
Pergelangan tanganku dipegang erat. Setiap kali aku minta untuk dilepaskan, Mas Han menggelengkan kepalanya.
"Tunggu mobilku datang."
"Iya, kita tunggu, tapi lepaskan dulu tanganku," jawabannya sama, menggeleng.
"Kamu memalukan Han," ekspresi Mas Juna mulai terlihat jengah.
"Aku memahami cintamu pada Rumi. Tapi kamu juga musti sadar dong, kalau Rumi itu bukan objek yang bisa kamu perlakukan seenaknya," ada kilat amarah di mata Mas Juna.
"Apa urusanmu?! Ini antara aku dan Rumi."
Haduh, jangan membuat aku malu Jangan bertengkar disini. Kalian berdua sudah dewasa kan...
Aku memohon pada Mas Juna tanpa bicara, hanya memandangnya dengan tatapan menghiba, jangan ladeni lelaki kekanakan ini.
"Sialan!!!" Mas Juna memutar tubuhnya dan menghembuskan napasnya jengkel.
"Sepertinya aku harus memberi batas yang jelas antara kamu dan Rumi," apalagi ini. Aku melihat wajah Mas Han yang memerah.
"Dengar Jun, Rumi adalah milikku. Tubuhnya, hatinya hanya milikku. Kami sudah pernah merasakan kenikmatan dunia bersama. Kamu boleh berharap tapi jangan berpikir akan memenangkan wanitaku!!!"
Aku terkejut, apa yang dia bicarakan? Aku menghentakkan tanganku dengan keras sampai terlepas.
"Apa maksudmu, mas?" menjengkelkan.
"Kalau begitu aku juga akan membuat batasan buatmu, mas. Dengar, kamu adalah mantan suamiku. Aku berhak menentukan jalan hidupku ke depan. Kenapa kamu begitu percaya diri bisa mendapatkan aku lagi!!"
Aku menarik tangan Mas Juna, "kita pulang!"
"Rum! Rum...maafkan aku!" teriak Mas Han.
Aku berjalan setengah berlari. Mas Juna mengikuti langkahku.
"Kenapa tempat parkirnya jadi jauh begini sih," sungutku.
"Rum...Rum," mas Juna menyambar tanganku, "berhenti dulu."
Jangan nangis...jangan nangis, tak urung air mataku menetes juga. Tangan kekar itu menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Aku mundur beberapa langkah.
"Aku malu," kutundukkan kepala dan menghapus pipiku yang basah dengan punggung tangan.
Dari jarak yang cukup jauh ini, aku bisa melihat Mas Han masih memperhatikan kami.
"Jangan malu, kita pernah jauh lebih dekat dari ini."
Mas Juna menyentuh daguku, aku mendongak. Mata itu ada disana memandangku teduh, senyum itu menghangatkan hatiku. Senyum yang terkembang di bibirnya membuatku ikut tersenyum
"Nah, begitu dong, sekarang kita pulang."
Aku mengangguk, rasa kesalku sedikit berkurang. Mas Juna tak pernah berubah, dia selalu baik dan memahamiku. Dia menjadi orang yang tepat untuk mengerti dan menemani aku dalam situasi yang enggak banget seperti tadi.
...***...
__ADS_1
Juna POV
Malam ini aku susah tidur. Sehabis mengantarkan Rumi ke rumah mantan mertuanya, wajahnya selalu terbayang. Rasanya tidak sabar untuk menanti esok tiba.
Seumur hidup penyesalanku hanya satu. Aku terlambat mengutarakan cintaku pada Rumi. Waktu aku tahu kalau sahabatku sendiri mencintai wanita yang sama, aku merasa lebih baik aku mengalah.
Nehan memiliki kondisi ekonomi lebih baik dariku, dia pasti bisa membahagiakan wanita yang kucintai. Akhirnya aku pilih untuk mundur teratur membiarkan Rumi dimiliki Nehan.
Tapi ternyata aku salah. Bahagia tidak selalu tentang harta. Hidup Rumi yang berat aku dengar dari cerita beberapa orang. Termasuk aku saksikan sendiri kalau aku harus bertemu Nehan.
Sekarang aku tidak akan mengalah lagi. Aku akan memperjuangkan cintaku. Aku ingin membuat Rumi menjadi wanita yang paling bahagia diatas bumi. Membayar semua kesedihan yang dia alami selama bertahun-tahun karena kebodohanku.
Pagi ini aku memilih baju semi formal yang menurutkan pas untuk kupakai. Beberapa pasang pakaian tergeletak tidak karuan diatas ranjang. Setelah merasa cocok dan percaya diri, aku berangkat menuju rumah orang tua Nehan tempat Rumi menginap.
Bapaknya Nehan menyambutku ramah begitu juga dengan Rumi. Kalau aku tidak keliru mengira, Rumi senang melihatku. Beda dengan sahabatku sendiri.
Mulai dari aku datang, makan pagi sampai akan berangkat dia terus-terusan membuat drama yang menurutku tidak lucu sama sekali.
Mungkin memang benar cemburu bisa membuat orang menggila. Tapi Nehan nggak kira-kira. Ketika sampai di rumah sakit, waktu melihat Nehan dan Rumi saling menguatkan membuat hatiku panas. Tapi sekuat tenaga aku berusaha menahan diri. Aku tidak mau membuat keributan bikin malu.
Waktu pulang pun sama. Menyebalkan sekali sikapnya. Dia seperti menjilat lagi ludah yang dia buang sendiri.
"Masih marah?" tanyaku, melihat wajah Rumi yang masih cemberut.
"Dia itu lelaki yang paling menyebalkan kamu tahu, mas. Aku heran bagaimana dulu aku bisa jatuh cinta padanya."
Baiklah, ceritakan semuanya Rum. Aku akan menjadi pendengar yang baik.
"Laki-laki yang paling tidak konsisten yang pernah aku kenal. Nggak bisa pegang janji, plin-plan dan nggak tahan godaan."
"Lain kali aku tidak akan mau lagi satu ruangan dengan laki-laki dewasa tapi berjiwa bocah itu, memalukan."
Kamu tahu Rum, ketika kamu menceritakan Nehan dengan penuh perasaan dan berapi-api seperti ini ada sakit disini, di hati ini. Tapi aku akan menutupi sakitku dengan baik. Aku hanya harus menunggumu melepaskan sahabatku dengan sabar.
"Sudah selesai, Rum?"
"Hem," jawab Rumi menampilkan senyum yang selalu kurindu.
"Kalau mau curhat bilang saja, aku akan mendengarkan dengan senang hati."
"Sebenarnya aku malu, aku bukan lagi seorang anak baru gede yang mengenal cinta. Tapi sekarang aku beneran galau, mas. Maafkan aku ya."
Aku bisa apa selain mengangguk Rum. Aku akan berusaha mengerti.
"Apa kau yakin tidak ingin kembali sama Han lagi, Rum?"
"Yakin, mas. Aku takut dibohongi lagi."
"Rum, itu ibu kenapa tengok kanan kiri sambil gugup begitu?"
Mendekati rumah, aku melihat Bu Narmi, ibunya Rumi berdiri di depan rumah tengok kanan kiri sambil menjinjing bagian bawah gamis nya.
"Iya, kenapa ya mas?"
__ADS_1
Ketika melihat kami datang, Bu Narmi langsung mendekati mobil.
"Rum..."
Beliau menyambut kami bahkan sebelum kami keluar dari mobil. Dengan wajah pucat karena gugup dia memanggil Rumi.
"Ibu kenapa?"
"Rum, Ken Rum..."
"Kenapa Ken, Bu?"
Rumi berlari masuk rumah. Aku mengikutinya dari belakang. Sambil berjalan aku bertanya pada Bu Narmi apa yang sedang terjadi.
"Ada apa Bu?"
"Ibu tidak tahu, tiba-tiba Ken badannya panas, bahkan tadi sempat kejang-kejang."
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang Bu."
Aku bergegas masuk rumah. Mencari mbok Nah. Untungnya wanita sepuh itu sudah menyiapkan semuanya.
"Sudah siap mbok?"
"Sudah den, bagaimana ini den..."
Ken sudah dalam gendongan Rumi. Dia wanita yang tegar, aku tahu betapa takutnya dia tapi dia sama sekali tidak menangis.
"Aku ke mobil, mas."
Aku mengangguk. Aku minta mbok Nah untuk membawa tas ke dalam mobil dan meminta ibu untuk tetap di rumah. Aku berlari mendahului Rumi menuju mobil.
Aku buka pintu bagian depan. Setelah Rumi duduk aku pasangkan seat belt sekalian untuk keamanan.
"Rumah sakit terdekat, Rum?"
Rumi mengangguk, "akan aku tunjukkan jalannya mas."
Mobil kupacu kencang. Beberapa kali aku melirik bayi kecil yang berada dalam gendongan ibunya itu untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Are you okay Rum?"
"I Will be fine, mas. Kalau kita segera sampai di rumah sakit."
Sampai di rumah sakit dengan sigap Rumi melepas seat belt dan membuka pintu mobil tanpa menungguku. Aku meninggalkan Rumi untuk memarkirkan mobil lalu berlari menuju IGD.
Rumi berdiri mematung dengan satu tangan di dada dan tangan yang lain di dagu. Sejenak aku ragu apa yang harus aku lakukan. Tapi aku singkirkan semua keraguan dan berdiri tepat di sebelah wanita yang kucintai. Entah sadar atau tidak Rumi menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Adik Ken baik-baik saja ayah ibu, tapi adik Ken harus rawat inap untuk observasi ya," saran dokter kepada kami
Rumi mengangguk tanpa suara tanpa kata. Setelah dokter pergi meninggalkan kami. Tubuh Rumi hampir jatuh kebawah.
"Rum..."
__ADS_1
Aku berusaha menahannya, tapi dari belakang ada tangan lain yang juga berusaha menahan tubuh Rumi, dan dari suaranya aku tahu itu siapa...
...***...