Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 6


__ADS_3

Aku memandang ibu dengan pandangan bingung, "apa maksud surat ini Bu?" tanyaku berusaha mencari pemahaman.


"Kamu bodoh atau naif?"


"Jangan sok lugu kamu, surat itu dengan gamblang menjelaskan keberadaannya."


"Apa karena surat ini Mas Han tadi pulang awal, apakah tadi ibu datang ke kantor Mas Han?"


"Aku memintamu kemari bukan untuk memperoleh penjelasan Rum."


"Jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun."


"Asal kamu tahu, aku hanya ingin menunjukkan kalau apapun yang terjadi, pernikahan ini akan terlaksana."


Aku diam, mataku tidak berpindah seinci pun dari keberadaan map yang tergeletak diatas meja.


Kembali aku mendengar suara ibu, "kamu bisa baca disitu, posisimu akan tetap menjadi yang utama, Sekar hanya akan mengandung anak kalian. Ketika bayi itu nanti lahir, akan ada pilihan lagi baginya. Yang jelas dia tidak akan pernah menjadi istri sah dari suamimu."


Aku masih tetap tak berargumen, bagiku membantah, memberi alasan ataupun meminta keadilan tak akan ada gunanya.


"Kamu harusnya bersyukur, ingat dari mana kamu berasal. Meskipun kamu seorang sarjana, keluargamu itu golongan orang biasa Rum. Sudah bagus Nehan menikahimu, derajatmu jadi terangkat, coba kalau tidak, kamu hanya akan jadi perempuan miskin yang musti kerja keras untuk menghidupi ibunya."


Ketika mendengar kalimat ibu mertuaku yang panjang, bayangan ibuku yang sekarang hidup di desa sendirian berkelebat di pelupuk mataku. Netraku menghangat, aku tidak boleh menangis, aku harus kuat.


"Pilihan yang kamu punya hanya ini Rum, meminta suamimu bersedia menikahi Sekar, atau kalian akan aku ceraikan."


Kursi dari kayu jati yang aku duduki serasa membara, ada api yang membakar seluruh badanku. Maunya aku lari saja dan menghindar jauh-jauh dari keluarga yang katanya ningrat ini. Bayangan tentang keluarga bahagia yang dulu pernah dijanjikan Mas Han menguap entah kemana.


"Kamu apa-apaan Bu?" kepalaku secepat kilat melihat ke arah bapak, meminta tolong agar diselamatkan dari situasi yang membuat nafasku sesak ini.


"Kamu diam saja pak, Ndak usah ikut urusan perempuan. Ini urusanku dengan anakmu, kamu hanya perlu melihat tidak perlu ikut campur."


"Rum, ayo sini ngobrol sama bapak," nafasku terasa longgar, paru-paruku kembali puas menghirup oksigen semaunya. Tanpa menunggu diijinkan oleh ibu, aku berdiri dan mengekor kemana bapak pergi.


"Pak, aku belum selesai!" teriak ibu.


Bapak mengabaikan teriakan ibu dan mengajakku berjalan ke taman tengah. Taman ini disebut bapak taman tengah karena terletak ditengah-tengah, dikelilingi oleh bangunan rumah, persis seperti rumah yang aku tinggali bersama Mas Han.


"Kita duduk sambil menikmati mawar yang sedang mekar Rum."


Di salah satu sisi taman ada sebuah meja yang diatasnya sudah ada sepoci teh dan beberapa gelas kosong.


"Baunya wangi bukan?" kata bapak.


"Iya pak, wangi."


"Kamu tahu Rum, bapak suka dengan mawar tapi juga sekaligus merasa takut."


Aku mendengarkan dengan baik. Bapak bukan lelaki biasa, beliau lelaki luar biasa yang sangat aku hormati.


"Kamu tahu kenapa bapak suka mawar?" tanya bapak.

__ADS_1


"Karena wangi?" jawabku.


"Ya, itu salah satunya."


Bapak memandangku, "selain itu karena mawar adalah penggambaran dari wanita."


"Maksud bapak?" tanyaku mencoba mengikuti kemana arah pembicaraan bapak.


"Menurut bapak, wanita itu seperti mawar, indah karena memiliki banyak warna, beraroma wangi, meskipun rapuh, mudah layu dan rontok jika tidak diperlakukan dengan benar, tapi sebenarnya dia memiliki pertahanan diri yang kuat, bisa melukai dan membuat seseorang berdarah."


"Bapak bisa saja," filosofi yang aneh tentang mawar. Kalau tidak mau terluka tinggal potong durinya dan kita bisa puas menikmati mawar selama kita mau.


"Dan yang paling bapak suka dari mawar adalah setiap warna merupakan penggambaran dari maksud yang berbeda."


"Karena itu bapak menanam banyak mawar?" tanyaku.


Bapak tidak menjawab, kali ini bapak meraih tanganku dan menepuknya perlahan, "Rum, kamu harus kuat, jadilah mawar yang tidak mudah rapuh, pertahanan mu ada dalam dirimu sendiri Rum. Biarkan Nehan memelihara mawar dengan warna yang berbeda di rumah, tapi jangan biarkan Nehan menanamnya di kebun mu. Kebunmu adalah milikmu dan kamu adalah pemeran utamanya."


"Bagaimana kalau suatu saat nanti Mas Han memutuskan untuk menanamnya diam-diam pak, mawar itu tidak lagi menjadi penghias meja dalam vas, tetapi mas Han menanamnya dalam kebun meskipun diletakkan di sudut dan tersembunyi?"


"Kamu bisa memilih kebun lain agar kamu bisa tumbuh bebas Rum, kamu berhak atas kebahagiaanmu sendiri, tanpa harus mendengar apa kata orang."


"Omong-omong, ibu mawar jenis apa pak?" tanyaku bercanda.


"Jenis beracun, sudah durinya tajam beracun pula, tapi bapak suka warna dan wanginya, jadi bapak hanya harus berhati-hati ketika akan menyentuh biar tidak tertusuk duri."


Aku menundukkan kepala sambil mengulum senyum, sekarang aku makin yakin apa yang akan aku lakukan, seperti kata bapak tadi, kalau ada mawar lain yang akan ditanam dikebun milikku, aku bisa memilih untuk tumbuh di kebun yang lain, meskipun aku harus mati lebih dulu.


"Saya mau pulang, Bu. Maghrib hampir datang, Mas Han beberapa kali menelepon meminta Rumi buat pulang."


"Ingat pesanku tadi Rum," aku berpamitan, yakin dengan apa yang aku lakukan.


...***...


Mood Mas Han masih saja buruk. Makan pagi dengan wajah cemberut berangkat kerja dengan wajah ditekuk.


Berkali-kali dia bertanya, kemana aku pergi sore kemarin, aku bungkam tak mau bilang. Pak Dul juga aku pesan untuk diam. Aku membawa beberapa belanjaan untuk menyamarkan kepergian ku ke rumah mertua.


Sama seperti kemarin, pagi ini setelah Mas Han berangkat, diam-diam aku ada janji temu dengan Sekar. Dia bilang ada yang ingin dia ceritakan.


Kami bertemu di tempat yang telah disepakati. Wanita muda ini benar-benar cantik dan lincah, cara dandannya juga berkelas.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyaku tanpa basa basi, aku mulai mempertimbangkan dari berbagai sisi dan sudut pandang dari tiap orang yang menginginkan pernikahan ini terjadi.


"Maafkan saya mbak, sudah mengambil waktu mbak untuk minta bertemu."


"Tapi sepertinya kita memang harus bertemu."


"Iya..." kataku memintanya untuk melanjutkan, langsung saja, aku tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk omong kosong.


Sekar menarik nafas, memperbaiki duduknya, "pertama saya akan mengenalkan diri secara pribadi."

__ADS_1


"Nama saya Sekar, mbak. Saya seorang mahasiswa jurusan kesekretariatan. Saya mengerti posisi saya dimana, tujuan saya hanya satu mbak, melanjutkan kuliah kalau perlu sampai ke luar negeri."


"Buat apa memaksakan diri kalau kamu tidak mampu, sampai kamu menjual dirimu sendiri begini."


"Siapa bilang saya menjual diri, ibu Ajeng, Ibunya Mas Nehan tetap akan menguliahkan saya meskipun saya tidak bersedia menikah dengan Mas Nehan, ini hanya bentuk rasa terimakasih saya saja. Saya akan pergi setelah anak kalian nanti lahir, semua sudah dalam perhitungan saya, mbak," jawabnya percaya diri.


"Percaya diri sekali kamu, apakah kamu tahu hati adalah satu-satunya hal yang tak bisa diperhitungkan fluktuasinya, dia akan naik turun semaunya."


"Saya tahu, tapi saya juga tahu apa yang harus saya lakukan ketika hati saya menuntut untuk dipenuhi keinginannya."


"Baik, saya pegang janji kamu, meskipun aku sama sekali tidak yakin dengan keyakinanmu. Tapi kita lihat saja nanti."


Setelah pertemuanku dengan Sekar, aku makin yakin memutuskan semuanya, tidak ada lagi keraguan di hatiku. Aku akan berjuang untuk kita mas, meskipun aku tidak percaya diri untuk bisa terus menggenggam mu, tapi aku ingin menuruti keinginan semua orang.


"Kamu ingin membahagiakan semua orang tapi mengabaikan kebahagiaan kita, Rum."


"Dengarkan aku mas, aku ingin diterima oleh keluargamu seutuhnya. Aku ingin diterima ibu menjadi menantu seutuhnya, biarkan aku mengikuti permintaan ibu."


"Apa yang ibu katakan padamu, apa Rum!" badanku gemetar mendengar teriakan Mas Nehan.


"Ibu akan memaksa kita untuk bercerai mas," Mas Han jatuh terduduk, dia tahu kalau ibunya sangat bisa melakukan apapun.


"Aku mencintaimu mas, aku tetap ingin terus bersamamu. Biarkan aku berkorban kali ini, aku ingin mengambil kesempatan yang diberikan ibu untukku, mas," tangisku pecah, aku terduduk di lantai kamar. Mas Han mengikuti aku duduk dan memelukku erat.


"Maafkan aku Rum, bukan ini yang kujanjikan untukmu dulu," baru kali ini aku melihat netra Mas Han basah oleh air mata. Suamiku tercinta menangis bersamaku.


...***...


Dua Minggu berlalu, rumah ibu sibuk dengan persiapan yang seperti tak ada habisnya. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menempatkan diri, mau cuek aku menantu di keluarga ini, ikut sibuk rasanya lucu, karena ternyata hatiku kesal bukan main.


Aku dalam kamar bersama dengan suamiku yang terus saja marah-marah. Berkali-kali aku harus merapikan bajunya, tapi berkali-kali pula kembali kusut.


"Jangan marah-marah terus mas," rayuku karena mood swing Mas Han membuatku ikut pusing.


"Kamu istri gila, tahu tidak?!"


"Iya aku tahu aku gila, tapi aku gila begini buat kamu."


"Mana ada istri yang mau ribet mengurusi hal beginian."


"Iya...iya."


"Mbak, penghulunya sudah siap, pengantin laki-lakinya diminta untuk siap di tempat," salah seorang perias manten memberi informasi pada kami.


"Ayo Mas."


"Kamu gila, Rum...gila."


"Ayo, mas...jangan begini, seperti anak kecil kamu mas, tinggal tanda tangan saja kok, lagi pula ini cuman nikah sirih kan, jadi cepat aja gak pakai lama."


"Gila kamu,"

__ADS_1


Dengan puluhan kata gila meluncur dari bibir Mas Han, akhirnya aku berhasil membawa suamiku ke depan penghulu. Tapi hatiku bergetar hebat ketika aku melihat pengantin wanita suamiku begitu cantik dan muda, mawar ini, apakah dia hanya akan menjadi hiasan dalam vas?


__ADS_2