Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 76


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama aku bekerja. Maksudku melaksanakan tugasku yang sesungguhnya. Mas Juna berjanji menjemputku, sebenarnya Yuni juga menawarkan diri, tapi negosiasi diantara keduanya dimenangkan Mas Juna.


Masalah pegawai sudah dipilih oleh kantor pusat atas rekomendasi dariku. Hari ini aku akan bertemu dengan orang-orang yang akan membantuku menjalankan yayasan.


"Bunda kerja dulu ya sayang," aku menimang Ken sebentar sebelum keluar kamar, "doakan kerjaan bunda lancar."


Mbok Nah berdiri di sampingku sambil terus tersenyum, "dulu saya momong bapaknya sekarang anaknya, saya jadi merasa momong cucu."


"Begitu ya Mbok," aku menyerahkan Ken pada Mbok Nah, "susu sudah saya beri tanda ya mbok yang mana yang harus diminumkan dulu."


"Inggih Ndoro Putri."


"Sekarang kan Ken sudah bisa diletakkan di troler, kalau mau ngajak Ken jalan-jalan biar dapat sinar matahari didudukkan di troler saja, badannya mulai berat, nanti mbok Nah encok gendong-gendong terus, lagian tingkahnya tambah banyak, biar mbok Nah gak cepat capek."


Aku melangkah keluar, berpamitan pada ibu dan menghampiri Mas Juna yang sedang berdiri menunggu di sisi mobilnya.


"Hai," aku melambaikan tangan.


"Hai," makin kesini, aku merasa senyum Mas Juna makin lebar setiap kali bertemu denganku.


"Pagi-pagi lihat orang ganteng senyum-senyum, hati jadi tentram," godaku.


"Bisa saja kamu," dia membuka pintu mobil, "masuk."


"Aku duduk belakang saja," tolakku ketika pintu bagian depan yang dibuka.


"Enak saja, emangnya aku sopir yayasan," Mas Juna menggerakkan kepalanya, "duduk depan."


"Ih maksa," tapi aku akhirnya nurut untuk duduk di depan.


"Mau dipasangkan sabuk pengamannya? biar seperti drama-drama Korea yang lagi hits," berkata sambil nyengir.


"Nggak perlu, apaan sih," aku memasangkan sabuk pengaman ku sendiri, ternyata tak semudah di bibir melakukannya. Ini akibatnya kalau dulu selalu dilayani, sabuk pengaman dipasangkan terus.


"Dulu suka dipasangin Nehan ya?" mas Juna mengambil sabuk pengaman dari tanganku dan dengan mudah bunyi klik terdengar.


"Aku mau mengingatkan Yuni, kapan aku mau dikasih fasilitas mobil."


"Emang kenapa?"


"Nggak enak lama-lama diantar jemput terus sama kalian berdua," sungutku, "atau aku naik motor juga bisa kok, jaraknya nggak begitu jauh juga dari rumah," ah benar, lebih baik begitu.


"Nggak, mending aku antar jemput kamu aja. Selama aku masih disini sih."


"Nah, kan...kamu nggak akan terus ada disini, aku juga harus bisa mandiri. Nggak mengulang kesalahanku yang dulu, terlalu bergantung pada orang lain."


Mas Juna diam, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi melihat dari wajahnya aku bisa tahu kalau dia tidak suka.


Sampai di lokasi Yuni sudah datang. Dia menunggu di ruang kerjaku, "wah, nyaman Yun," aku tahu kalau ruang yang dirancang untukku cukup luas, tapi aku tak mengira akan menjadi seluas ini.

__ADS_1


Yuni berjalan menuju sebuah rak besar di salah satu dinding, "ini belum seberapa, lihat ini," Yuni menggeser salah satu buku, "walah," almari itu bergerak membuka seperti sebuah pintu rahasia.


"Wah...keren Yun," aku masuk ke dalamnya, "hiii...," aku tertawa senang sambil lompat-lompat kecil, "terimakasih Bu bos."


"Jangan terimakasih sama aku. Noh terimakasih sama dia tuh," matanya menunjuk pada Mas Juna yang baru masuk.


"Terimakasih ya kang mas Juna," aku berikan senyum termanis untuk Mas Juna. Yang bersangkutan tersenyum lebar.


"Sama-sama bundanya Keandra," jawab Mas Juna, ternyata senyumnya lumayan manis.


"Sudah ah...ngobrolnya. Rum ini nanti orang-orang yang lolos secara administrasi akan kita wawancara. Ada perawat, tukang kebon, tukang masak, sama petugas kebersihan gedung."


"Kalau keamanan aku sudah koordinasi dari pusat kita mau ambil tenaga outsourcing dari perusahaan yang sama dengan pusat lebih enak koordinasinya."


"Oke, ini berkas pelamarnya sudah aku bawa, nanti kita tinggal cocokkan saja sama orangnya, sesuai nggak dengan yang kita butuhkan."


Sementara aku dan Yuni berkoordinasi, Mas Juna duduk manis di kursi tamu.


"Aku mau ngobrol sedikit yang melenceng dari topik kita boleh nggak?" tanya Mas Juna, kelihatan sekali kalau bicaranya sangat hati-hati.


"Emang mau ngomong apa sih, kayak yang takut gitu," Yuni beranjak dari mejaku ikut bergabung duduk di sofa.


Aku melihat jam, "masih ada waktu dua jam lagi kan Yun buat interview?" tanyaku, "ngomong aja mas, kita berdua siap mendengarkan," aku ikut bergabung dengan mereka duduk di sofa.


"Rum," Mas Juna menatapku lekat, seakan tidak ada Yuni disana.


"Hmm," aku jadi kikuk, merasa nggak enak sama Yuni.


"Kamu juga perlu mendengar Rumi, Yun," Yuni mengerutkan dahi.


"Emang ini masalah apa?" tanya Yuni penasaran.


"Apa kamu jadi melanjutkan rencana perceraianmu dengan Nehan?"


"Ah bener-bener, aku juga pengen tahu," mulut Yuni penuh dengan kue kering yang sedari tadi dia makan.


Aku memandang sahabatku satu-satu, "Insyaallah jadi," aku menghela napas, "waktunya masih belum aku tentukan."


"Kenapa belum?" teriak Yuni, "lama bener kamu, hubungan kalian itu sudah nggak sehat."


"Ya...aku tahu, tapi ada sesuatu yang__" Yuni memotong ucapanku.


"Lama Rum, makin cepat makin baik, kalau terlalu banyak yang kamu pertimbangkan, akan muncul banyak celah yang membuat kamu menemukan alasan untuk membatalkan rencanamu," Yuni terus saja nyerocos.


Betul juga apa yang dikatakan Yuni. Akan muncul alasan buatku untuk ragu. Semua yang membuatku mantap berubah menjadi abu-abu.


"Kamu pikir ulang deh, yakinkan dirimu seyakin-yakinnya, pikirkan lagi alasan apa yang membuat kamu ragu. Cari cara supaya semua yang membuat kamu ragu berubah."


"Iya...iya, ayo persiapan, sudah waktunya buat wawancara."

__ADS_1


"Rum, kamu panggil yang kita bicarakan kemarin ya, aku penasaran," bisik Yuni.


"Boleh."


Seorang wanita yang terhitung masih muda masuk. Dia duduk di depanku. Kulitnya sawo matang, matanya tajam tapi juga lembut, "silahkan duduk."


Aku mengulurkan tangan. Dia menerima tanganku tanpa ragu. Tangannya terasa sedikit kasar, tipikal seorang pekerja keras.


"Selamat pagi," aku membuka wawancara. Yuni dan Mas Juna tenang duduk di tempat yang sama.


"Selamat pagi," jawabannya juga tangkas dan cepat, tapi senyumnya sedikit mengerikan menurutku. Entahlah, seorang dengan tipe yang suka mengatur orang lain mungkin...


"Boleh disampaikan siapa namanya?"


"Nama saya panjang, tapi saya biasa dipanggil suster Eny," praktis dan tidak berbelit-belit.


"Pengalaman kerja dimana saja?"


Matanya lurus melihatku, hmmm...punya rasa percaya diri yang tinggi.


"Di sebuah klinik, tapi saya tidak cocok dengan sistem kerja disana. Selain itu ada sebuah peristiwa yang membuat saya mengambil keputusan untuk resign. Lagi pula saya ingin punya pekerjaan dimana saya bisa membawa anak saya setiap waktu."


Aku melihat resume data diri, disitu tertulis belum menikah, "anda belum menikah, tapi sudah memiliki anak?"


"Apakah saya juga harus menceritakan kehidupan pribadi saya?"


"Ah, tentu saja tidak, hanya ingin mengenal pribadi anda dengan lebih baik."


Mata wanita ini berkedip beberapa kali, lalu kepalanya menunduk. Tidak kuduga dia melanjutkan, "dia adalah seorang anak yang dibuang ibunya, saya memungutnya dari klinik."


"Oh," menarik, "apakah ibunya tahu kalau anda membawa anak ini?"


"Saya tidak tahu dan tidak peduli, anak ini hampir mati waktu saya memungutnya," kepalanya menunduk ketika menceritakan hal ini.


"Baik," aku mengulurkan tangan, "akan kami hubungi untuk kelanjutan dari hasil wawancara ini."


"Terimakasih," dia menyambut jabat tanganku dan keluar ruangan.


Aku mendekati Yuni, Mas Juna keluar beberapa saat lalu.


"Mana Mas Juna?" tanyaku pada Yuni.


"Keluar, lagi interview kang kebun sama kang bersih-bersih. Dia bilang mendingan ditanya sambil praktek, gila emang dia."


"Pelamar yang lain mana, kok yang nongol cuman satu,"


"Di depan, tinggal panggil saja. Aku tadi sudah lihat, tanya-tanya sedikit, masih muda baru lulus, nggak perlu banyak tanya sudah."


Aku mewawancara beberapa orang setelah suster Eny. Setelah selesai kami dengan mudah memutuskan siapa yang harus diterima.

__ADS_1


Resume yang bagus, moralitas tinggi, dan peduli dengan orang lain adalah hal sangat penting untuk merawat anak-anak yang akan tinggal di panti nantinya.


...***...


__ADS_2