
"Benar-benar wanita itu! Apa maksudnya dia mengirim pesan seperti ini?" Yuni mengetuk-ngetuk layar ponselku, "dasar wanita sialan, sudah merusak rumah tangga orang lain masih minta ini itu pula."
"Ralat Yun, bukan dia yang ngerusak, tapi aku dan Mas Han. Kenaifanku dan ketidakjujuran Mas Han, itu yang merusak rumah tangga kami, bukan Sekar."
"Masih juga kamu bela perempuan sialan itu, Rum."
Kami sekarang berada di sebuah depot sederhana. Namanya juga di daerah, disini tidak ada resto mewah atau kafe buat nongkrong. Tapi meskipun sederhana masakannya cukup pantas untuk direkomendasikan.
Yuni mengambil seekor udang saus Padang ukuran besar, "aku akan membantumu, jangan kuatir, kalau perlu aku akan membawamu pergi jauh dari Raden mas bangsawan sialan itu!" mulutnya yang penuh membuat bicaranya tidak jelas, dan bibirnya belepotan saus Padang.
Aku mengambil selembar tisu dan mengulurkannya pada Yuni, "bersihkan mulutmu, dasar jorok."
"Aku jorok tapi aku tidak bodoh," matanya melotot seperti menunjukkan padaku, tidak seperti kamu, kurang ajar si Yuni.
"Nggak usah gitu lihatnya, aku memang bodoh," aku melengos.
"Aku sudah bilang kan, aku sudah punya rencana besar untukmu, tapi belum sekarang," kali ini Yuni mengambil cumi yang juga berukuran besar, "mantap masakan disini."
Entah mengapa aku malah jadi mual melihat cara makan Yuni, "kamu nggak makan Rum?"
"Aku kenyang lihat kamu makan."
"Kamu mau yang lain?" mata Yuni tidak lepas dari piring-piring yang ada diatas meja, "mau yang asem manis mungkin?"
Perkataan Yuni aku dengarkan sambil lalu, "kamu makan banyak begitu, kenapa nggak gemuk Yun?"
"Berenang..." jawabnya singkat, "kamu musti makan sesuatu, kalau kamu nggak tertarik, kenapa tadi ngajakin kesini?" kali ini Yuni seperti ibu yang mengomel karena nafsu makanku yang turun.
"Kamu hamil malah makin kurus, kangen sama Raden Mas bangsawan?!"
"Cih, ngomong sembarangan."
"Tapi kalau dipikir lagi mungkin iya sedikit," aku mengambil sepotong telur dadar ukuran kecil, tebal dan penuh dengan isian sayur, "tapi meskipun aku merasa ingin mati karena rindu, aku pilih untuk mati dari pada mendatangi Mas Han."
Yuni memukul mulutku pelan dengan sendok, "kalau ngomong kira-kira, amit...amit," Yuni mengetuk meja beberapa kali.
"Apaan sih," aku majukan bibirku, "itu perumpamaan."
"Lagi pula kamu bodoh sekali, mana ada wanita yang mau merawat anak madunya dan membiarkan ibunya senang-senang."
"Ya...ya, aku naif, aku bodoh, gampang dimanfaatin."
Tiba-tiba masuk pesan dalam ponselku, "Yun pesan dari Sekar."
"Ah siniin, biar aku yang jawab, gila aja itu perempuan, masih ganggu kamu terus."
"Jangan...kenapa sih kamu, aku nggak mau panjang kata sama wanita ini."
__ADS_1
Yuni memajukan kepalanya pipinya hampir menempel di pipiku, tangannya yang belepotan saus Padang berusaha meraih ponsel yang aku pegang, "buka pesannya, aku pengen baca!"
"Iya, sabar," aku jauhkan tangan Yuni yang kotor, "jangan pegang hape aku, dasar jorok."
Aku buka pesan dari Sekar, kami membaca saling berdekatan.
Aku akan mengirimi kamu paket mbak. Tunggu saja.
"Apa maksudnya Yun?" aku memandang Yuni heran.
"Lah mana aku tahu, udah tunggu saja, dia bakal kirimi kamu apa."
Aku bergidik, sedikit ngeri dengan pesan yang terus kuterima dari Sekar, apa aku harus memberitahu Mas Han? Tentu saja tidak, tidak akan.
Yuni pergi ke kasir untuk membayar, dia melambaikan tangannya meminta aku mendekat, "apa?"
"Ibu sukanya apa?" sahabatku ini memang benar-benar luar biasa.
"Apa aja, ibu gak pernah rewel," aku mencomot satu bungkus cokelat yang disediakan di meja kasir.
"Sekalian bayar cokelat yang itu mbak."
Petugas kasir mengangguk sambil tersenyum. Kemudian tanganku kembali terulur mengambil permen gula asam dan manisan kering.
Kali ini kasirnya tertawa kecil, melihat muka Yuni yang sebal padaku, "kalau mau ambil sekalian, kasihan yang ngitung itu...nambah terus yang diambil."
Hari ini aku cukup terhibur. Ibu juga senang dibawakan macam-macam masakan Padang. Untuk sementara sambil menunggu rencana Yuni berjalan—yang aku sendiri masih bertanya-tanya, aku akan melamar di beberapa sekolah terdekat.
Aku tersenyum, menata rapi berkas ijazah dan data diri yang akan aku pakai untuk melamar pekerjaan.
"Menata berkas buat melamar pekerjaan Bu, ada sekolah dekat sini kan."
Derit suara kursi rias terdengar, ibu duduk di situ di belakangku, "jangan memaksakan diri Rum, tabungan ibu cukup untuk menghidupi kita bertiga."
Aku melihat ibu dan berhenti, meletakkan semua berkas yang tadi kupegang dan duduk di sisi ranjang.
"Rumi tidak apa-apa Bu, anak Rumi juga baik-baik saja tidak ada keluhan."
"Ibu tetap ingin kamu periksa kehamilan di rumah sakit, bukan ke bidan desa."
"Sayang uangnya Bu, kita periksa saja ke bidan desa, yang penting Rumi dan bayi Rumi sehat."
"Siapa yang akan kamu periksakan ke bidan desa!" kami berdua melihat ke arah pintu kamar.
Mas Han...
"Mau apa kamu kesini, ibu kan sudah bilang kamu jangan kemari lagi!" aura amarah terpancar jelas di wajah ibu.
__ADS_1
Mas Han menarik napas panjang dan dalam, "jangan cegah saya mengunjungi anak saya Bu, dalam perut Rumi ada anak saya."
"Siapa yang mengijinkan mu masuk ke rumah ini?"
"Saya masih suami Rumi Bu?!" wajah Mas Han terlihat putus asa. Rambutnya acak-acakan, jambang di pipi terlihat makin lebat.
Aku tak berani memandangnya, hanya melihatnya sekilas-sekilas. Aku memilih melihat ke arah lain, ada rasa sedih dan sakit menusuk dalam hatiku.
"Suami yang meragukan anaknya sendiri," ucap ibu sinis.
"Ibu salah paham dengan perkataan saya waktu itu."
"Salah paham?!"
"Saya hanya ingin menenangkan ibu saya Bu, saya tidak pernah meragukan Rumi sedikitpun."
Aku bergeming, tidak bergerak sedikitpun.
Langkah kaki Mas Han terdengar mendekat, "buat apa kamu menyiapkan berkas-berkas ini?"
"Bukan urusanmu mas!" aku masih tetap melihat ke arah lain.
"Ini urusanku Rum!!" teriakan itu membuat aku terkejut.
"Han!!" teriak ibu Tek kalah keras.
"Tolong saya Bu," Mas Han menjatuhkan tubuhnya ke lantai, "saya tidak akan kemana-mana kalau Rumi tidak mau mamaafkan saya."
"Saya butuh Rumi Bu..." aku melirik suamiku yang sedang berlutut di hadapan kami.
"Kalau kamu benci aku, aku bisa apa Rum...tapi jangan jauhkan aku dari anakku," kepala suamiku menunduk.
Ya Tuhan...apa yang terjadi padamu mas.
Tangan itu mengeluarkan sebuah buku tabungan dan ATM, meletakkannya di lantai.
"Tidak adil buat anak kita, kalau dia sampai hidup susah karena keegoisan kita, Rum."
Aku tak bisa lagi menahan tangisku.
"Biarkan anakku mendapatkan haknya, aku tak peduli pendapat orang lain, tapi anak itu adalah anakku,"
Mas Han berdiri, masih dengan kepala menunduk Mas Han melangkah keluar kamar, "berikan yang terbaik untuk anak kita Rum."
Ketika tubuh itu menghilang dibalik dinding, tangisku makin kencang. Aku serakkan semua berkas yang ada diatas ranjang. Dalam diam ibu mengambil dan mengumpulkan semua berkas kemudian meletakkannya di atas meja rias.
Air mataku makin deras, wajahku kututupi dengan kedua tangan. Aku merasakan ibu mendekat, memelukku dengan tubuh penuhnya.
__ADS_1
"Ibu...huhuhu..." aku menangis lagi sejadinya. Begitu pun ibu yang air matanya juga deras mengalir, kami berdua menangis tanpa bisa ditahan lagi.
...***...