
Buku rekening yang diberikan Yuni masih di tanganku, ada tujuh digit angka tercetak disitu. Senyumku tak bisa kutahan, ternyata begini rasanya menghasilkan sesuatu dengan usaha kerasku sendiri.
Kurebahkan tubuhku, kulihat lagi jajaran angka yang tercetak disitu, "aaa....," aku teriak pelan sambil menghentakkan kakiku kecil-kecil diatas kasur.
Mungkin karena aku sangat senang, ada gerakan bergelombang dalam perutku, "hai sayang, kamu ikut senang ya. Lihat ini bunda sudah bisa cari rezeki sendiri," tiba-tiba air mataku meleleh di pipi.
"Hiks...hiks, bunda ingin ayah juga merasakan kebahagiaan bunda sayang, tapi ayah sekarang sedang sibuk dengan kebahagiaannya sendiri, hiks...hiks...," harusnya aku bahagia kan, tapi kenapa air mataku harus mengalir disaat bahagia seperti ini.
Suara mesin jahit milik ibu berhenti, ibu pasti akan masuk kesini, ibu pasti ikut merasakan kebahagiaan dan kesedihanku sekaligus.
Benar saja, suara langkah ibu mendekat. Aku merasakan pergerakan diatas tempat tidurku, ibu menyentuh bahuku, "Rum..."
Aku pura-pura tidur menghadap dinding, posisi favoritku, "Rum, ibu tahu kamu sedang nangis, nggak usah pura-pura tidur."
Aku memutar tubuh, tangan ibu terbuka. Akhirnya aku duduk dan menenggelamkan diriku dalam pelukan ibu, "harusnya Rumi bahagia kan Bu, harusnya Rumi bahagia...tapi kenapa Rumi ingat Mas Han disaat bahagia begini? padahal dia sudah nggak ingat sama Rumi lagi, huhuhu...huhuhu," aku terisak dalam pelukan ibu.
"Rum," helaan napas ibu yang berat kurasakan jelas, "sebenarnya Nehan cukup sering kesini."
Aku melepaskan pelukan, "maksud ibu?"
"Ya...dia datang, tapi ibu selalu bilang, dia bisa bertemu kamu kalau dia mau meninggalkan wanita itu, toh anaknya juga sudah meninggal."
"Terus dia jawab apa Bu?" meskipun setitik, aku masih berharap untuk bisa menyelamatkan rumah tanggaku.
"Nehan tidak pernah menjawab, dia hanya diam."
Aku menghela napas, berarti kamu tak bisa lepas lagi dari perempuan itu mas.
"Aku mau mandi ah Bu, hari ini Mas Juna mau menjemput, sebagian gedung sudah kelihatan bentuknya. Yuni beneran anak Sultan tahu Bu, membangun gedung seluas itu tanpa jeda, duitnya banyak," aku mengalihkan pembicaraan, aku benci membicarakan Mas Nehan saat ini.
Aku mengambil buku rekening yang tergeletak dekat bantal, "lihat ini gaji Rumi."
"Waduh...banyak bener," ibu melotot melihat tujuh digit angka yang tertera, "kamu kan gak pernah kerja, ga punya pengalaman, kerjanya juga gak tiap hari, masa digaji segitu?!"
"Ibu ih...kalau Rumi sudah kerja beneran digitnya nambah satu tahu Bu, nanti sore Rumi pengen ngajak ibu jalan-jalan. Kita minta tolong Mas Juna buat nganter."
"Wah...jadi semangat ini ibu, nanti ibu melanjutkan jahitnya sebentar saja, terus istirahat, biar nanti ibu segar, bisa milih-milih barang yang gak penting buat diambil."
"Hahaha...ibu ada-ada saja, Rumi mandi dulu ya," aku mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.
Sedih boleh tapi nggak boleh lama-lama. Hidup harus terus berjalan Rum, the show must goes on. Lihat perutmu yang makin besar. Empat bulan lagi kamu akan lahiran. Aku tersenyum di depan kaca, perut gendutku selalu membuatku bersemangat.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam," aku dan ibu menyahut bersamaan, Mas Juna datang. Aku sudah siap, tinggal menyambar tas yang menggantung di kursi.
"Masuk dulu Jun," aku dengar ibu mempersilahkan Mas Juna masuk.
"Tidak usah Bu, kita mau langsung berangkat," aku yang menyahut.
"Ayo!" aku berjalan mendahului Mas Juna yang masih bengong.
"Eh, Rum...nggak sarapan dulu?" teriak ibu.
"Nggak Bu, aku sudah simpan bekal di tas," aku melangkah mundur sedikit dan menyambar tangan Mas Juna kemudian manariknya, "ayo!"
"Hati-hati Jun," teriak ibu sambil mengikuti kami berjalan sampai pagar.
"Kamu kenapa sih, tarik-tarik begini," gerutu Mas Juna ketika kami sudah duduk dalam mobil.
"Kamu sama Yuni suka ngerjain ibu, aku sebel."
"Eh, ngerjain ibu bagaimana?"
"Suka minta makan, jatah makan aku kalian yang habisin."
"Hahaha...aku nggak niat ngerjain ibu tahu, kan memang ibu sendiri yang suka nawarin buat makan, masa rejeki ditolak."
Perjalanan dari rumah ibu ke lokasi kurang lebih membutuhkan waktu lima belas menit dengan motor atau dua puluh menit dengan mobil. Baru sepuluh menit perjalanan, Mas Juna berkali-kali melihat ke arah spion.
"Rum, perasaan itu mobil di belakang ngikutin kita terus dari tadi."
"Mobil apa, yang mana?" tanyaku, aku melihat banyak mobil, dan pastinya banyak juga yang searah dengan kami.
"Ah, iya, ngilang dia, tadi ada kok. Rasanya aku juga kenal sama mobil itu."
"Mobil si Yuni kali, siapa tahu bu bos kita kasih kejutan, tiba-tiba datang."
"Nggak mungkin, dia bilang sama aku dia bakalan sibuk dua bulanan ke depan, dia kan juga bilang sama kamu."
"Iya sih, bener juga."
"Lupakan saja, dia sudah nggak kelihatan lagi."
Mas Juna memarkir mobilnya di depan lokasi bangunan. Sebenarnya kalau dilihat mata awam, sedikit berbahaya bagi wanita hamil seperti aku untuk datang ke lokasi proyek yang masih on progres. Tapi aku yang mau, aku ingin mengikuti semua proses pembangunan gedung sampai nanti siap dipakai.
Beberapa kali Mas Juna menggandeng tanganku kalau kami harus melewati tempat yang sangat berbahaya.
__ADS_1
"Hati-hati Rum," tangan kami akan berpegangan erat untuk menghindari aku terjatuh.
Kalau lokasi kami berpegangan tangan adalah tempat wisata, pasti orang yang melihat akan menganggap kami ini sepasang suami istri.
"Aku mau lihat dilantai dua Mas, sudah mulai nak kan gedungnya."
"Buat apa, lantai dua hanya ada lantai cor, itu nanti dibangun kalau dibutuhkan penambahan gedung."
"Iya, aku paham, tapi aku pengen lihat, cuman lihat aja kok."
"Bahaya Rum, lihat itu banyak kayu, paku, bahaya buat kamu."
"Okay, kalau begitu aku mau lihat tangganya, aman nggak buat anak-anak."
"Belum ada tangga, itu masih pakai tangga kayu sederhana, nanti kalau gedung lantai bawah selesai akan dibongkar."
Mataku berputar lagi, "kalau begitu aku ingin melihat ruangan yang akan aku tempati."
Aku melihat Mas Juna membuang napasnya keras karena kesal, "lihat itu," tangan Mas Juna menunjuk ke sebuah ruangan yang depannya masih sangat berantakan, "kamu aku ajak kemari hanya untuk melihat perkembangan pembangunannya saja, tidak untuk masuk dalam ruangan yang masih belum selesai, kalau kamu mau, masuk saja ke ruangan aku, meskipun bangunannya sementara tapi nyaman buat istirahat."
"Aku datang kesini mau kerja, ingin tahu dari dekat semua yang sudah mas kerjakan, bukan buat istirahat. Kalau cuman lihat dari batas depan sini aku nggak usah ikut, Mas Juna tinggal potoin sudah beres."
Mungkin Mas Juna jengkel mendengar aku yang terus ngotot, dia menutup mata sambil mendongak, kemudian berkata, "okay, tapi hati-hati, pegang tangan aku terus, jangan lepas."
"Iya...iya, rewel, aku kan orang dewasa pasti bisa lah hati-hati."
Tapi rupanya hari ini bukanlah hari baikku. Waktu aku akan melangkah melalui sebongkah kayu yang tergeletak di tanah, kayu itu tak sengaja terinjak kakiku dan bergerak, aku hampir saja tergelincir.
"aaa..." teriakku.
"Rumi," teriak Mas Juna hampir bersamaan.
Dengan sigap Mas Juna memegang erat tanganku dan menarik tubuhku dalam pelukannya. Hatiku berdebar kencang karena terkejut dan takut terjatuh.
Tanpa sengaja mata kami saling pandang, entah untuk berapa lama kami dalam posisi seperti itu. Untuk beberapa saat aku lupa dimana aku sekarang sedang berada. Mata itu membuatku tenggelam dalam pusaran yang tidak kukenali.
Aku kembali ditarik ke permukaan ketika ada suara keras berteriak, "apa-apaan kalian!!"
Karena terkejut, kami saling melepaskan diri dan membuat tubuhku bergerak melayang ke belakang.
"Astagfirullah, Rumi," teriak Mas Han. Ya...itu suara Mas Han.
...***...
__ADS_1