
Mbok Nah masuk kamar dengan sebuah gelas di tangan, tapi kesadaran ku hampir hilang.
"Mbok tolong saya, antar saya ke dokter," pandanganku kabur, sebelum kesadaran ku benar-benar hilang aku ingat sempat berbisik, "jangan beritahu mas Han ya mbok," sedetik kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.
"Dimana aku? mbok..." mbok Nah duduk di sebelahku sedang menyusut air matanya.
"Di Rumah Sakit, Ndoro."
"Kita pulang saja Mbok, aku tidak mau menginap disini, banyak yang harus dilakukan."
"Tidak, Ndoro Putri...tidak."
"Sekarang ini kita tidak akan kemana-mana."
Aku berusaha mengingat kembali potongan memori yang terekam sebelum aku tidak sadarkan diri. Ah...foto itu.
"Hiks...hiks...Mas Han terus membohongi saya mbok, bukan hanya saya, dia juga membohongi ibu di desa, dia bilang saya hamil."
Air mataku terus keluar, "dia terus berbohong, tapi saya juga tidak mau hidup saya selama delapan tahun ini menjadi sia-sia, hu...hu.. hu," isakku makin keras.
"Semuanya akan baik-baik saja Ndoro Putri, saya menangis bukan karena sedih, saya memang sedih melihat Ndoro terbaring sakit begini, tapi saya juga bahagia."
"Saya mau pulang ke rumah ibu di desa, Mbok. Semoga saja ibu mau mengerti dan tidak terlalu kecewa, lagi pula selama ini saya tidak pernah dianggap menantu yang layak oleh ibunya Mas Han."
Tendengar suara pintu terbuka, seorang dokter masuk dan mendekat, "bagaimana Bu rasanya, apa sudah baikan?"
"Iya dokter, terimakasih. Sudah jauh lebih baik."
"Mulai sekarang, kondisinya harus dijaga ya, makannya yang banyak, nanti akan saya resepkan vitamin, biar bayi dan ibunya sehat."
Bayi...apa aku tidak salah dengar? bayi...Aku menyentuh perutku, "saya hamil dokter?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Loh...si mbahnya belum kasih tahu toh? kalau begitu saya beri selamat dulu ya, selamat ya...nyonya hamil, usia kehamilannya sudah masuk enam Minggu, musti dijaga kesehatannya, kalau sering lemah seperti orang mabuk itu biasa, kehamilan pada trimester pertama biasanya memang begitu."
"Huhuhu...huhuhu, terimakasih dokter," tangisku meledak, baru sekarang aku menangis sedih, senang, dan terharu dalam waktu yang bersamaan.
"Lo...kok malah nangis, ibu hamil itu harus bahagia, sudah ya, saya tinggal dulu, jangan lupa makanannya nanti dihabiskan," seirama dengan suara ketukan sepatu dokter yang makin menjauh aku saling pandang dengan abdiku yang setia ini.
"Ndoro Putri musti banyak istirahat."
"Iya mbok, terimaksih ya...selalu ada buat saya."
"Ndoro Kakung musti segera diberi tahu Ndoro, biar ikut merasa bahagia."
Memberitahu mas Han? aku pikirkan itu nanti, kebohongannya belum bisa kumaafkan.
__ADS_1
"Biar saya yang kasih tahu ya mbok, biar jadi kejutan."
"Hi...hi...hi, ya iya, masa saya yang kasih tahu, Ndoro Putri ini ada-ada saja."
Aku memegang perutku, aku ingat mimpiku tadi siang, "bunda akan baik-baik menjaga kamu sayang, kamu sehat-sehat di dalam ya," bisikku pada si jabang bayi.
"Mbok, apa ponsel saya tadi dibawa?" aku ingin memberitahu ibu kabar gembira ini, kali ini aku tidak berbohong Bu, aku tak bisa menahan senyumku yang merekah.
"Sepertinya, saya bawa tadi, tapi saya tidak bawa yang lainnya Ndoro," mbok Nah mengambil tasku yang tergeletak di atas meja, "ini Ndoro."
"Terimakasih ya Mbok."
"Apa Mas Han tadi sudah dikabari mbok," tanyaku, sedangkan mataku fokus melihat ponsel mencari nama kontak ibu.
"Sudah Ndoro, katanya saya diminta menemani dulu, nanti setelah rapat selesai akan dihubungi langsung Ndoro Putrinya."
Rapat!...heh, rapat apa rapet, keterlaluan. Aku menarik napas panjang, kupegang perutku dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan sibuk menunggu panggilanku diangkat oleh ibu.
"Kita lihat sama-sama ya sayang, sampai sejauh mana ayahmu akan berbohong, bunda yakin sekarang bunda lebih kuat karena ada kamu," bisikku pada anakku.
Assalamualaikum, Rum
"Waalaikumsalam, ibu...Rumi hamil Bu," teriakku girang, bahkan mungkin telinga ibu sedang pekak sekarang.
Hush...teriak-teriak, ibu sudah tahu kalau kamu hamil.
"Maksud Rumi, sekarang Rumi tahu kehamilan Rumi sekarang usianya berapa, begitu Bu," sahutku asal.
Memang berapa sekarang usia kehamilanmu Rum?
"Kata dokter, enam Minggu," ucapku ceria.
Itu yang ngitung bener dokter kandungan Rum, harusnya kalau ibu yang itung sudah lebih dari itu lo Rum.
"Bukan dokternya yang salah hitung, ibu yang salah lihat kalender, sudah ah. Rumi minta doa supaya selalu sehat ya Bu. Anak Rumi juga sehat sampai lahir."
Ya pasti, doa ibu selalu menyertaimu nak, ibu boleh berkunjung tidak, ibu pengen pegang cucu ibu.
"Jangan dulu, nanti Rumi saja yang pulang. Ibu sehat-sehat, kalau mau pegang sekarang juga masih belum kerasa."
Ya sudah, kamu hati-hati, sudah dulu ya...ini jahitan ditunggu sama tetangga.
"Iya...assalamualaikum ibu."
Klik...eh salamku belum dijawab main tutup saja si ibu.
__ADS_1
Aku merubah posisiku dari rebahan menjadi duduk. Tanganku tak mau jauh dari perutku, "kita lihat reaksi ayah nanti ya sayang," kataku sambil mengelus lembut perutku.
"Rum," aku melihat ke arah pintu Mas Han masuk tergesa, di tangannya ada tas berukuran sedang, "kamu baik-baik saja, kan?"
Entah mengapa kedatangan Mas Han menghadirkan oase di hatiku, aku tak sabar ingin memberitahunya. Aku hampir melupakan rencanaku untuk tidak memberitahunya sekarang.
"Rum kamu tahu tidak, tadi setelah rapat, aku sempatkan untuk mengantar Sekar ke rumah sakit."
"Mas, ada yang ingin aku sampaikan," aku pegang tangan mas Han berusaha memotong pembicaraannya, karena aku tidak yakin apa aku akan tetap ingin menyampaikan kabar gembira ini setelah mendengar Mas Han bicara.
"Sebentar Rum, aku mau bicara dulu. Kamu tahu, bayi kita yang ada dalam perut Sekar geraknya lincah banget, dia sehat Rum, aku jadi nggak sabar nunggu dia lahir."
Kamu mengingatkan aku tentang rapat, yang sebetulnya tidak ada, kamu menceritakan anak yang ada dalam perut Sekar. Tanpa sadar aku memegang perutku sendiri.
"Kamu ingin ngomong apa Rum?"
"Hmmm," aku berlagak lupa, "nggak penting mas."
"Ngomong-ngomong, tadi rapatnya sama siapa mas?"
"Ha...oh...mmm, sama klien lah pastinya, mau aku sebutin juga kamu nggak akan tahu!"
"Klien ya mas."
Mbok Nah memandangku tidak sabar, "Ndoro Putri bukannya tadi ada yang ingin disampaikan?"
"Ah, nggak usah mbok, lagian sudah lupa," aku memberi tanda pada Mbok Nah agar Mas Han tidak curiga.
"Ada apa sih, tingkah kalian mencurigakan? oh, iya, kamu sakit apa Rum? perutmu sakit ya, dari tadi kamu pegangi terus perutmu."
"O...hanya masuk angin, aku juga tidak ingin lama-lama disini, banyak yang harus dikerjakan sebelum acara tujuh bulan Sekar, aku masih harus belanja jarit dan___"
"Oh, masalah belanja untuk kebutuhan tujuh bulan ya Rum, kamu tidak perlu repot, kamu kan sedang sakit, aku tadi sudah telepon ibu, biar ibu yang ngurusi semua detailnya."
"Ooo...begitu ya mas, sekarang ibu yang mau urus semua detail acara syukuran tujuh bulan Sekar."
Baguslah, aku jadi tidak perlu terlalu lelah.
"Mbok, kita bisa santai Mbok."
"Iya Ndoro putri. Tapi...kok saya ragu ya kalau Ndoro sepuh mau ngurusi sendiri semuanya, tadi kan Ndoro Putri dengar sendiri, kalau kita diminta tanggung jawab."
"Sudah beres semua kok mbok, tidak usah kuatir," Mas Han menjawab kikuk.
Aku memandang Mbok Nah dan lagi-lagi memberi tanda dengan mataku, biarkan saja apa mau mereka.
__ADS_1
Biarkan saja mereka, aku terus terbayang mimpiku tadi siang, aku akan fokus pada anak yang ada dalam kandunganku. Entah sampai kapan aku akan menyembunyikan kehamilanku. Atau aku biarkan saja mereka mengetahui dengan sendirinya ketika perutku membesar. Aku akan lihat sejauh mana kamu akan membohongiku mas.
...***...