
Hari ini aku memilih untuk pulang awal. Yuni membebaskan ku pulang jam berapa saja. Sampai rumah, aku langsung menuju kamar mandi membersihkan diri. Sehari meninggalkan Ken, rindunya setengah mati.
"Halo gantengnya Bunda?" yang didatangi bergerak lincah, kaki dan tangannya membuat gerakan mengayuh sepeda.
Suaranya, au...au...au, kalau didengar lucu seperti suara anak kucing.
"Seharian tole agak rewel Ndoro putri."
"Mungkin karena baru pertama kali ditinggal ya mbok," aku menggendong anakku dan menimangnya, "naik pesawat, wing...," kuayun Ken ke kanan dan ke kiri, "wing..." suara tawa si kecil membuat aku melupakan semua masalahku.
Bercanda dengan Ken memang menyenangkan. Sekarang anaknya sudah tidur.
Aku mengeluarkan berkas-berkas pernikahan dari dalam almari. Menjajarnya diatas meja, menata berkas yang sudah aku fotokopi dan sudah terlegasir. Perih rasanya hatiku, tapi aku tidak mau lagi hidup tanpa harga diri.
Aku ringkas lagi berkas yang aku butuhkan, aku pilah dan aku masukkan dalam map, besok tinggal mengajukannya ke pengadilan agama. Dengan siapa aku berangkat itu urusan nanti.
Selesai dengan berkas-berkas aku merebahkan diri disebelah anakku. Waktu empat puluh hari yang kuberikan pada Mas Han sudah habis. Sekarang waktuku untuk mengajukan gugatan. Empat puluh hari belakangan ini habiskan waktuku untuk berpikir ulang dan mempertimbangkan kembali semuanya, tapi ternyata hatiku makin mantap.
"Ayo aku yang antar, biar cepet," Yuni mengambil map yang aku siapkan di ruang tamu.
"Yakin mau antar?" tanyaku.
"Iya lah, kebetulan Juna lagi sibuk," Yuni berjalan keluar, "Ibu...Yuni sama Rumi berangkat dulu," pamit Yuni berteriak sambil jalan.
"Kamu pamit sambil teriak, gimana sih!" aku cemberut.
"Kita ini dulu sebenarnya saudara tapi Tuhan salah kirim alamatnya," Yuni tertawa sendiri, "dengar ya, Yuni dan Rumi, hahahaha," tertawa lagi dia.
Perjalanan menuju pengadilan agama terbilang lancar. Alhamdulillah jalanan juga lengang. Sepertinya niatku ini direstui sama Allah. Mungkin nggak sih Allah merestui, sedangkan perceraian adalah salah satu tindakan yang diperbolehkan tapi dibenci sama Allah.
"Nggak usah ngelamun lagi, tinggal jalani aja, sudah di perjalanan ini."
"Cih," aku melengos, "kamu nggak ikut ngejalani Yun, meskipun yakin dengan keputusanku, tapi rasanya celekit-celekit dalam hati."
"Kok bisa sampai begini, kok bisa jadi seperti ini, padahal aku dulu yakin kalau semua baik-baik saja."
"Iya deh, aku kan belum pernah nikah."
Berat rasanya memasuki gedung ini. Tempat aku akan mendaftarkan permohonan ceraiku. Aku masih berharap, Mas Han berlari dibelakangku dan berteriak, "Rum, batalkan permohonan ceraimu," seperti dalam kisah sinetron yang aku lihat. Tapi ternyata itu menjadi sebuah harapan saja.
"Sudah masuk permohonannya?" tanya Yuni yang menungguku di resto dekat pengadilan agama.
"Hemm," napasku sesak, "Hua...Hua...Hua...."
"Hei," Yuni tengok kanan-kiri, "jangan nangis disini, dilihatin orang," menepuk tanganku berkali-kali, "cup...cup."
"Kamu pikir aku Keandra, Hua...Hua...Hua...."
__ADS_1
"Kamu lebih parah dari Ken," sergah Yuni.
"Bagaimanapun ada perasaan nggak enak Yun, disini, didalam sini," aku menepuk dadaku, "sedih...delapan tahun sia-sia semuanya."
Yuni menepuk tanganku, memberi kekuatan. Ah...hancur semuanya. Semoga hubunganku dengan ayahnya Ken menjadi lebih baik kedepannya, meskipun kami tak lagi terikat tali pernikahan.
...***...
Nehan POV
Masalahku dengan Rumi memberi beban tersendiri buatku. Aku yakin dia akan membatalkan keinginannya untuk berpisah kalau aku melepaskan Lala. Tapi bagaimana bisa aku melakukan itu. Mungkin karena aku selalu setia, jadi ketika tahu rasanya mendua membuatku tak bisa melepaskan salah satu diantaranya. Lagipula selama ini aku tak pernah kehilangan satupun milikku.
Bahkan akhir-akhir ini komunikasi ku lebih lancar dengan Lala daripada dengan Rumi. Bapak memintaku untuk tidak sering datang ke kampung, padahal setiap saat aku menahan rindu pada Ken anakku.
Rindu yang aku rasakan pada Ken jauh beda dengan rindu yang aku rasakan pada ibunya ataupun pada Lala. Ada rasa membuncah yang tak terukur ketika memikirkan anakku itu.
Hari ini aku akan bersiap untuk mengunjungi anakku lagi. Tidak peduli bagaimana tanggapan Rumi nanti, yang penting aku berangkat dulu.
Adzan subuh bahkan belum berkumandang ketika aku berangkat. Aku akan ke tempat kerja Rumi dulu baru kemudian bersama-sama pulang ke rumah.
Ternyata gedungnya sudah jadi. Di depan gedung aku melihat mobil Arjuna terparkir. Sialan itu anak, rupanya dia menggunakan kesempatan kerjasama dengan Yuni untuk mendekati Rumi. Tapi aku percaya kalau Rumi akan berubah pikiran dan akan mempertahankan rumah tangga kami.
Aku masuk ke pelataran gedung, aku lihat Juna berdiri dengan sombongnya ketika melihatku datang, "ada apaan kamu datang kesini?" sambutannya lumayan pahit buatku. Padahal kami punya proyek kerjasama yang masih berjalan.
"Kenapa, nggak boleh...istriku kan kerja disini!"
Aku berjalan mendekat, "kamu pikir kamu berarti di mata Rumi?" aku berdecih, "jangan terlalu percaya diri, aku sudah merasakan hidup dengannya selama delapan tahun," aku tersenyum sinis.
"Aku paham benar lekuk tubuhnya dan bagaimana caranya membuat dia mende_sah mencapai nirwana bersamaku. Aku tahu bagaimana cara memuaskannya di ranjang, rasa bibirnya yang manis dan pelukannya yang hangat."
Mata Juna nyalang memerah, dia mendekat dan meraih kerah bajuku, "dan kamu menyampaikan semuanya dengan cara yang tidak sopan."
"Setidak sopan kamu yang menyukai istri orang lain," kami saling beradu pandang, aku biarkan Juna mencengkeram kerah bajuku sampai puas. Toh sampai sekarang Rumi masih tetap istriku.
Juna melepaskan tangannya, "oh iya, dia sekarang masih istrimu, sampai berapa lama kira-kira status itu bertahan?" senyumnya membuatku sebal.
Tanganku hampir menyentuh wajahnya ketika aku mendengar suara Rumi berteriak, "mas, hentikan!"
Aku mencari asal suara. Rumi berlari mendekati kami, "ada apa ini?"
"Oh, hanya urusan lelaki," jawabku enteng.
"Ngapain kamu kesini?" Yuni selalu melihatku seperti itu, dengan pandangannya yang—bisa dikatakan culas. Kadang aku heran memang apa salahku padanya?
Aku berjalan mendekati Rumi, "mengunjungi istri dan anakku."
"Jangan kepedean kamu ya, kamu tunggu saja__."
__ADS_1
Yuni memutus kalimatnya dan berteriak, "aaa...aaa...sakit, apa sih Rum?!" aku melirik kebawah ternyata pahanya dicubit sama Rumi. Aku tahu panasnya rasa cubitan itu. Pantas saja Yuni berteriak.
"Memang ada apa, ada yang kamu sampaikan padaku Yun?" tanyaku.
"Nggak," dia mendorong Rumi lebih mendekatiku, "sudah sana, bawa suamimu itu pulang, sebel aku lihatnya!"
Rumi membisikkan sesuatu tepat di telinga Yuni, entah apa itu tapi berhasil membuat Yuni meninggalkan kami. Sambil berjalan dia juga menarik tangan Juna untuk ikut dengannya.
"Apaan sih kamu, aku mau disini!" teriak Juna.
"Nggak boleh, kamu ikut aku!" Yuni menarik tangan Juna kasar.
Aneh sekali, lelaki bukan sih, ditarik-tarik sama perempuan nurut aja, ingin tertawa lihatnya.
"Ayo mas, kita pulang. Kamu ingin melihat anakmu kan?!" ah sudah lama dia tak selembut ini padaku. Jadi aku memberinya senyum, tapi tak berani mengulurkan tangan. Takut kalau dia jutek lagi padaku.
Jadi aku hanya mengangguk dan mengikutinya jalan di belakang. Aku sempatkan untuk berdoa, semoga rasa kesal Rumi berhenti sampai disini. Terlalu berat untuk berpisah dan jauh dari anakku.
...***...
Epilog
Juna dan Yuni masuk ke ruangan. Juna masih terus menggerutu karena tadi ditarik-tarik.
"Kamu kenapa sih, kamu kan tahu, bahaya meninggalkan mereka berdua!" teriak Juna.
"Bodoh amat," Yuni tak kalah keras menjawab, "biarkan mereka, Rumi tadi yang minta."
"Lagi pula kalian dari mana, berangkat jemput mulai pagi, baru datang siang begini."
"Pengen tahu aja sih, urusin saja diri kamu sendiri dulu, cari pacar sana!" rupanya Yuni sebal dengan Juna yang mencercanya dengan pertanyaan.
Keduanya berdiri dibalik kaca gelap yang tak terlihat dari luar, "lihat itu mereka kemana Yun, bahaya kalah Rumi berduaan sama Nehan di mobil."
"Biar saja kenapa! Rumi memang mau baik-baik sama Nehan, biar nggak curiga, sambil mempersiapkan diri katanya."
"Curiga apa, mempersiapkan diri buat apa?!" Yuni berlalu masuk ke dalam kamar rahasia dibalik rak buku, "Yun..." teriak Juna.
"Nggak tahu!" sialan Yuni, "awas kamu kalau berani ikutan masuk kesini, aku laporin polisi!"
Juna meremas tangannya, hatinya ketar-ketir mendengar Yuni bicara. Ada apa sebenarnya?
...***...
Makasih yang masih setia menanti cerita ini ya.
Selamat membaca gaess
__ADS_1
lope you all 🥰😘❤️