
Keduanya duduk bersisihan di teras setelah melaksanakan sholat Maghrib. Suara-suara dari hewan malam menemani dalam heningnya malam. Hawa dingin yang menggigit membuat Rumi memeluk erat dirinya. Tatapan keduanya lepas melihat kearah danau
"Dingin?" tanya Nehan
"Hmm."
Nehan berpaling melihat lekat mantan istrinya, "aku ingin memelukmu, tapi aku yakin kamu pasti akan menolaknya."
Rumi tersenyum kecil, "tidak akan hanya menolak, tapi mas akan aku lempar sandal dan aku usir dari sini."
"Hahaha...dan aku akan terus kembali dan kembali."
"Apa yang ingin kau bicarakan, Rum?"
Rumi diam untuk beberapa saat, mencoba berpikir kata pembuka yang akan dia pakai agar mantan suaminya ini tidak terluka dan sakit hati. Tapi akhirnya dia langsung mengatakannya saja.
"Mas Juna meminangku."
Juna, kau benar-benar tak mau menyerah.
Nehan sama sekali tidak terkejut. Dia tahu sahabatnya pasti akan melakukan itu.
"Dan jawabanmu?"
"Aku...akan menerimanya," suara Rumi lirih hampir tak terdengar, kepalanya menunduk dalam ke bawah.
Nehan menghela napas...berat, "apa kamu akan bahagia?"
"Pasti, Mas Juna orang yang baik, dia sabar dan setia."
"Setia...," setiap mendengar satu kata ini, rasanya hati dan otak Nehan diletakkan diatas talenan dan dipotong menjadi ukuran kecil-kecil.
Aku benci kata yang berawalan dengan huruf "s", setia, sabar...dua kata yang sering didengungkan Rumi kala menyebut nama Juna.
"Jadi sekarang waktumu buat move on mas, aku akan mendoakan yang terbaik buatmu."
"Melanjutkan hidup? Bagaimana aku bisa tetap hidup jika separuh nyawaku diambil orang lain."
Nehan berdiri, masuk kedalam mencari anaknya. Dalam kamar dia melihat Bu Narmi sedang tidur dan Ken tidur di sebelahnya berselimut tebal.
"Ayah pamit nak," mencium pipi bakpao dan kening Ken lembut, jangan sampai anaknya terbangun.
Mbok Nah dan Pak Dul yang sedang menonton tivi tidak mengeluarkan satu kata pun. Tapi pandangan mata keduanya seperti paham apa yang dirasakan Nehan.
"Jaga Ndoro Putri dan Ken baik-baik, jangan sampai keduanya sedih."
Ketiganya saling berpandangan. Nehan masih berdiri di depan pintu. Mbok Nah dan Pak Dul menganggukkan kepala sebagai jawaban atas permintaan Ndoro kakungnya.
"Ndoro tetap akan mengunjungi Ndoro putri dan Ken kan?!"
__ADS_1
Nehan tersenyum mendengar pertanyaan abdi setianya, "tentu saja, jika aku masih ada umur pasti suatu saat nanti aku akan berkunjung."
"Ndoro jangan bicara seperti itu!" Mbok Nah mulai menitikkan air mata.
Di ayunan depan vila, pandangan Rumi kosong menatap ke depan, entah sejak kapan Rumi pindah kesana. Dia merasakan lelaki yang pernah dicintainya itu mendekat.
"Masuklah jangan sampai kamu sakit karena kedinginan."
Suara itu membuat Rumi tak mampu menahan air matanya yang sedari tadi setengah mati ditahan. Nehan melihat dengan jelas bahu Rumi bergoyang perlahan.
Nehan berjalan memutar dan duduk berlutut di depan Rumi. Menyentuh pipi dan menghapus air mata yang meleleh.
"Harusnya kamu menahan air matamu agar tidak luruh di hadapanku, Rum."
"Kalau kamu menangis begini bagaimana aku bisa melepasmu, hmm."
"Aku tahu Juna pasti bisa membahagiakanmu, tapi apa kamu bisa merasakan kebahagiaan itu?"
Rumi mengangguk berkali-kali, kepalanya masih menunduk. Nehan mendekat dan memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
"Berbahagialah Rum."
Isak tangis Rumi makin kencang, sekencang pelukan Nehan padanya. Sampai Rumi mendorong tubuh mantan suaminya menjauh.
"Pergilah, mas. Hiduplah dengan baik."
Dengan gerakan tergesa, Rumi berdiri menjauh. Bahkan setengah berlari kembali masuk dalam vila.
Meskipun Rumi tidak mengatakan apapun. Bu Narmi tahu siapa yang anaknya pilih.
Mengapa kamu menipu diri sendiri anakku...
...***...
Nehan kembali ke penginapan dengan pikiran kacau.
"Kenapa kamu memilih Juna kalau kamu masih mencintaiku, Rum."
"Bodoh...bodoh, semua karena kebodohanku," Nehan memukul kepalanya berkali-kali.
Malam itu Nehan tidak menunda kepulangannya. Dia memacu mobilnya kencang dan pulang ke rumah bapak. Dia butuh waktu untuk menerima semuanya. Dia bisa gila kalau sendirian di saat-saat seperti ini.
Membebaskan Rumi dan menjauh adalah satu-satunya cara agar Rumi bisa pergi dengan rela. Membuang semua kenangan mereka berdua.
Mengharapkan Rumi kembali sama saja dengan membawa Rumi dalam kenangan hitam yang mengerikan. Bahkan berkali-kali sesal diucapkan oleh Nehan tidak ada gunanya.
Bapak memandang heran pada Nehan yang pulang. Sudah berbulan-bulan anaknya itu tidak pernah mengunjunginya.
Apalagi Nehan langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Ada apa ini?
__ADS_1
Bapak meminta beberapa abdi untuk melihat dan menyiapkan kebutuhan Nehan. Tak ingin mengganggu, bapak membiarkan anaknya beristirahat dulu. Nanti dia akan bicara.
Nehan baru keluar kamar menjelang malam, dia berjalan menuju kebun mawar. Berjalan menuju ke tengah kebun dan berhenti di depan gundukan tanah. Bapak yang sengaja membatalkan semua janji hari ini untuk menemani anak lelakinya mengikuti dari belakang tetapi berhenti di bangku taman dan menunggu.
Kalau malam itu ibunya masih ada ingin rasanya dia menenggelamkan diri dalam pelukannya.
"Hiks...ibu, huhuhu...wanita yang aku cintai memilih lelaki lain sebagai pendamping hidupnya Bu."
"Apa yang harus Nehan lakukan, Bu."
"Huhuhu," Nehan merebahkan diri di sisi makam. Membiarkan tubuhnya menyentuh tanah dan menghirup aroma malam.
Bapak memanggil salah satu abdi untuk mendekat, "perhatikan anakku, jangan lakukan apapun, lihat saja dia."
"Baik Ndoro sepuh. Sebaiknya Ndoro sepuh masuk, angin malam tidak baik untuk Ndoro."
"Hmm, ingat jangan ganggu dia," bapak meninggalkan kebun dan kembali ke kamarnya.
Ketika Nehan bangun mentari masih mengintip di ufuk timur cakrawala.
"Masih sempat sholat subuh."
Nehan bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah menunaikan sholat dia kembali merebahkan dirinya. Separuh nyawanya pergi, tidak ada lagi keinginan untuk melakukan apapun.
Dia hanya makan, tidur, makan, tidur. Tidak melakukan apapun yang lainnya.
Sedangkan bapak berusaha untuk tidak ingin tahu sampai anaknya itu bercerita dengan sendirinya.
...***...
Juna tersenyum bahagia. Rumi memilihnya dan menyampaikannya dengan senyum cantiknya. Sekarang ini wanita itu berada dalam pelukannya.
"Aku akan membahagiakanmu, Rum."
Wanitanya itu mengangguk, gerakannya terasa menyentuh dadanya. Saling bertukar detak jantung yang bertalu.
Juna melepaskan pelukan untuk memandang wajah wanitanya lebih jelas. Netranya berputar mengamati wajah cantik Rumi. Jemari Juna mengulur dan menyimpan beberapa sulur anak rambut yang ada di pipi ke belakang telinga.
"I love you, Rum."
Rumi mengangguk menyampirkan senyum di bibirnya.
"Kamu tidak ingin membalasnya?" tanya Juna karena Rumi tidak diam saja, "harusnya kamu bilang i love you to."
"Apakah itu perlu? Aku sudah memilihmu bukan?! cintai aku, mas. Maka akan aku berikan hidupku padamu."
"Hmmm."
Juna kembali memeluknya erat. Menenggelamkan wanita nya dalam hangat pelukan. Sementara sang wanita memejamkan mata, bukan karena membuncahnya rasa yang sama, tetapi karena menahan agar air matanya tidak luruh ke bawah.
__ADS_1
...***...