
Malam makin larut, mataku belum juga mau kompromi. Cerita mbok Nah masih memenuhi otakku. Bayangan mas Han memeluk dan menyetubuhi wanita lain begitu mengganggu pikiran, hati dan menguras emosiku. Ternyata berat rasanya dan hampir tak bisa kutanggung.
Mbok Nah masih duduk di bagian bawah kakiku. Tangannya memijitku perlahan, kantuk mulai menggelayut di mataku.
...***...
Aku menggeliat, seingatku tadi aku tidur di sofa. Mana Mbok Nah yang tadi tadi memijit kakiku? Hidungku mencium aroma sabun mandi favoritku. Mas Han? Meskipun aku tidur tapi otakku masih ingat kalau tadi Mas Han tidur dengan maduku.
"Rum," sekarang aku mendengar suaranya, kamu sudah gila Rum.
Menyedihkan sekali aku ini, mendengar suara mas Han memanggilku, mencium aroma tubuh ketika dia selesai mandi. Tak terasa isakku kembali datang. Aku sembunyi dibalik guling yang menghangatkan tubuhku. Aku sembunyikan tangisku disana.
"Rum," Ya Allah, air mataku makin deras, besok aku akan pergi ke dokter untuk memeriksakan mentalku, "hiks...hu...hu...hu."
"Rum ini aku."
Mas Han? susah payah aku berusaha membuka mata. Ini piyama mas Han, aku mendongak mencari manik teduh kesukaanku, ketika aku melihat sepasang mata indah mas Han memandangku, aku beringsut dalam pelukannya, "Hu...hu...hu...hu...hu, kenapa hidup sejahat ini padaku mas?"
"Rum," Mas Han memelukku makin erat, "maafkan aku, Rum...maafkan aku."
"Hua...Hua.." ingusku kemana-mana, "piyama mas Han basah oleh air mata.
Malam ini aku habiskan dengan menguras air mataku. Baru kali ini aku merasa hancur, sehancur-hancurnya.
Aku tak sempat lagi tidur, subuh menjelang, aku bangun dan mengambil air untuk wudhu kemudian menunaikan sholat subuh. Mas Han tidak melepaskan pandangannya dariku. Tapi dia diam tidak mengucapkan sepatah kata.
Selama delapan tahun masa pernikahan kami. baru kali ini aku merasa kikuk menghadapi suamiku. Setiap aku melihat suamiku, terbayang bahwa tubuh itu semalam ada dalam pelukan wanita lain.
"Rum."
Aku tidak menjawab panggilannya, berusaha untuk tidak melihat mas Han. Ada rasa yang tak kukenali muncul tanpa diundang.
"Rum."
Aku melepas mukena, melipat dan meletakkannya di ujung ranjang.
"Rum," Mas Han meraih tanganku, menarik tubuhku dengan paksa dan membawaku duduk diatas pangkuannya.
Air mataku kembali meleleh, isakku kembali terdengar, "jangan seperti ini Rum," aku menundukkan wajah, menarik napasku dalam.
"Aku tahu, mas, tapi ternyata aku butuh waktu untuk terbiasa. Bayangan kamu memeluk wanita lain menari di mataku."
Mas Han menenggelamkan kepalanya di dadaku, "kamu tetap menjadi tempat favoritku untuk pulang dan kembali Rum, jangan membuatku hancur dengan sikapmu ini."
Aku diam, tangisku yang menjawab kegundahan suamiku, biarkan aku sendiri dulu hari ini.
"Rum..." aku meninggalkan mas Han sendiri, berjalan keluar kamar menuju dapur.
Mataku berat, kepalaku pusing hebat. Di dapur, mbok Nah sedang sibuk menyiapkan makan pagi.
"Mbok, sediakan susu dan minuman hangat untuk Mbak Sekar ya, kalau perlu sediakan jamu dan vitamin untuknya, Mbok," aku yakin ketika anak itu keluar, dia akan butuh nutrisi untuk mengembalikan kekuatan tubuhnya.
"Iya Ndoro putri."
__ADS_1
"Perhatikan semua kebutuhannya Mbok, jangan sampai dia sakit selama tinggal disini," aku tidak salah kan, kalau aku tidak memperhatikanmu secara langsung?
"Baik, Ndoro Putri tidak perlu khawatir, saya akan memperhatikan Ndoro Sekar dengan baik. Ndoro Putri silahkan menikmati hari-hari seperti biasanya," aku mengangguk, aku tahu aku bisa mempercayai Mbok Nah.
Benar saja, ketika aku berpapasan dengannya, aku lihat wajahnya pucat.
"Kamu sebaiknya tiduran saja dulu," kataku mendekatinya.
"Aku baik-baik saja," jawabnya menundukkan wajah.
Aneh, kenapa dia menundukkan wajahnya. Mana jawaban yang biasanya berani dan ceplas-ceplos.
"Mbak, aku ingin bicara denganmu."
"Ada apa? Apa kamu merasa sakit? Apa kita perlu ke dokter," anak itu menggeleng lemah.
"Kamu ke kebun tengah, tunggu aku disana," Sekar berjalan menuju kebun tengah, sedangkan aku menghampiri Mbok Nah dan berpesan untuk membawa makanan dan minuman hangat ke tempat kami ngobrol.
Aku duduk di depan Sekar. Pagi ini sikapnya jauh beda. Dia lebih pendiam dan sedikit memberi jarak.
"Ada apa?" tanyaku
"Aku ingin pulang ke rumahku sendiri, aku tidak mau kita saling kikuk karena satu rumah."
"Kamu tidak harus tergesa pergi, kalau perlu istirahat dulu disini beberapa hari, ada banyak abdi yang akan melayanimu. Kalau kamu khawatir aku terganggu, jangan khawatir aku tidak terganggu sama sekali."
Aku berdiri dan meninggalkan anak itu sendirian. Dia tidak menjawab apapun yang aku katakan. Aku tak peduli kalau dia menganggap aku tak berperasaan. Ketika tadi aku harus melihat wajahnya meskipun hanya untuk beberapa saat, hatiku seperti diiris-iris diatas talenan.
Aku layaknya orang bingung. Mau ke dapur, semua sudah siap, duduk dan menikmati mawar-mawarku seperti biasanya ada anak itu disana, untuk kembali ke kamar pun enggan, karena Mas Han belum keluar dari kamar.
Membuka pintu, di depanku terpampang rak yang berisi deretan buku. Aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam, hari ini aku benar-benar ingin sendiri dan tak ingin diganggu.
Aku dekati rak buku, aku teliti dan aku baca satu-satu judul buku yang ada. Wah, ternyata asik juga koleksi buku di ruangan ini. Tidak hanya berisi tentang buku bisnis, tapi juga ada buku hiburan dan buku tentang bunga, subjek kesukaanku.
Bodoh sekali aku, selama delapan tahun aku tinggal disini, aku hanya fokus pada kesenanganku di kebun. Padahal di ruangan ini ada hal-hal yang menarik untuk di jelajahi. Mungkin benar apa yang dikatakan Sekar, aku hanya pajangan di rumah ini.
Aku amati isi ruangan. Selama ini aku hanya sekilas saja melihatnya. Aku masuk jika Mas Han sedang bekerja di rumah untuk membawakan kudapan dan minuman. Setelah itu aku akan keluar karena takut mengganggu.
Aku rebahkan tubuhkku di sofa yang ada dalam ruangan. Mengambil sebuah buku ringan tentang alam. Aku mulai mengantuk, tanpa kusadari mataku sedikit demi sedikit terpejam, mungkin karena semalam aku kurang tidur.
Tidurku nyenyak, aku terbangun ketika pintu ruangan di gedor dari luar.
"Rum," jedor...jedor, "Rum, kamu sedang apa di dalam?"
"Rum buka pintunya, atau akan aku dobrak pintu ini!!!"
Wah, kesal rasanya, semalaman aku tidak bisa tidur, sekarang baru ingin tidur sebentar saja, harus terganggu lagi.
"Biarkan saya yang panggil Ndoro Kakung."
"Ndoro Putri, buka pintunya," kali ini suara mbok Nah terdengar.
"Minggir mbok Nah, akan aku dobrak saja pintunya."
__ADS_1
Jangan, buat apa di dobrak. Aku bergegas bangun, menggenggam kunci ruangan, mendekati pintu dan membukanya dengan tergesa.
"Satu...dua...ti__," klik, aku buka pintu perlahan.
"Ada apa, mas?"
"Rum, kamu tahu sekarang jam berapa? sekarang sudah sore Rum, kami semua panik mencari kamu keliling rumah, tapi nggak ketemu, kamu kenapa membuat aku khawatir Rum!!!" sembur Mas Han sambil berteriak.
Aku hanya tengok kanan kiri karena bingung. di depan pintu berkumpul semua orang rumah.
"Maaf, aku ketiduran mas."
Sekar melirikku dengan tatapan aneh, antara khawatir dan sinis. Mas Han membuat gerakan yang tak kupikir sebelumnya, tiba-tiba dia mendekat dan menggendongku berlari menuju kamar kami. Sekilas aku melihat mata anak itu menatapku tajam, dan aku mendengar kalimat, "merepotkan."
Mbok Nah ikut berlari di belakang Mas Han. Sampai dalam kamar Mas Han membanting ku perlahan diatas ranjang, "jangan kemana-mana!"
Dia pergi keluar kamar, aku dengar mas Han bicara sedikit keras, "aku tunggu sepuluh menit lagi, aku antar kamu ke rumahmu."
Mbok Nah berdiri di sebelah ranjang, aku berdiri dengan cepat dan hampir berlari, tapi Mbok Nah mencegahku, "sebaiknya Ndoro putri tetap disini saja."
"Tapi Mas Han mau membawa Sekar mbok, aku tidak tega, anak itu masih pucat tadi."
"Biarkan Ndoro Kakung melakukan tugasnya ndoro."
"Tapi, mbok..." Mbok Nah membimbingku kembali ke ranjang, memintaku untuk kembali berbaring. Tak lama aku mendengar suara mobil keluar rumah.
"Ndoro putri tahu, pucatnya Ndoro Sekar tidak sebanding dengan pucatnya Ndoro Kakung ketika tahu kalau Ndoro Putri tidak ada di tempat biasanya."
"Ndoro Kakung mengelilingi rumah Ndoro. Mulai dapur, ruang tengah, teras, kebun, tempat-tempat dimana biasanya Ndoro Putri duduk menghabiskan waktu."
"Tapi Ndoro Kakung tidak melihat ruang baca, ketika menyadari kalau ruang baca satu-satunya tempat yang belum dilihat, dia langsung menggedor pintu."
"Kami semua khawatir Ndoro, takut kalau terjadi sesuatu, karena lama sekali tidak ada suara dari dalam, padahal suara gedoran pintu terdengar keras sekali."
Kenapa segitu khawatir sih, memang aku tidur berapa lama? aku melirik jam dinding, Ya Allah, benar saja, sekarang hampir jam empat, "ternyata saya tidur lama sekali ya mbok, sampai saya melewatkan waktu dhuhur."
"Maafkan saya karena sudah membuat kehebohan, pasti semua bingung tadi."
"Tidak apa Ndoro, yang penting sekarang Ndoro baik-baik saja. Sekarang Ndoro sholat dulu, saya akan menyiapkan makan siang untuk Ndoro."
"Iya, mbok," aku memandang Mbok Nah menghilang di balik pintu. Masih terngiang di telingaku kata-kata yang diucapkan Sekar tadi. Dalam diamku aku berdoa, semoga anak itu segera hamil dan segera pergi dari hidup kami.
...***...
Semoga Rum, author akan berdoa untukmu.
Aamiin...
Lah doanya apa Thor, kok tiba-tiba aamiin.
Doanya semoga kalian mau memberi like dan komen setelah baca ð.
Itu mah, nggak ada hubungannya sama Rumi kali âđïļðĪŠ
__ADS_1
Yah, pokoknya begitu lah ðð