Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 57


__ADS_3

Sekar POV


Satu bulan berlalu setelah aku melahirkan. Banyak hal yang ingin aku lakukan. Kesedihanku kehilangan anak masih bersisa nyeri di hati, aku tak mengira anakku akan benar-benar meninggalkan kami.


Pagi ini aku melakukan janji temu dengan suster Eny, ada hal-hal yang ingin aku tanyakan, tapi kedatangan ibu ke rumahku membuatku urung keluar rumah, nanti saja kalau ibu sudah pulang, baru aku akan berangkat.


"Kamu musti sabar menghadapi Nehan. Tidak mudah menghilangkan bayang-bayang Rumi yang sudah bersamanya selama delapan tahun," ucap ibu. Entah sudah berapa kali ibu mengatakan itu. Bagi ibu aku lebih ideal menjadi menantu karena kami masih keluarga jauh, satu kasta katanya.


"Inggih ibu."


"Ancen angel njabut suket nek wes kadung thukul ing pekarangan."


[Memang sulit mencabut rumput kalau sudah terlanjur tumbuh di halaman]


Kasihan Mbak Rumi, bagaimana dia bisa bertahan sampai selama ini?


"Kenapa dulu disetujui Mas Han menikah sama Mbak Rumi kalau ibu tidak suka."


"Walah suamimu itu susah dikasih tahu, apalagi bapakmu senang sama si Rumi," ucap ibu, "mereka punya kesukaan yang sama, cih...," bicara sinis setengah berbisik.


Aku tidak berkomentar, hanya tersenyum tipis. Jangan sampai kamu memperlakukan aku dengan cara yang sama, karena aku bukan perempuan penurut yang akan diam saja jika ditindas.


"Wes Saiki Kowe sing tenang, ora usah susah ora usah bingung. Wong anakmu yo wes ora enek, mengko aku sing ngomong menyang Nehan nek kowe arep nutukke sekolah neng luar kono."


[Sudah sekarang kamu tenang saja, tidak perlu susah atau bingung. Sekarang kan anakmu sudah tidak ada, nanti ibu yang bilang sama Nehan kalau kamu ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri]


Aku mengangguk, berurusan dengan ibu ternyata lebih mudah daripada berurusan dengan Mas Nehan, suamiku.


"Sudah, ibu mau kumpulan dulu, kamu nyantai dulu di rumah sampai badannya sehat. Kalau mau keluar jalan-jalan minta ditemani Siti sama sopir, jangan pergi sendiri."


"Iya Bu," aku mencium punggung tangan ibu seperti biasanya.


Berjalan mengantar ibu sampai masuk mobil, kemudian berdiri di depan pintu dan memandang mobil yang dikendarai ibu menghilang dibalik pagar. Setelah menunggu beberapa saat dan yakin kalau ibu tidak kembali, aku bergegas masuk kamar, mengambil tas dan kunci mobil yang tergeletak diatas meja.


"Siti," teriakku memanggil Siti.


"Iya Bu," Siti tergesa mendatangi aku di dalam kamar.


"Jangan bilang siapa-siapa kalau saya pergi sendiri. Kamu jaga rumah."


"Iya bu."

__ADS_1


Setengah berlari aku menuju mobil yang sudah siap di depan. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan masih cukup waktu untuk menemui suster Eny. Lagi pula dia bilang sekarang sedang off, tidak sedang bertugas.


Sebelum berangkat aku sempatkan mengirim pesan untuk memberi kabar kalau aku akan datang agak terlambat.


Kami bertemu di salah satu kafe yang cukup ternama di pusat kota. Aku tahu disini biasanya digunakan oleh orang-orang yang sedang melakukan pertemuan bisnis. Ternyata ketika aku datang suster Eny sudah menunggu di salah satu sudut kafe.


"Selamat siang," kami saling bersalaman. ini adalah pertemuan yang sangat aku nantikan.


"Selamat siang nyonya."


"Apa suster sudah memesan makanan atau minuman?" tanyaku, diatas meja hanya ada segelas minuman ringan.


"Belum."


"Mau memesan sesuatu?" tanyaku lagi.


Suster Eny mengangkat alis matanya sekilas, "silahkan, saya termasuk orang yang tidak pilih-pilih makanan. Saya juga tidak memiliki alergi akan jenis makanan tertentu."


"Baik."


Aku melambaikan tangan memanggil salah satu pramusaji. Memesan beberapa jenis dimsum dan minuman ringan non alkohol.


"Bagaimana kabar anda?"


Aku mengangguk sebagai jawaban ucapan terimakasihnya.


"Karena saya sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit jumlahnya, saya ingin anda menceritakan sedetail-detailnya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana anak saya bisa sampai meninggal? padahal ketika dia lahir tangisannya begitu keras," tidak mungkin manusia bisa meninggal semendadak itu, meski itu seorang bayi sekalipun.


"Karena infeksi yang menyebar ke seluruh tubuhnya," jawabnya ringan, senyum masih menghiasi wajah suster Eny, ingin rasanya aku meremat wajah dengan senyum yang menurutku sedang mentertawakan aku.


"Anda ingin saya percaya omongan anda?" emosiku hampir meledak melihat ekspresinya.


"Ya, karena memang itu yang terjadi."


"Saya hanya ingin anda menyembunyikan anak saya untuk sementara, bukan membunuhnya," mataku nyalang menatap wajah tenang di depanku.


Kali ini suster Eny menekan nada suaranya, wajahnya menunjukkan ekspresi mengerikan, tubuhnya diangkat sedikit dari kursi untuk mendekat padaku, "saya tidak membunuh anak anda!" kemudian dia kembali duduk melipat tangan dan kembali tersenyum.


Aku menarik napas berat dan kesal, "ceritakan peristiwa yang sebenarnya sampai hal terkecil, sekarang! atau saya akan melaporkan anda ke polisi karena membunuh anak saya!" ancamku.


Senyum kembali menghiasi bibir suster Eny, kemudian sekejap menghilang, matanya tajam menatapku, "apa bukti yang akan nyonya pakai? kalau nyonya melaporkan saya, yang pertama masuk penjara adalah nyonya sendiri, berusaha menyingkirkan bayi yang masih kecil, untuk apa?! mencari perhatian suami? konyol sekali."

__ADS_1


"Tapi kamu menerima uang dari saya, dan saya hanya ingin menitipkan anak saya sementara, bukan menyingkirkan, menitipkan sementara," aku mengulang dan memberi tekanan pada kata menitipkan sementara, karena memang itu tujuanku.


"Semua sudah terjadi dan itu diluar kendali saya. Asal nyonya tahu, saya bersedia menemui nyonya hari ini karena saya masih punya hati nurani, saya paham jika nyonya masih berkabung atas kehilangan putri nyonya, dan pastinya nyonya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Kalau saja waktu itu aku bisa mengetahui secara langsung kenapa anakku meninggal, aku memang tak ingin melakukan pertemuan seperti ini.


"Mana gelang yang saya berikan kepada anda untuk dipakai anak saya?"


"Gelang? oh...gelang itu ikut saya kuburkan bersama dengan bayinya. Apa saya harus mengganti gelang itu juga?"


"Kamu..."


Aku hampir menampar wajah suster Eny ketika aku mendengar suara seseorang memanggilku, "Lala..." Mas Han, aku segara memutar kepala untuk mencari asal suara.


"Mas Han?!" aku gugup, dan itu tak bisa kututupi.


"Suami anda ada disini nyonya," ada senyum sinis penuh kemenangan mengembang di bibir suster Eny, "apa saya harus meminta uang tambahan dari suami nyonya untuk menceritakan rahasia yang nyonya simpan?" sialan suster Eny!


Mataku nyalang penuh ancaman, "kalau kau berani membuka rahasia__"


"Rahasia apa sayang?"


Aku memutus pembicaraan kami. Tangan Mas Han meraih pinggangku, kecupan kecil mampir di dahiku, jangan sampai Mas Han tahu apa yang sudah aku lakukan.


"Rahasia tentang kematian putri anda tuan," suster Eny mengulurkan tangannya, "kenalkan, saya suster Eny, yang merawat jenazah putri anda."


"Ah, iya, saya Nehan, suami dari Sekar. Apa yang anda maksud dengan rahasia kematian putri saya?"


Aku berdebar, aku peluk lengan suamiku, "sayang. tidak ada rahasia apa-apa, aku hanya ingin menanyakan kejadian detailnya sebelum anak kita meninggal, dokter kan hanya menceritakan garis besarnya saja," percayalah mas, percayalah.


"Oh begitu."


"Baik tuan, nyonya, saya rasa saya sudah menceritakan semua yang saya tahu," suster Eny memandangku dengan tatapan Yeng menurutku mengerikan, "jika ada yang ingin nyonya tanyakan lagi atau ada informasi yang saya butuhkan, saya akan menghubungi anda, nyonya," suster Eny menganggukkan kepala, kemudian berlalu dari hadapan kami.


Aku segera mengalihkan perhatian suamiku, "dengan siapa kamu kesini?" aku mengajaknya berjalan meninggalkan ruangan.


"Dengan rekanan," aku melirik mata suamiku, sepertinya kali ini rasa keingintahuannya tidak akan mudah untuk dipuaskan," aku merasa ada yang aneh dengan suster itu, pandangannya mencurigakan."


"Ah tidak ada yang aneh kok, dia memang seperti itu orangnya."


Kami berjalan menuju tempat parkir. Aku memutuskan untuk ikut mobil suamiku, biar nanti mobilku diambil oleh sopir pribadiku. Aku tidak mau mencari masalah. Mas Han pasti akan marah besar jika tahu aku pergi sendiri tanpa ditemani. Lagi pula ada rahasia yang harus aku jaga saat ini, jangan sampai suamiku emosi dan meledak. Bisa-bisa dia mengorek lebih dalam apa yang dia dengar tadi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2