meja, sekali lagi terdengar suara "krak" yang nyaring, akhirnya penggaris itu benar-benar patah jadi dua.
Mas Han segera berdiri, berjalan cepat mendekatiku, berusaha memegang perutku, tapi aku mengambil beberapa langkah mundur, "jangan dekati aku dulu mas."
"Aku ingin memelukmu Rum, aku mencintaimu," semakin Mas Han mendekat semakin aku berjalan menjauh.
"Kamu terlalu sering membohongiku Mas."
"Baik...baik! aku akan jujur, aku sudah menikahi Sekar, bagaimanapun dia juga istriku, aku harus adil membagi waktu tapi aku takut menyakitimu."
Aku terisak, "hiks...hiks, alasan!...aku sudah bilang berkali-kali jangan pernah membohongiku, aku sudah bilang kan mas!!"
"Tapi kamu tetap memilih berbohong mas, kamu pikir aku tidak tahu, kamu mencium Sekar dengan mesra di rumah sakit, kamu bersembunyi di belakang banner ketika melihat Pak Dul lewat, aku tahu semua, tapi kamu tetap memilih untuk berbohong!!" teriakku keras, ugh...aku merasakan tarikan sangat kuat di perutku...sakit.
Mas Han kembali bersimpuh, kali ini di depan kakiku, "aku minta maaf Rum, aku bodoh, aku tidak tahu kalau sikapku menyakitimu, aku akan jujur mulai sekarang, aku akan membagi waktuku dengan adil, beri aku kesempatan Rum."
Aku memejamkan mata, tarikan dalam perutku makin kuat, perutku kram lagi, aku berusaha meraih sandaran kursi agar tidak terjatuh. Bukannya aku tidak memaafkanmu mas, tapi aku butuh waktu.
"Bapak, perut Rumi sakit."
"Rum," bapak menangkap tubuhku, "jeng...Nah...Dul, bantu saya."
Mas Han mendekat dan berusaha menggantikan bapak memapah tubuhku, "biarkan aku sendiri dulu mas, kalau kamu memang benar sayang sama aku dan bayi yang ada dalam kandunganku, beri aku waktu___akh...pak sakit."
Semua orang mengerubuti aku. Sekilas aku sempat melihat ibu mendorong Mas Han menjauh, "jangan dekati Rumi dulu," wajah ibu sangat dingin waktu mengatakannya.
Bapak dan Pak Dul membopongku menuju mobil, kami bergegas menuju rumah sakit terdekat dan bukan ke bidan desa yang biasa aku kunjungi. Bapak tidak mau mengambil resiko, beliau ingin yang terbaik untuk cucunya.
Selama dalam perjalanan, kepalaku di rebahkan diatas pangkuan ibu, sakit perutku belum mau mereda, aku jadi ingat mimpiku waktu itu, kali ini aku yang memohon, "sayang, jangan tinggalkan bunda," ucapku perlahan diantara derai air mataku yang tak mau berhenti.
...***'...
__ADS_1