
Pagi ini aku ada disini. Di depan pagar sebuah rumah dengan gaya minimalis. Pak Dul turun untuk meminta penjaga rumah membukakan pagar. Tidak sopan kalau melakukannya dari dalam mobil tanpa turun. Sesama pegawai harus saling menghargai begitu kata Pak Dul.
Sesaat setelah kembali ke kursi kemudi dan pagar sudah terbuka, Pak Dul melajukan mobil masuk ke halaman rumah. Rasanya campur aduk, apa yang harus aku lakukan ketika berhadapan dengan Sekar. Aku harap tidak menjadi masalah nantinya, karena aku menyembunyikan kunjunganku ini dari Mas Han.
Ketika aku di depan pintu rumah, salah satu asisten rumah tangga menyambutku ramah, "silahkan, Bu Sekar ada di dalam Bu."
"Terimakasih mbak."
Seperti yang sudah-sudah Sekar menemuiku dengan percaya diri yang tinggi. Ekspresinya selalu menampilkan ketenangan yang luar biasa, senyum juga menghiasi wajahnya. Tapi kali ini seharusnya dia tidak melakukan itu di depanku, karena hal itu membuatku sedikit merasa kesal.
"Silahkan duduk mbak."
Alih-alih menemuiku di ruang tamu dia mengajakku duduk di ruang tengah, "saya akan menganggap mbak sebagai saudara saya sendiri, karena itu kita ngobrolnya disini saja, bukan di ruang tamu."
"Ada yang bisa saya bantu, apa yang membawa mbak sampai datang kesini tanpa suami kita."
Aku menunduk sekilas sambil tersenyum, "apa kamu melarang ku jika aku datang sendiri?"
"Tidak, tentu tidak."
"Kalau mbak datang hanya untuk memberi peringatan kepadaku tentang yang mbak dan Mas Han dengar, lebih baik mbak segera ungkapkan, jadi kita tidak perlu berpanjang kata."
"Lagi pula, berdasarkan apa yang saya lakukan, saya bahkan berhak lebih dari itu."
Wah...wanita muda yang pemberani dan kalau aku boleh bilang, tidak tahu malu.
"Aku tahu, lagi pula aku kemari bukan karena itu."
Kali ini aku melihat ada perubahan pada ekspresinya.
"Kalau begitu, saya boleh sedikit berdebar dengan kedatangan mbak kemari."
Sekar memperbaiki duduknya, yang tadi terlihat begitu angkuh dengan kepala sedikit diangkat dan tangan terlipat di depan dada, sekarang dua tangannya diletakkan di atas meja dan badan sedikit condong ke arahku.
"Ah...aku tahu," dia kembali menarik badannya, "mbak ingin memastikan kehamilanku."
"Hmmm...aku tahu kamu wanita yang cerdas."
Kami seperti dua betina yang saling mengukur kekuatan, dan aku ingin mengakhirinya sekarang demi anak yang ada dalam kandungan Sekar.
"Aku ingin kita berdamai, aku ingin kamu bahagia dengan kehamilanmu. Aku tahu ibu pasti memperhatikan kamu dan pasti kamu tidak kekurangan apapun. Tapi aku ingin dekat dengan anak yang kau kandung sejak dini."
Matanya memandangku curiga, senyum sinis samar muncul di bibir Sekar, "saya baik-baik saja, seperti yang mbak lihat. Terimakasih, dan mbak benar sekali, semua kebutuhan saya terpenuhi," aku melihat tangannya memegangi bagian perutnya dengan posesif.
Aku melirik tangan itu tajam, jangan main-main denganku, kita punya perjanjian, "kamu yakin? kalau aku lihat sekarang mukamu pucat."
__ADS_1
Muka Sekar beneran pucat, bintik keringat sebesar biji jagung berjajar di dahi wanita itu. Dia tidak baik-baik saja. Lagaknya saja kuat dan sok tidak butuh.
"Saya baik-baik saja, hanya sedikit mual, mbak tahu...itu karena aku hamil. Ah...mbak tidak tahu bagaimana rasanya ya, karena belum pernah hamil kan?!" ingin rasanya aku membalas kalimat pedasnya, tapi dalam hitungan detik tubuh tinggi semampai yang duduk di depanku itu ambruk, jatuh dari kursi.
Aku melompat dan berteriak sejadinya, "Sekar! mbak...mbak," teriakku, asisten rumah tangga berlari mendekat, "beritahu sopir saya untuk masuk kesini."
"Baik Bu," mbak nya berlari keluar.
Aku menyentuh dahi Sekar, tubuhnya tidak panas. Telapak tangan dan ujung-ujung jarinya terasa dingin. Kenapa kamu? Apa ibu tahu kondisimu?
Pak Dul berlari mendekat dari luar, di belakangnya diikuti mbak asisten rumah tangga, "namamu siapa?" tanyaku.
"Siti Bu."
"Baik, mbak Siti kamu ikut saya," aku beralih melihat Pak Dul, "Pak Dul kuat tidak mengangkat Sekar?"
Pak Dul melihat sekilas, "sebentar Bu," kemudian berlari keluar.
"Pak Dul," gimana sih, ditanya malah lari keluar.
Tapi tidak lama Pak Dul kembali dengan petugas keamanan.
"Ayo mas, bantu saya mengangkat."
"Ini mau dibawa kemana Ndoro, langsung ke rumah sakit atau masuk ke kamar dulu?" aduh Pak Dul pakai tanya.
"Langsung ke Rumah sakit saja. Ayo mbak Siti."
Siti aku minta untuk duduk di sebelah Pak Dul di depan. Aku masuk di kursi belakang kemudian Pak Dul dan petugas keamanan baru memasukkan Sekar dengan posisi tidur. Bagian kepala direbahkan diatas pangkuanku.
"Ayo Pak Dul kita berangkat."
Karena Pak Dul memacu mobilnya sedikit lebih kencang, beberapa kali tubuh kami terguncang, "Pak Dul, hati-hati bawa mobilnya," aku tidak mau Sekar terjatuh dari kursi.
Aku melihat perut Sekar, berdoa dalam hati semoga bayi yang ada dalam kandungannya baik-baik saja. Aku tidak mau kalau Mas Han harus melakukan hal itu lagi, tapi lebih dari itu aku berharap semua sehat dan selamat.
Perlahan aku melihat mata Sekar terbuka, bibirnya sewarna kertas, "kita mau kemana?"
"Kali ini jangan mendebat ku, kamu tidak sehat."
"Aku sudah biasa seperti ini," masih tetap saja keras kepala.
"Kita lanjutkan perdebatan kita kalau kamu sudah kuat, aku benci bertarung dengan orang yang membawa tubuhnya sendiri saja tidak mampu," aku memandang keluar, jalanan sedikit macet, perjalanan ke rumah sakit menjadi lebih lambat.
"Aku bisa duduk sen__."
__ADS_1
"Aku bilang diam!" aku remas dan kusentak sedikit tangan yang ada dalam genggamanku. Aku melirik sekilas, Sekar cemberut kemudian kembali memejamkan matanya.
Good girl, kali ini kamu harus menuruti aku.
Mobil berhenti tepat di depan pintu IGD, "mbak Siti kamu turun, minta salah satu perawat untuk membantu."
Siti kembali beberapa saat kemudian dengan membawa seorang perawat. Sekar ditidurkan di brankar kemudian didorong masuk untuk memperoleh perawatan. Matanya terus terpejam.
"Bagaimana dokter?" tanyaku ketika dokter jaga selesai memeriksa Sekar.
"Tekanan darahnya rendah sekali ya."
"Dia sedang hamil dokter."
"Kalau begitu, ibu urus dulu administrasinya. Kita perlu pemeriksaan lebih detail lagi, apalagi kata ibu, pasien sedang hamil bukan? lebih baik dirawat inap dulu beberapa hari sampai kondisinya stabil."
"Baik dokter."
Aku bergegas mengurus segala administrasi. Mas Han akan aku hubungi nanti setelah Sekar masuk kamar rawat inap. Mbak Siti aku minta pulang dengan diantar Pak Dul, mengambil berbagai macam keperluan Sekar.
Entah mengapa setelah semua selesai aku urus, ada setitik rasa bangga muncul. Delapan tahun ini hidupku hanya seputar rumah, suami, dan mertua yang menyebalkan. Sekarang ketika aku melakukan sesuatu untuk orang lain, aku merasa hidup lagi.
Sekar sudah mendapat perawatan, sekarang dia sedang tidur. Tadi dokter bilang semua baik-baik saja, hanya tekanan darahnya agak rendah. Dokter juga bilang hal seperti ini biasa terjadi pada usia kehamilan awal, apalagi ini adalah kehamilan pertama Sekar. Hatiku jadi tenang, semua akan baik-baik saja.
Sekarang waktunya untuk menghubungi Mas Han, mau tidak mau dia harus ikut memperhatikan kesehatan Sekar. Urusan menghubungi ibu akan aku lakukan nanti setelah berdiskusi dulu dengan suamiku.
Baru saja aku selesai mengetik pesan untuk suamiku, pintu ruang perawatan diketuk seseorang. Dari balik pintu muncul Mbak Siti dan Pak Dul dengan wajah takut, paling tidak menurutku begitu.
"Masuk, kenapa wajah kalian seperti itu?"
"Maafkan saya Ndoro Putri."
"Kenapa Pak?"
Pertanyaanku terjawab ketika dari belakang keduanya menerobos masuk seseorang.
"Kenapa kamu minta maaf!" teriak orang itu pada Pak Dul. Aku diam dan langsung menyiapkan mentalku melihat siapa yang datang
...***...
Pada tahu kan siapa yang datang kan...
Ikuti terus cerita Nehan dan Rumi ya...
Terimakasih yang sudah bersedia memberi like dan komen
__ADS_1