
"Terimakasih ya mas, sudah sabar dengan kelabilanku," bisik Rumi, khawatir didengar orang lain.
Juna tersenyum tapi tidak ada satu katapun keluar.
"Aku ambilkan makan mas?"
"Boleh."
Rumi bergegas mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan disiram dengan kuah soto.
"Eh...Rum, jangan pakai soto, Juna nggak suka."
Yuni berlari mendekat, kakinya bahkan hampir tersandung kain hiasan penutup meja.
"Hati-hati Yun," teriak Rumi.
Juna menoleh pada Yuni. Dia jadi ingat kisah nasi Padang, kaos kaki dan sepatu. Pasti anak itu berpikir kalau aku lelap tertidur. Juna memandang Yuni penuh arti.
Nasi sotonya diambil sama Yuni, "mending kamu ambilkan lagi nasinya dengan lauk rendang sama balado telor, kesukaan dia itu."
"Sotonya buat aku saja," Yunj langsung melahapnya bahkan tanpa mencari duduk.
"Yuni, duduk dulu," teriak Rumi.
"Iya, ini mau duduk," melempar pantatnya ke salah satu kursi terdekat.
"Sebentar ya mas, aku ambilkan lagi. Lucu juga ya, ternyata diam-diam Yuni memperhatikan kamu."
"Padahal dia itu cuek banget lo anaknya," Rumi melanjutkan kemudian menuju meja dan mengambil makanan seperti yang ditunjukkan Yuni.
Diam-diam Juna melihat Yuni dari belakang.
"Ini mas," Rumi menyodorkan piring yang penuh dengan makanan kesukaannya. Juna sampai berjingkat karena terkejut, khawatir ketahuan kalau sedang memperhatikan sahabat tunangannya.
"Terimakasih Rum," membelai rambut Rumi, "tadi aku juga bisa kok makan soto, aku nggak pemilih kalau mau makan."
Posisi duduk Yuni yang dekat membuatnya bisa mendengar semuanya. Untuk sesaat Yuni menghentikan makannya, menarik napas lalu kembali menyendok nasi sotonya sampai tandas.
"Aku tahu kamu nggak pemilih mas, tapi kalau kesukaanmu ada diatas meja itu, ya aku harus ambilkan dong."
"Lagi pula anak itu seperti kelaparan. Biar sotonya buat dia saja," sambil menunjuk Yuni yang berjalan mendekat.
"Aku akan makan apapun yang kamu sediakan Rum," tersenyum sambil menikmati makanannya.
"Nanti sore aku akan ke tempat Nehan lagi."
"Oh."
Rumi tidak berkomentar lagi.
"Mbak ayo sini, mentang-mentang pasangan baru, ngobrol berdua terus dari tadi."
__ADS_1
Rumi tersenyum, "iya, mbak kesana."
Menyentuh tangan Juna, "aku kesana ya."
"Yun temani mas Juna, ya."
Yuni mengangguk bingung, dia berjalan mendekat dan duduk disisi Juna.
"Selamat ya Jun," sambil menyentuhkan lengannya ke lengan Juna.
"Dia cantik sekali kan Yun," mata Juna tak lepas dari Rumi yang asik ngobrol dengan adiknya. Sekali-sekali wanita itu melambaikan tangan ke arah Juna.
"Tapi aku tahu kalau dia mencintai Nehan," bicara tanpa melihat Yuni sedikitpun.
"Hahaha...suatu saat dia akan mencintaimu. Kamu itu orangnya mudah dicintai."
"Oh ya?" Juna melirik sedikit, "bagaimana kamu tahu?"
"Oh...mmm...hahaha, ya maksudku kamu itu orangnya baik. Yang hanya teman saja bisa suka, apalagi tunangan, iya kan?!"
Kenapa ngomongnya jadi belibet begini.
Yuni memukul mulutnya sendiri.
"Oh..." Juna tersenyum lagi penuh arti.
"Jun, aku pergi dulu ya, nggak enak dilihat orang. Kita malah duduk berdua begini."
"Nggak ada yang perhatikan, Yun. Lagi pula Rumi kan yang menyuruhmu menemani aku."
"Udah ya Jun, mendingan kamu duduk sendiri saja," menepuk bahu Juni pelan.
Sebelum keluarganya mendekat, Yuni lebih dulu beranjak dari duduknya.
"Itu siapa, le?" tanya ibu.
"Teman Bu. Ayah dan ibu mau pulang?" tanya Juna mengalihkan pembicaraan.
"Hooh."
"Kamu disini saja. Bantu bersih-bersih. Kasihan calon mantu ibu."
"Inggih Bu."
"Dek, pulang," teriak Juna mengagetkan.
"Wo alah kamu ini ngagetin. Sok cool kalau sama orang lain tapi kalau sama adeknya cool nya langsung ilang."
"Saya antar keluar yah."
"Ya, ayo."
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat kalau dua wanita yang disayanginya sedang setengah berlari. Adiknya yang memakai kulot bebas berlari dengan cepat. Rumi beberapa kali hampir terjungkal.
Tinggal sedikit lagi jarak tersisa, Juna mundur dan menangkap pinggang Rumi.
"Kamu gimana sih, orang pakai jarit diajak berlari," mengomel pada adiknya.
"Hahaha..." Rumi tertawa lepas.
Setelah beberapa hari ini mendung menggelayut di wajahmu, akhirnya aku melihat mentari kembali bersinar dan tersenyum padaku.
"Ih, senyum-senyum. Hati-hati mbak, pikir lagi baik-baik kalau mau sama dia. Sudah kayak orang gila tuh mas aku."
Sambil menggandeng lengan Juna, Rumi menjawab, "orang gila yang sangat baik hati."
"Mari kami antar, Bu."
Rumi melepas tangan Juna dan meraih tangan ibu lalu mengantar sampai mobil.
"Jaga hubungan kalian. Semakin cepat menikah semakin baik."
Rumi terkejut, dia seperti disadarkan kalau dia harus menghadapi sebuah pernikahan.
"Inggih," kepalanya menunduk dalam.
"Ibu..." Juna memeluk pinggang Rumi hangat, "kami masih mau pacaran dulu sebentar."
"Nggak pacaran!"
"Orang kalau sudah usia selalu ingin anaknya segera menikah biar cepat nimang cucu."
Berusaha mengalihkan perhatian, Juna mendorong ibunya masuk mobil,"Sudah Bu, ayah menunggu."
"Mbak lain kali aku main lagi," teriak adik Juna sambil melambaikan tangan tanda berpamitan. Kepalanya sedikit nongol dari jendela.
Rumi mengangguk, terus melambaikan tangan sampai mobil menghilang dari pandangan.
Kepulangan orang tua Juna disusul oleh kerabat yang lain. Suasana menjadi sedikit lengang.
"Adik kamu lucu, meskipun umurnya dewasa tapi tingkahnya masih seperti remaja."
"Dia tidak mau mengenal lelaki kalau aku belum punya pasangan. Karena itu aku ingin segera menikah."
Rumi terdiam.
"Ayo masuk."
Keduanya berjalan masuk sambil menautkan tangannya.
"Nanti sore aku akan melihat Nehan lagi, ada yang ingin kamu sampaikan?" ulang Juna.
"Tidak," jawab Rumi pendek.
__ADS_1
Tapi berjuta ekspresi muncul di wajah cantik itu secara tiba-tiba. Dan Juna menyadari itu.
...***...