
Sekar POV
Awan gelap menggantung di cakrawala. Desir angin membuat gendang telingaku lebih keras bergetar dan kulitku menjadi lebih pucat dari biasanya. Bahkan mantel ungu tebal yang aku pakai tak mampu melindungi tulangku yang digigit dinginnya udara.
Langkahku terhenti di depan sebuah sebuah gedung. Sebuah pintu dengan kusen aluminium berwarna putih dengan kaca di tengahnya terpampang di depanku. Wajah pada pantulan kaca menunjukkan tubuh yang melebar dengan perut menonjol seperti menertawakan aku tanpa suara. Aku benci bayangan orang yang ada di situ.
Suara derit pintu mengiringi langkahku memasuki ruangan yang masih sepi. Hawa hangat menyapa pipi cabiku, pasti sekarang warnanya lebih terang dari pada tadi yang menonjolkan semburat putih pucat di wajahku.
Seorang perawat berseragam putih selutut memintaku untuk mendaftar. Janji khusus yang aku buat ternyata tidak begitu berpengaruh, aku tetap saja diminta untuk mengambil nomor antrian.
"Suaminya tidak ikut Bu?" aku pikir pertanyaan itu hanya untuk menjaga kesopanan saja, tapi aku berubah pikiran ketika dia melanjutkan, "biasanya calon ayah tidak akan membiarkan istrinya periksa sendiri kalau usia kandungannya mendekati kelahiran," aku tersenyum—sinis.
"Ayahnya pergi melihat calon adiknya," jawabku.
Wajah perawat yang sekarang duduk di depanku menunjukkan keheranan. Aku meninggalkan dia—yang mungkin sekarang sedang bertanya-tanya, menuju sebuah kursi tunggu.
Kursi nya cukup nyaman untuk ukuran praktek dokter spesialis yang tidak begitu terkenal ini. Tapi entah nanti kalau aku harus menunggu antrian yang mengular.
"Apakah saya nanti harus menunggu lama?" tanyaku.
Perawat itu membuka sebuah buku catatan, "kalau melihat janji temu yang sudah saya catat harusnya tidak sih."
"Oh," baiklah, semoga urusan hari ini cepat selesai.
Ruangan praktek ini tampak suram, sedangkan lampu menyala terang. Ada yang mengganjal dalam hatiku, rasa sesak yang akhir-akhir ini membuatku hampir putus asa. Ketika aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyerahkan semua mimpiku, aku dikecewakan dengan sikap suamiku yang mengabaikan aku.
Nehan Nawang Nugroho, kesalahanku hanya satu yaitu jatuh cinta padanya. Mbak Rumi benar, aku gagal mengontrol perasaanku. Andai laki-laki lemah itu mengakui keberadaanku secara utuh—bukan hanya sekedar jasad tapi juga hati, aku akan mengikuti apapun maunya.
Ternyata aku keliru, dan aku baru menyadari kalau aku tidak pernah ada di hatinya. Dia seperti bayang-bayang Mbak Rumi. Segera setelah Mbak Rumi pergi, dia juga ikut sering menghilang.
Mungkin beberapa kali memang dia punya urusan di luar negeri, tapi selebihnya? aku tak tahu...
Dia pergi dan datang semaunya, melampiaskan hasrat kalau dia ingin kemudian menghilang dan tak peduli denganku yang menanti kabar darinya.
Kali ini aku ingin membalas perlakuannya, aku akan membuat dia menyesal memperlakukan aku seperti ini.
Lamunanku memudar ketika seorang lelaki setengah tua berambut putih memasuki ruangan. Dia berjalan cepat masuk ke ruang periksa, tipikal seorang dokter yang harus bekerja cepat tiap harinya.
"Nyonya Sekar, silahkan masuk, kebetulan jadwal dokter longgar jadi bisa datang lebih awal."
Aku mengangguk, memberi sedikit senyum dan segera masuk ke dalam kamar periksa. Perawat mengikuti langkahku dari belakang.
"Saya ingin operasi yang dijadwalkan," ucapku seketika setelah aku duduk untuk diperiksa.
__ADS_1
"Pasien baru?" tanya dokter.
"Ya, saya baru pertama kali kemari, dokter...Ridwan?!" jawabku sedikit ragu, khawatir salah menyebut nama.
Banyak hal yang aku bicarakan, dengan sedikit mengarang cerita kalau suamiku kerja di luar negeri dan menyelipkan beberapa kebohongan lain, akhirnya kami sepakat untuk menjadwalkan operasi caesar untuk melahirkan. Dengan syarat aku harus periksa secara rutin sampai hari yang ditentukan.
"Memang begitu kelakuan laki-laki, kalau ketemu sama perempuan lain yang lebih seksi dan lebih muda pasti melupakan istrinya."
"Yah...begitulah."
"Makanya saya ragu untuk menikah, buktinya seperti mbak ini, hamil tua malah ditinggal melihat istri muda yang juga sedang hamil."
Ternyata ceritaku mampu membuat orang bersimpati, meskipun itu hanya sebuah kebohongan besar, aku terpaksa melakukannya.
"Suster...mmm?"
"Eny...suster Eny," jawab perawat dokter yang terus saja mengoceh karena termakan ceritaku.
"Boleh saya minta kartu nama, saya ingin berbincang dengan anda suatu saat nanti mengenai sesuatu."
"Boleh."
Suster Eny menyerahkan selembar kartu nama. Aku tersenyum dan mengangguk takzim. Ini akan menjadi awal dari rencana gilaku.
...***...
"Kenapa kamu tidak menunggu kedatanganku sebelum mengebumikan anak kita?" Mas Han sudah tenang setelah tadi menangis histeris waktu kubilang anaknya meninggal.
"Aku tidak tega membuat bayi sekecil itu menunggu terlalu lama Mas, kasihan."
"Tapi aku ingin bertemu dengan anakku Sekar."
"Maafkan aku mas," nikmatilah rasa bersalahmu mas.
"Ayah macam apa aku ini," Mas Han memukul kepalanya berkali-kali, "bahkan bapak dan ibu masih sempat melihat anakku meskipun sebentar, tapi aku...?!"
"Maafkan aku mas," aku pasang suara sesedih mungkin.
"Aku yang harusnya minta maaf padamu dan anak kita Sekar."
"Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk mengurusi banyak hal yang membuatku mengabaikan kamu dan anak kita."
"Aku tidak bisa membayangkan kalau Rumi mendengar bayi yang dulu dia harapkan kehadirannya meninggal..., maafkan aku Rum..." bisik Mas Han pilu.
__ADS_1
Bahkan di saat seperti ini, saat dimana seharusnya kamu berkabung bersamaku dan tidak memikirkan yang lainnya, Mbak Rumi masih ada di kepalamu mas.
"Kenapa kamu merubah dokter keluarga tempat biasanya kamu periksa Sekar?"
"Aku hanya ingin mencari tempat yang lebih nyaman mas. Tidak terlalu lama menunggu antrian, karena kamu juga sibuk kan akhir-akhir ini."
"Aku tidak mau mengganggumu dengan masalahku yang tidak penting mas."
"Jangan bicara seperti itu, kamu penting buatku, anak yang kamu kandung sangat penting buatku."
Huh! lain di bibir lain di hati, kalau memang penting kenapa kamu sering sekali meninggalkanku.
"Aku hanya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan. Pengembangan usahaku ini menyita semua waktu dan tenagaku."
Benarkah?
"Malam ini kamu akan disini kan mas? aku tidak mau sendiri di kamar rumah sakit begini, temani aku ya," aku peluk tubuh suamiku erat, kamu harus merasa bersalah mas.
"Tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu."
"Aku akan pindahkan kamu ke ruang perawatan VVIP, aku tinggal sebentar untuk mengurus administrasinya."
"Jangan tinggalkan aku mas," aku peluk pinggang Mas Han, "aku tidak butuh ruang VVIP, disini saja asal jangan tinggalkan aku," aku sandarkan kepalaku pada punggungnya.
Mas Han berputar, kembali duduk dan menghadap padaku, "tidurlah."
Tangannya meraih pundakku dan membantuku merebahkan diri, "maafkan aku ya," dia ikut berbaring disisi ku. Kami saling berpelukan erat. Kamu milikku malam ini mas, hanya milikku.
...***...
Epilog
Mas Han menghambur membuka pintu kamar tempatku dirawat.
"Apa-apaan ini, apa yang terjadi Sekar?!" bahuku diguncang keras-keras oleh Mas Han.
Bapak yang berdiri di salah satu sudut ruangan berlari mendekat, "Han, lepaskan tanganmu!" teriak bapak marah melihat sikap mas Han.
"Jangan sakiti Sekar, dia sama sedihnya denganmu," teriak bapak lagi.
Ibu hanya diam menunduk di kursi penunggu pasien tanpa ekspresi, kesedihan tampak jelas di wajahnya.
"Siapa yang memberimu ijin untuk melakukan operasi hah!!" teriak Mas Han padaku lagi.
__ADS_1
Dengan tenang aku menjawab, "itu karena kamu tidak ada disini untukku dan anakku mas, jadi menurutmu siapa yang harus memberi persetujuan?!" mataku tajam menghunus menatap Mas Han.
...***...