Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 43


__ADS_3

Sekar POV


Aku bahagia, hari ini adalah perayaan tujuh bulan kandunganku. Aku mengesampingkpan semua perasaan yang menggantung di hatiku.


Entah apa yang terjadi dengan istri pertama suamiku—aku selalu ingin memanggilnya suami, meskipun pernikahan ini terikat perjanjian. Tapi aku rasa sekarang ikatan itu berkembang lebih dari yang seharusnya.


Mbak Rumi yang seharusnya hadir disini tidak tampak batang hidungnya. Tapi aku tidak peduli, aku pikir dia memang lebih baik tidak hadir pada pesta apapun yang digelar untukku, agar semua perhatian tertuju padaku.


Tapi seminggu lalu sebelum Mas Suami berangkat ke luar negeri dia sempat mendatangi istri pertamanya, sejak kepulangannya dari sana sikapnya berubah, dia jadi lebih pendiam dan mudah marah.


Selama acara, keluarga suamiku hanya ibu yang tampak begitu bahagia, sedangkan bapak dan Mas Suami kelihatan biasa saja, apalagi Mas Suami, dia seperti boneka yang hanya sekedar mengikuti seremonial acara—layaknya tubuh tanpa jiwa.


"Kamu kenapa kok kayak yang nggak suka sama acara ini?" tanyaku penasaran.


"Siapa bilang, aku senang acaranya lancar, kamu dan bayinya juga sehat."


Aku melihat ibu berkeliling menyapa keluarga dengan wajah penuh senyum, meminta doa kepada semua orang untuk mendoakanku dan calon bayiku yang akan lahir.


Ketika prosesi memecah kelapa, semua begitu antusias menanti, kelapanya akan terbelah rata menjadi dua atau tidak.


"Ayo Han, pecah kelapanya," teriak salah satu keluarga. Yang lain ikut memberi semangat, meskipun undangannya tidak banyak, kemeriahan acara cukup membuatku bahagia.


"Bismillahirrahmanirrahim," teriak suamiku sebelum memecah kelapa, ketika terdengar bunyi "krak", ternyata kelapa terbagi dua sama rata.


Ibu segera berteriak, "tidak apa-apa meskipun bayinya perempuan, mau laki-laki atau perempuan yang penting lahir sehat."


Setelah acara selesai, tulangku rasanya patah semua. Punggungku kebawah sampai pinggang berdenyut ngilu.


Suamiku memintaku istirahat di kamar tamu, meskipun sama luas dan mewahnya tapi hatiku bertanya-tanya, kenapa aku tidak diminta istirahat di kamarnya yang lama. Ketika aku tanya, jawabannya sangat tidak memuaskan. Dia bilang, "mau di kamar tamu atau di kamar ku yang penting kamu nyaman istirahatnya."


Pijitan lembut di pinggang dan punggung hanya menjadi sebuah khayalan, dia malah bersiap untuk pergi, "kamu mau kemana suami?" baru saja selesai tujuh bulanan, aku ingin dia mendampingiku, tapi sepertinya harapanku hanya tinggal sebuah harapan.


"Suami, kamu belum jawab pertanyaan aku, gimana sih main tinggal aja!" sebal lihatnya, aku nggak dipedulikan.

__ADS_1


Dia membalikkan badan, mendekati aku, mengecup dahiku sekilas dan pergi begitu saja. Aku curiga sama tingkahnya, dia menyembunyikan sesuatu dariku. Apa dia mengunjungi istri pertamanya? tapi untuk apa? Harusnya sekarang dia lebih memperhatikan aku, kan aku yang sedang hamil. Lagi pula mana janji Si Rumi yang katanya akan mendampingi aku dalam setiap perkembangan anak dalam perutku? semuanya cuman bohong belaka.


Aku keluar kamar menuju dapur, melihat apa ada makanan yang masih bisa kumakan. Anak dalam perutku ini benar-benar merusak tubuh indahku, aku jadi sering lapar dan selalu ingin makan, tubuhku jadi bengkak dan jelek.


Kalau dulu aku tahu tubuhku akan berubah seperti ini aku enggan mengikuti perjanjian ini.


Hari menjelang sore, aku tidak menemukan keberadaan ibu dan bapak, sedangkan semua abdi sibuk membersihkan sisa-sisa acara.


Aku terus berjalan keluar rumah utama, menuju taman tengah, aku tidak bisa membayangkan berada di tengah taman yang penuh mawar, pasti kulitku akan tergores duri.


Waktu aku akan kembali ke dalam kamar, tak sengaja aku mencuri dengar dari orang-oarang yang ada di dapur, "aku kasihan sama Ndoro Putri Rumi, kok bisa ya Ndoro Nehan melakukan yang seperti itu."


"Apalagi kabarnya dia hamil lo!"


"Beneran hamil?" aku diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Mbak Rumi hamil? bagaimana dengan nasibku, nasib anakku yang sekarang belum lahir.


"Tapi ya begitu itu salahnya Ndoro Rumi sendiri, wong dulu sebenarnya, Ndoro Nehan itu Ndak mau nikah lagi kok, malah dipaksa sama Ndoro Rumi."


"Tapi yang paling kurang ajar ya yang barusan nujuh bulanan, wong sudah tahu kalau laki-laki beristri masih nyosor."


Kalau Mbak Rumi beneran hamil, bagaimana dengan bayiku, siapa yang akan merawat anak ini? bagaimana aku bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri kalau tiba-tiba aku harus merawat bayi ini sendiri. Kenapa dia pakai hamil segala sih? kenapa semuanya jadi meleset dari perhitunganku. Ah, kepalaku pusing, aku ingin segera berlalu dan masuk kamar, karena tergesa-gesa kakiku tak sengaja terantuk meja dekat tempatku berdiri, aku mengaduh.


Karena suaraku yang cukup keras, semua abdi yang ada di dapur berhamburan menuju suara yang aku timbulkan. Ketika tahu kalau aku yang menimbulkan suara, mereka terkejut dan berdiri berjajar sambil menundukkan kepala.


Aku memandang mereka satu persatu. Mungkin mereka pikir aku akan marah setelah apa yang aku dengar. Tapi mereka salah, bukan mereka masalahku, jadi aku pergi begitu saja dari orang-orang yang berdiri ketakutan itu. Dalam otakku hanya ada satu hal, aku harus mencari solusi dari masalah ini.


Dalam kamar aku mondar-mandir bingung sendiri, "damn...sialan, aku harus punya solusi, bagaimanapun harus ada yang mau merawat bayi ini."


"Bu Ajeng? ibu suamiku itu tak mungkin mau repot merawat bayi. Mencari abdi khusus untuk merawat anakku? mas suami tidak akan suka hal itu, tapi aku belum menanyainya kan? baiklah nanti kalau dia datang aku akan menanyainya, begitu saja."


Aku berusaha menenangkan diri, selama ini kandunganku memang tak banyak masalah. Yah...mungkin hanya di trimester pertama, selanjutnya lancar. Tapi akhir-akhir ini kalau aku tegang atau lelah sedikit saja maka aku merasakan kontraksi meski ringan.


Akhirnya aku berusaha untuk istirahat, aku berhasil memejamkan mata ketika aku dengar adzan Maghrib menggema.

__ADS_1


Ketika aku terbangun, lampu kamar sudah padam. Berarti hari sudah larut, aku meraba sebelahku, tanganku hanya menyentuh selimut, berarti Mas Suami belum pulang, atau dia memilih untuk tidur di kamar lain? karena aku sudah tak sabar lagi untuk bertanya, aku turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, barangkali dia tidur di kamarnya sendiri.


Aku berdiri tepat di depan pintu ketika gagang pintu bergerak dan perlahan terbuka, "kamu belum tidur?"


"Kebangun, lihat kamu nggak ada di sebelahku, aku nggak bisa tidur lagi," aku rengkuh lengannya, aku tempelkan tubuhku.


Dia melepas tanganku yang menggelendot di lengannya, menyentuh pundakku dan menuntunku ke ranjang, "ayo tidur, kamu musti banyak istirahat, paling lama dua bulan lagi lahiran."


Aku mengangguk, aku harus menurut, setelah ini aku akan bertanya tentang yang aku pikirkan tadi.


"Ada yang mau aku bicarakan juga, kamu tiduran, dengarkan aku ngomong ya." suara mas suami terdengar pelan di telingaku.


"Sayang..." mmm dia memulai kalimatnya dengan kata sayang, berarti ada yang dimau.


"Begini, ini tentang anak yang kau kandung," dia merengkuh tubuhku dan memeluknya, menyentuh dan membelai perutku.


Aku menunggu, kenapa dengan anak ini, apa yang kau rencanakan untuk anak ini...


"Bagaimana kalau kamu menunda keberangkatan mu ke luar negeri untuk sekolah."


Apa?! kenapa opsi itu yang harus muncul, tenang Sekar...tenang, kamu tidak boleh gegabah, iya kan saja, agar kamu kelihatan menurut, kemudian pelan-pelan kamu cari cara untuk bisa lolos dari masalah ini.


"Aku nggak masalah kok, tapi memangnya Mbak Rumi nggak mau lagi merawat anak ini, dulu kan dia yang paling excited dengan kehadiran anak dalam kandunganku?"


"Ada sesuatu yang membuatku berpikir ulang untuk membebankan tugas ini sama Rumi, kamu lihat sendiri bukan, sekarang saja dia pergi dan belum kembali."


Jadi begini caramu memperlakukan kami berdua, kamu pikir aku belum tahu ya, kalau mbak Rumi hamil.


"Aku akan menikahimu secara resmi, aku akan adil pada kalian berdua, tugas kalian hanya di rumah dan merawat anak kalian masing-masing."


"Anak kami masing-masing? memangnya Mbak Rumi hamil suami?" tanyaku, kelepasan kamu rupanya.


"Bukan begitu, siapa tahu dia juga hamil, jadi kalian akan merawat anak kalian masing-masing."

__ADS_1


Aku mengangguk, merapatkan tubuhku, bergelung dalam pelukannya, tak lama kemudian aku mendengar dengkuran halus dari suamiku. Sedangkan aku tak ingin lagi memejamkan mata, aku harus punya cara untuk lepas dari ikatan karena anak ini, aku masih ingin bebas meraih mimpiku. Belum waktunya bagiku untuk diam di rumah, dan menjadi ibu rumah tangga, itu sama sekali bukan aku.


__ADS_2