Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 33


__ADS_3

Selama sehari di rumah Sekar aku berusaha merawatnya dengan baik. Aku harap kepulangan Sekar dari rumah sakit kali ini adalah terakhir kalinya dia rawat inap. Aku juga berharap bayi yang ada dalam kandungan Sekar lebih sehat dengan bertambahnya usia.


Akhirnya acara empat bulanan di lakukan dengan sederhana. Hanya mengirim doa dan membuat hantaran untuk orang-orang tertentu. Meskipun judulnya sederhana tapi isi dalam hantaran bisa dibilang mewah.


Ada makanan, aneka kue basah, kue kering, berbagai jenis buah, perlengkapan sholat lengkap untuk Pria dan Wanita, bahkan tas dan wadahnya pun merupakan bagian dari hantaran.


Aku juga menambahkan jadwal tidur di rumah Sekar. Mbok Nah selalu ikut denganku. Ini satu-satunya cara untuk mencegah interaksi terlalu sering antara Mas Han dan Sekar.


Ibu masih sering meneleponku, bertanya bagaimana keadaanku. Aku selalu meminta doa setiap kali ibu telepon, karena aku tidak tega untuk bilang kalau Mas Han berbohong tentang kehamilanku. Nanti saja aku akan mencari alasan kalau aku keguguran, tapi aku harus menunggu waktu yang tepat.


Kalau ibu bertanya berapa bulan usia kehamilanku, aku selalu bilang aku belum tahu, karena aku tidak menghitung berapa Minggu aku terlambat haid dan ibu akan selalu percaya, karena selama ini aku selalu jujur tentang apapun. Aku juga mewanti-wanti Mas Han agar tidak menerima telepon dari ibu, aku sampai harus menangis agar Mas Han bilang iya.


Untuk sementara ini semua terkendali. Ibu mertuaku juga tidak lagi jahil dengan ucapan-ucapannya yang menyakitkan hati. Mungkin dia sangka aku memang tulus merawat Sekar—yah...tidak salah juga, tapi aku tulus dengan catatan.


Bulan berjalan, kehamilan Sekar makin besar, aku makin sering mendatangi rumahnya. Setiap kali ke dokter, aku akan ikut Mas Han mengantar untuk mengetahui perkembangan bayi dalam perut wanita itu. Alhamdulillah anakku, anak kami berkembang dengan baik, normal dan dalam kondisi luar biasa sehat.


Ketika semua lancar bagi setiap orang di keluargaku, tidak bagiku. Akhir-akhir ini tubuhku sering terasa tidak baik, mudah lelah, dan sering mual. Mungkin karena terlalu lelah, kondisiku jadi drop.


"Ndoro Putri harusnya istirahat dulu, jangan banyak aktifitas biar sehat lagi," seperti biasa Mbok Nah memijit kakiku.


"Acara tujuh bulan Sekar sebentar lagi Mbok, banyak yang harus disiapkan," aku ingin terus terlibat dalam semua prosesi yang dijalani bayi dalam kandungan Sekar.


"Banyak yang ngurusi Ndoro Putri, serahkan saja semuanya."


"Tidak Mbok, saya harus ikut ngatur acaranya, tolong ambilkan buku diatas meja itu, saya mau lihat apa saja yang belum dipesan atau dibeli."


"Baik Ndoro."


Mbok Nah menyerahkan sebuah binder padaku. Disitu aku tulis semua kebutuhan untuk persiapan tujuh bulan bayi dalam kandungan Sekar.


Ibu maunya semua dimasak sendiri, baik hidangan untuk tamu maupun makanan untuk prosesi. Tapi aku menolak, aku bilang hidangan untuk tamu lebih baik dipesan saja. Kalau makanan untuk prosesinya, ada bubur, dawet, rujak serut bolehlah dimasak sendiri. Aku tidak bisa membayangkan betapa ribetnya kalau semua mau dimasak sendiri.


Awalnya acara akan digelar di rumah kami, tapi aku menolak, apa kata tetangga ketika tiba-tiba kami menggelar acara tujuh bulanan untuk wanita lain. Lalu ibu minta acaranya digelar di rumah Sekar, aku kembali menolak, di rumah Sekar tidak banyak pekerja, lagi pula rumahnya tidak terlalu luas untuk menggelar acara dengan persiapan yang maunya semua dilakukan sendiri.


Akhirnya ibu mengalah, acara nujuh bulan Sekar disepakati digelar di rumah ibu. Aku juga menjelaskan para tetangga pasti tidak akan terkejut, karena dulu pernikahan kedua Mas Han juga diadakan di rumah itu.

__ADS_1


"Semua sudah dipesan Mbok, tenda, hidangan untuk tamu semua sudah dipesan. Untuk makanan yang harus ada sebagai pelengkap prosesi, ibu bilang ibu yang akan urus."


"Kita tinggal menyiapkan kostum yang musti dipakai mbok, jarit dan kebaya nya musti tujuh macam, motifnya juga musti sesuai dengan permintaan ibu. Haduh mbok rasanya kepala saya mau pecah."


"Makanya Ndoro musti istirahat, serahkan semua sama saya, Insyaallah semua beres."


"Ya udah lah, Mbok yang urusin semuanya ya, tapi waktu belanja saya mau ikut. Sekarang saya mau tiduran dulu, badan saya rasanya dingin, kayaknya masuk anginnya parah ini Mbok."


"Iya, Ndoro istirahat saja dulu, saya mau ngobrol sama Dul. Biar nulis dan baca catatannya lancar."


"He'eh."


Aku berusaha memejamkan mata, kepalaku pusing sekali, perutku rasanya seperti diaduk-aduk. Siapa sih yang tidak pernah masuk angin, kadang aku juga begitu, tapi tidak seperti ini rasanya. Masuk anginku kali ini parah, tapi aku tetap berusaha untuk terlelap, siapa tahu nanti setelah bangun aku merasa baikan, perlahan tapi pasti mataku mulai terpejam.


Aku membuka mata ketika tubuhku digoyang oleh sebuah tangan mungil. Semua mual dan sakit yang kurasakan tadi menghilang, ketika aku membuka mata ada seorang gadis kecil yang sangat cantik berdiri di sisi ranjang.


"Hai, siapa kamu?" sapaku. Aku melihat sekeliling kamar, tidak ada orang lain disini.


"Kamu cantik...," boleh aku memegang tanganmu, gadis kecil itu mengangguk. Aku mencium tangan mungil itu, Hmm...baunya harum beraroma bedak bayi.


Wajahnya cantik, ketika kupandang, wajahnya mirip Mas Nehan, "dimana ayah dan bundamu?" tanyaku.


Aku terbangun, langsung mengambil posisi duduk. Entah mengapa mimpiku tadi membuat dadaku menjadi sesak. Rasa apa ini, aku menyentuh pipiku yang terasa basah, benar aku menangis. Tiba-tiba aku dengar suara ramai di luar kamar.


"Lah kok penak men malah turu, kudune ki nyepak-nyepakke apa sing durung cepak, lah kok malah turu, piye bocah modelan ngene iki."


[Bagaimana sih, enak sekali malah tidur, harusnya sekarang mempersiapkan semua yang belum siap, lah kok malah tidur, bagaimana, anak kok modelnya seperti ini]


"Ngapunten Ndoro, sampun dipun tangeni Ndoro Putri, piyantunipun sameniko sakit, radi mboten sekeco."


[Maaf Ndoro jangan dibangunkan Ndoro Putri, orangnya sekarang sedang sakit, kurang enak badan.]


"Ya Ndak bisa gitu toh, ayo bangunkan, banyak yang musti dibeli ini!" aku dengar semua dari dalam kamar, aku menarik napas dan membuangnya perlahan, ibu pasti sedang marah sekarang. Aku keluar kamar, aku tidak ingin mbok Nah kena marah.


"Ibu," aku mendekati ibu, dan seperti biasa mencium punggung tangan beliau.

__ADS_1


"Ayo, sini! apa saja yang belum kamu siapkan. Kamu harusnya bilang kalau kesulitan menyiapkan acaranya. Moso sembarang kok ora becus."


"Sudah dicek semua tadi sama Ndoro Putri, ini saya sedang cek ulang Insyaallah semua siap waktu hari H, Ndoro sepuh tidak perlu khawatir."


"Benar ya Nah, semua sudah siap, kalau kamu ikut bantu ngecek, aku percaya Nah, kamu ahli dalam hal seperti ini."


"Ya wes, tadi aku cuman mampir sambil ngecek, kalau semua siap, aku mau lanjut dulu, ada janji sama ibu-ibu arisan. Wes ya Nah, tak tinggal lo ya."


Mbok mengangguk, ibu baru menghilang dibalik pintu ketika pusingku datang lagi, keringat dingin membasahi tubuhku.


"Ndoro, sebaiknya Ndoro istirahat lagi saja, kondisi Ndoro tidak bagus."


Aku menurut, Mbok Nah menuntunku untuk kembali masuk kamar. Badanku makin lemas.


"Saya buatkan wedang jahe ya Ndoro Putri, biar badannya hangat."


"Iya Mbok, terimakasih," dimana kamu mas, aku butuh kamu sekarang, badanku benar-benar tidak enak.


Aku kembali berbaring di kamar, menunggu wedang jahe buatan Mbok Nah, nanti setelah minum aku harap badanku membaik.


Aku ambil ponsel, seperti biasa mencari berita atau melihat video yang menarik dan bisa menambah pengetahuan. Aku sedang melihat video tentang prosesi tujuh bulan salah seorang selebriti Indonesia ketika sebuah pop up pesan muncul.


Dari Sekar, aku buka pesannya yang ternyata adalah sebuah foto, dibawahnya ada caption yang bertuliskan,


mbak aku pinjam suami kita sebentar, kami sedang melihat-lihat apa saja yang harus dibeli untuk persiapan tujuh bulan bayi yang ada dalam kandunganku.


Di foto itu Mas Han sedang menghadap arah lain, tangan Sekar rapat memeluk lengan suamiku, kalau dilihat posisinya, Mas Han tidak tahu kalau sedang diambil gambarnya.


Aku menutup foto yang dikirim Sekar dan membuka aplikasi pesan, ku sentuh nama suamiku, kuketik sebuah pesan.


Kamu dimana mas, aku sakit, badanku lemas, bisa pulang tidak mas?


Kemudian kusentuh ikon kirim, tak menunggu lama muncul jawaban dari Mas Han.


Maaf Rum, aku sedang dalam rapat penting minta tolong sama Pak Dul dan minta didampingi Mbok Nah untuk diantar ke dokter ya...

__ADS_1


Aku menangis...ibu aku mau pulang, anakmu sakit Bu...


...***...


__ADS_2