
Makan malam kali ini kami lewatkan dalam keheningan. Aku belum mau banyak bicara pada suamiku. Mas Han juga sepertinya sedang memendam sesuatu. Aku tidak yakin kalau Sekar bercerita bahwa tadi siang aku melihat mereka berciuman.
Tapi karena suasana semakin canggung, akhirnya aku membuka percakapan.
"Kalau malam ini kamu ingin menemani Sekar di rumah sakit, aku tidak akan keberatan mas."
Mata Mas Han lurus melihatku, aku hanya meliriknya sekilas. Aku serius dengan tawaranku, paling tidak aku membuka kesempatan pada Mas Han untuk bersikap jujur dan terbuka. Bagiku lebih baik tahu kebenarannya daripada suamiku sembunyi-sembunyi.
"Buat apa aku menemani Sekar Rum?"
Buat apa mas?! sampai kapan kamu akan bermain dibelakangku mas...meskipun Sekar memang istrimu, tapi sikapmu membuat aku kecewa dan merasa dibohongi.
"Karena dia istrimu," jawabku, aku setengah mati mengendalikan diri agar tidak emosi.
"Tidak, aku ingin disini menemanimu Rum. Bagiku yang penting aku tahu bayi yang dikandung wanita itu sehat, itu cukup."
Kuhirup napas dalam-dalam dan kukeluarkan perlahan.
"Baik, ada yang kamu inginkan lagi mas, kalau makannya selesai aku akan minta mbok Nah merapikan meja."
Badanku terasa lelah, aku ingin segera istirahat. Baru sekarang setelah delapan tahu masa pernikahan, aku merasa sangat lelah dan kecewa.
Masih duduk di kursinya mas Han bertanya, "apa kamu sakit Rum? sikapmu agak aneh malam ini."
Aku tidak menjawab pertanyaan Mas Han dan memberi tanda pada Mbok Nah yang berdiri di belakangku selama kami makan malam, "mbok tolong bersihkan meja ya, saya ingin istirahat, badan saya lelah."
"Baik Ndoro Putri."
"Apa Ndoro Kakung sudah selesai?" aku masih bisa mendengar Mbok Nah bertanya pada Mas Han dan memerintahkan abdi bawahannya untuk membersihkan meja.
Sampai dalam kamar aku langsung merebahkan tubuhku. Aku tidak tahu Mas Han masih melanjutkan makan malamnya atau dia mengikuti aku masuk kamar.
Satu-satunya hal yang ingin aku lakukan sekarang adalah memejamkan mata. Lelah tubuhku tak sebanding dengan pikiranku, dan itu membuat tubuhku tak bertenaga.
Belum juga mataku berhasil terpejam, aku mendengar Mas Han masuk kamar.
"Rum, aku mau keluar sebentar, ini tadi Juna telepon, ada urusan kantor penting yang harus diselesaikan malam ini."
Urusan penting? Sejak kapan Mas Han mau diganggu dengan urusan kantor diluar jam kerja? Tapi aku tetap bangun, menyiapkan pakaian ganti dan jaket untuk dipakai.
"Pakai jaket biar tidak dingin, aku tahu kamu gampang masuk angin. Apa ada berkas yang harus dibawa? Sebentar aku ambilkan tas kerjamu dulu."
"Tidak perlu Rum, semua berkas Juna yang bawa, aku tidak perlu membawa apa-apa."
Mas Han mengecup dahiku sekilas, kemudian dia bergegas keluar meninggalkanku aku sendiri. Aku berusaha menahan diri, tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak. Kepercayaan itu penting dalam sebuah hubungan, aku terus menggaungkan semua omong kosong itu di otakku. Tapi akhirnya otak, tubuh dan hatiku berbeda pemahaman.
Maafkan aku mas, bukannya aku tidak percaya, tapi aku hanya ingin memenuhi rasa keingintahuanku.
Aku segera menuju almari, mengeluarkan pakaian yang nyaman untuk kupakai, sweater dan syal, sebuah topi lebar dan kaca mata hitam tak lupa kubawa.
__ADS_1
Aku tidak boleh tertinggal, aku mengambil ponsel dan menghubungi Pak Dul.
"Pak Dul siapkan mobil," tanpa menunggu jawaban aku bergegas menuju teras. Mbok Nah memergoki aku yang sedang berjalan keluar, setengah berlari menyusulku.
"Ndoro Putri, saya ikut."
Aku berhenti, melihat Mbok Nah mengenakan jarit membuatku ragu membiarkan abdiku ini untuk ikut.
"Mbok Nah di rumah saja." aku tidak mau merepotkan orang lain, lagi pula aku khawatir, Mbok Nah hanya akan memperlambat langkahku.
"Saya mau ikut," Mbok mengangkat jaritnya sedikit, berjalan cepat mendahuluiku ke depan. Ah...terserah lah, aku tak punya banyak waktu.
Mbok Nah masuk lebih dulu, inginnya aku tertawa tapi aku benar-benar tidak bisa. Ada sesuatu yang harus aku pastikan malam ini.
"Pak Dul ikuti bapak, kalau tidak bisa, kita langsung ke rumah sakit."
Tanpa banyak tanya Pak Dul langsung melajukan mobil. Jam tanganku menunjukkan pukul tujuh, belum terlalu malam.
"Nanti kalau bapak lebih dulu sampai di rumah, bilang saja Pak Dul dan Mbok Nah menemani saya beli susu hangat di angkringan."
"Baik Ndoro Putri."
Aku memandang keluar, karena mobil terasa pengap, jendela mobil aku buka sedikit. Pak Dul dan Mbok Nah seperti terbawa situasi, kedua orang itu yang biasanya bercanda kali ini tidak bersuara.
"Maaf Ndoro Putri, mobil Ndoro Kakung tidak terlihat."
Aku berpaling melihat Pak Dul melalui spion, "kalau begitu kita langsung ke rumah sakit pak," pintaku.
"Baik Ndoro Putri."
"Jangan kemana-mana Pak Dul, saya mungkin tidak akan lama."
"Saya ikut Ndoro," sekali lagi Mbok Nah menawarkan diri.
"Jaritnya Mbok Nah akan membuat jalan kita lebih lambat Mbok."
"Begitu ya Ndoro, ya sudah kalau begitu," wajah cemberut Mbok Nah lucu sekali, tapi kali ini tidak mampu membuatku tertawa.
Langkah kupacu menuju kamar perawatan milik Sekar. Menunggu lift terbuka rasanya berabad-abad, angka pada lift menunjukkan masih berada di lantai tujuh. Karena terlalu lama akhirnya aku memilih untuk naik tangga. Siapa yang bisa menjamin kalau Mas Han akan tinggal lama.
Napasku sama sekali tidak tersengal, kekuatanku berkali lipat, padahal aku harus naik ke lantai tiga dengan cepat.
Sampai di ruangan aku mendatangi lobi dimana perawat jaga bertugas. Aku harus berhati-hati, aku tidak mau bertemu Mas Han di dalam. Bodohnya aku, karena tergesa sampai tidak terpikir untuk membawa sesuatu. Akhirnya aku nekat, alasan bisa dicari. Kuperbaiki letak topi dan kaca mata yang kupakai, kemudian mendekati kelompok perawat yang ada disitu.
"Selamat malam Sus."
"Selamat malam Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Mmm, saya mau tanya, itu yang kamar nomor 3.2 apa benar ditempati oleh__"
__ADS_1
"Oh pasien Sekar?"
"Oh iya."
"Iya Bu, apa ibu keluarganya? Kasihan Bu, tadi waktu asistennya keluar, Nyonya Sekar sendirian, tidak ada yang mendampingi."
"Padahal saya gantikan shift baru tadi jam 3, tapi sampai sekarang tidak ada keluarga yang menemani atau menjenguk."
"Maaf, mmm...saya hanya kenalan pasien, tolong jangan sampaikan kalau saya mampir ya. Besok saja saya mengunjungi, sekarang sungkan tidak bawa apa-apa. Kalau sekarang siapa yang nunggu?"
"Ya sendiri, ini tadi asistennya sedang keluar ke kantin untuk beli makan."
"Oh begitu ya, kalau begitu saya permisi dulu ya sus, tolong jangan bilang kalau ada yang datang, saya titip rawat Nyonya Sekar dengan baik."
Beberapa perawat yang ada di ruangan itu melihatku dengan pandangan curiga. Aku tak peduli, ada yang bisik-bisik dan mengingatkan perawat yang tadi bicara denganku agar tidak mengulang lagi memberi informasi pada pengunjung tak dikenal. Bodoh amat, yang penting aku harus segera pergi.
Ada setitik rasa lega muncul dalam hatiku, paling tidak Mas Han jujur dengan ucapannya, entah dimana dia, yang penting tidak datang kemari.
Kakiku mulai bisa rileks, berjalan tanpa beban. Aku menuju lantai bawah dan langsung keluar dimana tadi Pak Dul menunggu dalam mobil. Topi dan kaca mata kulepas.
Dari tempatku berdiri aku melihat Pak Dul dan Mbok Nah berbincang di luar. Bersyukurnya diriku memiliki orang-orang yang selalu ada untukku.
Ketika keduanya melihatku mendekat, aku memberi senyum dari jarak yang cukup jauh, kelihatan sekali wajah lega dari keduanya.
"Langsung pulang Ndoro?" tanya Pak Dul setelah aku dekat.
Aku mengangguk sambil kuberikan senyum tulus.
"Dul, kalau Ndoro Putri sudah senyum begini, atiku ademm Dul, ayem rasane."
"Bener, mbok."
"Monggo Ndoro Putri masuk dulu."
"Mbok dulu saja," jawabku, aku tak mau tergesa masuk, masih ingin menikmati angin semilir yang berhembus.
Waktu satu kakiku hampir masuk dalam mobil, aku dengar seseorang memanggilku, "loh...Rum, kamu kok juga disini?"
Aku memutar kepala melihat ke arah sumber suara, "Mas Juna? Lah, mas juga kenapa kesini?"
Bukannya Mas Han tadi bilang ada janji dengan orang yang sekarang sedang berdiri di hadapanku? Ya Tuhan...jangan...jangan.
"Aku ngantar Nehan kesini, aku tadi janjian sama anak itu, dia jemput aku ke apartemen, dia bilang mau mengunjungi seseorang, tapi aku disuruh tunggu diluar."
Tubuhku lemas, aku sedikit goyah, untungnya Mas Juna menangkap tubuhku dengan cepat.
Aku bersandar pada tubuh laki-laki sahabat suamiku itu.
"Rum, kamu baik-baik saja?" Mas Juna memandangku, aku melihat ada kekhawatiran dan keteduhan dimata itu. Pandangan yang sama yang dulu selalu dia berikan untukku, ketika kami masih dekat, ketika Mas Han belum mengisi hari-hariku.
__ADS_1
...***...