Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 104


__ADS_3

Nehan POV


Wanita yang duduk di depanku ini masuk dengan menekuk bibirnya. Dari tadi dia menggerutu bagaimana bajunya membuat malu. Padahal dia membayangkan aku akan mengajaknya makan malam romantis.


"Jangan cemberut begitu, nanti ada orang yang jadi ingin menggigit bibirmu itu."


Aku melirik, bibir Sekar sedikit terangkat, matanya menatapku dengan pandangan menggoda. Dia merendahkan tubuhnya dan meraih tanganku di seberang meja.


"Siapa yang ingin menggigit bibirku, kamu?"


Dengan posisi seperti itu bagian leher dari dress yang dia pakai jadi menggantung. Kamu sengaja membiarkan aku melihat belahan dada mu itu bukan? Bahkan bra warna hitam yang kau pakai tampak jelas kesulitan untuk menampung isinya.


"Benarkan posisi duduk mu," ucapku dingin.


"Bukan aku saja yang bisa melihat dada mu, tapi pemuda yang duduk di belakangku itu juga bisa melihatnya."


Dia mengangkat kepalanya dan melihat orang yang duduk di belakangku. Aku ikut menengok ke arah yang sama. Ternyata tebakanku benar, pemuda itu sedang memandangnya tak berkedip.


Sekar segera mengangkat tubuhnya dan kembali duduk tegak. Lagi pula apa yang ada dalam otaknya sampai memakai pakaian seperti itu.


"Lain kali kalau ngajak ketemuan dijelasin dong mau kemana. Jadi aku nggak salah kostum begini."


Dia kembali cemberut, melipat bibirnya semakin dalam. Sekarang aku harus mengalihkan perhatiannya agar dia meninggalkan tempat duduknya dan meninggalkan ponselnya di sini. Bagaimana caranya?


Saat sedang berpikir tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sepertinya dia mendapat pesan dari seseorang. Dia membuka ponselnya sambil menikmati susu hangat yang tadi aku pesan.


"Dari ibu."


Ucapnya sambil menunjukkan layar ponsel padaku. Entah pesan apa yang dikirimkan ibu, tapi beberapa detik kemudian dia tersedak dan menyemburkan minuman yang sedang ada dalam mulutnya.


"Ibu marah."


Matanya memancarkan kekhawatiran. Tapi bukan itu fokusku sekarang. Aku mengambil tisu dan menyerahkan padanya agar dia bisa membersihkan tumpahan susu di bajunya.


"Bersihkan dulu bajumu," ucapku.


"Aku bilang ibu marah."


"Bersihkan dulu bajumu, kamu menarik perhatian, jangan membuat malu!"


Dia berdecih tapi kemudian berdiri meninggalkan tempat duduknya, "aku ke kamar mandi dulu."


Aku mengangguk. Ini kesempatanku. Mataku mengikuti langkahnya. Dia masih disana bertanya kepada pemilik angkringan dimana letak kamar mandinya. Lalu dia berjalan ke salah satu arah sesuai petunjuk.


Segera setelah hilang dari pandangan, aku mengambil ponsel milik Sekar dan memasang aplikasi pe_rekaman yang sama dengan yang terpasang di ponselku, seperti petunjuk Juna. Setelah selesai aku kembalikan ponsel itu persis seperti posisi semula.


Tugas pertamaku selesai. Aku mengirim pesan pada grup chat baru yang dibuat Yuni. Tahu apa nama grup chat ini? "Neraka Dunia" foto profil yang dipasang adalah foto Rumi yang dirubah menggunakan sebuah aplikasi menjadi Rumi dalam versi demon. Dengan warna merah terang sebagai background foto dan tanduk di bagian kepala. Bibirnya juga menyeringai dengan warna mata menyala.


Yuni bilang, "Rumi akan selalu mengawasi kamu. Kalau kamu macam-macam lagi dan misi ini gagal, tidak usah menunggu mati untuk sampai neraka. Karena kamu akan merasakan neraka dunia."


Makin kesini Yuni membuatku makin ngeri.


Aku


Misi pertama beres, a_plikasi sudah terinstal di hape Sekar.

__ADS_1


Yuni


Bagus, omong-omong kalian ketemuan dimana?


Juna sedang mengetik.


Aku


Di motel tempat dia nginap, kemudian kami pergi keluar.


Yuni


Asik...dia pakai baju bener apa baju laknat.


Istilah apa lagi ini anak. Ada-ada aja.


Aku


Baju bener lah.


Juna


Ingat misi awal sukses. Jangan sampai kamu melenceng dari tujuan awal. Dia harus dibuat mengakui semua perbuatannya biar memperoleh konsekuensi hukum, atau paling nggak dia nggak berani ngedeketin Rumi lagi.


Akhirnya selesai juga anak ini mengetik pesan. Tak heran dia tadi ngetiknya lama bener, ternyata tausiah di grup.


Rumi


Mengirim foto Ken dengan caption, Semangat ayah.


Sekilas aku melihat Sekar berjalan kembali ke arah meja kami. Melihat foto Ken, aku jadi ingat Lita juga. Besok aku akan mengunjungi Lita di panti.


Aku


Sudah dulu, nanti lanjut lagi.


"Lagi ngapain sih, serius banget lihat hape."


"Hmmm."


Aku mendongak, di depanku terpampang pemandangan yang sangat menggelikan. Baju bagian atas yang dipakai Sekar basah. Saking basahnya sampai baju itu nempel erat dan membentuk bulatan yang membuat bulu kudukku merinding.


"Ibu tadi kirim pesan apa, katamu ibu marah," ucapku berusaha mengalihkan perhatian.


Kuedarkan pandangan. Semua mata laki-laki yang ada di tempat ini memandangnya dengan pandangan mata me_sum.


Kasihan juga melihatnya dilecehkan seperti itu. Akhirnya aku tidak tahan lagi, bagaimanapun dia pernah jadi istriku. Kulemparkan jaketku padanya. Biar dia gunakan untuk menutupi bagian dadanya yang tidak pantas untuk diperlihatkan pada orang asing.


"Pakai."


Senyumnya sedikit mengembang, "terimakasih, ternyata kamu masih cemburu ya. Perhatian sama aku, nggak suka aku dilihatin sama orang lain."


Pikiran konyolnya membuatku ingin tertawa, tapi aku biarkan dia berpikir seperti itu. Bagus kalau dia masih menganggap aku mencintainya.


"Tentu saja aku tidak suka wanitaku dilihat oleh laki-laki lain."

__ADS_1


Pipinya merona. Matanya menatapku malu-malu.


"Mas masih mencintaiku?"


"Hmm," aku tidak mengiyakan tapi juga tidak mengingkari.


"Jawaban apa itu?"


Perlahan aku akan menggiringnya untuk membicarakan sesuatu yang lebih serius. Aku ingin melakukan ini secepat yang aku mampu.


"Bagaimana kuliahmu, aku masih tetap mengirimi kamu uang tiap bulan kan, gunakan yang baik."


"Aku sudah tidak tertarik lagi," jawabnya sambil memakai jaket yang tadi kulemparkan.


"Aku lebih tertarik untuk mengejarmu dari pada mengejar kuliahku."


Wajahnya menunjukkan keseriusan.


"Aku tidak suka ditinggalkan. Aku pernah bilang kan. Aku akan membuatmu kembali bagaimanapun caranya."


Tubuhnya kembali dicondongkan ke arahku. Kali ini dia memegang erat jaket yang sudah menempel di tubuhnya.


"Suatu saat nanti aku akan membuatmu memohon untuk balik lagi padaku," bisiknya.


Dia menarik tubuhnya kembali segera setelah selesai bicara. Kemudian memberiku senyum yang menurutku menggelikan. Ada ancaman dalam senyum itu. Kita lihat siapa yang akan memohon pada akhirnya aku atau kamu.


"Jangan bicara yang tidak-tidak!"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, apa pesan dari ibu?"


Dia memutar bola matanya, "ibumu itu terus menggangguku mas, dia memintaku untuk kembali padamu. Padahal kan dia tahu kalau kamu yang nggak mau lagi sama aku."


"Dia ingin punya cucu dari aku."


"Awalnya aku merasa tersanjung. Ibu mertuaku menyayangi aku, itu yang aku pikirkan. Tapi sekarang sungguh mengganggu dan merepotkan."


"Dia sudah pernah punya cucu dari kamu kan La," waktunya memancing telah tiba.


Ada mendung di matanya. Rupanya dia benar-benar tidak tahu kalau anaknya masih hidup.


"Aku masih suka sedih kalau ingat anakku. Merasa bersalah juga," ucapnya hampir tak terdengar.


Tangannya sekarang sibuk menghapus air mata yang mulai mengalir turun. Tidak tega juga melihatnya menangis seperti itu.


Aku berjalan memutar kemudian mengambil posisi duduk di sebelahnya. Menepuk bahunya beberapa kali menyalurkan ketenangan. Karena dia menangisi anaknya yang juga adalah anakku.


"Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan tentang anak kita. Bagaimana bisa sampai terjadi hal yang seperti itu. Mengapa kamu mengganti dokter keluarga tanpa memberi tahu aku lebih dulu. Banyak sekali yang ingin aku tahu."


"Tapi untuk kali ini, aku akan berhenti sampai disini. Kalau kita ingin memulai sesuatu yang baru kita harus menuntaskan kisah lama yang pernah kita jalani."


Matanya membulat sempurna, "kamu ingin memulai lagi denganku mas?"


"Itu kita bicarakan nanti, mungkin iya mungkin tidak tergantung sejujur apa kamu padaku."


Aku berdiri, mengulurkan tangan agar dia menyambutku. Aku benar-benar ingin tahu sejujur apa kamu padaku nanti.

__ADS_1


...***...


__ADS_2