Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 85


__ADS_3

Wah, plakat panti sudah dipasang di depan gedung. Nama "Harapan Bunda" tertulis besar-besar disitu. Semoga panti ini bisa membantu banyak orang nantinya.


"Ayo masuk," Yuni menepuk pundakku dari belakang.


"Hmmm," aku mengangguk dan mengikuti langkah Yuni.


Mas Juna benar-benar pandai mengatur dan mengamankan bagian gedung panti yang sudah jadi dari bagian gedung lainnya yang masih dalam proses pengerjaan. Kalau seperti ini, aku jadi merasa aman. Sekarang prosesnya sedang melanjutkan membangun gedung sekolah. Semoga bisa selesai tepat waktu, jadi ketika tahun ajaran baru, sekolah bisa langsung difungsikan.


Di halaman juga disediakan spot parkir khusus untuk pegawai. Aku lihat sudah ada mobil dan beberapa motor terparkir disitu.


"Sudah ada karyawan yang masuk Yun?" tanyaku.


"Pastilah sudah ada, supaya kita bisa langsung beroperasi. Sesuai rencana, besok kita undang tetangga kanan kiri dan pejabat setempat buat pembukaan panti. Biar orang sekitar tahu apa fungsi panti ini. Jadi kalau ada keluarga atau orang terdekat mereka butuh bantuan, bisa langsung dibawa kemari."


Sampai dalam ruangan, aku disambut senyum hangat Pak Dul.


"Pak Dul...," senyumku merekah, senang sekali rasanya bertemu lagi dengan laki-laki setengah baya ini, "Pak Dul bagaimana kabarnya," aku menghampiri kemudian menyalami erat tangan hangat yang selalu ada waktu aku terpuruk dalam keluarga Mas Han.


"Baik Ndoro Putri," aku mengangguk. Biarkan saja dulu, nanti kalau sudah sempat ngobrol, aku juga akan memintanya untuk mengganti panggilannya padaku.


Selain Pak Dul ternyata juga sudah berkumpul beberapa karyawan yang lain. Menilik dari seragamnya, sudah ada dua sekuriti, dua perawat, dan dua orang tanpa seragam. Aku menyalami mereka satu persatu.


Setelah duduk di tempatku, kami melakukan sedikit perkenalan dan berkoordinasi dengan berbagai macam tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing orang. Karena aku tidak suka basa-basi dan berpanjang kata, urusan perkenalan selesai dengan cepat.


Agenda selanjutnya adalah menunjukkan setiap bagian dari gedung panti dimana mereka selanjutnya akan bekerja.


"Jadi nanti akan beberapa bagian dari panti ini yang harus kalian tahu," aku menjelaskan sambil kami berjalan berkeliling.


"Kita lihat dulu kamar-kamar yang akan dipakai untuk tempat tinggal penghuni panti nantinya."


Karena seminggu ini aku istirahat di rumah. Sedikit terkejut juga melihat suasana kamar yang nyaman untuk dijadikan ruang perawatan bayi. Dinding dicat warna biru muda, beberapa jendela besar yang bisa dibuka tutup untuk mendapatkan udara segar, juga disediakan pendingin ruangan jika membuka jendela tidak mungkin dilakukan.


"Ini ruangan yang akan kita pakai untuk merawat bayi. Semua fasilitas sudah lengkap disesuaikan dengan kebutuhan perawatan sampai dua puluh empat bulan."


Kemudian kami berpindah ke ruangan lain, "kalau yang ini ruangan untuk anak-anak usia balita. Nanti juga ada ruang bermain khusus buat anak-anak balita."


Kami melanjutkan tour ke ruang yang lain, "yang ini ruang untuk anak-anak, untuk ruang anak-anak dan remaja dipisahkan antara laki-laki dan perempuan."


"Ruangan yang lain ada dapur, ruang pertemuan, ruang TV dan perpustakaan."


"Bagaimana, untuk ruang kerja sudah jelas bukan? apa ada yang ingin ditanyakan?"


"Ah, iya, yang tak kalah penting adalah ruangan untuk karyawan jika ingin istirahat."


Aku berjalan lagi mengajak seluruh karyawan menuju salah satu ruangan yang akan mereka gunakan untuk beristirahat selama jam kerja.


"Nah, ini ruangan untuk kalian istirahat jika lelah waktu jam kerja, semoga bisa memberi rasa nyaman, ya," aku senang melihat semua calon karyawan tersenyum.


Untuk ruang istirahat karyawan dibedakan berdasarkan gender dan tugasnya di panti. Tingkat kenyamanannya juga disesuaikan dengan fungsi dan tugas yang dikerjakan.


"Bagaimana, kita sudah mengunjungi tiap-tiap ruangan," kami berhenti di salah satu lorong, "saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik, meskipun tugas kita ini nanti cenderung tugas sosial, tapi kalian akan mendapatkan gaji yang layak dan kesejahteraan kalian akan terjamin."


Selama aku melakukan touring dengan karyawan, Yuni menunggu di ruangan ku. Dia tidak perlu ikut katanya. Aku benar-benar sudah difungsikan sesuai dengan jabatan ku.

__ADS_1


"Untuk mencari mana gudang tempat menyimpan peralatan bagi tukang kebun dan kebersihan ada di ujung di luar gedung utama ya."


"Baik Bu, nanti akan saya lihat," jawab calon petugas kebersihan dan tukang kebun bersamaan.


"Apa ada yang ingin ditanyakan?"


Seseorang mengangkat tangannya, dia berdiri agak dibelakang, "iya, apa ada yang ditanyakan?"


Ah, perawat Eny, orang yang akan tinggal disini bersama dengan anak perempuannya yang masih bayi.


"Apakah saya boleh melihat asrama tempat kami tinggal?"


Seorang ibu tunggal seperti aku, meskipun anaknya bukanlah anak kandung. Tapi dia sudah merawatnya selama ini.


"Sudah berapa bulan usia gadis kecil anda sekarang?" tanyaku.


"Sepuluh bulan," jawabnya.


"Siapa yang menjaganya sekarang?"


Tangannya menunjuk ke sebuah arah. Ketika aku berpaling ternyata ada kereta bayi berhenti di sudut teduh depan ruangan ku.


"Kenapa di letakkan situ?" aku bergegas mendatangi kereta bayi itu berada, aku berhenti ketika ingat masih ada pegawai lain yang menunggu, "untuk hari ini kalian boleh pulang dulu, besok datang lagi untuk mulai bekerja."


"Terimakasih Bu."


Wajah-wajah ceria itu membuatku bahagia. Semoga banyak manfaat yang bisa kita berikan ke depannya.


"Ayo," aku menarik tangan suster Eny, "kasihan, kenapa tadi tidak dimasukkan dalam ruangan saya saja."


Aku langsung menyambar kereta bayi itu dan kumasukkan ke dalam ruangan ku. Aku amati wajahnya, seperti wajah seseorang yang aku kenal. Seperti siapa ya?


Aku melirik Yuni. Beda memang kalau seorang pengusaha handal, lagi santai sekalipun dia masih menyempatkan diri untuk melihat berkas laporan. Laptop nya pun menyala.


"Yun, lihat deh."


"Hmmm."


"Yun," cuma hmmm tapi nggak nengok sama sekali, "Yuni!!" aku melihat suster Eny, "maaf ya, Bu Yuni itu big bos kita."


Suster Eny hanya mengangguk tanpa senyum. Jadi ngeri kalau lihat orang jarang senyum begini.


"Apa sih?!" wajah Yuni diangkat kaku.


"Kamu kesini dulu sebentar, nggak tertarik buat lihat gadis kecilnya suster Eny?"


"Nggak!"


Aku melirik suster Eny lagi, wajahnya kelihatan tidak suka mendengar jawaban Yuni.


"Yun," kali ini aku memanggil dengan nada lebih lembut tapi suara lebih keras.


"Apa sih?!" aku menggerakkan kepalaku sedikit sambil memberi tanda dengan kedipan mataku.

__ADS_1


Yuni beranjak dari kursiku dengan wajah malas, setelah dekat kereta bayi, malah Yuni yang antusias sambil berteriak, "eh, mirip wajah suami kamu ini Rum!"


Aku amati sekali lagi gadis kecil yang tertidur nyaman di kursinya. Iya benar ada aura Mas Han ketika aku melihat gadis kecil berlama-lama.


"Anda yakin tidak mengenal orang tua dari anak ini?" tanyaku pada suster Eny.


"Tidak!" suaranya terdengar tegas dan dingin, "dia anak saya, tidak akan saya biarkan anak itu diambil oleh siapapun dengan alasan apapun!"


"Ah," aku diam. Dari nada suaranya aku mendengar ada kekhawatiran dan ketakutan. Tapi suster Eny mampu menyimpannya dengan baik.


"Bisakah saya melihat tempat yang akan saya tinggali bersama anak saya?" suster Eny mengulangi lagi pertanyaannya.


"Oh, ayo, biar bayinya disini sama Bu Yuni saja."


"Yun, titip bayinya!" teriakku memberitahu Yuni, "meskipun kelihatan cuek, tapi Bu Yuni sebenarnya baik kok."


Suster Eny diam, tapi kepalanya mengangguk. Sepertinya wanita ini tipe orang yang hanya memberi reaksi seperlunya di setiap situasi.


"Mari," aku berjalan lebih dulu.


Salah satu bagian dari panti adalah beberapa kamar yang sengaja dibuat untuk asrama. Jadi jika ada karyawan yang tidak memiliki tempat tinggal, bisa memanfaatkan asrama ini. Meskipun hanya beberapa ruangan yang berjajar, tapi aku yakin tempatnya nyaman untuk ditinggali.


"Disini terdiri dua sekat ruangan. Satu untuk menerima tamu, kemudian ada kamar dan kamar mandi. Di kamar disediakan sebuah almari ada AC nya juga. Memang sengaja tidak disediakan dapur kotor, kalau mau masak atau apa, bisa menggunakan dapur umum milik panti."


"Baik Bu, terimakasih banyak sudah menerima saya yang harus membawa anak saya untuk bekerja. Saya berjanji, saya akan melakukan yang terbaik, lebih baik dari pekerjaan saya sebelumnya," wanita ini tersenyum padaku. Benar-benar tersenyum, bibirnya terbuka lebar.


"Ternyata anda bisa tersenyum juga," aku jadi ikut tersenyum melihat orang yang aku bantu kelihatan bahagia.


Tapi sekali lagi dia hanya mengangguk. Ah, biarlah yang penting dia sudah tersenyum.


"Apa boleh saya tempati sekarang?" meskipun terkejut, aku langsung mengiyakan.


"Apa perlengkapannya sudah dibawa?"


"Sudah."


"Dimana?"


"Itu," lagi-lagi wanita itu menunjuk satu arah.


"Hanya itu?" hanya ada sebuah tas, tidak ada yang lain?


"Iya, hanya itu Bu."


Ya Tuhan, dengan membawa bayi, hanya punya barang segitu saja banyaknya?


"Ayo saya bantu," aku memutar arah kembali ke ruangan ku, mengambil tas yang diletakkan di depan pintu, "suster dorong si kecil ya."


Kami kembali berjalan menuju kamar. Biar si kecil bisa langsung ditidurkan. Dan barang bawaan bisa langsung ditata di almari.


"Siapa namanya?"


"Lalita, namanya Lalita Bu."

__ADS_1


Lalita, Lala, wajahnya juga mirip mas Han. Waktu si kecil dipindah dia membuka matanya dan tersenyum. Aku tercenung, matanya, senyumnya pun mirip Mas Han. Dia bukan anaknya kan? Ah, tidak mungkin bayi kecil anak suamiku. Anak itu sudah dimakamkan. Aku memandang suster Eny dan tersenyum kaku.


...***...


__ADS_2