
Aku memandang nanar layar hitam dari benda pipih berbentuk segi empat di tanganku, bisa-bisanya dia mengirim pesan seperti ini padaku. Apakah dia lupa sebelum ada dia aku sudah hadir dalam hidup Mas Han?
Aku baca lagi pesannya.
Kamu ternyata orang yang manipulatif ya mbak, meskipun jauh, kamu masih bisa membuat suamiku mendatangimu tiap hari. Sampai aku yang hamil besar begini tidak menjadi prioritas. Tolong deh, biarkan Mas Nehan sementara ini fokus padaku, meskipun aku tahu kamu juga hamil. Hanya ibu yang belum tahu kalau kamu hamil. Kira-kira apa yang dipikirin ibu kalau dia tahu ya...apa ibu akan bertanya-tanya itu anak siapa?
Dia ini kirim pesan apa nulis cerpen sih. Tapi niat banget kalimatnya. Aku manipulatif? dia bilang suamiku, dan yang paling membuat panas adalah anak ini anak siapa? apa maksudnya ini, apa dia mau memfitnahku? huh coba saja kalau berani. Makin lama ini anak makin ngelunjak ya...
Kalau dekat aku bisa balas, lah ini...buang waktu ngejawab pesan gak penting begini
Lagipula siapa yang bilang Mas Han datang kesini, selama aku sakit saja hanya sekali dia menunjukkan batang hidungnya.
"Mbok..." aku memanggil Mbok Nah, siapa tahu mbok Nah menyembunyikan sesuatu.
"Iya Ndoro, apa mau keluar jalan-jalan? mumpung masih pagi segar, apalagi kemarin kedatangan tamu yang cukup bikin hati deg-degan."
"Boleh, kita jalan-jalan cari udara segar, terus kita ngobrol ya."
"Iya, Ndoro," mbok Nah segera membantuku turun dari tempat tidur dan duduk di kursi roda, melihat semangatnya aku jadi curiga juga sih.
Mbok Nah mendorongku keluar rumah, tampaknya dia tahu akan mengajakku kemana, karena dari cara mendorong dan arah yang diambil sama sekali tidak ada keraguan.
"Kita mau kemana mbok?"
"Ke kantor kepala desa, di situ kan ada tamannya, kita ngobrol di situ saja Ndoro."
"Jauh amat ngobrolnya, di depan rumah saja cukup mbok."
Mbok Nah tidak menjawab, dia menghentikan kursi rodaku agak ke sudut, jauh dari pandangan orang-orang.
"Ngapain sih mbok, kok ini kursi saya juga di hentikan di sudut begini."
"Maafkan saya Ndoro Putri, ada yang ingin ketemu."
Mbok Nah menunjuk satu arah dengan telunjuknya, dan aku melihat suamiku berdiri di sana. Langkahnya berat tapi aku tahu dia berjalan mendekat.
"Rum."
Aku mengangguk, "mas."
Oh ini rupanya yang membuat Sekar ngamuk-ngamuk kirim pesan sama aku.
"Boleh aku mendekat?"
__ADS_1
Sekali lagi, aku mengangguk. Dia duduk dengan tumpuan lututnya di hadapanku.
"Boleh aku menyentuh anakku?"
Aku diam, tapi air mata mulai merembes di mataku. Mas Han melihatku sendu, tatap matanya mengirim berjuta rindu tak terungkap padaku.
Aku mungkin marah, tak mau bersentuhan atau berkomunikasi dengannya, tapi aku tidak boleh egois, ada bayi yang membutuhkan ayahnya sedang berkembang di perutku sekarang.
Akhirnya aku mengangguk, Mas Han meletakkan tangannya tepat diatas perutku "selamat pagi anakku, ini ayah nak."
Hatiku bergetar hebat, air mata yang tadinya hanya merembes, sekarang berubah menjadi Isak kecil yang tak bisa kutahan.
"Pulang ya Rum."
Aku diam tak menjawab, Isak tangisku saja yang makin keras.
"Aku ingin melihat perkembangan anakku Rum."
Aku biarkan dia bicara, karena aku hanya terus menangis.
"Kamu tahu, aku sering melihatmu seperti ini, diam-diam. Aku tak berani mendekatimu Rum, aku takut kamu sakit lagi."
Aku tetap diam, sibuk mengendalikan emosi dan isak tangisku yang makin keras.
"Apa kamu akan terus menghukumku seperti ini Rum?"
"Mbok, lebih baik kita pulang, saya takut ibu mencari," aku belum bisa mas, aku butuh waktu, meskipun sekarang hatiku sedikit tergerak oleh usahamu.
"Rum, jangan pulang dulu, temani aku barang tiga puluh menit saja, kalau kamu benci sama aku, jangan bawa anak kita Rum," Mas Han berdiri untuk memberiku jalan.
Mbok Nah sudah menyentuh pegangan pada kursi roda dan hampir memutar arah untuk pulang tapi aku sentuh tangannya.
"Kita disini dulu sebentar lagi."
Mas Han kembali berlutut dan menyentuh perutku, "hai anakku, ini ayah sayang. Bagaimana kabarmu nak?" ada senyum mengembang penuh di bibir lelaki yang tetap terlihat tampan di mataku ini.
"Ayah minta maaf, untuk sementara ini ayah belum bisa mendampingi kamu tumbuh nak, karena bunda masih marah sama ayah."
Eh...aku melotot, aku menghapus ingus menggunakan pergelangan tanganku dengan kasar. Enak saja menyebut namaku, dia masih kecil mana tahu mana yang benar atau salah, nanti dia kira bundanya yang jahat.
Mas Han melirikkan matanya keatas kearah wajahku, "tuh mata bunda melotot sayang, ayah jadi takut sekarang."
Aku pukul perlahan punggung tangan Mas Han.
__ADS_1
"Pesan ayah, selama ayah belum bersama kalian, kamu jaga bunda baik-baik ya, jangan sampai bunda sakit, jadilah anak yang kuat yang bisa menggantikan ayah saat ayah jauh."
Hatiku berdebar, ada rasa hangat mengaliri pembuluh darahku.
Kali ini Mas Han mendongak, memandangku dalam, "boleh aku mencium anakku Rum?"
Ah...melihat mata itu membuatku tidak tega untuk menolak, aku mengangguk.
Mas Han mendekatkan kepalanya ke perutku dan mengecupnya lama. Aku terharu, tanganku bergerak, ingin sekali aku membelai rambut hitam tebal milik suamiku, tapi aku tarik kembali tanganku, belum waktunya untuk terhanyut, masih banyak hal yang harus dibuktikan dan diluruskan terlebih dahulu mas.
"Kami harus pulang mas, aku tidak mau ibu mencari dan menemukan kita berdua disini."
"ya, aku mengerti."
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, berhenti sebentar, mungkin memastikan kalau aku tidak menolak, ketika aku diam, dia baru melanjutkan. Ketika bibir Mas Han hampir menyentuh bibirku, aku menengok ke arah lain, akhirnya dia hanya mencium pipiku sekilas.
Aku mendengar hembusan nafasnya yang kuat, membuang kekesalan seperti biasanya. Kalau saja aku tidak hamil pasti dia sudah marah-marah melihat sikapku.
"Mbok, bawa Rumi pulang!!" tuh kan...
"Baik Ndoro," Mbok Nah dengan sopan berpamitan undur diri.
"Aku tidak akan menyerah Rum," aku masih mendengar teriakannya ketika kami mulai menjauh.
Sedangkan di salah satu sudut taman, sama-sama tak terlihat, ibu sedang melihat interaksi anak dan menantunya. Apalagi ketika menantunya mencium perut Rumi, anaknya. Hatinya hancur melihat semua itu.
Apakah pantas dia memisahkan dua orang yang masih saling mencintai, apalagi ada anak yang mengikat diantara mereka?
Ibu bergegas pergi ketika melihat Rumi kembali didorong Mbok Nah untuk pulang. Apapun keputusanmu, ibu akan ikut Rum, demi kamu dan anakmu.
...***...
Epilog
"Tolong mbok, bantu saya," Nehan memohon pada Mbok Nah.
"Mbok Nah kan tahu saya bolak-balik kesini, meninggalkan Sekar yang seharusnya saya tunggu karena hampir melahirkan."
"Ndoro Putri masih butuh banyak istirahat, saya khawatir kalau ketemu Ndoro Kakung nanti Ndoro Putri drop lagi."
"Saya janji, saya akan memperlakukan Rumi dengan baik."
"Maafkan saya Ndoro."
__ADS_1
Selalu itu jawaban yang didapat Nehan. Tapi kali ini Mbok Nah benar-benar tidak tega. Nehan terlihat awut-awutan, rambutnya tidak disisir, bulu-bulu di wajahnya seperti rumput liar yang tidak terawat. Kemana orang yang dia sayangi dan dia rawat dulu sekarang pergi?
...***...