Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 61


__ADS_3

Sekar POV


Hari ini terulang lagi, sampai pukul tiga pagi suamiku belum sampai rumah. Pasti dia pergi ke rumah Mbak Rumi. Ternyata meskipun dia minggat dari rumah, suamiku masih sering mengikutinya ke kampung.


Sejak sore aku menantinya pulang. Dia berjanji untuk tidak pulang malam. Ada yang ingin aku bicarakan tentang persiapanku melanjutkan studi seperti keinginanku.


Aku ingin dia ikut dulu pada awalnya. Dia kan lebih berpengalaman dan sering bepergian. Aku masih takut dan tidak percaya diri, paling tidak sebulan atau dua bulan lamanya. Setelah itu aku akan bisa mandiri.


Sialan Mbak Rumi, menahan suamiku semalaman. Mataku tak bisa terpejam karena ada ganjalan dalam hatiku. Rasanya aku ingin meledak kalau harus menahan diri seperti ini.


Mungkin ada baiknya aku telepon suamiku. Siapa tahu dia tidur di rumah lama. Aku ambil ponsel, tanganku sudah akan menyentuh nomor tujuan tapi aku batalkan. Rasanya nggak mungkin dia ada di rumah lama, karena disana hanya ada asisten rumah tangga.


Baru pukul setengah empat Mas Han masuk kamar. Aku dalam posisi duduk membaca buku ketika dia muncul. Aku bergegas meletakkan buku, turun dari ranjang dan memasang senyum yang paling cantik.


"Kok baru pulang mas," aku terima jas dan tasnya, sambil terus memasang senyum yang paling manis.


Dia membalas senyumku, "hmm, sibuk sekali hari ini."


"Pasti lelah ya," aku lepaskan kancing bajunya satu persatu, matanya terpejam dan tubuh Mas Han terbaring di sofa, "aku siapkan air hangat buat mandi ya..."


Harus sabar Sekar. Aku berjalan menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat dalam bathtub, kemudian aku kembali ke tempat suamiku berbaring. Matanya terpejam. Aku lepaskan sepatu dan kaos kakinya lebih dulu. Setelah aku letakkan di tempatnya, aku kembali dan melepas sabuk dan terakhir celana panjangnya.


Ketika aku selesai melepas pakaian luarnya, tanpa sengaja aku menatap mata Mas Han yang ternyata kembali terbuka.


"Kamu mandi dulu ya, tinggal lepas kaos dalam sama celana bokser plus dalamnya kan," aku tersenyum lagi. Banyak senyum Sekar...kamu musti banyak senyum.


"Kenapa kamu baik sekali sama aku?"


Ya, karena aku mencintaimu—mungkin...yang pasti ada yang aku inginkan darimu.


"Karena kamu suamiku dan aku mencintaimu," ini adalah jawaban yang keluar dari bibirku.


"Maafkan kalau aku sering bohong."


Maafmu akan selalu aku terima selama kamu menuruti semua mauku.


"Akan selalu ada berjuta maaf buatmu mas," aku harus bisa mengambil hatinya kan...

__ADS_1


Aku menarik tangannya dan mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi. Waktu pintu akan kututup, tanganku malah ditarik, membuatku ikut masuk kedalam.


"Kamu sekalian mandi, toh sudah pagi juga, hampir jam empat," ucapnya sambil melihat mataku lekat.


Mas Han melepas pakaian terakhir yang menempel di tubuhnya. Aku tersenyum, berjalan mendekat, mendorong sedikit tubuh suamiku agar masuk ke dalam bathtub.


Di depannya aku melepas semua pakaianku. Aku langkahkan kakiku dan menyusul masuk ke dalam air yang masih hangat. Aku mengambil posisi di belakangnya.


"Aku tahu kamu dari Mbak Rumi, iya kan?!" ucapku memastikan. Aku ambil sabun, menggosok sambil memijat punggungnya.


"Hmm," sepertinya otak suamiku sudah tidak pada tempatnya. Tubuhnya bergerak ke belakang dan menempel pada tubuhku.


"Kalau lelah sambil rebahan juga boleh mandinya," Mas Han menarik tubuhnya lebih kebawah, hampir semua bagian tubuhnya terendam air kecuali kaki panjangnya sedikit muncul ke permukaan serta sebagian bahu dan kepala.


Sekarang aku menggosok tubuhnya bagian depan, "kamu tidak lelah terus-terusan ke sana?" tanyaku.


"Sedikit, tapi aku harus menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anakku."


Aku kecup bibirnya sekilas, "ngantuk? kita selesaikan mandinya terus tidur ya."


"Tapi aku nanti ada rapat."


"Hmm." jawabannya dari tadi hanya seperti itu.


"Kita sudahi mandinya ya," aku keluar lebih dulu dari bathtub, membilas tubuhku dengan air hangat yang bersih dari shower kemudian memakai jubah mandi. Mas Han menatapku dengan pandangan gelap.


Aku menuntunnya keluar dari bathtub. Menarik tubuh polosnya keluar dan memakaikan jubah mandi seperti yang kulakukan. Dia hanya diam dan mengikuti semua kemauanku. Matanya terus mengikuti kemana tubuhku pergi.


Aku membawanya kembali duduk di sofa, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut dan tubuh Mas Han. Setelah semua kering aku ambilkan piyama, dia hanya diam ketika aku bermain sebentar dengan tubuh polosnya.


"Apa kamu menginginkan aku?" suaranya serak dan dalam.


"Tidak sekarang," aku lepas tanganku dari bagian tubuh bawahnya, memakaikan piyama dan membawanya berbaring di ranjang.


"Mau kemana?" tangannya menahanku waktu aku menjauh.


"Ambil baju masa iya aku tidur pakai jubah mandi?" aku buka sedikit jubah mandiku, "aku polos tidak pakai apa-apa," bisikku dari tempatku berdiri.

__ADS_1


"Aku tahu," dia menepuk sisi ranjang di sebelahnya, "sini, lepas jubah mandinya."


Mas Han menarik selimut. Aku lepaskan jubah mandi dan membawa tubuh polosku masuk dalam selimut.


"Tidur," aku membelai rambut Mas Han, "nanti setelah segar ada yang ingin aku bicarakan denganmu," bisikku tepat di telinganya.


Tangannya mulai kemana-mana di bawah selimut. Aku biarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Melihat matanya yang sayu dan hampir tertutup, aku yakin tak lama lagi dia akan terbuai dalam mimpi. Dan benar dugaanku perlahan Mas Han tertidur lelap. Aku keluar dari bawah selimut kemudian mengambil piyama tidur yang tadi belum sempat kupakai.


Kamu harus lihat ini mbak. Jadi kalau lain kali Mas Han ke tempatmu, kamu akan mengusirnya untuk langsung pulang. Aku mengambil ponsel, mengambil beberapa gambar dari sudut yang menunjukkan betapa lelah wajah Mas Han. Kemudian aku sentuh nomor telepon Mbak Rumi kemudian aku sentuh ikon kirim, lalu aku kirim sebuah pesan.


Lain kali kalau Mas Han datang ke tempatmu, jangan biarkan dia pulang terlalu malam, lihat betapa lelah wajahnya, agar mbak tahu, dia baru saja datang.


Aku tunggu beberapa saat. Aku ingin tahu jawaban apa yang akan aku dapat. Tidak perlu lama aku menanti sudah ada balasan pesan dari Mbak Rumi.


Jangan lupa ingatkan untuk sholat. Waktu subuh sudah datang.


Jawaban apa ini? Apa dia tidak lihat kalau wajah suaminya kelihatan lelah, masa iya dibangunkan untuk sholat subuh. Punya otak nggak sih dia.


Kamu nggak punya otak ya mbak. Lihat dong wajah Mas Han yang kecapean, masa disuruh bangun buat sholat subuh?!


Sekarang kamu akan jawab apa? aku mengetuk-ketuk ponselku, menunggu pesan balasan dengan tidak sabar. Akhirnya aku lemparkan ponselku sambil menggerutu, "dasar sok alim."


...***...


Epilog


"Siapa Rum pagi-pagi kirim pesan," karena sama-sama lelah, semalam aku dan ibu saling pijit bergantian, itu sebabnya ibu tidur di kamarku.


"Orang gila Bu," aku memandang foto Mas Han dengan sedih. Maafkan aku Mas, gara-gara aku kamu jadi seperti itu.


"Mana ada orang gila bisa kirim pesan," tanya ibu lagi.


"Ini orang gilanya intelektual Bu," jawabku asal.


Otakku berkelana menghitung lamanya perjalanan. Kalau Mas Han sampai di rumahnya jam segini, berarti baru pulang kurang lebih sekitar pukul dua belasan kalau nggak mampir kemana-mana, jangan-jangan yang kemarin di gelandang sama petugas keamanan kamu mas...


Ada rasa sedih, penasaran tapi juga ingin ketawa kalau mengingat peristiwa itu. Dosa nggak sih kalau aku sedikit senang melihat suamiku kena masalah begini?!

__ADS_1


...***...


__ADS_2