Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 62


__ADS_3

"Tiga bulan ini gedung sudah hampir kelar, aku juga suka modelnya, sesuai sama yang aku rencanakan dan gambar yang kamu buat," kali ini aku dan Mas Juna ditemani Yuni datang ke lokasi proyek.


Gadung memang hampir jadi, sebagian tempat sudah bersih dan siap ditempati, tinggal membutuhkan proses finishing.


"Belum bisa ditempati dulu, paling tidak butuh waktu dua bulan lagi, baru benar-benar bisa dimanfaatin. Setelah itu kita geser ke lokasi sebelah buat gedung sekolahnya, biar nanti waktu tahun ajaran baru sudah siap untuk menerima murid baru."


Aku hanya mendengarkan, biarkan mereka berdua saja yang berdiskusi, gedung panti memang sudah jadi. Pelatarannya dalam proses membersihkan, untuk taman akan di kerjakan sambil jalan.


"Kamu kenapa Rum, dari tadi diam saja. Itu perut sudah segede gentong, kayaknya aku musti kasih cuti sama kamu."


"Iya nih, kayaknya aku mulai butuh cuti, sekarang jadi sering cape, punggung aku kayak diganjal kayu gitu, terus satu lagi..." aku menghentikan kalimatku sambil meringis.


"Apaan, kalau ngomong diselesaikan, kenapa wajah kamu jadi kayak gitu?" belum selesai aku bicara, Yuni sudah bingung duluan.


"Ada yang sakit Rum? perlu ke rumah sakit? apa kamu mau lahiran?" Mas Juna tidak kalah bingungnya.


"Yun, kayaknya kita musti antar Rumi ke rumah sakit deh," Mas Juna heboh memegang bahuku, berusaha membantu berdiri dan menuntunku, "kamu tunggu disini saja, aku mau siapkan mobil dulu, nanti kalau sudah siap kamu tuntun ya Yun," tapi kemudian Mas Juna menghentikan usahanya dan berlari entah kemana.


"Beneran Rum, kamu mau lahiran, haduh mama...gimana ini?" teriak Yuni, "aku nggak pernah lihat orang lahiran tahu Rum," wajah Yuni tiba-tiba berubah pias dan pucat, "nanti kamu berdarah-darah nggak? aku musti ngapain ini? aku telepon ibu aja ya...telepon ibu," Yuni tergopoh merogoh tas nya, "apaan sih...kalau dicariin nggak pernah ketemu ini barang!!" teriak Yuni membuat aku terkejut setengah mati.


Aku tertawa, "hahaha...kalian berdua apaan sih," aku melambaikan tangan pada Yuni, "sini," kutarik telinganya mendekat, "aku cuman pengen pipis tahu...!"


"Aa...sialan kamu, kenapa dari tadi diam saja," Yuni duduk lemas di sebelahku—yang sedang menikmati tingkah lucu Yuni dan Mas Juna.


"Kenapa lama, aku nunggu ini, ayo!" Mas Juna memegang lengan dan memaksaku berdiri.


"Aku sama Yuni aja, nggak mau sama kamu," tolakku


"Apa bedanya sih?!"


"Soalnya aku cuman mau ke kamar mandi," jawabku santai sambil berjalan ke arah kamar kecil.


"Sialan kamu Rum, jantung aku sudah mau copot ini...!" aku lirik mas Juna sambil tertawa kecil, badannya duduk melorot di sofa.


Aku amati baik-baik gedung yang hampir jadi untuk yang terakhir kali sebelum aku ambil cuti melahirkan. Setelah ini, aku akan lebih banyak di rumah, membeli perlengkapan bayi dan menyiapkan mentalku yang akan melahirkan sendiri, meskipun sebenarnya terbersit keinginan untuk melahirkan ditunggui Mas Han, suamiku


"Semua perlengkapan bayi sudah lengkap Rum?" tanya ibu sambil sibuk melipat pakaian bayi yang selesai dicuci.


"Sudah Bu," aku tak ikut membantu, aku hanya mengamati ibu sambil duduk dan membelai lembut perutku, "tapi ada yang belum dikirim sih Bu, Rumi pesan beberapa baju bayi via online."


"Walah kamu ini kok pakai pesan online, kalau nanti yang datang ndak cocok sama pesanan bisa kecewa lo kamu Rum."


"Iya juga sih Bu, tapi siapa tahu nanti cocok."

__ADS_1


"Tinggal tunggu tanggal kan Rum, lahirannya."


"He'eh, perkiraan dokter sih, beberapa hari ke depan, biasanya maju mundurnya kurang lebih enam hari."


"Kita siapkan sekarang saja Rum tasnya buat ke rumah sakit, sudah dekat ini."


"Boleh," aku berdiri...


"Mau kemana?" tanya ibu mengagetkan.


"Mau ambil tasnya Bu."


"Nggak usah, biar ibu yang ambil," ibu berdiri mengambil tas yang aku letakkan di almari bagian bawah.


"Kadang ibu pengen nangis Rum, nelangsa. Kamu hamil besar begitu, ndak ada suami yang nunggu, apa-apa sendiri, kemana-mana sendiri, pengen nangis rasanya," helaan napas ibu yang berat terdengar jelas di telingaku.


Aku hanya diam, tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Harusnya sekarang ini Han nyari kamu, tanya, kapan kamu melahirkan. Ini malah ndak muncul, ndak dengar kabarnya sama sekali, malah ngilang," ibu menyusut air matanya diam-diam. Tangannya terus bergerak memasukkan semua keperluanku dan keperluan bayiku ke dalam tas jika lahiran nanti.


"Kalau kamu tiba-tiba musti berangkat, siapa yang ngantar Rum, masa ibu sambil diboncengin naik motor."


"Ibu..." aku menyentuh tangan ibu memintanya berhenti dulu, "Rumi baik-baik saja Bu, kalau ibu nangis, Rumi jadinya sedih, jadi pengen ikut nangis, katanya Rumi ga boleh sedih," jadi merasa bersalah sama ibu.


"Paket..." teriak seseorang dari luar.


"Rum, paket...sebentar ibu keluar dulu."


"Rumi saja Bu."


"Halah berdiri saja susah."


Ibu berlari ke depan, "Rum kok paketannya bentuknya gini?" ibu kembali membawa sebuah kotak yang dibungkus rapi.


"Kamu beli apa sih?"


"Baju bayi kok Bu," aku mengambil kotak itu dari tangan ibu, "iya, nggak biasanya sih dipacking dengan boks begini."


Aku melihat kotak itu dengan teliti, membaca alamat pengirimnya, dari luar negeri?


Aku membuka paket dengan hati-hati, didalamnya ada beberapa pasang baju bayi untuk anak laki-laki dan perempuan, jaket, sepatu, kaos kaki dan pernak-pernik lain.


Aku cari lagi di dalam, ternyata di bagian bawah ada sebuah kartu ucapan yang ditulis di balik selembar foto. Aku amati foto itu, berlatar belakang sebuah kota yang aku tahu bukan berada di Indonesia. Betapa hancur hatiku ketika aku lihat lagi ternyata itu adalah Mas Han dan Sekar yang sedang berpelukan.

__ADS_1


Waktu aku balik foto itu ada pesan tertulis disana.


Selamat menanti kelahiran bayinya ya mbak, semoga lahir dalam keadaan sehat dan selamat. Jangan mencari Mas Han dulu. Aku doakan semoga proses melahirkannya lancar tanpa kendala.


Ibu merebut pasfoto yang aku pegang, aku bahkan lupa kalau ada ibu di dekatku, "dasar perempuan kurang adab," ibu menyobek foto itu menjadi serpihan kecil, tanpa melihat isi dalamnya, boks itu langsung ditutup lagi.


Aku tak peduli, ibu keluar kamar membawa kotak itu pergi entah kemana. Aku diam di kursi rias dalam kamarku. Air mataku kembali luruh. Sambil menangis aku melanjutkan memasukkan semua perlengkapan melahirkan yang tadi disiapkan ibu kedalam tas.


"Maafkan bunda sayang, hiks...bunda masih sering nangis, hiks...huhuhu...huhuhu," aku berbaring menghadap dinding seperti biasanya, air mataku terus turun tanpa bisa kuhentikan.


Ibu kembali masuk tergesa, "akan aku bakar kotak itu beserta isinya," kemudian ibu menghilang lagi ke belakang.


Tidak lama kemudian ibu kembali lagi melewati kamar, "dasar korek biadab, orang lagi emosi, dicari malah nggak ada," kemudian senyap lagi.


Beberapa saat kemudian ibu kembali masuk ke kamarku, "Rum korek mana korek...kurang ajar itu korek, kalau lagi dibutuhin malah ngilang."


Mendengar ibu yang mondar-mandir aku duduk, "ibu, sudah biarin saja," ibu berhenti dan melihatku dengan tatapan penuh kasih sayang, "Rum," ibu mengambil duduk di sisi ranjang, "kamu musti sabar, musti kuat buat anakmu," aku mengangguk, hanya itu yang bisa aku lakukan.


"Rumi mau pisah Bu, setelah anak ini lahir," ucapku di sela tangis. Aku merasakan ibu mengangguk sambil memelukku erat.


"Iya, kita pikirkan itu nanti, kamu wanita hebat nak, kamu kuat. Untuk sementara kamu pikirkan persalinan kamu dulu, yang lainnya kita pikirkan belakangan, hmm," aku mengangguk mengiyakan.


"Rumi mau telepon Yuni dulu Bu."


"Ada apa, jangan gampang curhat sama orang."


"Nggak, Yuni sudah tahu semua tanpa Rumi harus curhat."


Aku menyentuh ikon sambungan telepon pada nomor Yuni.


"Yun, tolong bantu buatkan aku akun sosial media, aku tunggu kamu sore ini," sambungan telepon segera aku tutup.


Aku tahu kamu sedang bengong saat ini Yun, tapi aku tak peduli. Kali ini aku harus punya sosial media. Peduli amat kalau aku dikata orang suka kepo kehidupan orang lain. Sekarang rasa ingin tahuku harus dipuaskan, paling tidak untuk mengurangi amarah yang menguasai hatiku.


...***...


Ee...ternyata Rumi nggak punya akun sosmed ya...


Ya begitulah, bukan kebutuhan utama sih soalnya, tapi kadang diperlukan juga biar nggak gaptek-gaptek amat.


Jangan lupa like, vote, komen dan share ya...


Terimakasih buat yang sudah bersedia memberi poin, kalau punya koin juga oke hehehe...

__ADS_1


Lope you all🤗❤️🥰😘


__ADS_2