Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 13


__ADS_3

Aku berjalan cepat menuju kamar yang kami sewa. Aku tidak lagi melihat ke belakang. Aku tidak tahu apa yang sedang Mas Han dan anak itu lakukan setelah aku pergi.


Aku masuk ke kamar yang disewakan Mas Han untukku, dan tak lama kemudian Mas Han juga masuk kamar mengikuti aku.


"Kamu apa-apaan meninggalkan aku dengan anak itu," semprot Mas Han.


"Aku memberimu waktu untuk bulan madu," ucapku datar.


Mas Han melihatku, aku tahu kalau aku sedang ditertawakan karena gagal menyembunyikan rasa cemburu yang membakar hatiku sekarang ini.


"Nanti malam aku akan tidur bersama anak itu," ucap Mas Han.


"Apa harus sekarang?" tanyaku bodoh.


"Ha...ha...ha...wajahmu lucu, dia anak yang baik Rum. Dia tidak akan memintaku untuk tidur dengannya. Ini tadi saja dia yang memintaku untuk mengejarmu."


"Benarkah?"


"Iya, bebanku jadi sedikit ringan Rum. Dia tidak menuntut ku untuk melakukan apapun."


"Kapan kita pulang mas?"


"Dua hari lagi kita pulang, aku ingin kamu menikmati waktumu disini hari ini dan besok, lusa kita kembali menggunakan penerbangan pertama."


"Hari ini kita mau melakukan apa mas?" peduli setan dengan anak itu, aku ingin menikmati liburan yang jarang kudapatkan karena kesibukan Mas Han yang luar biasa.


"Bagaimana kalau kita belanja dulu, beli gaun buat kamu, nanti malam kita fine dining di restoran bawah."


"Boleh, sebentar aku siap-siap dulu," aku masuk kamar mandi, mataku membelalak melihat interior di dalamnya, "ya Allah mas, ini kamar mandi segede rumah ibu di desa."


"Ah yang bener?"


"Bener, masa aku bohong, masuk sini kalau nggak percaya," eh mas Han masuk beneran, baru aku sadar kalau aku sedang dijebak sekarang, "kok kamu beneran masuk mas?"


"Kan kamu yang suruh," tanpa banyak kata Mas Han masuk sambil melepas bokser dan T-Shirt yang dipakai di depan kamar mandi. Mas Han mendekatiku mengangkat tubuhku dan membiarkan aku berdiri dibawah shower sambil tangannya membuka kran agar air shower mengalir.


"Ha...ha...ha, aahhh...jangan begini, kamu keluar dulu, kalau begini ceritanya bisa-bisa aku nggak jadi mandi tahu mas."


...***...


"Kamu membuat aku malu mas."


"Kenapa musti malu."


Aku masih terus mengomel pada suamiku. Aku malu karena rambutku masih basah dan kami sekarang berada di depan pintu kamar anak itu.


"Hai mbak...mas," dia menyambut kami dengan senyum riang, tapi senyum itu segera menghilang, matanya mengamati kami berdua dengan tatapan yang...entahlah, aku tak tahu.


Kemudian dia melanjutkan kalimatnya bersamaan dengan kembalinya senyum riang yang tadi sempat hilang, "kita langsung saja ya," aku sempat mengintip dalam kamar, ada kaos dan celana bokser dilipat di ujung ranjang. Sedangkan mas Han memasang mode jutek di wajahnya.


"Iya, ayo," aku akan menggandengnya ketika tiba-tiba dia mengambil tempat di sisi lain dan menggandeng tangan 'suami kami' (rasanya tetap nano-nano waktu aku menyadari bahwa aku sekarang berbagi suami).


"Rum, kamu sebelah sini," Mas Han menarik tanganku dan mengubah posisi kami. Aku sekarang berada di tengah, antara mas Han dan maduku.


"Mas, nggak mau aku pegang tangannya ya? kita sudah sah loh mas, meskipun hanya secara agama."

__ADS_1


Aku melirik suamiku, mode juteknya masih on.


Aku menggandeng Sekar, "untuk sekarang kamu gandengannya sama mbak dulu saja."


"Kata ibu aku harus belajar buat menerima pernikahan kita, kalau mas ngomong aja nggak mau, aku musti bilang apa kalau ibu tanya?"


Aku melirik mas Han lagi, dari wajahnya aku tahu Mas Han tidak akan menjawab pertanyaan Sekar.


"Bilang sama anak itu untuk diam, Rum, kalau dia butuh waktu, aku tidak butuh."


"Sekar___"


"Aku dengar mbak, aku nggak tuli kok, kalau begitu aku jalan dulu saja," Sekar berjalan mendahului kami lalu memutar tubuhnya menghadap suamiku sambil berjalan mundur, "suami...nanti bayarin apapun yang aku beli ya," dia pergi meninggalkanku dan Mas Han.


"Kasihan tahu mas, jangan jutek gitu wajahnya."


"Kamu aneh, harusnya kamu senang aku jutek sama anak itu," iya juga sih, tapi melihat keceriaannya aku jadi sedikit tidak tega.


"Iya...aku senang, ayo!" kami mempercepat langkah menuju outlet yang ada di area bawah hotel. Lebih baik tidak membahas masalah anak itu sekarang.


Aku memilih apa yang aku butuh, sebuah gaun untuk fine dining nanti malam. Betapa terkejutnya aku ketika tiba giliran membayar, belanjaan Sekar menumpuk banyak sekali.


Entah bagaimana dia bisa muncul di belakang kami dan lagi-lagi menggandeng tangan mas Han, "aku beli ini," dia menunjukkan sepotong kain berwarna merah marun dengan banyak renda di depan kami berdua.


"Apa itu?" tanya Mas Han


Setelah aku perjelas penglihatan ku, ya Allah...?! kain berwarna merah marun itu aku ambil dan aku masukkan dalam tas agar dihitung oleh kasir.


"Apa itu Rum?" tanya Mas Han.


"Apa maksudmu menunjukkan lingerie di depan suamiku?" tanyaku menahan emosi, benar-benar anak yang tidak punya malu.


"Suamimu?" ucapnya memutar mata, "aku juga istrinya mbak, kalau mbak lupa, kami menikah empat hari yang lalu, ingat?"


"Iya, aku ingat, itu karena aku mengijinkan kalian menikah, kalau aku tidak mengijinkan, kamu pikir kamu bisa ke pelaminan dengan suamiku."


"Dengar ya mbak, saya tahu apa tujuan pernikahan kami, saya sama sekali tidak berniat untuk terus menempel terus pada laki-laki lemah suami mbak itu, em...aku ralat suami kita."


"Dia harusnya menolak saya kalau tidak mau menikah lagi, apapun alasannya."


"Mbak pikir, saya bisa tiba-tiba hamil tanpa melakukan hubungan suami istri?"


"Yang saya lakukan tadi adalah usaha saya agar saya cepat hamil."


"Jangankan menyentuh saya, melihat saya pun dia enggan mbak."


"Kalau mbak tidak bisa membantu saya, lebih baik mbak diam dan melihat dari pinggir, jangan ikut dalam permainan, saya akan lakukan sendiri."


"Saya juga ingin segera pergi dari kehidupan kalian yang menurut saya aneh dan bertele-tele. Saya tidak mau ikut tergulung dalam benang kusut kehidupan kalian, mengerti, mbak?!"


"Satu lagi, mbak tidak usah khawatir, saya tidak akan pernah jatuh cinta dengan laki-laki lemah seperti suami kita itu," ucapnya tanpa jeda. Tapi ketika dia mengucapkan kalimat terakhir, aku melihat dua alisnya berkerut, benarkah yang kamu ucapkan, kamu tidak akan pernah jatuh cinta pada mas Han?


Aku terpukul, anak itu memecah kebekuan dalam otakku. Apa yang dia sampaikan semuanya benar, aku bisa saja merayu mas Han untuk melakukan hal yang bisa kami lakukan berdua untuk bisa punya anak tanpa melibatkan orang lain sejak awal. Aku bisa saja memberontak melawan ibu dan menolak semua keinginannya.


Anak itu meninggalkanku sendiri, menghampiri suami kami. Aku masih berdiri di tempat yang sama, berusaha mengumpulkan pecahan isi kepala yang tadi dihancurkan oleh seseorang yang masih berumur awal dua puluhan.

__ADS_1


Dari jauh aku bisa melihat Mas Han mulai melirik, melihat anak itu, kemudian dia melihat padaku, wajahnya tidak sekaku tadi. Aku berjalan bergegas mendatangi kasir.


"Kamu kemana saja, Rum?" ada nada ditekan pada suara mas Han, aku melihat ekspresi tidak suka di wajahnya.


"Mas kan lihat saya tadi pergi kemana."


Aku memandang Sekar, "kamu kembali ke kamarmu, atau kemanapun kamu mau, setelah ini kita jalan masing-masing. Nanti malam kita bertemu di restoran."


"Oke mbak, saya pokoknya siap wae."


"Suami, kita ketemu lagi nanti malam ya, kalau ingin ketemu, kamar aku masih sama kok nomornya."


Sekar berlalu meninggalkan kami dengan tangan yang penuh belanjaan. Aku melihat Mas Han dan tersenyum, "ternyata dia anak yang lucu," kataku.


"Karena itu kita harus segera berbicara dengan serius mas, sebelum segalanya menjadi rumit."


"Maksudmu Rum?"


"Kita harus segera pulang dan kamu harus segera membuat anak itu mengandung."


"Gila," dan Mas Han meninggalkanku, dia berjalan cepat kembali ke kamar tempat kami menginap.


...***...


Ibu menyambut kami di depan pintu. Pandangannya lurus pada Sekar. Ada senyum di wajahnya. Aku memberi jarak dan berjalan di belakang Sekar dan Mas Han.


Mungkin awalnya Mas Han tidak menyadari, tapi setelah melihat di sisinya tidak ada diriku, dia berhenti sebentar dan menarik tanganku.


"Selamat datang menantu ibu, piye-piye Nduk (bagaimana nak)? sambut ibu sambil memeluk Sekar.


"Apanya yang bagaimana Bu?"


"Ya bulan madunya, apa lagi?" keduanya tampak begitu akrab.


"Ooo itu, ibu tanya saja sama mereka berdua?" tatapan anak itu melirik aku dan Mas Han penuh arti.


"Maksudnya, piye toh iki (bagaimana sih ini)?


Ibu memandangku tajam, "apa yang kamu lakukan Rum?"


"Saya tidak___"


"Ha...ha...ha, saya bercanda Bu, mbak Rumi baik kok, buktinya Mas Nehan kembali menjemput saya kan? pasti mbak Rumi susah ngerayunya, sampai dia harus ikut."


"Jadi kalian bulan madu bertiga?"


Anak itu mengambil tangan ibu, "tentu saja tidak ibu, mmm...ibu mau mendengar cerita malam pertama aku dan mas Han tidak?"


"Kalian sudah malam pertama toh," wajah ibu langsung cerah.


"Sampun lah Bu (sudah dong Bu)."


"Ayo, ibu pengen dengar ceritamu."


Aku dan Mas Han saling pandang. Wanita muda seperti apa yang sedang kami hadapi ini. Aku merasa kami akan melalui jalan panjang yang melelahkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2