
Nehan duduk di salah satu bangku paling belakang yang disediakan untuk tamu dan calon wali murid. Dia mengamati dari jauh interaksi antara tiga orang yang ada disana, Yuni, Juna, dan Rumi.
Bibirnya menyunggingkan senyum melihat mantan istrinya yang terlihat begitu cantik dan berwibawa.
Ada sedikit sesal dalam hati melihat Rumi hari ini. Nehan merasa sudah membunuh tanaman yang bisa mekar dan berkembang sehebat ini selama sembilan tahun lamanya. Tidak memberi kesempatan pada tanaman itu untuk tumbuh subur dan bisa memberi manfaat untuk banyak orang.
Setelah beberapa saat, Nehan memilih untuk pergi meninggalkan lokasi. Menjemput Lita yang bermain bersama suster Eny lalu menuju mini market miliknya. Melihat kinerja karyawan sekaligus membeli beberapa jajanan dan mainan untuk Ken. Daripada hanya diam memperhatikan Rumi yang sibuk, Nehan memutuskan untuk bermain bersama anaknya.
Bu Narmi menyambut hangat kedatangan Nehan dan Lita.
"Looo cucu cantiknya uti datang."
"Ken dimana Bu?"
"Uti," gadis kecil itu mengulurkan tangan untuk mengucap salam, "salim dulu."
"Ken di kamar, jam segini dia lagi tidur," Bu Narmi menggendong Lita menuju kamar, "Lita bubuk sama Ken ya."
"Nggak mau bubuk, ayah bawa banyak mainan uti, kata ayah buat Ken. Lita mau main bareng."
"Hahaha...lucunya, banyak sekali ngomongnya," sementara Nehan sudah berada dalam kamar sedang mengganggu anaknya yang sedang lelap.
Nehan mendekati Ken, "anak ayah...ayo bangun nak, bangun...," towel-towel pipi bakpao.
"Jangan diganggu Han, biar Ken tidur. Kalau bangun susah lagi tidurnya, bisa rewel semalaman," ibu berlalu ke kamarnya sendiri sambil menggendong Lita.
"Iya, Bu."
Nehan merebahkan diri. Merasakan napas anaknya yang teratur menarik Nehan untuk mengantuk dan ikut tertidur.
Matahari senja menembus sela-sela kamar saat Nehan membuka mata. Jam tangan yang melingkar di pergelangan menunjukkan pukul lima sore.
Anaknya sudah tidak ada di sisinya. Mungkin karena lelah Nehan tidak merasakan pergerakan di sebelahnya.
Dia berjalan keluar kamar mencari anaknya. Ternyata keduanya sedang bercanda dengan Bu Narmi. Nehan tersenyum melihat anaknya yang tertawa bahagia.
Jam segini Rumi masih belum pulang. Kemana mantan istrinya itu. Apakah setiap hari pulang hampir Maghrib begini atau hanya karena hari ini adalah hari yang sibuk.
Perasaan Nehan campur aduk, antara khawatir, cemburu dan sedikit marah. Mana ada pendaftaran siswa baru sampai sesore ini. Kalau bukan tentang pekerjaan kemana Rumi pergi.
Daripada kepala ikut panas karena hati yang panas, Nehan memutuskan untuk mandi. Semua keperluan pribadi ada dalam mobil, jadi dia tidak perlu mengganggu ibu untuk menyiapkan ini itu.
"Kamu nggak pulang Han?" tanya Bu Narmi melihat Nehan selesai sholat Maghrib. Bu Narmi berpikir kasihan Lita.
Antara sungkan tapi nggak rela untuk pulang Nehan kikuk menjawab, "iya Bu, nanti selepas Isya."
"Ibu tahu kamu menunggu Rumi," ucapan ibu tepat menusuk hati, "Rumi tidak biasa pulang malam, pasti ada sesuatu yang mendesak."
__ADS_1
"Apa Rumi mengabari ibu?"
Bu Narmi menggeleng, "lupa mungkin, ponselnya juga tidak bisa dihubungi."
Nehan menghela napas, kalau Rumi pergi bertiga, ada Juna dan Yuni yang bisa mengabari ibu.
"Saya boleh menunggu Rumi sampai pulang ya Bu."
"Tunggulah, ibu tahu kamu khawatir, tapi kalau kamu nanti marah sama Rumi, kamu harus berhadapan dengan ibu. Ingat, Rumi bukan istrimu lagi," ibu masuk meninggalkan Nehan sendiri di teras.
Berkali-kali Nehan melihat waktu di jam tangannya. Entah sudah sampai berapa hitungan dia mondar-mandir di teras.
Waktu dia melihat ada sorot lampu mobil berhenti di depan rumah, semua kekhawatiran dalam hati hilang. Yang tinggal adalah perasaan lega., meskipun Rumi datang bersama Juna.
"Mas...?!"
Semua amarah menguap, melihat wajah itu pulang dalam keadaan baik-baik saja. Kalau kamu tahu betapa khawatirnya aku tadi Rum...
"Dari mana saja?!" memasang tampang pura-pura marah. Biar dilihat sama Juna kalau Rumi tidak bisa sembarangan pulang malam.
"Dari makan malam," Nehan melirik bujang lapuk karena menjawab pertanyaannya.
"Rum...," harus Rumi yang menjawab.
"Kan sudah dijawab Mas Juna," Rumi melenggang masuk rumah. Sementara Nehan mengikuti dari belakang.
"Masa makan malam berdua, mana Yuni?" masih mengikuti Rumi yang mengambil handuk untuk mandi.
"Emang boleh?" senyum atau nyengir, entahlah. Satu sabetan handuk mengenai pundak Nehan, "aduh, sakit Rum."
Ditinggal mandi Nehan memilih menuju ruang tamu dimana Juna duduk menunggu.
"Menunggu sesuatu?" sinis Nehan.
"Aku tadi belum sempat pamit sama Rumi."
Nehan berdehem, "ehem...Bu, Juna mau pamit pulang," teriak Nehan.
Bu Narmi bergegas menuju ruang tamu, "mau pulang?"
"Mmm, anu Bu...saya."
Nehan langsung menyambar, "nggak sopan bersikap seperti itu. Ini ibu sudah disini lo, tadi sampai lari-lari ibunya," meringis merasa menang.
"Lagi pula nggak baik laki-laki ada di rumah perempuan sampai malam," sebelum disambar Juna, Nehan meneruskan, "kalau aku kan menemani anak-anak disini."
Juna melirik, "ah...iya Bu, maaf saya pamit dulu, tolong sampaikan sama Rumi kalau saya pulang," menerima uluran tangan ibu untuk dicium sebagai tanda berpamitan.
__ADS_1
"Iya, nanti disampaikan," ibu tersenyum.
Nehan meringis, melipat tangannya di belakang punggung lalu melambaikan tangan ke arah Juna.
Awas saja kamu Han, suatu saat akan ada giliranku untuk membalas—Juna.
"Kamu juga harus pulang Han," bisik ibu setelah Juna pergi.
"Hehehe, iya Bu, sebentar lagi," ibu meninggalkan Nehan sambil menggelengkan kepala.
"Mana Mas Juna?"
"Sudah selesai mandi Rum?" Nehan tersenyum melihat mantan istrinya yang segar sehabis mandi.
"Tck...mana mas Juna?!"
"Barusan pulang, sudah pamit sama ibu kok. Dia titip pamitan buat kamu."
"Jangan suka pulang malam Rum," mengikuti Rumi duduk di ruang tamu, "kasihan Ken."
Mbok Nah keluar membawa dua cangkir teh dan sepiring kue, "Ndoro putri tidak pernah pulang malam kok Ndoro Kakung, ini silahkan dinikmati."
"Tuh denger."
"Asik ya makan malam berdua, sampai lupa kalau di rumah ditunggu sama anaknya," Rumi menautkan alisnya.
"Lain kali kalau mau makan malam di luar jam kerja, pulang dulu, jangan langsung main pergi saja. Kasihan ibu nunggu dari sore. Mana hape nggak bisa dihubungi. Memangnya susah ya kirim pesan," bibir Rumi sedikit terbuka karena kesal.
Luar biasa ucapannya. Apa dia lupa apa yang sudah dilakukannya padaku dulu—Rumi.
"Kalau baterai ponselmu habis, kan bisa pinjam hape orang yang makan bareng sama kamu," sekarang Rumi melipat tangannya di depan dada.
"Sudah?!" suara Rumi perlahan tapi ada penekanan nada didalamnya.
"Sebaiknya kamu pulang! Lita akan pulang bareng aku besok," Rumi berdiri hampir meninggalkan Nehan lalu berbalik, "sebelum bicara ngaca dulu, bagaimana kamu menyakiti aku dulu," benar-benar pergi masuk kamar.
Nehan bengong, terkejut dengan sikap mantan istrinya. Ternyata luka itu masih ada. Nehan bergegas menyusul dan berdiri di depan kamar Rumi.
"Maaf, Rum. Aku memang banyak salah, maafkan aku ya..."
"Besok luangkan waktu untukku ya. Ada yang ingin aku perlihatkan padamu," tidak ada jawaban, "Rum..."
Nehan mengetuk pintu kamar, "Rum, bisa nggak luangkan waktu?"
Terdengar suara Rumi menghela napas, "kita lihat besok."
"Usahakan ya Rum. Aku tunggu besok. Aku pamit ya, tidur yang nyenyak Rum. Jangan mimpikan aku, temui saja aku ketika kamu terjaga. I still love You, always."
__ADS_1
Tidak ada jawaban, tapi Nehan pulang dengan hati tenang. Dia kembali ke penginapan. Mungkin besok dia akan mulai mencari kontrakan sementara. Karena dia hanya akan memasuki rumah barunya bersama Rumi dan anak-anaknya.
...***...