
Maafkan pembaca yang Budiman, karena penulisnya musti repair spare part dalam nya, jadi lama ga update cerita. Sekarang pelan-pelan kondisinya mulai membaik. Jantungnya juga mulai bekerja dengan normal meskipun masih harus pelan-pelan. Semoga kalian masih menanti kelanjutan kisah Rumi ini sampai nanti ceritanya berakhir.
This is my second life, so I Will start with Bismillah...
...***...
Mas Han keluar dari ruangan dengan muka sedih. Aku yang sudah gak sabar menanti giliran untuk masuk melihat ibu jadi gemetar.
Mas Han memelukku, lebih tepatnya menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia diam tidak mengucapkan apapun. Hembusan napasnya yang berat menyentuh kulit leherku.
Bapak tidak terlihat keluar. Aku jadi tahu kalau ibu telah pergi.
Kusentuh punggung mantan suamiku dan membelainya pelan. Tidak ada kata yang terucap.
"Rum."
"Hmm."
"Ibu pergi."
"Aku tahu."
Masih dalam posisi yang sama Mas Han terus berbisik.
"Kenapa aku tidak bisa nangis? Aku sedih tapi juga lega."
"Apakah aku jahat jika merasa seperti itu?"
"Kamu punya dua ibu mas. Rasa itu mewakili hadirmu untuk dua ibumu."
"It's okay, itu fair, kamu menunjukkan rasa sayang untuk keduanya."
Mas Han mengangkat kepalanya lalu memandangku.
"Sekarang ini aku malah merasakan cintaku yang luar biasa untukmu. Aku takut kehilangan kamu seperti bapak kehilangan wanita-wanita yang dicintainya."
Bingung, musti memberi reaksi seperti apa. Aku memilih untuk tersenyum.
"Kita konsentrasi sama ibu dulu ya."
"Mas sudah menghubungi orang rumah?"
Mas Han merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel. Berjalan sedikit jauh dariku untuk menghubungi Mbok Nah.
Aku bisa membayangkan betapa sedihnya mbok Nah. Keduanya sangat akrab sebagai Ndoro dan abdi.
Jenazah ibu baru boleh dibawa pulang setelah menunggu dua jam. Sedangkan pemakaman baru bisa dilaksanakan esoknya karena hari sudah terlalu larut.
__ADS_1
Ternyata ini lah yang disebut keluarga. Walau selama hidup sering bersinggungan, saling jutek. Ketika salah seorang pergi kesedihan itu lekat terasa.
Suasana muram menghiasi rumah yang terang benderang. Memang tidak ada tangisan yang mengharu biru. Tapi kesunyian yang melingkupi atmosfir rumah malah membuat suasana menjadi suram dan mencekam.
Suara lantunan ayat suci terus terdengar. Bacaan dari para abdi dan keluarga dekat yang jumlahnya tidak seberapa menghadirkan kekhusukan.
Bapak tak beranjak dari sisi jenazah mantan ibu mertuaku. Mbok Nah mengaji dan sesekali menghapus air mata yang luruh. Aku duduk terpekur di salah satu sudut ruangan.
Aku berdiri ketika menyadari mantan suamiku tidak ada disini. Memasuki kamar yang dulu menjadi tempat peraduan kami ketika kami memadu kasih jika kami menginap disini, tapi ruangan ini kosong.
Aku beralih menuju kamar ibu dan bapak, barangkali Mas Han ada disana. Tapi kondisinya juga sama, kamar ini juga kosong.
Hatiku mulai khawatir. Dia tidak berpamitan keluar atau kemanapun. Merasakan kegundahan yang mengalir dari keluhannya tadi membuatku berpikir yang tidak-tidak.
Rasa bersalah yang ditanggungnya bisa saja membuatnya berbuat nekat. Aku berlari menuju ruang kerja bapak, ruang baca yang menjadi tempatnya bersembunyi kalau sedang banyak pikiran, bahkan aku juga menuju dapur. Barangkali mantan suamiku itu lapar dan mencari sesuatu untuk dimakan. Tapi semuanya nihil.
Beralih dari dapur aku keluar menuju kebun mawar milik bapak. Dibawah temaram lampu yang ada di tengah taman, aku melihat sosok Mas Han meringkuk di sisi gundukan tanah. Aku melangkah cepat kearahnya.
Kusentuh bahunya yang bergerak perlahan, dia menangis. Matanya memandangku nanar, tatapan penuh kesedihan ada disana.
Aku berlutut dan menarik tubuhnya dalam pelukanku. Maafkan aku Tuhan, meskipun lelaki ini bukan lagi menjadi makhromku, tapi dia sedang membutuhkan tempat untuk bersandar sekarang.
Tidak ada kata yang terucap diantara kami. Tapi suara tangis Mas Han kali ini membawaku ke dimensi yang berbeda. Sebuah kepribadian yang selama ini belum pernah kulihat. Dia lemah, tidak sekuat yang kukira.
Luka lama yang menumpuk. Trauma yang dirasakan sejak bertahun lalu, tumpah dalam tangis pilunya malam ini.
"Mas masih mau dipeluk begini?"
Dia tidak menjawab, tapi aku merasakan kepalanya bergerak beberapa kali menyentuh bahuku.
"Aku tahu kamu sedih, tapi kamu juga musti tahu kalau kamu berat mas."
"Aku capek berlutut sambil meluk kamu begini," ujarku.
Dia menjauhkan kepalanya. Matanya sembab, Mas Han beberapa kali menangis di depanku, tapi baru kali ini matanya sampai sembab begitu.
Aku menjatuhkan pantatku menyentuh rumput taman, lututku benar bergetar.
"Lihat kan, lututku gemetar."
"Maaf."
"Dari pada kamu disini, nangis, mendingan di dalam mengaji. Doakan kedua ibumu mas. Maafkan kesalahan mereka. Berdamailah dengan masa lalu mu yang pahit."
Kepalanya menunduk, dia tidak menyahut, tapi aku tahu dia mendengarkan ku dengan baik.
"Aku menyesal."
__ADS_1
"Aku tahu, tapi siapa yang akan tahu bagaimana kehidupan ini akan berjalan."
"Apapun yang kita lakukan pasti ada sebab dan akibatnya. Percuma juga menyesal, masa lalu yang sudah kita jalani, bisa kita jadikan kaca untuk cerminan kita di masa depan. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Kamu punya Lita dan Ken, mas."
"Dua ibumu biarkan beristirahat dengan tenang."
"Mulai sekarang kamu musti fokus pada dua anakmu."
"Mereka masa depanmu, mas. Mereka membutuhkanmu, tidak ada waktu buat menyesali semua yang terjadi."
Cahaya lampu taman yang temaram ditambahkan dengan sinar rembulan membuat aku jelas melihat bening mata Mas Han. Sebentar kemudian dia tersenyum. Menatap gundukan tanah tempat pembaringan terakhir ibu yang telah melahirkannya.
"Ibu, terimakasih sudah melahirkan aku. Semua kesedihanmu karena kehadiranku impas sudah."
Dia beralih menatap ku lekat, "benar kata Rumi, masa depanku menanti. Aku tahu ibu tidak bisa mendoakan aku, tapi aku berharap ibu ikut memohon pada Tuhanku, agar aku bisa memiliki wanita ini lagi. Karena engkau sudah dekat dengan-Nya disana."
"Aku akan sering mengunjungimu ibu," tangan Mas Han menyentuh gundukan tanah itu, "dan aku akan selalu ada untuk ibu dalam doa."
Itu kalimat terakhir di depan makam ibu malam ini. Kemudian mas Han berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku menatap tangan itu, sempat berpikir untuk menyambutnya. Tapi kemudian aku ingat betapa aku pernah disakiti. Tak semudah itu Fulgoso. Aku tarik lagi tanganku dan berlalu melangkah mendahuluinya.
Kupeluk diriku sendiri erat, udaranya mulai membuatku menggigil, "ayo masuk, dingin," tubuhku bergetar sambil berjalan.
Dari ekor mataku aku bisa melihat Mas Han memandangi tangannya yang tadi terulur kemudian bersendekap, "iya dingin sekali sekarang, kenapa tadi bisa nggak terasa ya," bibirnya mengembang senyum yang terlihat dipaksakan.
Di ruang tengah Mas Han langsung bersimpuh di sisi jenazah Bu Ajeng. Tangannya memegang jenazah itu dibagian dada. Memandang lekat wajah pucat wanita yang dulu pernah dia anggap sebagai ibu kandungnya.
Aku ikut duduk bersimpuh disisi mantan suamiku. Memberikannya kekuatan dengan caraku sendiri.
Lalu aku mendengar pesan terakhir yang dia ucapkan lirih, "ibu, maafkan aku karena sempat menyakitimu. Aku juga berterimakasih karena ibu sudah bersedia merawatku diantara rasa sakit yang ibu rasakan. Kali ini biarkan aku kembali memperjuangkan Rumi, ya Bu. Wanita yang benar-benar aku cintai dan selalu ada untukku. Aku yakin ibu sekarang tahu kalau Rumi lah wanita terbaik untukku."
"Maafkan kesalahan kami berdua, Bu. Seperti kami juga memaafkan semua kesalahan ibu. Semoga Allah menerima semua amalan dan mengampuni semua dosa ibu."
Waktu terus berjalan, malam hampir berlalu. Aku melirik jam tangan menunjukkan pukul setengah empat. Sebentar lagi pagi menjelang. Rasa lelah dan kantuk mulai menghampiri kami.
Tapi sepertinya tidak ada orang yang berniat untuk beranjak meninggalkan ibu sendirian. Tidak ada yang ingin mengistirahatkan diri. Semua ingin berada disisi jenazah wanita tua ini sampai nanti ke peristirahatan terakhirnya.
Biarlah Allah yang menghitung dosa kita. Ketika Allah saja menyembunyikan aib seseorang apa hak kita untuk membukanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Mengacalah dan perbaiki diri sendiri sebelum menghitung cacat orang lain. Karena sebenarnya kita sendiri memiliki cacat yang ditutup rapi oleh sang pencipta.
...***...
Alhamdulillah setelah hampir satu bulan mengumpulkan keberanian untuk menulis lagi, akhirnya episode ini terselesaikan.
Sampai jumpa di episode berikutnya ya...semoga Allah selalu memberi kesehatan bagi kita semua.
__ADS_1