
"Kita langsung ke rumah ibu saja mbok, saya tidak mau ambil resiko, kalau saya terlalu lama disini saya bisa stress, saya tidak mau terjadi apa-apa sama anak saya," tangisku menyisakan Isak kecil, air mata juga berhenti mengalir.
"Kita ke dokter dulu mbok, tolong rapikan beberapa pakaian saya, habis dari dokter kita langsung pulang ke rumah ibu di desa."
"Tapi Ndoro..." wajah keheranan mbok Nah tak bisa ditutupi.
"Kalau Mbok Nah tidak mau ikut, nggak papa kok, saya bisa pulang sendiri sama Pak Dul."
"O...ya tidak bisa begitu, Ndoro Putri istirahat, saya yang akan merapikan tasnya."
Mbok Nah mengambil tas ukuran besar dari almari, mengeluarkan beberapa pasang baju, terutama baju yang nyaman buat dipakai di rumah.
"Jangan terlalu banyak mbok bawanya, di rumah baju-baju lama saya masih bisa dipakai kok."
Mbok Nah melihatku, "tapi belum tentu nyaman, sekarang ada jabang bayi di dalam situ," sambil menunjuk perutku, "Ndoro harus benar-benar nyaman."
Aku menurut saja, tidak ingin banyak berdebat dan memberi perintah. Perutku kembali terasa seperti diaduk-aduk, aku memejamkan mata untuk mengurangi mual.
Setelah tas siap, mbok Nah berlari keluar kamar, mungkin memberi tahu Pak Dul kalau aku mau pergi. Bodoh amat dengan kemarahan mertuaku, atau acara tujuh bulan maduku, aku hanya ingin istirahat dan berhenti memikirkan hal yang tidak perlu.
" Ayo Ndoro, Si Dul sudah siap sama kuda besinya, dia bilang si paijo siap kapan saja."
"Paijo?" tanyaku, siapa lagi Paijo, seingatku tidak ada nama paijo di rumah ini.
"Itu nama mobil yang biasa dibawa Si Dul, kan Pajero biar njawani, katanya lebih enak didengar kuping, jadi dia panggilnya paijo."
"Ada-ada saja kalian ini, si paijo segala macam."
"Hihihi...itu Si Dul Ndoro."
"Sekarang mbok masukkan dulu tas besarnya dalam mobil, saya mau kirim pesan dulu sama Mas Han."
"Siap laksanakan, Ndoro tunggu disini jangan kemana-mana, nanti saya jemput lagi," sebagai jawabannya aku menganggukkan kepala.
"Jangan nakal ya sayang sebentar lagi kita ke dokter terus ke rumah Mbah Putri," pintarnya anakku, sekarang dia tenang, mungkin mengikuti emosiku yang mulai stabil.
Aku ambil ponselku diatas meja, kusentuh nama kontak Mas Han
Untuk sementara aku mau istirahat dulu mas, jangan cari aku, kalau emosiku sudah stabil seperti katamu aku akan pulang.
kemudian kusentuh ikon kirim.
"Sudah siap Ndoro?"
"Sudah mbok, ayo..." Mbok Nah dan Pak Dul berdiri di sisi ranjang.
"Kamu yang sebelah sana Dul pegang tangannya Ndoro Putri, aku pegang yang sebelah sini."
__ADS_1
"Oh...iya, iya."
Kedua abdiku ini ada-ada saja, masa iya, aku dipapah seperti orang patah tulang. Tanganku diangkat tinggi melingkar di pundak keduanya. Yang sebelah kanan melingkar di pundak Mbok Nah, yang sebelah diri di pundak Pak Dul, mending di pundak Mbok Nah tinggi badannya lebih rendah dari aku, lah Pak Dul, aku sampai merasa tubuh sebelah kananku sedikit terangkat.
"Sebentar...sebentar, kalian ini apa-apaan sih, salah satu saja yang bantu saya jalan," ucapku menahan tawa.
"Kalau begitu saya siap membukakan pintu paijo saja," Pak Dul berlari meninggalkan kami.
"Heleh maunya, pilih enaknya tok...dasar laki-laki sama saja."
"Pak Dul nggak begitu mbok, memang nggak nyaman kok jalannya kalau dipapah dua orang."
Mbok Nah memasukkan beberapa bantal kecil untuk sandaran kepalaku. Kursi juga diposisikan setengah tidur, jadi perjalanan ini pasti nyaman meskipun mungkin nanti sedikit melelahkan.
"Mbok, saya akan mematikan ponsel, kalau Mas Han menghubungi mbok, jawab seperlunya, beritahu juga para abdi yang di rumah untuk tutup mulut."
"Baik Ndoro."
"Pak Dul kita ke rumah sakit dulu."
Untungnya dokter kandungan yang kemarin menangani aku waktu sakit sedang praktek hari ini, karena aku kembali periksa padahal baru beberapa hari pulang dari rawat inap maka pemeriksaan ku didahulukan.
"Ini kenapa lagi bundanya? ngedrop lagi?"
"Ayo naik ke atas bed, kita USG dulu ya."
Dokter mengarahkan alat diatas perutku, memutarnya beberapa kali kemudian berhenti pada sisi perutku bagian bawah.
"Nah...itu baby-nya, bayinya sehat kok bunda."
Mbok Nah menyipitkan matanya, "sik sebentar dokter, mana ada bayi toh, itu ndak ada apa-apa."
"Lah ini," dokter mengarahkan alat hingga menunjukkan janin terlihat lebih jelas.
"Walah kok koyok anake kodhok, apa namanya? kecebong, kecil banget Ndoro," mata mbok Nah berbinar takjub memandang layar.
"Sekarang kita dengarkan denyut jantungnya ya," tak lama kemudian terdengar suara berdenyut.
Senyum tak bisa lepas dari wajahku, tapi rencanaku untuk pulang ke rumah ibu tidak akan aku tunda, "dokter bolehkah saya melakukan perjalanan?"
"Sebentar, bundanya turun dulu, terus kita ngobrol sebentar." aku turun dibantu mbok Nah dan duduk di kursi pasien depan dokter, "memang mau kemana?"
"Keluar kota, dokter."
"Gimana ya...ini tadi perutnya sakit lagi atau bagaimana? kok memutuskan kesini lagi?" aku mengangguk.
"Saya takut terjadi apa-apa sama bayi saya dokter."
__ADS_1
"Perjalanannya berapa jam?"
"Kurang lebih empat jam."
"Begini, sebenarnya adek baby-nya sehat, tapi saya khawatir kalau bundanya lelah, adeknya juga ikut lelah. Biar aman, bundanya istirahat dulu disini semalam ya, masuk vitamin lewat infus, besok kalau sudah kuat boleh deh berangkat. Asal perjalanannya diatur senyaman mungkin."
"Wah...kalau mobilnya sudah diseting nyaman dokter, jangan khawatir."
"Ya sudah, sus tolong antar Nyonya Rumi ke kamarnya."
"Baik dokter."
Aku didorong menggunakan kursi roda, istirahat semalam menenangkan diri, masuk vitamin, aku berdoa agar anakku sehat dan kandunganku juga kuat.
"Sekarang Ndoro tidur dulu, saya tunggu disini."
Aku memejamkan mata, memperbanyak dzikir dan doa, supaya hatiku lebih tenang dan ikhlas. Malam ini aku tidur dengan nyenyak, tidak bermimpi apapun.
Ketika aku membuka mata, Mbok Nah tidur di bed penunggu pasien.
"Mbok...mbok..." kasihan Mbok Nah, pasti dia lelah sekarang.
"Iya Ndoro, mau sholat ya, saya bantu ya."
"Saya mau turun, mandi cepat saja, sholat, kemudian kita berangkat ya, tolong hubungi Pak Dul diminta untuk siap-siap."
Seperti biasa Mbok Nah dengan sigap membantuku, aku duduk di kursi roda, tubuhku diseka, membersihkan bagian tubuh yang harus dibersihkan. Setelah selesai aku sholat dengan posisi duduk.
Kami berangkat satu jam kemudian dengan kondisi lebih segar. Perjalanan kami benar-benar nyaman.
"Mbok Nah, semalam saya dikabari anak-anak rumah katanya Ndoro Kakung marah-marah."
Aku melirik, ingin terus mendengarkan tapi aku membuang mata melihat keluar jendela mobil.
"Halah...anak-anak biasa begitu, suka membesar-besarkan masalah, Dul."
"Eeee...dikandani ra percoyo, iki paijo nek iso ngomong iso dadi saksi, melu nguping bocahe."
[eee...diberitahu tidak percaya, ini paijo kalau bisa bicara jadi saksi dia, ikut mendengarkan anaknya]
Mbok Nah memukul lengan Pak Dul dari belakang, "dibilangi anak-anak biasanya membesarkan masalah."
"Haduh, mbok sakit."
Aku melirik Mbok Nah, "jangan dipelototi Pak Dul nya mbok, biar saja Pak Dul cerita, saya tidak apa-apa, saya pergi untuk menenangkan diri, bukannya karena benci atau apa."
Mbok Nah saling melotot dengan Pak Dul. Dari kaca spion kelihatan Pak Dul meminta maaf karena sudah membahas satu hal yang ingin dihindari Mbok Nah, padahal sebenarnya di juga tahu dari anak dapur kalau Nehan marah tidak karuan ketika tahu kalau Rumi pergi dari rumah.
__ADS_1
...***...