
Hari ini adalah hari ke sepuluh Nehan tenggelam dalam tidur panjangnya. Bapak bersiap untuk memindahkan Nehan ke rumah sakit di kota untuk memudahkan bapak mengunjungi. Lagi pula bapak berharap dengan fasilitas yang lengkap dan lebih baik Nehan akan cepat bangun.
Juna masih melakukan hal yang sama, datang, duduk, memegang tangan sahabatnya dan membisikkan sesuatu tepat di telinga lelaki itu.
Selama sepuluh hari ini Rumi tidak lagi diijinkan untuk ikut. Alasannya hanya satu. Juna tidak ingin melihat Rumi menangis lagi.
Bila dalam waktu seminggu kedepan Nehan belum juga membuka matanya, maka Lita dan Ken akan diajak bergantian menjenguk ayahnya. Siapa tahu, itu bisa merangsang Nehan untuk bangun.
"Jadi kapan rencananya Nehan akan dipindahkan, pak?"
"Insyaallah Minggu depan Jun. Siapa tahu disana nanti perkembangannya akan lebih bagus."
"Iya, pak. Meskipun sebenarnya kasihan ya pak. Nehan jadi jauh sama anak-anak."
"Yah mau bagaimana lagi. Sebenarnya bapak tidak mau egois, tapi ini demi Nehan juga."
Memandang Nehan yang terbaring di ranjang di depan keduanya.
"Sepertinya Nehan memang tidak ingin bangun pak. Padahal sebentar lagi saya akan melakukan persiapan pernikahan dengan Rumi. Tapi kalau dipikir enak juga, acara saya tidak ada yang mengganggu."
"Iya. Bapak jadi membayangkan betapa repotnya kamu menghadapi anak bapak kalau dia sehat. Dia akan terus nempel sama Rumi kemana-mana."
Senyum kecil hadir di bibir bapak.
"Kenapa calon istrimu tidak kau ajak Jun?"
"Tidak pak. Saya tidak akan pernah mengajak Rumi datang lagi menemui Nehan. Saya tidak mau Rumi nangis lagi."
"Kalaupun suatu saat nanti saya membawa Lita sama Ken. Saya akan minta suster Eny mendampingi atau Mbok Nah."
"Sebaiknya kita keluar pak. Bapak belum makan bukan?"
Benar juga, perut ini dari tadi seperti bergerak-gerak, protes barangkali karena belum terisi makanan. Hanya beberapa roti dan teh. Kalau minum sudah cukup banyak.
"Iya, ayo Jun. Bapak memang lapar. Kita ngobrol di kafetaria."
Kafetaria rumah sakit terkondisi dengan baik. Membuat keluarga pasien yang menginap nyaman untuk memenuhi kebutuhan harian.
Semua jenis makanan tersedia, mulai dari kue, Snack, masakan tradisional bahkan sejenis fast food pun tak ketinggalan.
"Bapak harus cukup istirahat. Kita butuh tenaga ekstra untuk menjaga orang dalam fase vegetatif seperti Nehan."
"Iya, Jun. Untungnya Nehan menyiapkan semuanya sebelum dia mengalami peristiwa naas inj. Dia sudah menyerahkan semua urusan perusahaan pada seorang profesional."
"Dia hancur waktu mendengar kamu dan Rumi akan bertunangan."
Bapak menghela napas. Sampai hari ini makanan tetap saja terasa tidak enak.
"Dihabiskan pak."
"Suatu hari dia bilang kalau dia akan membeli rumah untuk Rumi dan anak-anaknya. Dia tunjukkan sama bapak foto sebuah rumah bercat putih."
"Dia semangat sekali."
Sendok terus berdenting meskipun dengan frekuensi lambat.
"Bapak tidak pernah tahu apa yang terjadi kemudian. Tapi suatu hari dia pulang dengan wajah kusut. Sejak itu Nehan tidak mau keluar kamar."
Kali ini Juna tidak berkomentar. Dia hanya menyediakan kupingnya untuk menjadi pendengar yang baik.
"Makan pun harus diantar ke kamar. Sampai suatu malam bapak pergoki dia tidur di makam ibunya. Hati bapak hancur melihat Nehan seperti itu."
"Karena tidak tega Bapak menasehati dia untuk bangkit dan berjuang. Pikir bapak setelah dia mendatangi Rumi dia akan legowo menerima kenyataan kalau Rumi akan dimiliki orang lain."
"Malam itu bapak melihatnya pergi tergesa-gesa. Keluar rumah menggunakan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan inilah yang terjadi."
Juna meletakkan sendoknya. Nasi Padang kesukaannya tidak menarik lagi untuk disantap. Perutnya tiba-tiba terasa kenyang.
"Jangan merasa bersalah Jun. Bapak menyadari Rumi berhak untuk bahagia."
Bapak menepuk tangan Juna beberapa kali.
Malam makin larut. Suasana rumah sakit menjadi lengang. Penghuni rumah sakit pasti sudah banyak yang terlelap. Pemilik kios di kafetaria ada yang mulai menutup kiosnya. Tinggal mini market milik rumah sakit yang buka karena memang melayani 24 jam.
"Maafkan saya pak. Setelah sebulan saya akan mempersiapkan acara pernikahan saya dengan Rumi."
Bapak mengangguk. Keduanya melanjutkan ngobrol sambil berjalan melewati lorong-lorong gelap rumah sakit menuju kamar tempat bapak istirahat.
"Iya, bapak paham."
__ADS_1
"Malam ini bapak tidur saja. Saya yang akan menjaga Nehan."
"Iya, mmm...Jun..."
Juna kembali menoleh, menahan kakinya yang hampir melangkah meninggalkan tempat itu.
"Bapak sering lihat kamu membisikkan sesuatu di telinga Nehan. Apa yang kamu bisikkan?"
"Saya menceritakan semua yang terjadi di sekitarnya selama dia tidur hari demi hari pak."
Bapak tersenyum karena dia sendiri tidak melakukan itu. Selama menjaga Nehan, bapak lebih banyak mengaji dan berdoa. Menuntun Nehan untuk mengucapkan asma Allah selama dia asik tertidur.
"Terimakasih Jun."
"Sudah pak, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya bapak sekarang istirahat."
...***...
Nehan berdiri di sebuah lorong yang sangat gelap, tidak ada setitik cahaya pun terlihat. Tubuhnya serasa berputar dalam pusaran kegelapan.
"Halo...Assalamualaikum..." Nehan berteriak keras tapi suaranya kembali memantul pada dirinya sendiri. Dia berteriak pada ruang hampa
"Halo..."
"Halo...halo...halo." lagi suaranya menggema memekakkan telinga.
"Ya Allah, dimana aku?" bisiknya pada diri sendiri.
Nehan melangkah perlahan. Tidak terlihat jalan lain kecuali ke depan. Langkahnya terasa ringan bahkan hampir melayang.
"Apakah aku terbang?"
Di ujung lorong tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan mata. Dalam keremangan cahaya yang makin dekat makin pudar Nehan melihat pintu-pintu berjajar di sisi kanan dan kirinya.
Sebuah keinginan kuat membuatnya membuka pintu yang paling dekat. Dia memasuki ruangan itu, gelap dan dingin. Seorang wanita tua muncul dihadapannya.
"Ibu..."
Bu Ajeng yang memakai kebaya seperti kesehariannya mengulurkan tangan. Senyumnya menenangkan, sebuah senyum yang belum pernah dia lihat.
"Ayo le...melu ibu."
[ayo nak ikut ibu]
"Ayo le reneo le..."
[ayo kemari]
Makin lama senyum itu lebih cocok disebut seringai.
Nehan menghentikan langkah. Dia mundur dan menjauh.
"Lo, ayo le...melu ibu."
"Mboten ibu."
"Ayo...le...."
Sosok itu terbang mendekat, suara tawanya melengking memenuhi lorong. Nehan buru-buru membanting pintu itu. Terdengar teriakan panjang kemudian menghilang.
Peluh membasahi tubuh Nehan. Semuanya terasa melelahkan. Nehan kembali berjalan, ada sebuah dorongan yang memintanya untuk membuka pintu demi pintu.
Selanjutnya Nehan kembali membuka satu pintu. Kali ini ada setitik cahaya di salah satu sudut ruangan. Dimana seorang wanita menunduk membelakangi dirinya.
"Hai, siapa kamu?" Nehan mendekati wanita itu..
Dengan gerakan lambat wanita memutar kepalanya melirik Nehan. Wajahnya penuh kesedihan dan kesakitan.
"Lupa padaku, mas?"
"Lala..."
"Aku benci kamu mas!"
"Kamu melupakan aku begitu saja, kamu tidak peduli dengan kesakitan yang aku alami."
Wanita yang dikenali dari wajahnya sebagai Sekar itu masih duduk meringkuk mencium lututnya. Rambutnya tergerai menutupi hampir seluruh badannya.
"Maafkan aku la, kita semua salah waktu itu."
__ADS_1
"Aku salah, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku janji akan merawat anak kita dengan baik.
Sosok itu mengangkat wajahnya.
"Anak kita?"
"Ya anak kita."
Wanita itu berdiri. Perlahan wajahnya berubah cerah, senyum mulai menghiasi wajahnya. Tiba-tiba rambutnya terikat rapi di belakang.
"Pulanglah mas."
"Belum waktunya kamu pergi. Bertahanlah seperti aku yang berusaha keras untuk tetap hidup. Kunjungi aku bersama anak kita. Aku ingin melihatnya."
Nehan belum sempat menjawab waktu bayangan itu menghilang dihapus hembusan angin. Ruangan itu kembali sepi.
Masih ada satu pintu yang belum terbuka.
"Tinggal satu pintu."
Nehan mendekat dan membuka pintu berwarna putih itu. Didalamnya terang benderang.
"Ibu."
Nehan hampir menangis waktu melihat ibu yang telah melahirkan dirinya berdiri disana, di depannya.
"Saya mau ikut ibu, saya lelah Bu, saya mau pulang."
Nehan terus berjalan mendekat tapi ibunya terus terbang menjauh.
"Belum anakku, kembalilah. Jalanmu masih panjang."
Ibu menggerakkan satu tangannya. Hembusan angin kencang melemparkan Nehan jauh keluar dan jatuh di depan pintu.
"Ibu...ibu, bawa aku Bu...."
Muncul bayangan Nehan kecil yang menangis, meronta menggedor pintu dengan sisa tenaganya yang tak seberapa. Lalu semuanya kembali tenang.
Beberapa detik kemudian Nehan kembali berdiri di ujung lorong. Kali ini dia melihat bapak melintas sambil tersenyum padanya.
"Bapak."
"Pulang Han," tapi bapak tidak mendekat sama sekali.
Nehan berlari mengejar bapak sambil berteriak.
"Pakkk...tunggu, Nehan tidak tahu jalan pulang, tapi Nehan juga tidak bisa pergi kemana-mana, Pakkk..."
Bayangan bapak menghilang.
Ya Allah mimpi ini mengerikan dan melelahkan. Nehan mulai tersengal.
Kali ini samar-samar Nehan melihat lelaki dan wanita berjalan bergandengan tangan, diantara keduanya ada dua bocah kecil lelaki dan perempuan bergelayut manja. Makin lama makin jelas siapa yang ada di ujung lorong.
Suara-suara mulai memenuhi telinganya.
Aku akan memberimu kesempatan
Aku akan menunggumu bangun
Ada batas waktu yang harus kau tebus atau aku anggap kau menyerah
Rumi akan jadi milikku
Aku akan menjadi ayah dari anak-anakmu
Aku akan menikahi wanitamu
Kali ini menyerahlah dan lihat aku berbahagia...
"Tidakkk..."
Nehan berteriak panjang sambil menutup dua telinganya. Di belakangnya muncul beberapa lelaki tinggi besar berpakaian serba putih mengejarnya. Nehan berlari sekuat tenaga menuju lorong dimana Juna dan Rumi berdiri.
Kamu tidak akan pernah memiliki wanitaku dan anak-anakku.
Didalam kamar, tubuh Nehan dikerubuti beberapa petugas medis. Kondisinya sempat turun lalu kembali membaik. Sebentar kemudian ada satu gerakan kecil pada jari Nehan tertangkap mata bapak.
"Kamu akan baik-baik saja, nak."
__ADS_1
Bapak tersenyum lega.
...***...