
Sekar POV
Aku tak pernah mengira kalau percakapanku dengan Lek Broto akan tertangkap pendengaran Mas Han. Kemarahan laki-laki yang sekarang berstatus suamiku itu ternyata cukup menakutkan. Untungnya ada Mbak Rumi yang bertindak sebagai pawang, sebuah ketrampilan yang ingin aku kuasai juga.
Ketika Mas Han dan Mbak Rumi akhirnya meninggalkan rumah, badanku terduduk lemas di kursi. Aku melotot ke arah Lek Broto, "ini akibatnya kalau Lek Broto bicara tidak hati-hati."
"Kamu tenang saja, Nehan tidak akan berani melakukan sesuatu, kamu kan sedang hamil."
Meskipun begitu aku merasa seperti penjahat yang sedang menipu dan ingin mencuri sesuatu dari seseorang.
"Sebaiknya Lek Broto pulang, kehadiran paklek disini membuat kepala saya makin pusing."
Aku berjalan menuju kamar, meninggalkan Lek Broto sendiri duduk di ruang tengah. Meskipun hanya Lek Broto kerabat yang aku punya, sebenarnya aku jengah dengan semua kelakuannya, apalagi keuanganku yang diaturnya sama sekali tidak transparan. Suatu saat akan aku ambil kembali semua peninggalan orang tuaku.
Dalam kamar aku merebahkan tubuhku, badanku lemas, kepalaku pusing, perutku mual luar biasa, andai aku wanita cengeng aku pasti sudah menangis sejak tadi. Ternyata sangat menyedihkan hamil tanpa ada suami mendampingi.
"Siti...," aku berteriak memanggil Siti, aku sangat mual tapi tubuhku lemas luar biasa, "Siti...," teriakku sekali lagi.
"Iya Bu," Siti berlari mendekat entah sedang apa dia barusan.
"Bantu saya ke kamar mandi."
Siti memapah tubuhku, tangannya menahan agar aku tidak jatuh, aku muntah sejadinya dalam kamar mandi, yang aku makan sejak pagi kukeluarkan semua. Apakah hamil bisa semenyebalkan ini? rasanya benar-benar tidak enak.
Tubuhku hampir tidak bertenaga, aku tersungkur di atas ranjang dengan posisi tengkurap, dengan susah payah Siti membantuku telentang.
"Apa saya perlu memanggil, mmm...anu...suaminya?"
"Kamu pasti bertanya-tanya dimana suamiku bukan?" aku melihat wajah penasaran yang begitu kentara diperlihatkan Siti.
"Bukan begitu Bu, maafkan saya, tapi memang selama beberapa Minggu saya disini__."
"Kamu belum pernah melihat suamiku, begitu?"
"Inggih, Bu."
"Kamu akan tahu dengan berjalannya waktu, aku tidak perlu bercerita, tapi aku yakin kamu pasti sudah mendengar kabar burung yang beredar di rumah ini."
"Hehehe...iya sih Bu."
"Kamu boleh pergi, aku ingin sendiri."
Aku menutup mataku, rasa lelah mendera. Kehamilan ini memang sedikit menyusahkan, tapi aku sama sekali tidak menyesali pilihanku. Meskipun lelaki yang merenggut kesucianku menyebutkan nama wanita lain ketika kami bercinta malam itu.
__ADS_1
...***...
Pagi ini badanku lebih segar, setelah kemarin aku memutuskan untuk tidak melakukan aktifitas apapun. Aku hanya berada dalam kamar. Yang membuat aku sedih, semua makanan yang masuk akan kembali kumuntahkan beberapa saat kemudian.
Waktu Siti bilang aku kedatangan tamu, aku berusaha untuk terlihat kuat, karena aku yakin yang datang adalah keluarga suamiku. Aku tidak boleh lemah bila berhadapan dengan mereka, baik itu ibu mertuaku, Mas Nehan, mbak Rumi, apalagi Lek Broto.
Aku sedikit lega ketika yang bertamu adalah Mbak Rumi, dia wanita yang baik, meskipun aku sakit hati karena nama itu yang diteriakkan suamiku ketika dia mencapai ******* kala bercinta denganku.
Kami sedang dalam pembicaraan ketika tiba-tiba kepalaku sangat pusing, dan bruk...yang aku ingat pandanganku gelap dan aku ambruk. Ah, sialan...seharusnya Mbak Rumi tidak boleh melihatku dalam kondisi lemah begini.
Mbak Rumi membawaku ke rumah sakit, dia memang wanita yang baik. Segala kebutuhanku Mbak Rumi yang mengurus, sampai aku masuk ruang perawatan.
Semua terkendali, bahkan ketika ibu datang aku bisa menghadapi omongan pedasnya dengan baik. Tapi kendaliku pada diriku sendiri berubah ketika Mbak Rumi meminta Mas Han untuk datang.
Jantungku berdegup kencang bagai pelari maraton yang berusaha mencapai finis. Hatiku berteriak suka cita menyairkan puisi cinta. Entah ini karena anak yang ada dalam rahimku, atau memang aku seorang wanita tak tahu malu yang menginginkan cinta milik wanita lain.
Sedangkan Mbak Rumi, entah dia bodoh atau naif, dia meninggalkan kami berdua sendiri dalam kamar, kami yang pernah mereguk manisnya madu asmara meski hanya semalam. Harusnya dia paham kalau malam itu akan menyisakan bara yang sewaktu-waktu akan menyala kembali.
Awalnya Mas Han duduk di sofa, jauh dari jangkauanku. Tapi karena aku ingin tahu, hanya ingin tahu reaksinya, aku memanggilnya mendekat, "mas, boleh aku meminta tolong?"
Dengan wajah juteknya dia menjawab, "hmmm apa?"
"Tolong ambilkan aku minum."
Tidak ada penolakan, dia berdiri mengambil gelas—yang sebenarnya bisa kuambil sendiri—kemudian diisi air dan diberikan padaku.
Ya Tuhan, bolehkah aku terbang ke angkasa, "aku...baik."
"Apa kehamilan ini menyulitkanmu?"
"Sedikit, buat apa mas tanya, toh mas tidak peduli kan sama aku."
"Siapa bilang aku tidak peduli, paling tidak aku memang benar khawatir dengan anak yang kau kandung."
Aku memandang Mas Nehan lekat, "benarkah?"
"Kamu tidak percaya?"
"Tidak, karena sikapmu tidak menunjukkan itu."
Keheningan menyergap kami sesaat, aku mengamati wajah Mas Han yang kusut—yang bukan kebiasaannya—mungkin benar dia memikirkan aku tadi.
"Boleh aku memegang perutmu?" wah...dia akan memegang tubuhku meskipun hanya di bagian perut.
__ADS_1
Aku mengangguk, ketika tangan itu menyentuh baju pasien tipis yang aku kenakan, listrik itu mengalir hebat menjalari setiap inci dari tubuhku.
"Belum ada yang bergerak disana, perutmu juga masih tipis."
Aku tertawa, ternyata sentuhannya memberiku energi untuk tertawa, "apa yang kamu harapkan, dia akan menari atau bermain bola disana, hingga kamu bisa merasakan gerakannya dari luar?"
"Dia masih berumur beberapa minggu, mungkin hanya berupa gumpalan darah."
"Iya, benar juga, bodohnya aku."
"Kamu boleh melepaskan tanganmu dari sana, mas."
Laki-laki itu memandangku tak berkedip, pandangannya berkabut, gelap, hembusan napasnya bersuara lebih keras dari tadi, "haruskah? tidak bolehkah aku menyentuhmu lebih lama?"
Apa ini? jangan bermain api mas, ada Mbak Rumi yang hatinya harus kamu jaga, "tidak, kamu harus melepaskan tanganmu sekarang juga mas."
"Aku gagal menghapus bayanganmu ketika kita seranjang, suaramu, sentuhanmu__"
"Dan kamu menyebutkan nama wanita lain waktu itu."
"Mungkin, tapi itu hanya karena terbiasa, kamu membawaku ke dimensi berbeda Sekar."
Haruskah aku tertawa, "kamu konyol mas."
Aku pegang tangannya, dengan tenaga yang aku punya, aku berusaha menjauhkan tangan itu dari perutku, tapi aku gagal. Mas Han menggenggam tanganku erat, membawa tanganku ke sisi tubuhku dan meletakkannya diatas ranjang rumah sakit.
Pandangannya tidak lepas dariku sedetikpun, mata itu sebentar menatap lurus pada mataku dan beberapa saat berikutnya dia melihat kearah bibirku. Ya Tuhan...apakah dia akan menciumku?
Dia membawa wajahnya mendekat perlahan, sampai akhirnya tidak menyisakan jarak antara kami, bibirnya yang dingin mengecupku sekilas membawa kehangatan yang menyebar bersama aliran darahku.
Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menolak, ketika aku juga menginginkan hal ini? Haruskah aku mengikuti gairahku dan memuaskan keinginanku?
Belum sempat aku memutuskan apa yang akan aku lakukan, bibir Mas Han menyambar ku lagi kali ini penuh gairah. Ah...begini rasanya, dicium seseorang yang memang kita inginkan, tenang, tidak ada nafsu, hanya saling menunjukkan kepemilikan dan memberi kehangatan.
Mataku terpejam menikmati tiap sentuhan kulit kami. Tangan Mas Han bergerak keatas punggungku, menekan leherku dan memberi aku ciuman lebih dalam.
Untuk beberapa saat aku lupa diri dimana aku sekarang berada, aku yakin laki-laki yang sedang menciumku juga merasakan hal yang sama. Kami benar-benar saling menikmati.
Harusnya kami tidak melakukan ini, kamar ini adalah fasilitas umum, siapapun bisa masuk kapan saja. Ketika aku mulai sadar dan membuka mataku, aku melihat Mbak Rumi berdiri disana, di depan pintu, memandangku dengan pandangan yang entahlah apa artinya, hanya sebentar kemudian menghilang kembali ke balik pintu.
Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan? Aku memaksa melepaskan bibirku. Pandangan Mas Han begitu gelap, aku tahu tubuhnya dikuasai gairah. Tapi aku akan berhenti disini, ini tidak boleh dilanjutkan. Aku tidak mau menyakiti siapapun.
"Aku menginginkanmu," bisik Mas Han tepat di cuping telingaku, napasnya menderu.
__ADS_1
"Aku tidak," aku mendorong tubuh lelakiku menjauh. maafkan aku, kita tak seharusnya memupuk rasa yang mestinya tidak boleh tumbuh.
...***...