
Kemarin Pak Dul kembali ke panti selepas Maghrib, setelah memberi banyak pujian atas masakan yang disediakan ibu untuk makan malam. Meskipun Mbok Nah dan aku menggoda mati-matian, Pak Dul hanya senyam-senyum seperti tidak terpengaruh.
Tapi sebelum pergi dia minta maaf karena khawatir sikapnya dianggap kurang ajar.
"Maafkan saya mbakyu, Ndoro Putri, saya hanya bercanda, biar jadi hiburan. Mana berani saya menyukai ibu dari orang yang sangat saya hormati."
"Terimakasih atas makan malamnya."
Aku, ibu, dan Mbok Nah sampai melongong mendengar kalimat Pak Dul sebelum pulang. Kami baru masuk rumah ketika mobil yang dikendarai Pak Dul berlalu dari depan pagar.
Pagi ini Pak Dul sudah menunggu di teras. Hari ini jadwalku padat. Selain pembukaan panti juga ada jadwal mediasi sidang perceraian kami. Aku tidak tahu Mas Han bersedia menghadiri tahap mediasi ini atau tidak.
Karena persiapan pembukaan panti sudah seratus persen, aku memutuskan untuk berangkat ke pengadilan agama sendiri. Menghadiri sebentar acara pembukaan panti kemudian biar Yuni yang melanjutkan hingga acara selesai.
Rupanya undangan yang dilayangkan oleh yayasan disambut dengan sangat antusias. Dapat dilihat dari beberapa perangkat desa yang turut hadir. Dari sedikit berbincang yang aku lakukan dengan pejabat terkait, mereka sangat senang karena belum pernah ada panti seperti ini yang dikelola dengan baik. Bukannya tidak ada sama sekali tapi umumnya hanya dikelola sekedarnya karena milik pribadi.
Setelah pidato pembukaan, aku terpaksa undur diri, bagaimana lagi dua-duanya penting buatku.
"Ndoro Putri, tidak mau saya antar?" aku dihadang Pak Dul sebelum keluar gerbang.
"Tidak usah pak, barangkali Bu Yuni butuh sesuatu. Pak Dul membantu kelancaran acara pembukaan panti saja ya."
"Yakin, Ndoro putri tidak mau diantar?" wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak dibuat-buat.
Aku jadi senang, "yakin, saya bisa berangkat sendiri."
"Baik Ndoro Putri, tapi kalau minta dijemput atau bagaimana, mungkin butuh saya, sebaiknya langsung hubungi saya."
"Iya...iya."
Aku menghadiri panggilan kali ini karena ingin memastikan kalau kami setuju langsung sidang saja tanpa melalui proses mediasi. Terlalu lama dan bertele-tele.
Ketika aku sampai, Mas Han sudah ada di tempat. Kelihatan sekali kalau tidak terurus. Matanya melihatku tak berkedip. Mungkin karena pakaianku yang sedikit berlebihan untuk menghadiri proses perceraian kami. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin berdandan seadanya selama acara pembukaan panti.
"Cantik banget dandanannya, mau langsung cari pengganti sepulang dari sini," sinis Mas Han.
"Terimakasih sudah memuji aku cantik," kata-kata yang lainnya aku abaikan saja, daripada membuat emosi.
"Cih, dandan cantik bukan buat suami."
Aku melirik. Eh, masih mau dilanjutkan sindirannya. Tapi aku memilih untuk tidak terpancing.
"Kita belum cerai, aku belum tentu mau menceraikan kamu. Nggak takut dosa kamu minta cerai dari suami. Seorang wanita yang meminta cerai dari suaminya tidak bisa mencium bau surga, lo."
Tarik napas Rum, jangan sampai terpancing. Malu kalau sampai ribut di depan orang banyak. Aku tengok kanan kiri, banyak pasangan yang duduk berjajar menunggu antrian. Aku jadi menyesal sudah datang, lebih baik aku tidak datang dan membayar biaya mediasi saja karena dianggap mangkir.
__ADS_1
"Jangan punya pikiran buat menolak mediasi, aku akan buat usaha kamu makin sulit kalau kamu menolak proses mediasi. Aku akan minta perwalian dan hak asuh anak."
Sok tahu jalan pikiran orang. Eh, bukannya kalau masih bayi, hak asuh anak langsung jatuh ke ibunya ya.
Aku membenahi bajuku, menata rambutku menggunakan jemari, hanya untuk menghilangkan kegugupan dan menghalau emosi yang mulai naik karena ocehan Mas Han.
"Aku akan bilang, kalau kamu tidak mampu secara finansial untuk menjaga Ken. Dan kamu musti banyak meninggalkan anak karena harus bekerja."
Lama-lama panas juga kupingku mendengar omongan Mas Han yang gak mau berhenti.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa menjaga Ken dengan baik. Di rumah kan banyak pengasuh, aku juga mampu bayar baby sitter, aku lebih mampu secara finansial dari kamu Rum."
Cukup, "kamu mau menabur benih kebencian di hatiku mas?"
"Aku hanya ingin kita berpisah secara baik-baik, jangan membuat aku jadi benci sama kamu mas. Kalau aku sampai sakit hati, aku bisa saja membawa anakku pergi dan nggak perlu bertemu sama bapak yang seperti kamu."
Mas Han melotot, "Jangan berani-berani kamu berpikir untuk menjauhkan aku dari Ken!"
Sepertinya sekarang saat yang tepat untuk negosiasi, "dengar ya mas, mumpung masih ada waktu buat kita untuk bicara, antrian kita masih panjang. Aku ingin kita membuat perjanjian, biar tidak ada yang merasa dirugikan."
"Dalam sebuah perceraian tidak ada yang diuntungkan Rum, apalagi anak kita."
"Aku tahu, aku kan bilang biar tidak ada yang merasa dirugikan karena memang tidak ada perceraian yang menguntungkan."
"Jangan putus omonganku mas."
"Yang harus kamu tahu, apapun yang terjadi aku ingin kita tetap bercerai, mas. Mau pilihannya jalan panjang dan sulit atau mudah dan cepat, keinginanku untuk kita jalani hidup masing-masing tidak akan berubah."
"Aku tahu kamu hanya ingin perceraian kita menjadi sulit, dengan semua tuntutan yang akan kamu layangkan."
"Tapi ingat, itu hanya akan membuatku makin tidak menghargai kamu."
"Lalu kamu maunya bagaimana?" pertanyaan konyol yang harusnya tidak keluar dari mulut cerdas Mas Han.
"Jangan persulit perceraian kita, maka aku tidak akan mempersulit hubungan kita kedepannya."
"Aku tidak akan menghalangi kamu membawa Ken dengan syarat tertentu. Aku akan mengikuti semua syaratmu asal tidak merugikan aku dan Ken. Tapi jangan persulit proses cerai kita ini."
Mas Han menatapku nyalang. Meskipun rasa takut kembali muncul di hatiku, aku yakin dia tidak akan berani melakukan apapun di tempat ini. Banyak orang disini, dan petugas keamanan juga kelihatan sedang berjaga di tempat-tempat tertentu.
"Selama ini aku tidak menyadari kalau sikapku bisa membuat hatimu berubah menjadi sekeras batu."
Mas Han melanjutkan, "oke kita buat semuanya menjadi mudah, aku akan meluluskan permintaanmu. Tapi aku tidak mau dihalangi kapanpun aku akan menemui Ken."
"Kamu juga harus menerima tunjangan yang aku berikan dan menghabiskannya agar kamu dan Ken bisa hidup layak. Aku tidak mau ada penolakan atas pemberian atau keinginanku kalau itu berhubungan dengan Ken."
__ADS_1
Tidak ada yang salah dengan semua permintaannya. Ken memang anaknya, aku tetap ingin Ken merasakan kasih sayang keluarga yang utuh meskipun kedua orang tuanya berpisah.
Masalah tunjangan memang itu kewajiban Mas Han pada anaknya. Malah bagus kalau dia masih mau bertanggung jawab. Jadi aku tidak punya alasan untuk merasa keberatan dengan semua syarat yang dia ajukan.
"Berarti kita sepakat ya mas. Semua proses ini akan berjalan cepat dan mudah, karena kita berdua menginginkannya."
"Aku punya permintaan satu lagi."
Dahiku mengernyit, permintaan lagi?
"Sebuah permintaan yang bisa kamu penuhi saat ini juga dan kamu tidak boleh menolaknya. Kalau kamu berani menolak, aku akan batalkan semua kesepakatan kita tadi."
"Sebutkan dulu apa maumu?"
Ini bukan jebakan, kan? aku takut kalau ini hanya sebuah jebakan.
"Aku akan menyebutkan apa keinginanku setelah kita keluar dari ruangan itu," mata Mas Han menunjukkan ruangan yang masih tertutup.
"Apa dulu permintaannya," aku harus tahu dulu apa maunya.
"Kali ini, aku yang pegang kartu. Kalau kamu bilang iya, aku akan jalankan kesepakatan kita, kalau kamu tidak mau maka semua kesepakatan kita gagal."
Ih, main ancam. Aku memandang Mas Han curiga. Bagaimana kalau nanti dia minta melakukan hubungan tidak senonoh untuk terakhir kalinya.
"Setelah ini giliran kita masuk Rum, semua ada di tanganmu," Mas Han memamerkan senyum penuh kemenangan.
"Baik...oke, aku akan turuti permintaanmu, selama itu masuk akal dan manusiawi."
"Tanpa syarat Rum," pasangan dengan antrian sebelum kami terlihat keluar dari ruangan, Mas Han berdiri membenahi pakaiannya, "iya atau tidak Rum?"
"Iya...iya," yang penting aku segera bercerai.
Aku berjalan cepat mengikuti langkah Mas Han masuk dalam ruangan. Sebuah rasa menggelitik hatiku, sama sekali tidak pernah terbersit dalam hatiku kalau aku akan berada disini dengan laki-laki yang dulu sangat kupuja.
Ketika semua urusan dengan mediator selesai, kami keluar ruangan dan saling pandang di depan pintu. Tidak ada lagi orang yang mengantri untuk masuk ke dalam. Kami adalah orang terakhir.
"Aku minta permintaanku sekarang Rum."
Wah, minta apa dia, kenapa sekarang ketika suasana sepi tidak ada orang. Tapi sebuah janji tetap harus dipenuhi, jadi aku mengangguk.
"Peluk aku untuk yang terakhir kalinya Rum."
Aku memandang Mas Han, tatapan matanya sendu. Setelah semuanya benar-benar akan berlalu, hatiku pun sama merasa kehilangan akan sesuatu.
Mas Han membuka tangannya lebar. Perlahan aku berjalan mendekat, mendekatkan diriku, dan bersembunyi dalam pelukan suamiku. Air mataku perlahan mulai menetes. Dada ini pernah menjadi tempat ternyaman buatku untuk sembunyi. Lengan ini pernah menjadi sandaranku kala aku sedih. Sekarang aku akan kehilangan semuanya.
__ADS_1
Aku tahu ini hanya sebuah rasa sentimentil karena kami terbiasa bersama. karena itu aku yakin dengan berjalannya waktu kami akan terbiasa hidup masing-masing, mencari dan bertemu kebahagiaan yang lain, sama seperti dulu sebelum kami saling menemukan satu sama lain.
...***...