
Sekar POV
"Ini surat yang harus kamu berikan," aku menyerahkan selembar kertas yang kulipat rapi.
"Ini alamatnya," kuberikan secarik kertas yang lain.
Lelaki yang ternyata bernama Permadi itu menerima masih dengan wajah tertunduk. Kali ini sebagian wajahnya ditutup dengan sebuah topi hitam.
Kalau aku perhatikan dia seperti bayangan dari kegelapan. Entah apa yang pernah dilakukannya sampai dia selalu bersembunyi dibalik warna hitam.
Baru saja aku masuk kamar setelah kepergian Permadi, adiknya datang untuk membereskan rumah sore ini.
"Berani sekali kamu menyuruh kakakku."
Seperti biasa dengan nada bicara ketus menusuk telinga, "kamu tahu nggak, dia itu mantan pembunuh yang baru keluar penjara," sambungnya.
Kepalanya didekatkan padaku kemudian berbisik, "dia akan melakukan apapun untuk orang yang membuatnya tertarik tapi kamu tidak akan pernah tahu apa yang dia minta sebagai imbalannya."
Aku memalingkan muka. Aku tak peduli, yang penting dia bisa menghubungkan aku dengan Lek Broto. Aku berjalan menjauhi wanita itu.
"Ingat, kamu harus mulai berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang, hari ini terakhir kali aku membawakan jatah makan buatmu," ucapnya lagi. Tangannya sibuk menata barang diatas meja makan yang tadi berantakan karena ulahku.
"Satu lagi, disini kamu bukan tuan putri, jadi cuci sendiri piring dan gelas bekas kamu pakai," tangannya terulur dan menyerahkan alat makan kotor tepat di dadaku.
"Sialan, lihat saja nanti kalau aku bisa keluar dari sini, akan aku jadikan tumbal wanita itu," bisikku sambil melihat wanita itu berlalu keluar rumah.
...***...
Rumi POV
"Gimana mas?" aku duduk berdua dengan mantan suamiku di ruang kerjaku.
"Ya ini, kata pihak berwajib sulit melacak keberadaan Sekar, tidak ada penggunaan ATM ataupun ponsel."
"Sepertinya kita masih harus bersabar."
Aku memandang Mas Han iba. Rasa bersalahnya masih menjadi beban tersendiri. Setelah beberapa bulan kematian Bu Ajeng berlalu dia masih penasaran kemana perginya Sekar.
"Apa sudah mencoba mengikuti Lek Broto mas?"
"Sudah, lelaki tua itu tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan."
"Tidak ada pergerakan keuangan antara rekening nya ke rekening Sekar," pandangan mata Mas Han menerawang kemudian memandangku hangat.
"Aku lelah membicarakan masalah Sekar, Rum."
"Nanti sore kita jalan-jalan sama anak-anak ya."
Sudah lama aku tak melihat pandangan hangat mantan suamiku. Membuatku tidak tega untuk menolak.
"Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa, Rum."
"Malam ini aku tidak bisa menginap, aku harus ke luar kota, besok pagi sekali."
Aku tersenyum, kalau aku harus menolak ajakannya, paling tidak aku harus memberinya senyum termanis sebagai obat kekecewaannya.
"Nah, karena itu, mas kan harus ke luar kota besok, lebih baik malam ini istirahat, biar besok segar waktu berangkat."
Matanya redup sebentar. Rasa kecewa nampak jelas disana. Tapi sebentar kemudian sinar matanya berbinar lagi.
"Bagaimana kalau nanti malam anak-anak ke hotel tempat aku menginap."
Sambil menunduk aku menyembunyikan senyumku. Masa iya aku harus menolaknya lagi. Jadi aku putuskan untuk mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mas Han lari keluar ruangan, "mau kemana mas?!" teriakku.
"Pak Dul," teriakan Mas Han membuatku tertawa. Dia berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan.
"Iya, Ndoro," napas Pak Dul tampak memburu, sepertinya dia berlari mendengar teriakan Mas Han.
"Nanti malam kamu antar anak-anak sama pengasuh plus ibunya ke hotel ya. Kalau perlu sekalian dengan neneknya."
"Siap Ndoro," sambil berbisik Pak Dul bertanya, "apa Ndoro Putri sudah mengijinkan?"
Terdengar tawa kecil Mas Han, "sudah," jawabnya, juga sambil berbisik.
"Kamu sekarang pulang, siapkan anak-anak," titah Mas Han padaku.
"Tapi sekarang belum waktunya pulang mas," tolakku.
"Suster Eny sama Lita pasti nggak mau pulang."
Mas Han melangkah cepat keluar, meninggalkan aku dalam bingung. Tapi tak urung aku mengikuti langkahnya.
Mendekati ruang bermain anak, Mas Han mempercepat langkahnya. Senyumku makin lebar. Mas Han melepas sepatu sebelum memasuki ruangan.
Suara Lita terdengar jelas di telingaku, "ayah..bunda."
Mas Han menggendong tubuh kecil Lita yang berlari mendekat. Sementara aku berhenti di ambang pintu menyaksikan keduanya.
"Sedang main sama ibu?" tanya Mas Han.
Kepala mungil Lita mengangguk cepat. Suster Eny berdiri kaku seperti biasanya. Mas Han mengangguk sedikit memberi salam dan dibalas dengan cara yang sama.
"Nanti malam mau pergi sama bunda nggak?" tanyaku sambil berjalan mendekat.
"Kemana?" mata gadis kecil ku berbinar melihatku.
"Beneran yah?!"
"Iya."
"Ibu diajak nggak?" gadis kecil berusia tiga tahun itu melihat suster Eny, tatapannya memperlihatkan rasa bersalah.
"Ibu mau istirahat disini saja sayang, ibu capek," suster Eny menjawab dengan tenang. Wanita ini tahu benar caranya membawa diri.
"Terus Lita pergi ke tempat ayah sama siapa?"
"Sama bunda, adek Ken nenek Narmi, nenek Nah diantar sama Pak Dul," jawabku sambil menyentuh ekor kuda dan menowel pipi gembulnya.
Gadis kecil ku mengangguk, dia melepas pelukan ayahnya dan mendekati suster Eny, "ibu istirahat saja kalau capek, Lita jalan-jalan dulu sama banyak yang lain?"
"Banyak yang lain?" tanyaku menggoda.
"Iya bunda, Lita perginya sama orang banyak lain."
Aku menepuk pantat kenyal Lita, "ayo kita jemput adik."
"Ayo," kepala Lita mengangguk cepat berkali-kali membuat ekor kudanya ikut bergoyang.
Lita mengambil tanganku dan menggenggamnya erat, "ayo bunda."
"Iya...iya."
"Ayah langsung ke hotel ya, menyiapkan semuanya, biar nanti kalau anak-anak ayah sampai di hotel bisa makan banyak."
"Iya," Lita terus menarik tanganku, mendekati Pak Dul yang sudah menunggu.
__ADS_1
"Ayo atung berangkat," teriak gadis kecil itu ketika hampir mendekati Pak Dul.
Pak Dul cemberut, "kalau ngomong yang lain saja bener, panggilnya Kakung Nduk Kakung."
"Iya atung...atung."
Tak mudah menyiapkan dua balita yang usianya hampir sama. Bukannya bisa siap dengan cepat keduanya malah tertidur setelah bercanda.
Yang tadinya direncanakan sebelum Maghrib bisa sampai hotel. Ini malah hampir isya baru sampai depan kamar Mas Han.
"Kalian ini gimana sih, ayah kan nunggunya dari tadi," mantan suamiku cemberut menggoda dua anaknya.
"Adek ayah, diajak cepet malah bobok terus."
"Nggak kok, kakak yang tiba-tiba matanya merem."
"Sudah-sudah ayo masuk."
Mata dua anakku berbinar, diatas ranjang ada berbagi macam makanan kecil. Di atas karpet tergeletak beberapa mainan.
"Kita ada di surga dek," ucap Lita sembari berlari mendekati mainan yang ada diatas karpet.
"Di surga, surga apa bunda?" tanya Ken memandangku.
"Surga itu tempat yang indah, yang hanya ditinggali orang-orang yang baik," jawabku.
"Berarti ayah baik bunda, tinggal di surga."
Wajah Mas Han merah padam. Aku jadi salah tingkah sendiri.
"Kalau baik kok ayah ga pernah bobok bareng Ken?"
Aku makin bingung. Harus jawab apa ini? Sedangkan mata Mas Han makin membulat.
"Atau kita yang pindah ke surga bareng ayah."
"Tanggung jawab kamu," ucap Mas Han tanpa suara. Aku hanya bisa mengulurkan tangan memberi tanda agar mantan suamiku tenang.
"Hmmm, begini saja, kita buat perjanjian ya," aku dudukkan Ken diatas pangkuanku.
"Sekali-sekali ayah akan bubuk bareng Ken, bagaimana?"
"Tapi Ken musti janji dulu, menyebutkan angka satu sampai sepuluh dengan benar."
"Nggak mau."
"Satu sampai sepuluh itu susah bunda."
Aku melirik mas Han yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kalau Ken bisa sebut satu sampai sepuluh gak lupa-lupa, ayah musti bobok sama Ken hari-hari bunda," tawar anakku.
Aku melirik mantan suamiku yang bibirnya mengembang selebar senyum Joker. Kepalanya mengangguk-angguk kegirangan. Aku hanya bisa cemberut dan memalingkan muka. Enak saja, jangan harap semudah itu ya mas.
Melihat mantan suamiku dan dua anaknya bermain, ada setitik rasa yang hadir. Rasa Yanga membuatku gagal menahan senyum. Hati ini terasa hangat, satu sisi yang biasanya kosong, saat ini terasa penuh.
Sedang asiknya aku melihat anak-anak, ponselku bergetar. Mas Juna mengirim pesan.
Ada yang ingin aku bicarakan. Han menyembunyikan hasil penyelidikan polisi.
Aku memandang mantan suamiku. Kepalanya bergerak sedikit menyampaikan tanya dalam diam, apa yang sedang aku pikirkan. Aku membalasnya dengan gelengan kepala. Sekarang bukan waktu yang tepat, aku tak ingin merusak malam ini dengan sebuah kecurigaan.
...***...
__ADS_1
...***...