Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 89


__ADS_3

Nehan POV


Aku duduk diatas tempat tidur. Sekarang aku ingat semuanya. Meskipun samar, sekarang aku tahu dimana ibu kandungku berada. Ajeng, kamu tidak saja menghancurkan masa kanak-kanakku tetapi juga menghancurkan kehidupan rumah tanggaku.


Kedua tanganku mengepal. Buku-buku tanganku memutih karena eratnya tanganku menggenggam. Buat apa aku selalu mengikuti sarannya selama ini. Kalau akhirnya ternyata dia orang yang menghancurkan hidupku.


Tatapanku kosong melihat kedepan. Kamu harus membayarnya. Bahkan sekarang aku jijik memanggilmu ibu. Jadi karena semua ini mengapa kamu tidak pernah mau turun tangan langsung untuk merawatku.


Bapak berdiri di pintu kamar. Kelihatan sekali kalau bapak merasa bersalah.


"Kamu baik-baik saja, Han?" tanya bapak, tangannya menyentuh tanganku. Aku menarik tanganku cepat, aku belum ingin bersentuhan dengan siapapun dalam keluarga ini.


"Yang jelas Han masih waras pak," sinisku. Bagaimana bisa laki-laki di depanku ini membiarkan ibuku sampai meninggal dan tidak melakukan apa-apa.


"Maafkan bapak, Nak. Bapak tahu kamu sudah mengingatnya, apakah semua atau sebagian, tapi kamu pasti sudah ingat peristiwa itu."


"Seharusnya bapak bunuh saja Han waktu itu dan kubur bersama ibu yang melahirkan Han, pak," sekarang aku berhutang budi pada kalian, pada orang-orang yang membuat ibuku mati.


"Jangan berkata seperti itu Han. Bapak sangat menyayangi kamu."


"Han minta maaf pak. Sekarang setelah Han ingat semuanya, Han tidak tahu apa yang Han rasakan buat bapak dan Bu Ajeng."


"Jangan menyimpan dendam sama ibumu, Han. Bagaimanapun dia yang merawatmu sejak kecil."


Aku berdiri meninggalkan bapak, tidak ingin menjawab. Aku masuk ke kamar mandi. Aku harus pergi, napasku sesak kalau harus terus berada di rumah ini.


Setelah mandi ternyata bapak masih duduk di tempatnya yang tadi. Aku merapikan diri, bersiap untuk pergi.


"Apa kamu tidak ingin tahu dimana makam ibumu?"


Tubuhku berhenti bergerak. Aku memutar tubuh melihat bapak, "apakah ibu dimakamkan dengan layak? mengingat Bu Ajeng tidak pernah membayar kesalahannya, pasti ibu dimakamkan secara sembunyi-sembunyi.


"Kau anggap apa aku ini?!"


"Entah, aku bingung, bapak sudah membiarkan orang yang membunuh ibuku bebas berkeliaran!" suaraku kubuat berat dan rendah.


"Jangan bicara seperti itu, selama ini Ajeng yang merawatmu!"


"Kalau Han tahu yang merawat Han adalah seorang pembunuh, Han akan pergi dari dulu!" aku menatap bapak tajam.


"Dan sekarang bapak masih ingin Han menghormatinya?"


"Bapak lucu, apakah bapak akan menghormati seseorang yang telah menghilangkan nyawa wanita yang telah melahirkan bapak? Han rasa tidak!"


Aku menyambar jaket dan mengambil kunci mobil. Udara kamar yang ber-AC terkalahkan oleh panasnya emosi.


Aku hampir mencapai pintu ketika bapak berujar, "ibumu dikuburkan di rumah ini, Han," suara bapak pelan hampir tak terdengar.


Aku menghentikan langkah. Memutar badanku dan melihat bapak, "di rumah ini?"


"Jangan mencoba menahanku pergi dengan mengatakan yang tidak-tidak pak!"

__ADS_1


Bapak menatapku lurus tak berkedip. Diamnya bapak menyampaikan berjuta kata yang mengisyaratkan kalau ibu memang di makamkan disini.


"Dimana pak?!" suaraku lebih mirip sebuah bentakan dari pada sebuah pertanyaan.


Bapak tetap diam. Aku lemparkan kunci ke atas ranjang dan berlari keluar ke kebun tengah. Kebun mawar tempat favorit bapak menghabiskan sebagian besar waktunya.


Di bawah temaram cahaya bulan, aku menerobos jajaran pohon mawar yang rapi tertata. Sampai di tengah kebun aku berhenti, ada sebuah lampu taman yang berdiri menerangi sebuah gundukan tanah. Satu-satunya penerang yang diletakkan di tengah kebun.


Aku duduk bersimpuh, "aaa....," berteriak sejadinya. Aku menangis dengan suara keras. Kalau ibu yang ada di dalam sana masih bisa bangun, dia pasti akan bangun untuk memelukku.


"Aaaa....aaaa...ibu...!" tangisku pecah makin keras, "maafkan Nehan yang bodoh ini, ibu...!" suaraku lebih mirip lolongan dari pada tangisan.


"Aaa..., maafkan Nehan, aaa..."


"Anak macam apa aku! bagaimana aku bisa tidak ingat peristiwa itu, aaa...!"


Aku memukul kepalaku berkali-kali.


"Maafkan Nehan yang tidak pernah mendoakan ibu, aaa..."


"Maafkan Nehan yang selalu menghormati wanita yang telah menghilangkan nyawa ibu, aaa..."


"Sekarang bahkan rumah tangga Nehan hancur karena wanita itu, aaa...."


"Aaa...huu...," tanah pekuburan ibu aku pukul berkali-kali. Kepalaku juga aku pukul berkali-kali sambil terus menangis.


Rasa bersalah yang menggunung sekarang ini meluap keluar. Untuk beberapa saat aku melampiaskan amarahku. Kemudian aku diam, aku harus kuat.


"Han," suara bapak, tangan bapak menyentuh bahuku.


"Maafkan bapak, Han."


Aku menjawab bapak dingin, "Han tidak butuh permintaan maaf, selama bapak tidak membuat wanita itu membayar kesalahannya jangan harap Han akan datang lagi ke rumah ini!"


Aku tidak mau beranjak, biarkan malam ini aku istirahat bersama ibu disini. Selama ini ibuku sendirian disini. Aku meringkuk memeluk lututku di sebelah gundukan tanah.


"Han, masuk, kamu bisa sakit kalau berbaring disini."


"Tinggalkan aku, Pak. Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku."


Bapak memanggil beberapa abdi, mereka diminta untuk menemaniku. Aku biarkan saja, selama aku tidak diganggu, aku tak peduli.


Tengah malam ada yang menggoyang tubuhku, "Han, putra ibu, bangun nak.


Mataku langsung terbuka. Suara itu begitu lembut merasuk sukmaku.


"Ibu?" dia ibuku kan...


"Han, kamu sudah sebesar ini," ibu tersenyum, begitu cantik. Senyumnya mirip...Rumi.


Aku menangis lagi, "huhuhu...maafkan Nehan Bu."

__ADS_1


Ibu mendekatiku, memelukku hangat, menepuk punggungku lembut.


"Ibu yang harusnya meminta maaf Han, tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu sudah sebesar ini dan ibu tidak pernah ikut merawatmu."


"Jangan punya dendam, Han. Biar ibu tenang disini," bisik ibu masih memelukku.


Ibu menyentuh bahuku dan menariknya menjauh, matanya yang indah, wajah cantiknya yang masih terlihat muda memandangku lekat.


"Jaga keluargamu baik-baik. Anak dan istrimu adalah hartamu yang paling berharga. Mencintai tak harus memiliki, Han. Menjaga pun tak harus saling berdekatan."


"Kalau mereka lebih bahagia dengan jauhnya kalian, maka kamu harus rela melepaskan. Perbaiki dulu dirimu, jangan ulangi lagi kesalahan ibumu ini dulu."


Ibu tersenyum, senyuman paling hangat yang pernah aku lihat, "hiduplah dengan baik nak."


"Kamu boleh meminta keadilan atas kematian ibu, tapi jangan jadikan itu sebuah obsesi yang malah akan merusak hidupmu."


"Hiduplah dengan baik Han, berbahagialah anakku."


Perlahan bayangan ibu memudar dari hadapanku. Semakin lama semakin menipis sampai akhirnya benar-benar lenyap.


"Ibu...," teriakku


Aku terbangun, duduk diatas rumput tebal di tengah kebun tengah milik bapak. Bau mawar semerbak memenuhi penciumanku, begitu wangi. Sinar rembulan memantulkan warna-warni mawar yang tumbuh rapi.


Mimpi tadi membuat hatiku tenang. Aku makin yakin apa yang akan lakukan kedepannya. Menjaga Rumi dan Ken adalah tugasku kedepannga meskipun kami berpisah. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang dilakukan bapak.


Lala akan aku datangi dan mempertegas status kami. Aku jengah dengan semua urusan yang asalnya dari Bu Ajeng.


"Ndoro," beberapa abdi mendekatiku. Membantuku berdiri dan mengikuti aku masuk rumah.


"Bapak?" tanyaku


"Ndoro sepuh sudah masuk dari tadi."


"Jam berapa sekarang?" tanyaku lagi.


"Pukul tiga dinihari."


Aku masuk kamar dan mengambil kunci yang tadi kulempar diatas ranjang. Aku jauh lebih tenang, bisa berpikir jernih dan yakin akan apa yang aku lakukan kedepan.


"Ndoro Kakung mau kemana? tadi pesannya Ndoro sepuh, kalau Ndoro Kakung terbangun tidak boleh kemana-mana," kata abdi terdekat bapak.


"Sampaikan sama bapak, saya baik-baik saja. Ada banyak hal yang harus saya urus. Kamu jaga bapak baik-baik."


"Bilang juga, kalau mulai sekarang saya akan pulang ke apartemen."


Setelah menyampaikan pesan terakhir aku melangkah pergi. Berhenti sebentar di depan pintu utama kemudian menghadap ke rumah, melihatnya baik-baik. Di tempat ini dulu aku dibesarkan, ditempat ini pula aku kehilangan ibu kandungku tanpa kusadari.


Aku akan membuat Bu Ajeng membayar semua kesalahannya secara adil. Ibuku memang tidak marah, tapi aku ingin menuntut keadilan. Aku melihat ke ruang baca, lampunya masih menyala, dan aku melihat bapak berdiri melihatku di balik kelambu.


Selamat tinggal pak, aku akan pergi untuk sementara ini. Mengumpulkan bukti untuk membuka kembali kasus kematian ibu. Aku tidak tahu bisa atau tidak melaporkan kejadian yang sudah lama berlalu, tapi paling tidak aku akan tahu kebenarannya dari orang-orang yang ada saat itu, dari orang-orang yang bisa aku percaya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2