
YunJun Couple
"Terimakasih Jun, sudah membawaku berlibur."
Keduanya dalam perjalanan pulang. Juna mengemudi dan Yuni duduk di bangku sebelahnya.
"Hmmm."
Tersenyum sekilas.
"Aku harap, liburan ini menjadi salah satu peristiwa yang berkesan dalam hidupmu Yun."
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Mungkin karena waktu kebersamaan keduanya telah usai jadi semuanya terasa cepat berlalu.
Kali ini bukan hanya Yuni yang bahagia tetapi juga Juna.
***
Rumi senyum-senyum melihat Yuni yang duduk di depannya malu-malu. Baru hari ini dia bertemu sahabatnya itu setelah beberapa hari menghilang.
"Liburan dong, tapi masa iya nggak bisa dihubungi."
"Mana Raden mas edanmu? kalian kan pengantin baru, aku pikir kalian tidak akan terpisahkan," sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Tck, kamu pikir suamiku pengangguran?"
"Mustinya aku yang tanya mana pacarmu?"
Yuni membuang muka, "pacar apaan, orang aku nggak punya pacar kok."
"Oh, iya?" tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Juna dari sana.
"Berarti boleh ya, aku mendekati kamu?"
Rumi tertawa, "basi kamu mas, bilang saja kamu sudah jatuh cinta," bibir Rumi maju beberapa senti menggoda.
"Tunggu apa sih mas, sudah nggak usah buang waktu. Nanti keburu diambil orang lagi Lo," Rumi melanjutkan candaannya.
"Begitulah?"
Juna mendekati Yuni yang duduk di sofa sambil menunduk sejak Juna datang. Bibirnya kelu tak mampu berucap karena rasa malu.
Tepat di depan Yuni, Juna duduk dengan menggunakan lutut sebagai tumpuan. Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dari perak.
Juna membuka kotak dan mengeluarkan sebuah kalung perak dengan leontin berbentuk hati yang sangat cantik.
"Kamu sepertinya wanita yang keras dan galak, tapi baru aku tahu selama liburan kalau kamu sebenarnya rapuh, manja, dan baik hati."
"Bahkan kamu membelikan oleh-oleh untuk semua orang, tapi tidak untuk dirimu sendiri."
__ADS_1
"Jadi aku ingin memberimu ini," menunjukkan kalung itu tepat di depan wajah Yuni.
Saking senangnya Yuni yang sejak tadi sudah membisu kali ini meneteskan air mata. Kedua tangannya menutup wajahnya. Dia begitu terharu, tidak percaya semua ini bisa terjadi padanya.
"Apa kamu mau menerimanya Yun?"
"Alhamdulillah," teriak seseorang di pintu, "terima...terima..." berteriak sambil bertepuk tangan.
Ih dasar, apa-apaan sih Mas Han mengganggu suasana romantis–Rumi
Tapi ternyata ada untungnya juga. Yuni segera mengangguk setelah mendengar suara Nehan berteriak sambil tepuk tangan.
Malunya setengah mati. Dasar Ndoro edan.
Juna memakaikan kalung yang menggantung indah berkelip laksana bintang.
Senyum tak mau lepas dari bibir Yuni.
"Kapan nih kalian ke jenjang berikutnya?"
Nehan mendekati Rumi, memeluk dan mencium dahi istrinya mesra.
"Jangan ganggu mereka berdua mas," Rumi membelai dada suaminya.
"Kamu mau kan menerima aku menjadi calon suamimu?" tanya Juna mengabaikan suara-suara dari sahabatnya.
"Mmm," jawab Yuni cepat.
***
Dua bulan kemudian
Gedung panti tampak sibuk berhias. Berbagai macam bunga warna-warni dipasang rapi memenuhi pelataran.
Yuni duduk di ruang kerja ditemani Rumi. Seumur hidup saat ini adalah saat yang paling mendebarkan.
"Gugup ya," menyentuhkan bahu dengan bahu.
"Jangan ditanya," Yuni bahkan tidak bisa menanggapi candaan Rumi.
Wajahnya dibuat sedatar mungkin agar tidak menampakkan kegugupannya.
"Nggak sabar nunggu besok kan...?!"
"He'eh."
"Sudah memberitahu mama dan papamu?"
"Papa sudah."
__ADS_1
"Bagaimanapun papa akan menjadi wali nikah."
"Kalau mama, aku sudah hubungi lewat pesan. Mau datang silahkan, nggak juga nggak papa."
"Semangat sayang," Rumi
Malam itu dihabiskan masing-masing orang dengan kegalauan masing-masing. Kecuali Rumi dan Nehan. Aktifitas keduanya hanya tentang malam yang panas.
Sengaja membiarkan mata terbuka untuk menikmati indahnya bercinta tanpa jeda.
Pagi ini semua tamu sudah hadir di halaman panti. Pengantin siap dengan bajunya yang warna-warni. Yuni bilang dia ingin acara pernikahannya bertema pelangi. Biar tidak membosankan seperti perjalanan hidupnya selama ini.
Sedangkan Juna mengenakan outfit dengan warna biru langit. Jadi kalau dipadukan pelangi yang akan mewarnai birunya langit setelah hujan reda.
Itu kata pengantin wanita sih. Tapi oke juga idenya. Papa Yuni sudah hadir sejak pagi, begitu juga dengan keluarga Juna. Kalau mamanya Yuni masih belum bisa bergabung karena sibuk katanya. Tapi hal itu tak lagi menjadi sebuah luka untuk Yuni.
Ijab berjalan lancar. Juna hanya membutuhkan satu kali ijab sampai sah.
Rumi dan Nehan hadir bersama anak-anak dengan didampingi pengasuh masing-masing.
"Mas..." Rumi mencengkeram tangan Nehan yang terus tersenyum. Dalam hati dia bersyukur sahabatnya sekarang sudah menikah. Jadi dia tak perlu khawatir kalau Juna akan merebut istrinya. Dasar aneh...
"Hmmm...apa Rum?"
"Kamu pucat Rum?"
"Mas, aku mual."
Jangan-jangan....
Nehan langsung berteriak, "hai semuanya istriku hamil lagi...istriku hamil...hahaha..."
Nehan melonjak kegirangan. Dia lupa kalau kekuatan kakinya baru pulih. Hampir saja dia terpeleset karena lupa diri.
"Ken dan Lita akan punya adik."
Semua ikut tertawa, memberi selamat pada Rumi yang malu karena belum tentu kehamilannya ini benar. Dia menerima ucapan selamat sambil melotot pada suaminya.
Diantara semua orang yang ada disitu hanya Yuni yang wajahnya menyeramkan. Tangannya mengepal erat.
"Dasar...Raden mas edan..." menggumam geregetan.
"Sabar sayang," Juna menggenggam erat tangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu untuk menenangkan.
Nehan...Nehan...kalau tidak membuat keributan bukan Nehan namanya.
...***...
Tamat ...
__ADS_1
Terimakasih ya sudah membaca kisah ini sampai usai. Sampai berjumpa pada novel berikutnya ya...đŸ˜˜đŸ¥°