Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 65


__ADS_3

Anakku lahir pukul tiga lebih dua menit sore ini. Wajah-wajah ceria memenuhi kamar. Sekarang aku sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Boks bayi diletakkan di sebelah tempat tidurku. Bayi laki-laki tampan tidur tenang disitu.


Bapak dari tadi senyum terus sambil menatap cucunya tanpa henti. Ibu duduk di sebelahku sambil melihat kearah bapak. Yuni keluar membeli makan buat kami, mbok Nah duduk disisi lain ranjang, sedangkan Pak Dul duduk tenang di sofa.


"Dul, putuku persis bapake."


[Dul, cucuku persis bapaknya]


"Inggih Ndoro Sepuh."


Mataku hampir sulit untuk terbuka. Badanku terlalu lelah dan aku sangat mengantuk. Mendengar bapak bilang kalau anakku persis ayahnya, ada rasa tidak terima, tapi mau bagaimana lagi namanya juga anak bapak.


"Kalau ngantuk tidur Rum, ini juga sudah lepas Maghrib."


"Kalau bayiku nangis, aku dibangunkan ya Bu."


"Iya, kamu harus banyak istirahat."


Mataku akan terpejam waktu ibu bicara, "Nehan itu maunya apa kang mas?" mendengar pertanyaan ibu rasa kantukku hilang, tapi aku tetap memejamkan mata agar ibu leluasa berbicara dengan bapak.


Aku merasakan ibu beranjak dari sisiku, "masa Rumi melahirkan dia sama sekali nggak tanya, nggak peduli, apa nggak pengen tahu anaknya sudah lahir apa belum? Kalaupun pergi, sejauh apa sih perginya sampai telepon saja tidak bisa. Maaf ya kang mas, saya sudah ndak pengen menjadikan Nehan menantu saya. Tidak bisa dimaafkan itu kelakuannya," aku menarik napas panjang.


"Sini jeng, kita ngobrol tentang anak-anak," aku membuka mataku sedikit, mengintip bapak dan ibu. Sekarang keduanya, duduk berhadapan di sofa. Mbok Nah melihatku, aku segera meletakkan jariku di depan bibir. Mbok Nah rupanya mengerti dan mengangguk.


"Saya juga ndak habis pikir jeng, bagaimana bisa dia dikendalikan sama istri kedua nya. Kalau saya lihat sekilas, Sekar itu pinter ngerayu, pinter ngomong, pinter memanfaatkan situasi."


"Halah mas, sepandai-pandainya wanita, Nehan kan punya otak, bisa mikir sendiri. Saya nggak mengira kalau Nehan laki-laki bodoh dan gampang dibohongi perempuan. Pengusaha kok bisa dikadalin. Ya itu, dia sudah ketutup sama perempuan yang nggak bener," kemudian Ibu diam. Wajahnya cemberut penuh amarah dan rasa kecewa, bahkan terlihat kalau matanya berkaca-kaca.


"Terakhir sebelum dia berangkat, Nehan pesen-pesen sama saya," bapak menunduk sejenak kemudian mengangkat kepalanya lagi, memandang ibu, "dia bilang, pak...aku mau pergi dulu, ngikutin apa maunya Sekar. Mencarikan sekolah dan tempat untuk tinggal."


Ibu mendengarkan dengan seksama, matanya lurus memandang bapak. Kemudian bapak melanjutkan, "aku minta tolong, bapak lihat-lihat Rumi di kampung, biasanya aku ke tempatnya ibu, karena beberapa bulan ke depan aku mungkin gak bisa mengunjungi Rumi, aku minta bapak yang menggantikan aku. Wajahnya itu seperti sangat tertekan jeng, nggak tega saya lihatnya."


Ibu melengos, "ya itu malah menunjukkan kalau Rumi sekarang malah jadi yang kedua, begitu kan kang mas, apalagi perempuan itu dapat dukungan dari istrinya sampeyan toh," pernyataan ibu begitu menohok.


"Saya mewakili keluarga, minta maaf yang sebesar-besarnya karena tingkah anak dan istri saya yang keterlaluan, Jeng. Saya tahu permintaan maaf saya tidak akan bisa memperbaiki keadaan. Tapi bagi saya, Rumi sudah seperti anak saya sendiri, tanpa diminta sama Nehan, saya pasti akan sering mengunjungi Rumi."


Ibu tidak menjawab, aku bisa mendengar napas ibu yang berat dihembuskan mendengar ucapan bapak.


"Saya inginnya Rumi sama Nehan tetap jadi suami Istri__"


"Oa...oa...oa," kedua kakek nenek itu terkejut dan langsung melihat boks bayi anakku, begitu juga denganku yang langsung membuka mata.

__ADS_1


"Walah putuku nangis," bapak melupakan kalimatnya dan mendekati tempat tidur anakku.


[walah cucuku menangis]


Mbok Nah pun mendekati boks bayi, suara melengking anakku memenuhi kamar. Aku langsung mengambil posisi duduk.


Tiba-tiba aku mendengar ibu nyeletuk, "tuh dengar kang mas, anaknya saja nolak ibu sama bapaknya tetap bertahan, Ndak mau dia bundanya disakiti ayahnya lagi," bapak hanya bisa tersenyum dan menarik napas panjang.


"Oh...anak bunda, sayang...jangan nangis ya," aku menerima si kecil dari gendongan Mbok Nah.


"oa...oa...oa."


"Wo alah suaranya, sehat-sehat ya le...nangis sing banter le," ibu berjalan mendekatiku, "susui anakmu Rum," karena aku masih belajar menyusui, putingku rasanya lumayan perih.


Bapak ikut mendekat, wajahnya begitu bahagia meskipun matanya memancarkan kesedihan.


"Rum, mulai sekarang Nah sama Dul akan tinggal disini buat bantu-bantu kamu," kata bapak.


"Kang mas, rasanya kami tidak memerlukan Mbok Nah dan Pak Dul untuk tinggal, buat apa, kami hanya bertiga sama si tole yang masih bayi, kami juga tidak sanggup bayar," aku hanya diam membiarkan ibu yang menjawab.


"Tapi saya sudah mengundurkan diri dari keluarga Ndoro Kakung lo mbak yu," aku segera melihat Mbok Nah.


"Mbok..."


"Nah, jangan begitu, kamu itu momong cucu saya, ya pastinya saya tidak akan tinggal diam," bapak langsung menyahut perkataan Mbok Nah.


"Ndak usah kang mas, ndak perlu, saya masih mampu momong," ibu tetap menolak


"Saya dengar dari Nehan kalau Rumi kerja, biar Nah bantu momong. Jeng Narmi kan juga terima jahitan, biar semua bisa tetap beraktifitas Jeng," aku melirik ibu.


"Ya sudah, kalau Mbok Nah biar dirumah, saya bisa kasih makan, kalau Pak Dul kami benar-benar tidak butuh tenaganya kang mas."


"Kalau butuh kemana-mana, periksa kesehatan Rumi dan bayinya kan butuh transportasi toh Jeng."


Pintu kamar terbuka, "tidak perlu pak, Rumi dapat fasilitas mobil dari kantor kok," Yuni masuk kamar sambil membawa banyak kresek di tangannya.


"Nah kebetulan, fasilitas mobil dari kantor nona, untuk drivernya saya merekomendasikan Dul, boleh kan?!" bapak memang pengusaha sejati, negosiator ulung. Aku menunggu jawaban Yuni, tole sudah tidur di pangkuanku, tapi kenapa putingku masih digigit ya.


"Bapak tidak mau melepas Rumi jadi menantu ya," pedas dan nyelekit, " padahal Rumi sudah ndak mau jadi menantu bapak lo," dasar mulut cabe.


Yuni bicara tanpa melihat bapak, tangannya sibuk membongkar bungkusan yang berisi banyak camilan, "Rum, aku belikan banyak buah, biar lancar ASI nya," Yuni mengangsurkan buah untukku.

__ADS_1


"Terimakasih ya," lumayan, jam segini masih lapar, bisa buat camilan.


Aku kembali mendengar bapak melanjutkan kalimatnya, "saya jamin Dul bisa dipercaya," bapak tetap ngotot dengan keinginannya.


"Mbok, ini gimana ****** saya sudah perih," aku berbisik pada mbok Nah, anakku belum mau melepas mulutnya.


"Sebentar," Mbok Nah meletakkan tangannya di mulut anakku dan ditarik perlahan. Ibu malah serius mendengarkan negosiasi antara Yuni dan bapak.


"Begini saja pak, sementara ini biar Pak Dul bekerja pada bapak seperti biasanya. Toh Rumi masih cuti habis melahirkan," sepertinya bapak memenangkan negosiasi ini.


"Mbok, tolong ditidurkan ya," aku cium anakku yang kembali lelap sebelum berpindah tangan.


"Baik, deal ya," bapak mengulurkan tangan, "kabari saya kalau Dul dibutuhkan," benar kan, bapak yang memenangkan negosiasi.


"oa...oa...oa," aduh si kecil nangis lagi.


"Sini-sini atungnya yang gendong," bapak berjalan cepat mendekati boks bayi.


Ibu mengikuti dari belakang, "hati-hati kang mas, sudah lama tidak gendong bayi lo, kuatir lupa caranya."


"Ya, tidak toh Jeng."


Bapak menimang anakku, "e...putune sapa iki...putune sapa iki, ganteng men to ya, bocah bagus."


[e...cucunya siapa ini, cucunya siapa ini, kok cakep bener, anak ganteng].


Malam menjelang, suara bapak yang menimang anakku terus terdengar. Bayiku sepertinya juga nyaman di gendongan kakeknya. Beberapa kali ditunjukkan padaku, mata anakku terbuka meskipun belum lebar. Waduh, alamat begadang tiap malam ini. Memasuki pukul sepuluh malam, anakku bukannya tidur tapi malah diajak bercanda sama kakeknya.


Bapak...biarkan anak saya tidur. Eh Mas Juna kemana ya, seharian ini aku tidak mendengar kabar darinya.


"Yun, kamu kasih kabar mas Juna nggak?" bisikku pada Yuni yang tertidur sambil duduk di sebelahku.


"Ya Allah Rum, aku lupa," jawab Yuni sambil mengambil ponselnya dari dalam tas, hampir bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka.


"Yun, kamu kok gak bilang, kalau Rumi melahirkan!" suara Mas Juna menggema di seantero kamar. Reflek aku langsung melihat bapak—yang ternyata sedang melihat Mas Juna dengan tatapan tajam.


...***...


Sadar nggak sih kalau kita lagi ngajak ngomong bayi selalu berlagak lupa si bayi anaknya siapa. Padahal melahirkan dan membuatnya susah lo...hehehehe...


Happy reading ya gaess

__ADS_1


lope you...🥰😘


__ADS_2