
Ibu melotot padaku. Melihat aku dari ujung rambut sampai ujung kaki, memutar badanku kebelakang sampai kembali menghadap depan.
Aku melirik Mas Han yang berwajah kecut. Aku menarik tangan ibu pelan, memberi isyarat kalau aku tidak melakukan apa-apa.
"Kita pulang sekarang!" suara ibu tegas tanpa tawar menawar.
Mas Han memegang tanganku, membuatku melihat ke belakang, "gunakan uang yang aku berikan padamu."
Aku memutar kepalaku kembali melihat ibu, "kamu jangan khawatir ibu pastikan anakmu akan selalu mendapat yang terbaik, dan uang yang kau beri akan kami gunakan dengan baik pula."
"Terimakasih Bu."
Aku tidak lagi menengok ke belakang, ibu membawaku berpamitan kepada bapak dan ibu mertuaku. Meskipun ibu mertuaku berwajah sinis aku tetap mencium tangannya sebagai tanda menghormati. Bapak memberiku pelukan dan membisikkan kata-kata nasehat.
"Apa yang kalian bicarakan sampai dalam kamar lama sekali?" tanya ibu ketika kami sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.
"Nggak ada Bu, tadi Rumi cuman kasihan aja lihat berewok Mas Han yang kelihatan jorok, mau aku bantu cukur, tapi keburu ibu gubrak-gubrak pintu."
"Jangan gampang kena rayuan Rum!"
"Nggak lah Bu, ngapain gampang kena rayuan. Kalau Rumi harus kembali ke rumah itu, semua anggota keluarga wajib nerima Rumi dengan rasa hormat dan penghargaan. Bukannya apa-apa, ngenes tiap hari dengar ibunya Mas Han menghina Rumi terus."
"Nah begitu baru anak ibu," senyum ibu sungguh membuat aku senang.
"Tapi Rumi juga musti adil Bu, anak ini masih punya bapak, dia juga harus merasakan kasih sayang dari bapaknya Bu."
"Iya, ibu paham, bukannya ingin menjauhkan kamu dari Nehan, tapi pikirkan lagi kalau mau pulang ke rumah Nehan."
Aku tidak menjawab, semua yang ibu katakan benar adanya. Aku juga mengambil keputusan untuk memahami dulu bagaimana cara mencintai dan dicintai yang manusiawi. Bukan hanya sekedar sebuah pertalian naf_su dan gairah.
Sampai di rumah ada mobil terparkir depan pagar dan aku tahu itu mobil si Yuni.
"Gila kamu, ngapain kamu melakukan perjalanan jauh," langsung main sembur setelah aku cukup dekat.
Aku melengos, "kamu yang ngapain disini."
"Terimakasih Mas Par, jangan kapok kalau saya minta bantuan lagi ya," aku masih mendengar ibu bicara waktu berjalan masuk ke dalam rumah.
Yuni mengekori aku, "aku ada perlu sama kamu Rum," dia berjalan hampir nempel pada pantatku dan tangannya berusaha meraih tanganku.
Aku kibaskan tangannya, "kamu ngapain sih nempel-nempel, risih ih...aku juga cape tahu."
"Masuk saja Yun, tungguin dia kamar," eh ibu malah nyuruh Yuni masuk kamar.
"Iya Bu," Yuni meringis, "tuh kan, ibu aja suruh aku tunggu di kamar."
Yuni membanting tubuhnya di tempat tidur. Aku biarkan dia disana. Aku ambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. Tubuhku gerah, lagi pula hari mulai sore.
__ADS_1
"Ngapain kamu kesini?" tanyaku setelah aku selesai membersihkan diri dan kembali dalam kamar, "geser ih...," suntukku karena badan Yuni memenuhi tempat tidur
Yuni duduk dan memintaku naik ke atas kasur, "kamu kan sukanya di pojokan," ucapnya.
Ah...rasanya luar biasa nyaman, punggungku yang kaku berangsur menghilang.
"Ngapain kamu disini?" mataku mulai mengantuk karena lelah perjalanan.
"Aku dari tadi tahu nunggunya, aku lihat pintu rumah ditutup, aku tengok kanan kiri depan pager, untung ada tetangga sebelah rumah yang cerita kalau kamu ke rumah mertuamu. Katanya ada yang meninggal begitu, ya sudah aku tunggu saja, nggak mungkin nginap kan kalau bawa mobil orang."
Mataku hampir tertutup ketika tanganku dipukul Yuni, "jangan tidur dulu!"
"Apa sih Yun, kaget tahu..."
"Aku mau cerita tentang proyekku yang ada disini."
"Hmmm..."
"Aku maunya, nanti kamu yang urusin yayasan milik aku ini kalau sudah jadi."
Menarik, mataku langsung terbuka lebar, "terus, emang kamu yakin aku bisa handle sebuah yayasan?"
"Halah, itu bisa dipelajari, gampang..."
Karena tertarik aku mengubah posisiku menjadi duduk.
Aku makin berbinar, "terus..."
"Sesenang itu kamu ya..." Yuni tersenyum lebar, aku mengangguk cepat.
"Hmmm..."
"Besok kita jalan, aku mau ngajakin kamu lihat progres pembangunan gedung yang sekarang sedang dikerjain sama si Juna."
Wah...pasti menyenangkan. Semua bayangan tentang wajah-wajah yang kulihat hari ini perlahan memudar. Wajah bapak yang adem, wajah ibu yang jutek dan wajah Mas Han yang sendu menguap bersama mimpi yang tiba-tiba hadir di depanku.
"Tapi aku besok mau ngelamar kerja dulu, tuh di madrasah depan gang desa," aku ingat kalau aku besok punya rencana untuk melamar kerja.
Mata Yuni langsung tertuju pada setumpuk berkas diatas meja rias, "itu berkas untuk ngelamar kerja?" mata Yuni membulat.
Aku mengangguk, "he'eh."
Yuni turun dari tempat tidur. Berkas yang ada diatas meja dia ambil. Berkas asli dia singkirkan dan semua foto copy dimasukkan dalam tas besarnya—yang kalau dilihat bisa masuk buku selusin.
"Lamaran kamu aku terima, berkasnya sudah aku simpen. Bulan depan kamu akan menerima gaji pertama dan besok adalah tugas pertamamu untuk ngelihat progres pembangunan gedung. Kalau mau ngelamar kerja di tempat lain kamu harus bayar denda dua ratus persen dari gajimu."
"Hya...!!" teriakku jengkel, "apaan denda dua ratus persen," aku berteriak, tapi air mataku merembes, aku buka tanganku dan Yuni langsung menyambutnya.
__ADS_1
"Terimakasih Yun," ini anugerah luar biasa, "aku gak kamu bayar gak papa kok. Yang penting semua kebutuhan aku, ibu dan anakku kamu yang tanggung. Mulai kebutuhan pokok sampe yang mewah, kebutuhan penting sampe gak penting."
"Hya...!!" kali ini Yuni yang teriak sambil melepas pelukannya, kemudian memelukku lagi dan lebih erat dari sebelumnya, "kita akan bahagia dari diri kita sendiri Rum, bukan karena orang lain hmm..." aku mengangguk tepat mengenai bahu Yuni.
"Terimakasih Yun."
Setelah berharu biru kami memutuskan untuk rebahan dan akhirnya tertidur. Lelah hari ini terbayar dengan berita bahagia dari Yuni. Aku tak sabar menanti esok pagi datang.
"Kalian apa-apaan, ayo bangun! belum pada mandi malah tidur berdua, hampir Maghrib, bangun...bangun!" terdengar suara ceplas-ceples karena ibu memukul pantat kami bergantian.
Suara ibu yang keras dan memekakkan telinga memaksa mata kami yang tertutup rapat untuk terbuka.
"Ibu..." teriak kami bersamaan.
...***...
Epilog
"Eh Rum, emang siapa yang meninggal?" tanya Yuni.
"Oh...anaknya Sekar."
"Alhamdulillah..."
"Cepak!" suara pukulan tanganku pada tangan Yuni terdengar keras, "salah, bukan Alhamdulillah tapi Innalillah."
"Iya...maaf."
...***...
Hai para wanita hebat...
Jangan pernah menuntut kebahagiaan dari orang lain.
Kita bisa menemukan kebahagiaan kita sendiri.
Kita adalah makhluk kuat yang bisa menaklukkan dunia dengan kemampuan kita tanpa bergantung pada orang lain.
Kita bisa memberi makna, hidup kita berarti.
Kita adalah pencetak generasi hebat yang akan membangun bangsa dan bumi ini.
So...jangan dengarkan omongan orang yang membuat kita merasa kecil.
Hempaskan semua yang membuat susah dan sedih.
Hidup...wanita hebat! 🤭😁
__ADS_1