Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 139


__ADS_3

"Silahkan Bu, tuan Nehan sudah dibersihkan," petugas memberi tahu Rumi untuk masuk.


"Terimakasih ya Sus."


Rumi datang ke rumah sakit bersama Juna. Setelah menangis seharian kemarin, hari ini Rumi kelihatan lebih tegar.


Dia duduk di salah satu sisi kasur tempat kursi disediakan. Tangan Nehan digenggamnya.


Tubuh dingin Nehan terhubung dengan berbagai jenis mesin penunjang kehidupan. Segala kabel dan selang berseliweran untuk memastikan kalau organ tubuh lelaki yang sedang berada dalam fase antara hidup dan mati itu berfungsi dengan baik.


Perban bekas operasi masih terbalut di sana sini. Bekas rembesan darah juga masih nyata terlihat. Luka di kepala tampaknya yang paling parah, meskipun kata dokter tidak separah kelihatannya.


"Segera bangun ya mas, anak-anak menunggumu."


Ucap Rumi sambil mengurut tangan itu perlahan.


Juna berdiri dibelakang Rumi. Memegang pundak Rumi untuk memberinya kekuatan.


"Kalau kamu lama terbaring disini, aku harus jawab apa kalau anak-anak tanya?"


"Aku nggak mau memberitahu mereka kalau kamu sedang terbaring sakit disini."


"Kata dokter operasinya sukses, tinggal tunggu kamu mau bangun apa nggak."


Rumi menghapus air matanya yang mulai menetes.


"Apa kamu masih ingin disini?" tanya Juna, dia paling tidak tahan melihat Rumi menangis.


Rumi menggeleng, "bolehkah aku kesini sendiri saja nanti."


"Tidak," jawab Juna tegas.


Lebih baik kamu menangis bersamaku daripada kamu menangis sendiri diam-diam.


Rumi menghela napas. Dia tidak bisa membantah, besok acara pertunangan antara dia dan Juna akan digelar. Jadi kalau Juna tidak ingin membagi waktunya dengan orang lain itu wajar.


"Ayo kita keluar, barangkali bapak ingin masuk," tadi waktu mereka datang bapak tidak tampak batang hidungnya.


Ternyata benar, bapak sudah menunggu di depan pintu. Perawat melarangnya masuk karena ada pengunjung di dalam.


"Pak," seperti biasa Rumi mencium tangan bapak sebagai tanda memberi salam, begitu pun Juna.


"Kami pergi dulu, pak. Semoga Nehan segera sadar kembali."


Meski dalam hati merasa hancur tapi bapak memaksakan diri untuk tersenyum, "terimakasih Jun."


"Mmm...pak," Juna tampak ingin mengucapkan sesuatu tetapi ragu.


"Ya, sampaikan saja Jun," jawab bapak.


"Saya tahu tidak pantas mengabarkan hal ini ketika anak bapak sedang sakit. Tapi, pertunangan kami besok akan digelar, jadi saya mohon doa restu dari bapak agar acara kami besok berjalan lancar."


"Iya...semoga kalian bahagia, maaf bapak tidak bisa menghadiri acara kalian. Tapi yakinlah doa bapak akan selalu menyertai."


Isak lirih kembali terdengar, "jangan menangis, Rum. Bapak pernah bilang kan, kalau kamu berhak untuk tumbuh dan berkembang di kebun yang lain."


Rumi mengangguk, bapak berjalan mendekat. Memeluk Rumi yang selalu dianggap anaknya sendiri erat, "berbahagialah nak," bisik bapak tepat di telinga Rumi.


"Nanti sore saya akan kesini lagi, sendiri tanpa Rumi," dengan menekankan suaranya sambil melirik wanita di sebelahnya, "kalau bapak butuh sesuatu, bapak bilang saja, akan saya bawakan."


"Terimakasih Jun, semua kebutuhan bapak sudah disiapkan sama sopir pribadi bapak."


"Kalau begitu kami pamit dulu pak," Juna mengambil tangan Rumi dan menggandengnya.


...***...

__ADS_1


Sepulang dari rumah sakit Nehan langsung ke Rumah calon tunangannya. Masih terlalu jauh kalau menyebut calon istri, begitu katanya. Mengecek semua hal yang berhubungan dengan acara yang akan digelar besok.


Persiapan sudah seratus persen. Besok pagi tinggal beres, semoga acaranya berjalan lancar. Keluarga juga sudah berkumpul di hotel yang disewa Juna.


Hampir seharian Juna di rumah Rumi, berbincang dengan ibu dan bercanda bersama Ken. Setelah yakin semua sesuai rencana Juna pamit undur diri untuk kembali mengunjungi Nehan.


"Ada yang ingin disampaikan sama SUAMI?!"


Menekan suara pada kata suami.


Rumi tersenyum getir, "masih marah? kan aku nggak sengaja, saking bingungnya."


"Kamu istirahat, biar besok wajahnya kelihatan segar dan cantik."


Rumi mengangguk. Juna berlalu begitu saja, tanpa memeluk atau menguyel rambut seperti biasanya. Aneh...


...***...


Juna memandang lelaki yang sekarang tertidur lelap. Sedang apakah dia dalam tidurnya? Bermimpikah, berlarikah, atau sedang dirayu para bidadari surga untuk ikut terbang ke kahyangan?


Tubuh itu kaku. Suara tit...tit...menunjukkan kalau sahabatnya masih hidup. Paling tidak organ tubuhnya masih berfungsi.


Apakah dosa mendoakan orang yang sedang dalam fase vegetatif begini untuk mati saja? Juna menghela napas.


Apa bedanya dengan doa orang-orang yang sering dia dengar.


ya Tuhan berikanlah yang terbaik bagi si Fulan, kalau memang dia bisa sembuh maka angkat penyakitnya, kalau tidak maka segerakan ajalnya.


Doa seperti itu sama saja dengan mendoakan orang untuk segera mati daripada mengalami kesakitan, hanya saja bahasanya dibuat lebih halus, bukan begitu?!


Tapi apakah dia kesakitan, apa tubuh itu masih merasakan sesuatu. Sentuhan misalnya...entahlah, kita tak pernah tahu.


Pernah ada seseorang yang bercerita dia melupakan semua setelah bangun dari tidur panjangnya.


"Aku berharap kau mendengar apa yang aku katakan tadi sobat. Aku tak pernah menyukaimu, itu benar. Aku bahkan membencimu setengah mati ketika kau menyakiti satu-satunya wanita yang kucintai."


"Tapi aku selalu menghargai kehidupan. Apalagi ini adalah hidup sahabatku."


"Camkan apa yang aku bisikkan kepadamu. Jangan khawatir aku bersunggub-sungguh mengatakannya."


Juna menepuk pelan pundak Nehan. Dia harus berpamitan, bapak pasti ingin masuk melihat anaknya.


Sebelum pergi Juna bergumam, "segera bangun kawan, jangan terlalu asik dengan tidurmu."


...***...


Rumah Rumi


Esok pagi.


Rumi tampak cantik dengan kebaya berpayet warna salem yang dipakai. Dipadukan dengan bawahan batik yang dibentuk lipit pas di tubuh. Sedangkan Juna kelihatan gagah mengenakan Hem dengan warna senada.


Tidak ada acara seremonial yang berlebihan. Tenda yang dipasang pun hanya sebatas halaman, sekedar melindungi jika hujan.


Tidak banyak keluarga pihak lelaki yang hadir. Hanya ayah, ibu, adik Juna dan beberapa anggota keluarga yang lain.


"Mbak yakin akan menikahi kakak saya?" bisik adik perempuan Juna pada Rumi sebelum acara di mulai.


"Insyaallah, mbak yakin selama mas mu juga yakin ndak akan ninggalin mbak."


Gadis yang bekerja di kantor Juna itu menggelendot manja memeluk lengan Rumi.


"Mimpi apa mas ku dapat mbak Rumi yang cantik begini. Beli satu dapat dua pula. Mana si baby?"


"Lagi sama mbok Nah."

__ADS_1


"Aku seneng, akhir nya mas ku bisa bersama dengan wanita yang dia cintai sejak lama."


"Apaan sih, kamu. Sebenarnya dia bisa menemukan wanita lain yang lebih baik dari mbak. Mas mu hanya nggak mau mencoba aja."


"Hooh," keduanya tertawa kecil, "nanti siap-siap terharu ya."


"Hmm?" Rumi mengerutkan alis, "maksudnya dek?"


"Rahasia," ujarnya berlari menuju kursi tamu.


Acara dibuka oleh Ayah Juna yang menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan keluarga besarnya.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh."


"Selamat pagi jeng. Saya ayahnya Juna mewakili keluarga ingin menyampaikan maksud dan tujuan kami nggeruduk rumah panjenengan."


Ibu tersenyum sambil manggut-manggut.


"Jadi begini. Saya ini punya perjaka yang umurnya sudah pantes punya anak dua, tapi nggak doyan disodori sama perempuan manapun."


"Ibunya itu sering menunjukkan foto-foto wanita buat dijodohkan. Mulai dari yang pakai kulot sampai pakai sepan. Mulai yang dasteran sampai jin-jin an. Ndak ada satupun yang masuk kriteria. Kok dilihat, dilirik saja mboten."


"Eee, lah kok ujug-ujug beberapa minggu lalu bilang mau ngelamar anaknya orang. Saya saking senangnya sampai salto diatas kasur sama ibunya."


"Ayah!"


Ibu Juna melirik, "uwes aja nggladrah isin-isini."


[sudah jangan ngaco, memalukan]


"Setelah lihat fotonya. Kalau biasanya dia yang disodori foto. Kali ini kami yang disodori foto, kami langsung jatuh hati. walah ayu moblong-moblong calon mantuku."


"Wes ndak pakai lama langsung cuss persiapan buat meluncur kesini."


"Tapi apa keluarga sudah tahu kalau calon istrinya Juna ini sudah punya buntut, pak?" sela ibu.


"Alhamdulillah sudah. Malah seneng saya langsung punya cucu nggak pakai nunggu lama-lama."


"Alhamdulillah, matur nuwun," betapa leganya ibu mendengar Rumi diterima dengan baik dalam keluarga calon besannya.


"Oh, iya. Sebelum tadi saya bicara, ada yang bisik-bisik. Yah...beri kesempatan aku buat bicara. Jadi sekarang saya persilahkan anak saya untuk bicara sama calon istrinya."


Juna tersenyum, dia berdiri dan berjalan mendekati Rumi yang sedari tadi menunduk. Mengulurkan tangan lalu membawa Rumi berdiri di depan semua anggota keluarga yang hadir.


Sambil menggenggam tangan Rumi erat, Juna membuka sebuah catatan kecil.


"Rum, aku buat catatan kecil ini agar aku tidak lupa satu kata pun apa yang ingin aku ucapkan hari ini."


"Aku buat catatan kecil ini sebagai saksi kalau aku pernah sangat bahagia karena punya kesempatan untuk bisa memiliki kamu suatu saat nanti."


"Rum, aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Aku tak bisa bilang aku tak akan berubah. Bahkan musim pun akan berganti sesuai waktunya. Tapi aku akan bilang, aku akan selalu ada untuk membuatmu bahagia. Sama seperti matahari dan bulan yang selalu ada apapun musimnya."


"Aku akan menjagamu sampai Tuhan memisahkan kita dengan caranya. Aku akan melindungimu sampai pelindung sejatimu mengambil alih tugasku. Aku ingin melihat binar cinta di matamu Rum."


Rumi meneteskan air matanya. Memandang Juna dengan matanya yang berkaca-kaca. Perlahan Juna mengambil jari manis Rumi dan menyematkan cincin yang mereka pilih beberapa waktu lalu. Lalu Rumi melakukan hal yang sama.


Setelah acara menyematkan cincin selesai, Juna memeluk Rumi erat sambil berbisik, "berbahagialah Rum. Kamu harus bahagia apapun yang terjadi."


Ibu dan keluarga Juna begitu terharu. Hampir semua meneteskan air mata. Ibu Juna mendekati Rumi sambil memeluk erat calon menantunya, "bahagiakan anak ibu ya Nduk."


Rumi mengangguk, "Insyaallah ibu."


Sebuah ikatan sudah terjalin. Semoga apa yang dimulai hari ini berakhir di ujung jalan terindah. Itu harapan semua manusia bukan?! Tapi manusia hanya bisa berencana...


...***...

__ADS_1


__ADS_2