Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 152


__ADS_3

Temaram lampu sepanjang pantai menyisakan gelapnya laut yang membentang. Minim sekali cahaya yang dipakai. Hanya ada sebuah suar di tengah laut yang sekali-sekali memberi efek kilatan yang muncul dan menghilang.


Juna dan Yuni berjalan menyusuri jalanan berpaving di daerah sekitar pantai. Mereka sengaja keluar hotel dengan berjalan kaki untuk menikmati angin malam.


Di malam hari ternyata angin berhembus lebih kencang. Dress selutut yang dipakai Yuni berkali-kali terangkat keatas. Dia merutuki kebodohannya karena tidak memakai pakaian yang sesuai.


Apalagi dress-nya adalah dress tanpa lengan. Dia harus memeluk dirinya sendiri untuk mengusir hawa dingin.


Juna menghela napas, beberapa kali dia melirik Yuni yang berusaha menghangatkan tubuhnya.


"Kenapa pakai baju yang ga pakai lengan sih, modelnya dress pula," melepas jaket dan menyampirkan ke bahu Yuni.


"Terimakasih, sumpah aku sudah nggak tahan sama dinginnya," merapatkan jaket yang tersampir.


"Kenapa musti pakai dress?" Juna mengulangi pertanyaannya.


"Biar kelihatan cantik lah."


"Kan aku perginya sama kamu," lanjutnya.


Keduanya berbincang sambil terus berjalan.


"Kamu itu cantik," ujar Juna


"Tapi kamu nggak tertarik sama aku," seperti biasa memasang ekspresi nyengir kuda.


Bahu indah itu bergetar. Juna mendekatkan tubuhnya sambil terus berjalan. Dia memeluk bahu Yuni yang masih bergetar itu.


"Masih mau jalan atau mau kembali ke kamar?" tanya Juna meyakinkan. Kasihan kalau terlalu memasakkan diri tapi akhirnya nanti sakit.


"Aku nggak mau kehilangan momen ini, Jun. Terus terang aku nggak yakin kalau aku akan menemui saat-saat seperti ini lagi bareng kamu."


"Jadi aku mau mengingat dan menikmati malam ini setiap detiknya."


Yuni mempercepat langkahnya. Dia keluar masuk ke setiap toko suvenir yang dia temui. Melihat satu dua barang lalu keluar lagi tanpa membeli apapun.


Tawanya terus mengudara. Sekali-sekali dia menarik tangan Juna dan mengajaknya berlari.


Di salah satu toko suvenir keduanya berhenti. Toko itu menjual perhiasan yang terbuat dari perak.


Sementara Yuni sibuk melihat berbagai macam asesoris. Juna menyentuh sebuah kalung bintang. Melihatnya beberapa saat dan menyimpannya di tangan lalu dibawa ke kasir. Dia juga mengambil sebuah wadah berbentuk hati untuk tempat kalung itu nanti.


"Sudah?" tanya Juna.


"Ada yang ingin dibeli?" ulang Juna tepat di belakang telinga. Hembusan napasnya bahkan terasa di tengkuk.


Yuni menggeliat geli, "jangan dekat-dekat kalau bicara."


"Kenapa? merasakan sesuatu ya?" goda Juna.


"Kamu tahu kalau aku pasti merasakan sesuatu," berjalan menjauh karena tidak mau terus digoda.


Yuni mengambil sebuah Bros untuk dibeli.


"Biar saya yang bayar mbak," serobot Juna mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


"Ah...baik sekali, terimakasih ya..." tersenyum lebar.


"Mmm...boleh aku ambil yang lain?" sesekali tidak tahu malu, tidak ada salahnya bukan.


"Ambil saja."


Juna menyerahkan kartu yang tadi dipegang kepada kasir toko, "apapun yang dia bawa kesini, bayarnya pakai kartu itu ya, mbak."


Menunggu di kasir membuat Juna penasaran. Apa saja yang dibeli wanita itu.


"Jun," teriak Yuni mengangkat dan menggoyang beberapa asesoris yang dia ambil sambil tertawa.

__ADS_1


Semua barang yang sudah dipilih dibawanya mendekati Juna, "kalau aku beli sebanyak ini kamu nggak keberatan buat bayar kan?!"


"Hei, jangan menghina kamu, meskipun seluruh toko ini mau kamu beli, akan aku belikan untukmu."


"Cih."


Semua barang yang dibawa diletakkan di depan kasir. Setiap kali kasir mengambil satu barang Yuni menyebutkan barang itu untuk siapa.


"Kalung itu buat Rumi. Biar dia agak bergaya sedikit, dandanannya udik itu anak."


"Nah sekarang buat ibu, Bros itu pasti bagus buat disematkan di kerudung untuk mengaji."


"Lihat itu. Aku beli beberapa Bros sekalian buat mbok Nah, mmmm...ibumu," kali ini melirik Juna, "dan adikmu."


Biarlah, meskipun nggak begitu kenal, nggak ada salahnya kan membawakan oleh-oleh buat mereka. Juna hanya tersenyum.


"Terus juga ada beberapa kalung dan gelang buat pekerja panti. Dan gelang mainan buat anak-anak."


"Lihat itu lucu kan..." tersenyum, memandang Juna sekilas lalu menunjuk gelang mainan warna-warni.


Oleh kasir semua barang itu dimasukkan dalam satu tas plastik besar.


"Sudah?"


"Bisa kembali ke hotel?" tanya Juna dengan sabar.


"Belum "


Yuni menarik tangan Juna, "kita musti beli tas kertas buat bungkusnya."


Keduanya berlari menyusuri jalan. Beberapa kali hampir menabrak pejalan kaki di trotoar. Juna juga harus sering memasang badan di depan Yuni, karena wanita itu seperti akan menabrak sesuatu di depannya.


"Jangan lari, jalan saja," teriak Juna


"Nggak mau."


"Kita balik ke hotel." ucap Yuni setelah semuanya lengkap.


Dengan santai dua anak manusia itu berjalan ke arah hotel. Yuni membayangkan akan mengepak hadiah itu malam ini. Jadi nanti tinggal diberikan kalau pulang.


Sekarang keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar Yuni.


"Selamat Malam Jun," melambaikan tangan.


"Kamu mengusirku? setelah aku membayari semua belanjaanmu tadi," bersendekap menghadang pintu kamar dengan satu kaki agar tidak bisa ditutup.


Yuni celingukan, bingung apa yang dimaui lelaki di depannya.


"Paling tidak tawari aku sekedar air putih."


Dibuat makin bingung saja Yuni oleh sikap Juna.


"Kamu kan bisa minum di kamarmu sendiri. Lagi pula kamu hanya perlu membalikkan badan buat masuk kamar."


Karena kamar Juna memang tepat didepan kamar Yuni.


"Aku butuh teman," menaikkan satu alis matanya, begitu menggoda.


"Mmm oke, masuklah," mempersilahkan masuk dengan keraguan yang luar biasa.


Di dalam kamar, Yuni yang bingung harus apa, berjalan mondar-mandir


Minum kan...dia minta minum. Bodohnya aku, karena aku tidak pengalaman masalah begini—Yuni.


Sebuah teko dan gelas yang disediakan pihak hotel dibawa ke hadapan Juna.


"Air putih," sambil menunjuk teko yang dibawa.

__ADS_1


Lucu sekali dia...ternyata dia sama sekali tidak berpengalaman dalam hal seperti ini—Juna.


"Duduk sini," menepuk sisi karpet sebelah tempat dia duduk.


"Kamu mau memberi nama pada label kan...akan aku bantu."


Juna mengeluarkan semua isi tas yang tadi dibeli di toko alat tulis.


Menjajarkan semua diatas meja. Ada tas kertas, kertas label, dan spidol berwarna emas.


"Ayo sebutkan siapa yang mau kamu beri," memerintah karena di tangannya sudah siap alat tulis.


Yang ditanya masih bengong, bingung musti bagaimana. Hal ini benar-benar terjadi di luar dugaan. Dia tidak mengira kalau Juna akan seperhatian ini padanya.


"Ah...iya. Kamu yang tulis, aku yang sebutkan nama sekalian memasukkan barangnya."


"Tapi nanti kesulitan nggak sih bawanya?"


Membayangkan tas kertas yang awalnya tertumpuk rapi jadi berisi, pastinya butuh tempat lebih banyak.


"Nggak, tinggal dimasukkan saja ke mobil."


Sedetik kemudian keduanya mulai sibuk. Juna menuliskan nama-nama yang disebutkan Yuni. Dan ternyata ditambah dengan penghuni panti jumlahnya banyak juga.


Hebat benar ingatannya. Bisa hapal satu-satu siapa yang akan di beri.


"Selesai," tas kertas terakhir sudah terisi dan diletakkan di tumpukan yang sama dengan lainnya.


"Terimakasih, kamu boleh pergi Jun," bicara tidak jelas karena matanya hampir terpejam.


"Iya sebentar lagi, ini masih aku rapikan."


Juna memasukkan satu persatu bingkisan dalam satu boks yang tadi disiapkan. Butuh beberapa menit sampai semua selesai. Waktu selesai mengepak dia menyadari kalau Yuni tidak lagi bersuara.


"Sudah selesai Yun."


"Yun..."


Diam tidak menjawab. Dengan langkah kaki ditahan Juna mendekat. Kepala wanita itu tergeletak diatas meja. Terdengar dengkur halus dari helaan napasnya. Di tangannya menggenggam sebuah kertas yang hampir lusuh.


Perlahan Juna mengambil kertas itu dan membacanya.


"Nama-nama orang yang akan diberi bingkisan," tertawa kecil, "pantas saja dia ingat semuanya, ternyata ada catatan yang sudah disiapkan, kukira..."


Diamatinya wajah wanita itu. Ada beberapa sulur anak rambut yang menutupi muka diselipkan di telinga.


"Lumayan cantik," tidak sadar bibirnya memunculkan sebuah senyuman.


Melihat lagi, "pasti tidurnya tidak nyaman."


Juna menundukkan tubuhnya. Menempatkan kaki dan tangan Yuni agar nyaman ketika diangkat dan tidak membangunkan wanita itu.


Perlahan tubuh Yuni diangkat menuju bed berukuran besar yang ada di kamar itu. Merebahkan tubuh Yuni lalu menata bantal. Setelah dikira pas, tubuh Yuni kembali diangkat dan diletakkan pada posisi ternyaman.


"Tidurlah...kita bertemu lagi besok pagi," membelai pipi dan kepala Yuni lembut.


Ketika terdengar suara 'klik' tanda pintu tertutup, Yuni membuka matanya.


"Aaaa...," meletakkan bantal diatas mulut agar suaranya teredam. Kakinya bergerak-gerak di udara.


"Jantungku rasanya mau meledak."


Duduk memegangi dadanya kuat-kuat.


"Berdebar."


"Ya Allah..." tertawa dan membanting tubuhnya ke ranjang lalu memejamkan mata sambil tersenyum. Sepertinya aku tidak akan bisa lelap malam ini.

__ADS_1


...***...


__ADS_2