
Juna siap di depan pagar dengan mobilnya. Dia menghargai sikap Rumi yang memberitahunya tentang kecelakaan yang menimpa Nehan.
"Terimakasih, maafkan aku, mas."
"Sudahlah, kita bisa menunda acara pertunangan itu. Masuklah!" Juna membuka pintu mobil dan membiarkan Rumi masuk.
Baru kali ini Rumi melihat wajah Juna yang dingin dengan ekspresi kaku. Wajar sih, kalau lelaki itu marah, siapa yang tidak jika hari pentingnya tertunda karena orang lain.
"Rumah sakit mana?" tanya Juna dingin.
Rumi menyebutkan nama sebuah rumah sakit, sekitar satu jam perjalanan untuk mencapai rumah sakit yang dimaksud.
"Kita bisa melanjutkan pertunangan kita besok pagi. Aku hanya ingin menemaninya malam ini."
Melanjutkan pertunangan, dengan hatimu yang masih memikirkan Nehan, tidak Rum...
"Tidak, kita selesaikan dulu urusan Nehan. Aku bisa menunggu dua atau tiga hari lagi."
"Maaf," lirih Rumi.
"Berhentilah meminta maaf karena lelaki itu, Rum!" rasanya Juna hampir meledak tapi dia tahu sekarang bukanlah saat yang tepat untuk marah atau cemburu.
Meski tidak terlalu kentara, Juna bisa melihat. Mata Rumi yang masih membulat pada jam segini. Berkali-kali melihat pergelangan tangan untuk mengecek waktu. Apa itu namanya jika bukan cinta?!
Juna terus memperhatikan bagaimana Rumi tergesa berlari ketika sampai di IGD bahkan mungkin Rumi lupa kalau ada dirinya disana.
Setelah mendapat informasi dan diketahui kalau Nehan masih berada di ruang operasi, Rumi berlari lagi. Saking bingungnya, keduanya berkali-kali harus kembali ke tempat semula karena salah jalan.
Juna memperhatikan semuanya, mengikuti tanpa berkomentar apapun.
Di depan ruang operasi, lampu merah masih menyala. Tanda kalau tindakan belum selesai. Bukannya duduk tenang menunggu, Rumi malah mondar-mandir, sekali lagi Juna mengamati dalam diam.
"Rum..." entah mengapa yang dipanggil tidak mendengar mungkin dia sedang berada di dunia lain.
"Rum, please..." Juna menghentikan Rumi dan menyentuh tangannya.
"Hmmm..." berhenti karena terkejut dan mendongak memandang Juna yang melihatnya memasang pandangan khawatir, ketakutan dan bingung.
"Stop...berhenti mondar-mandir, jangan khawatir, ada dokter yang pastinya sedang melakukan yang terbaik agar Nehan selamat."
Dengan sabar Juna menarik tangan Rumi untuk duduk di kursi, "ada aku, duduklah dengan tenang."
Rumi mengangguk, memandang Juna sekejap, lalu matanya kembali ke arah pintu yang lampunya masih menyala merah.
"Dia akan baik-baik saja," bisik Juna memberikan pelukan. Rumi memang diam dan menurut tapi Juna bisa merasakan kalau hati kekasihnya tidak sedang padanya.
Untuk beberapa jam kemudian keduanya hanya diam, menikmati keheningan dengan pikiran masing-masing. Juna menyandarkan kepalanya pada dinding sambil memejamkan mata.
Rumi hanya bisa ditenangkan sebentar kemudian kembali berdiri di depan pintu yang lampunya masih menyala merah.
Waktu berlalu hampir tujuh jam ketika dokter keluar, "keluarga tuan Nehan?"
Rumi dan Juna berlari mendekat, "iya dokter, bagaimana keadaan suami saya."
Juna melirik Rumi, suami...suami?!
"Maaf maksudnya mantan suaminya dokter," sambar Juna.
Rumi menyadari kesalahannya, dia melingkarkan tangannya pada lengan Juna, "iya, maksud saya mantan suami saya. Bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Tapi memang kesadarannya belum kembali. Presentase aktifitas otaknya juga bagus, kita tinggal menunggu perkembangannya. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang ICU. Silahkan menunggu disana."
Anak itu baik-baik saja
Keduanya berjalan ke ruang ICU. Juna melirik Rumi yang menunduk di belakangnya. Tangannya memegang erat tali tas yang melingkar di bahu.
Wanitaku yang tidak baik-baik saja.
Juna berhenti tepat di depan Rumi, "Duk."
"Aduh," kepala Rumi menyentuh dada bidang yang berhenti tepat di depannya.
Juna merendahkan tubuhnya sedikit agar bisa melihat wajah Rumi dengan baik.
"He Will be okay, tapi kamu yang gak baik-baik saja."
Senyum di depannya membuat Rumi makin merasa bersalah. Dia menghela napasnya berat.
"Apa kamu bisa bersabar?"
"Untuk..."
Rumi melanjutkan langkahnya. Pertanyaan Juna belum terjawab.
Langkah kaki Rumi yang lambat membuat Juna ikut memperlambat langkahnya.
Sabar?...apakah kau akan memintaku untuk menunggu sampai Nehan sehat, Rum? Ya Tuhan...apa artinya aku bagimu...
Sampai di depan ruang ICU keduanya berhenti. Duduk di bangku panjang Yeng terbuat dari besi.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Rum?"
"Apa kau ingin acara kita menunggu sampai Nehan sehat?" tanya Juna menahan napas.
"Bukan, mas."
Juna mengerutkan matanya.
"Kita bisa bertunangan besok atau lusa."
Juna tersenyum lega.
Aku sudah takut kau akan membatalkan pertunangan kita, Rum.
"Lalu..."
"Ijinkan aku merawat mas Nehan selama dia sakit."
Apa?! Dia tidak sadar Rum, kalau kau yang merawat, kau akan menyentuh tubuhnya dimana-mana...ah...tidak...tidak!
"Aku tidak melarang kau sering berkunjung. Tapi aku akan menyewa perawat yang punya kemampuan untuk merawat Nehan."
Gila, aku tidak akan mengijinkan mu menyentuh tubuh laki-laki lain lagi.
"Baiklah," Rumi mengangguk.
"Rum!" bapak berlari dari arah luar.
"Bapak..."
__ADS_1
"Bagaimana anak bapak Rum?" mata bapak sembab, meskipun sekarang tidak kelihatan menangis tapi semalam bapak pasti menguras air matanya.
"Mas Han baik-baik saja. Rumi sudah mengatur semua agar mas Han mendapat fasilitas perawatan terbaik."
Bapak berpaling melihat Juna, "terimakasih Jun."
"Kalian pulanglah, pasti kalian lelah semalaman menunggu disini."
"Kalau Nehan sudah stabil, bapak berencana untuk memindahkan Nehan ke rumah sakit terbaik di kota, biar bapak lebih dekat kalau mau berkunjung."
Rumi dan Juna mengangguk. Selama perbincangan Rumi berkali-kali melirik calon suaminya.
"Selamat buat kalian. Bapak dengar kalian akan bertunangan. Maaf acara kalian hari ini tertunda karena anak bapak."
"Dari mana bapak tahu?" mata Rumi membulat.
"Terimakasih pak, doakan hubungan kami akan sampai ke pernikahan."
Jadi serba salah kalau begini. Masa iya memberikan kabar bahagia disaat bapak bersedih.
"Iya kan, Rum?" Juna menyenggol bahunya.
"Ah iya," menjawab kikuk.
"Karena bapak sudah ada disini, kami mau pamit dulu," ucap Juna berpamitan.
Rumi dan Juna menyalami dan mencium tangan bapak. Sedangkan bapak menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Sampai di bagian administrasi Juna meminta Rumi untuk menunggu di lobi rumah sakit sebentar. Juna menyampaikan banyak hal kepada dokter dan perawat. Bagaimanapun dia ingin sahabatnya kembali sehat. Selain itu dia ingin mengembalikan senyum wanitanya yang sejak semalam menghilang.
Juna tahu dia egois. Sejak awal dia tahu kalau Rumi masih ada sisa rasa untuk mantan suaminya. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau kali ini dia tidak akan mengalah.
Setelah berbincang dengan dokter dan perawat, Juna pergi menuju kantin yang ada di sebelah ruang administrasi. Dilihatnya Rumi masih duduk di lobi dengan pandangan kosong.
Di kantin Juna membeli beberapa kue yang tergolong berat. Sejak semalam dia dan Rumi tidak kemasukan apapun.
"Ayo," Juna mengulurkan tangannya. Bahkan kehadiran Juna tidak disadari Rumi yang terus melamun.
"Ah..," keduanya keluar sambil bergandengan tangan.
Di dalam mobil tidak banyak yang mereka ucapkan. Rumi belum mau makan meskipun Juna membelikan beberapa kue yang bisa dia pilih.
Sampai rumah pun Rumi masih diam, "aku pulang dulu," pamit Juna
"Hmm," Rumi mengangguk.
"Terimakasih," lirih Rumi.
Juna mendekat dan memeluk Rumi hangat, "aku mengerti dan akan selalu berusaha untuk mengerti, istirahatlah. Telepon aku kalau kamu ingin menjenguk Nehan, jangan pergi sendiri," Juna melepaskan pelukannya.
"Aku pergi dulu," Juna membelai rambut Rumi lembut.
Tanpa menunggu mobil yang ditumpangi Juna berlalu, Rumi masuk ke dalam rumah. Ibu duduk di ruang tamu dengan cemas.
Melihat wajah ibu, Rumi tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Dia bahkan belum melihat keadaan Nehan tetapi harus pulang.
Rumi berlari, melorot di depan ibu dan menangis di pangkuan ibunya, "huhuhu...huhuhu...huhuhu," isaknya memilukan.
Menangis lah nak, menangis lah...
__ADS_1
Ibu membelai kepala Rumi. Tapi tidak ada yang tahu kalau Juna diam-diam berdiri di depan pintu sambil menenteng kresek kue yang tadi lupa tidak dibawanya turun. Berdiri kaku, diam...dan tidak tahu harus bagaimana.
...***...