
Gegara ibu menerima telepon dari Mas Han, sekarang hatiku jadi deg-degan. Bahkan yang aku rasakan saat ini lebih mendebarkan dari pada waktu kami akan menikah dulu.
Makanan yang dimasak oleh ibu warnanya jadi abu-abu semua, tidak menarik dilihat dan tidak membuatku berselera.
Saking gelisahnya, tanpa sadar sebentar-sebentar aku melihat jam yang melingkar di tanganku, kalau dilihat-lihat jarumnya menunjukkan angka yang sama, lama dan lambat berjalan.
Aku jadi seperti sapi ompong yang nggak tahu harus berbuat apa. Biasanya aku sibuk di taman mengurusi mawarku pada jam segini. Tapi disini beda, ibu lebih senang menanam pohon buah di halaman, dia bilang lebih menghasilkan, kalau nanam kembang cuman bisa dilihat, tidak bisa di makan atau dijual.
Daripada aku bengong dan bingung mau ngapain akhirnya aku masuk dalam kamar. Membuka lagi buku-buku lamaku yang masih rapi di tempatnya.
"Kamu ndak makan Rum?" tanya ibu dari pintu. Mungkin ibu sudah melihat makanan yang masih utuh.
"Lagi ndak selera Bu, lihat makanan males."
"Ya wes, kamu istirahat dulu saja. Dienakke neng kene (disenangkan disini)."
"Iya." aku kembali berkutat dengan buku yang ingin kubaca ulang.
Suara mesin jahit mulai terdengar. Ibu pasti sedang sibuk dengan pesanan baju milik tetangga sekitar.
"Rum, kamu kalau mau sesuatu bilang, ibu mau ke pasar. Han tadi pesan dia ingin dimasakkan rawon katanya."
Aku terkejut, pesan rawon? berarti Mas Han akan benar-benar datang, "Rumi ikut ke pasar Bu," aku turun dari tempat tidur, mengambil jaket dan berjalan menuju ruang tamu.
"Yakin, mau ikut? kamu yang boncengin ibu ya, keluarkan motornya dulu."
Aku mengeluarkan motor, sudah lama sekali aku tidak naik motor begini, masih bisa nggak ya...?!
"Ayo Rum," ibu naik ke boncengan. Eh...ternyata lama tidak naik motor, tidak membuat kemampuanku berkurang.
Sepulang dari pasar, aku minta ibu untuk istirahat. Aku ingin memasak sendiri rawon untuk Mas Han. Andai mas Han mau lepas dari keluarganya pasti aku sebahagia sekarang.
Tidak butuh waktu lama masakanku selesai. Nasi sudah siap di magic com, nanti tinggal disajikan.
"Bu, Rumi istirahat dulu ya," aku peluk ibu sebentar sebelum masuk kamar, mumpung ada kesempatan aku ingin bermanja sepuasku dengan ibu, "kalau capek istirahat Bu."
"Iya, sana..."
Baru saja aku akan memejamkan mata, nada dering teleponku berbunyi kulihat kontak dengan nama Ibu A berbunyi.
"Assalamualaikum, Bu."
"Rum, berani sekali kamu meminta suamimu untuk pulang."
"Saya tidak__"
"Tidak apa?!, kamu memang perempuan penuh tipu daya Rum. Sepertinya kamu manut sama ibu, tapi nyatanya kamu minta suamimu buat pulang, hah..."
"Bu__"
"Kamu sudah pernah jadi manten baru kan Rum, tahu kan rasanya...kalau baru nikah itu pengennya ya sama pasangannya."
"Bu__"
__ADS_1
"Tadi Sekar tak telepon, kok dia bilang Han tidak ada di tempat, pulang ke kamu katanya. Kamu jangan menang sendiri Rum."
"Tapi Bu__"
"Masa bulan madu kok disuruh pulang, susah-susah aku maksa si Han bulan madu sama Sekar malah cuman semalam tok berdua."
Bulan madu?
"Bu maaf," aku sedikit teriak, "saya tidak ada hubungannya dengan kepulangan Mas Han, lagi pula Mas Han tidak ada di___"
"Berani menjawab kamu! dasar, sudah mandul, kurang ajar, siap-siap kamu Rum."
Klik.
Telepon dimatikan. Apa ini tadi, kamu cari perkara lagi mas. Kamu yang bikin ulah, aku yang kena imbasnya, lagi.
Apa yang tadi ibu bilang? bulan madu? Aku ingat dulu bulan maduku gagal, karena ibu meminta Mas Han langsung bekerja menggantikan bapak. Kamu beruntung Sekar.
Aku menghela napas meletakkan ponsel diatas meja rias kemudian kembali berbaring. Suara ibu terngiang terus di telingaku. Mendengar kata bulan madu, bayangan Mas Han yang tidur dengan perempuan lain kembali berputar di depan mataku.
Sekarang aku menyesal meminta Mas Han menikah lagi, ada yang terbakar dalam dada ketika membayangkan dia melakukan itu dengan Sekar.
"Assalamualaikum?" suara itu.
"Waalaikumsalam, wah...mantu ibu datang, Rum...suamimu datang," seru ibu dari ruang tamu. Suara mesin jahit yang tadi terdengar sekarang berhenti menjadi suara bahagia milik ibu.
"Rum," aku tidak bisa menguasai diriku. Alih-alih bangun dan menyambut Mas Han, aku memilih untuk pura-pura tidur.
"Masuk Han, Rumi baru selesai masak. Dia tiduran di kamar, paling sekarang sedang ketiduran dia," aku diam, tubuhku kaku, dadaku berdebar hebat.
Aku merasa ada gerakan diatas tempat tidur kayu milikku. Dia sekarang sedang duduk di pinggir kasur. Aku menunggu, apa yang akan mas Han lakukan, untuk beberapa saat mas Han diam. Kemudian aku merasa ada kaki yang terbujur di sisi tubuhku, dia sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Tak lama, seluruh tubuhnya berbaring dan...dia memelukku erat.
Bibirnya menempel erat di telingaku, "aku rindu."
Badanku memanas, air mataku merembes di ujung-ujung mata, mengalir membasahi bantal, "maafkan aku, tidak bisa menolak permintaan ibu," bisiknya lagi.
Isakku mulai terdengar perlahan. Apa ini? kenapa pipiku tempat Mas Han menempel jadi hangat dan basah? Aku membuka mata, mengubah posisi menghadap suamiku tercinta. Ya Tuhan, dia juga menangis.
Semua kecewaku menguap, aku tahu dari wajahnya dia tidak melakukan apapun dengan Sekar. Aku pandangi wajahnya, matanya lekat menatapku. Jemari Mas Han menyentuh pipi dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku juga melakukan hal yang sama, menyentuh pipi dan mengusapnya perlahan, kami saling genggam erat. Tak perlu ada kata, kami saling menenggelamkan tubuh dan tertidur.
"Waduh...kalian ini masih seperti manten baru saja, ayo bangun, sudah lewat ashar ini, kalian ini seperti tidak tidur saja semalaman."
Aku terkejut, sepertinya Mas Han juga sama. Kami berdua langsung duduk setelah melepas pelukan.
"Ibu...kaget Bu," sungutku.
Aku melirik sebelahku, Mas Han memutar pandangannya ke segala arah, malu.
"ehm...maklum Bu habis luar kota, saya jadi kangen sama istri," ucapnya malu-malu. Tangannya menggaruk kepala yang pasti tidak gatal.
"Ayo bangun, mandi terus sholat ashar," ibu benar-benar membuat kami malu.
"Mas geser, aku mau turun," Mas Han tidak mengindahkan perkataan ku. Dia malah menghadap padaku duduk bersila dan menopang dagu, memandangku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jangan melihatku seperti itu, aku malu," kadang aku mengutuki diriku sendiri karena terus merasa malu kalau Mas Han melihatku seperti ini.
"Rum, aku ingin menidurimu sekarang ini," dia mengambil tanganku dan menyentuhkan ke bagian bawah tubuhnya.
"Mas...," mataku membelalak, aku merona, bergerak cepat mendorong Mas Han, melompat turun dan berlari menuju kamar mandi, bagaimana kalau tadi ibu dengar?
"Ha...ha...ha."
Keluar kamar mandi aku melihat Mas Han berbincang asik dengan ibu. Entah apa yang mereka bicarakan, wajah keduanya tampak bahagia, beberapa kali aku mendengar mereka tertawa lepas.
"Rum," aku baru selesai sholat, mukena juga belum sempat kulepas, aku dengar suara Mas Han memanggil namaku. Dia ikut duduk di belakangku dan memelukku.
"Aku mau lepas mukena dulu mas," aku menggeliat karena gerah.
"Aku mau cerita banyak denganmu, tapi aku tidak ingin ibu dengar. Kalau kita bicara disini apakah ibu akan mendengar pembicaraan kita Rum?" Mas Han melepas pelukannya.
Aku mengubah posisi dudukku, melihat wajah suamiku yang tetap terlihat tampan meskipun belum tersentuh air.
"Selama ibu menjahit, suara kita tidak akan didengar ibu. Sekarang sebaiknya mas mandi dulu, biar segar, mmm..." aku berdiri membuka tas besar yang dibawa suamiku, mengeluarkan celana bokser dan kaos oblong.
"Siapa yang menyiapkan semua barangmu mas?" tanyaku sambil menyerahkan baju yang baru saja aku ambil dari dalam tas.
"Aku tidak tahu Rum, sebentar aku mandi dulu."
Aku membiarkan tas itu tergeletak diatas tempat tidur. Siapa yang menyiapkan baju suamiku. Waktu itu kami berangkat tanpa membawa apapun ke rumah bapak dan ibu. Bagaimana bisa sekarang ada tas dengan isi pakaian sebanyak ini.
Karena penasaran aku buka dan aku lihat satu persatu. Ya Tuhan ternyata semua pakaian di dalam tas ini baru, begitu juga tasnya. Seniat itu ibu menyiapkan semuanya.
"Semua yang ada disitu baru Rum," ucap Mas Han ketika dia melihatku memilah dan membuka isi tas. Aroma tubuhnya segar bau sabun mandi.
"Kamu dikirim ibu berbulan madu kemana mas?" tanyaku.
Mas Han duduk di sisiku, "maafkan ibu Rum, ibu memang keterlaluan. Kamu tahu kan aku tak bisa menolak permintaan ibu, jadi ketika ibu memberiku dua tiket bepergian, aku simpan marahku dalam hati," Mas Han berhenti menghela napas.
"Aku harus menggunakan trik untuk bisa menang melawan ibu," lanjut mas Han.
"Apalagi ketika aku mencarimu siang itu tidak lagi ada di rumah, aku makin emosi. Seharian itu Sekar mengekoriku terus, dia tak mau pergi dariku meski sebentar."
"Ketika aku sampai di tujuan, aku menyiapkan dulu semuanya untuk Sekar. Kemudian aku tinggalkan dia kemari dengan pesawat paling pagi."
"Sekar kamu tinggal sendiri, mas?" pantas saja ibu meneleponku dengan marah.
"Dia wanita dewasa, semua disiapkan untuk beberapa hari disana, biar dia nikmati liburannya karena aku tak bisa tidur kalau tidak ada kamu."
"Ibu bisa marah mas?!" jawabku kesal.
"Kenapa kamu selalu memikirkan apa yang ibu pikirkan. Menyenangkan hati ibu, takut ibu marah, karena ibu...karena ibu, selalu ibu. Pikirkan aku juga Rum," suara mas Han meninggi.
"Sstt..." aku letakkan jari di depan bibir, "jangan teriak ibu bisa dengar," meskipun suara mesin jahit masih memenuhi rumah, tapi pasti ibu akan mendengar kalau Mas Han teriak.
"Pikirkan aku Rum, aku tidak mau bersama perempuan lain. Aku juga laki-laki normal, aku berusaha menjaga cintaku hanya untukmu. Aku akan mencari cara untuk menyingkirkan Sekar dari hidup kita."
Aku terdiam, 'aku juga laki-laki normal'. Satu kalimat yang membuatku menyadari satu hal, bahwa suatu saat aku juga akan bisa kehilanganmu.
__ADS_1
...***...