Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 12


__ADS_3

"Kenapa kamu meninggalkan anak itu sendirian mas, kalau ada apa-apa bagiamana? ibu bisa marah tahu mas."


"Ibu lagi...ibu lagi, Rum...,berhentilah menyebutkan kata ibu, ketika kita berdua," wajah Mas Han kelihatan sekali kalau kesal.


"Okay...aku akan berhenti menyebut nama ibu, tapi jangan cari masalah terus. Setiap kali kamu membuat ulah, ibu marahnya sama aku mas."


"Jadi aku harus nurut apa kata ibu, ya sudah kalau begitu, aku akan kembali sekarang ke tempat bulan madu terkutuk itu dan tidur dengan perempuan yang disediakan ibu untukku," bisik mas Han dengan tatapan mata tajam.


Mas Han akan melangkah keluar dengan wajah kesal. Aku segera memegang tangannya, memberinya tatapan imut, "jangan, kamu disini saja, tapi aku akan tetap memintamu menjemputnya."


"Jangan bercanda kamu Rum, memintaku disini tapi menjemputnya?"


"Bukan begitu, maksudku__"


"Siapa yang dijemput Rum, siapa yang mau kesini?" aduh, aku tidak sadar kalau ibu berhenti menjahit beberapa saat yang lalu.


"Bukan siapa-siapa Bu," jawabku cepat.


"Kamu sih, membuat aku emosi saja, jadinya ibu dengar itu."


"Maaf," ucapku tanpa suara sambil menangkupkan dua tanganku di depan dada.


"Kalau begitu begini mas, kita akan jemput Sekar kalau sudah waktunya pulang."


"Kita?" tanya Mas Han. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


"Ya, kita, aku dan kamu. Sekarang kamu hubungi Sekar, beberapa hari lagi kita akan menjemput dia."


"Mmm masalahanya aku tidak punya nomor telepon anak itu."


"Ha...ha...ha, kasihan sekali anak itu. Keterlaluan kamu, nomor istri sendiri__," aku berhenti bicara, "istri...?! mas kok perasaanku nggak enak menyebut dia istri, kalau aku menyebutnya anak itu, kamu bakal tersinggung nggak?"


"Nggak lah, kenapa musti tersinggung, mulai sekarang kita sebut anak itu dengan sebutan anak itu."


...***...


Hari ini hari ke-tiga Mas Han menginap bersamaku. Setiap kali aku memintanya untuk menjemput Sekar selalu dijawab, belum waktunya, biar anak itu puas liburan dulu.


Hari ini aku melihat Mas Han pergi menjauh untuk menerima telepon. Meskipun aku tidak tahu, tapi aku bisa menebak siapa itu. Wajahnya memerah, bahkan tengannya memukul udara setelah dia menutup teleponnya. Aku siap mendengarkan apapun ketika dia berjalan mendekatiku.


"Rum, siapkan semua kebutuhan kita. Kita akan jemput anak itu dengan penerbangan paling pagi besok."


Tanpa banyak bicara aku mengikuti perintahnya, dia pasti sedang kesal sekarang, jadi aku tidak mau membuat keadaan lebih buruk lagi.

__ADS_1


Selama menginap disini Mas Han tak pernah sedikitpun mau menjauh dariku, begitu juga malam ini, dia melampiaskan semua kekesalannya padaku.


Tubuh kami basah oleh peluh, kami sudah tidak berpijak lagi diatas bumi. Tak tahu lagi sekarang ini kami berada di lapisan langit ke berapa.


"Jangan bersuara terlalu keras mas, ehm...," ucapku diantara *******.


"Aku mencintaimu Rum, sangat mencintaimu, mengapa kamu memintaku menikahi anak itu," ucapannya meracau, tangannya menyentuhku dimana saja dia mau, tubuhnya bergerak berusaha mencapai nirwana, bibirnya menciumi tubuhku tanpa jeda.


"Maafkan aku, mas, maafkan aku," bersamaan dengan terucapnya kata maaf, kami mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.


Tubuh mas Han jatuh diatas tubuhku, "bagaimana aku bisa melakukan ini dengan gadis itu Rum? bagaimana aku bisa?"


Aku tak bisa lagi mengucapkan kata maaf karena aku sudah mengucapkannya puluhan kali. Aku hanya memeluk tubuh Mas Han dalam pelukanku, kepalanya bersandar di dadaku. Tubuh polos kami meleleh dalam balutan peluh. Kalaupun aku menyesal, apakah ada gunanya sekarang?


...***...


Pagi ini kami bangun lebih awal dari biasanya. Perjalanan menuju bandara membutuhkan waktu sedikit lama. Kami memutuskan untuk menyewa mobil salah satu tetangga untuk menuju bandara.


Perhitungan waktu yang dilakukan mas Han juga luar biasa, ketika kami tiba di bandara kami bisa langsung terbang menuju ke tempat dimana gadis itu berada.


"Meskipun kita kesana untuk menjemput anak itu, aku ingin kamu menikmati kepergian kita kali ini, Rum. Aku tidak mengatakan kalau ini pengganti bulan madu kita, karena itu akan terdengar sangat kejam."


Aku tersenyum, tidak menjawab kalimat Mas Han, aku tidak ingin mood nya memburuk. Diam-diam aku baru menyadari kalau ini pertama kalinya aku naik pesawat, ternyata pemandangan dari atas sini begitu luar biasa.


"Kemarin ibu telepon anak itu, Rum."


"Ibu bilang dia tidak menyebutkan apapun tentang kepergian ku."


Aku diam, tapi aku jadi teringat telepon dari ibu beberapa hari yang lalu. Jelas sekali ibu bilang kalau anak itu memberitahu ibu Mas Han datang padaku. Meskipun anak itu sepertinya tidak dengan sengaja mengadu.


"Ibu bilang, anak itu meminta ibu untuk tidak marah padaku, dia juga bilang kalau dia juga butuh waktu menerima pernikahan ini dengan segala situasinya. Dia bilang, dia juga butuh waktu untuk sendiri."


Manis sekali kata-katanya.


"Tapi kamu tahu ibu kan, Rum? kemarin ibu telepon sambil marah dan memintaku untuk menjemput anak itu, aku mengiyakan saja karena telingaku panas mendengar omongan ibu yang tidak jelas dan terus mengulang hal yang sama, menjengkelkan."


Ibu pasti menghinaku lagi, karena itu kamu marah, dan ibu melimpahkan semua kesalahan padaku.


"Nanti kalau kamu bertemu anak itu, kamu harus bisa menahan diri, Rum. Kalau aku pikir-pikir dia juga korban dari keegoisan ibu, sama seperti kita."


Aku menyentuh tangan suamiku dan mengangguk. Kamu mulai mengubah sudut pandangmu mas, dan kamu tidak menyadarinya.


Ketika akhirnya aku sampai di tempat menginap anak itu, dia terlihat senang, seperti tidak terpengaruh dengan konflik yang sedang kami hadapi. Kami melihatnya dari jauh dan dia menikmati waktunya. Berjalan sendiri di sepanjang pantai yang letaknya tepat di area belakang hotel.

__ADS_1


"Lihat dia Rum, luar biasa sekali anak itu, bisa-bisanya dia terlihat bahagia dalam situasi seperti ini," wajah suntuk Mas Han kentara sekali.


"Jangan marah, Mas sendiri yang tadi bilang kalau dia juga korban dari keegoisan ibu," jawabku berusaha menenangkan.


"Keegoisan ibu dan kamu, Rum. Ingat itu, kalau kamu tidak memaksakan diri berusaha membahagiakan ibu, semua ini tidak akan terjadi."


Iya mas, iya...aku ingat, tapi aku tidak ingin mengucapkannya.


Aku berjalan mendekati anak itu," Sekar," teriakku memanggil. Dia menoleh dengan cepat, memberikan senyum manisnya, mendatangi aku dengan cepat.


Dia merentangkan tangannya dan memberiku pelukan hangat, "akhirnya mbak datang juga."


"Kamu tahu aku akan kesini?" tanyaku.


"Mas Nehan pasti mendatangi mbak waktu dia pergi dari sini, dan pasti dia akan memintamu ikut waktu ibu menyuruhnya menjemputku."


Dia anak yang cerdas, bukan perempuan lemah, dari sudut pandangku aku tahu dia sangat paham apa yang dia inginkan dan dia akan memperjuangkannya.


"Mana laki-laki lemah itu?"


Laki-laki lemah?


"Bilang pada suami kita itu mbak. Harusnya dia menolak ketika ibu memaksanya menikahiku, bagaimana kalau suatu saat nanti dia akan menjadi lemah menghadapiku?"


Apa...!?


"Aku yang memintanya menikahimu," dia menuruti aku bukan ibu. Apa kamu sedang mengukur kekuatanku?


"Berarti mbak tidak secerdas kelihatannya, kenapa mbak membiarkan suami mbak menikahi perempuan lain, apalagi mbak yang memintanya. Padahal mbak sendiri yang bilang, satu-satunya fluktuasi yang tidak bisa diprediksi adalah hati, bagaimana kalau hati suami mbak naik turun karena aku?"


Belum sempat aku menjawab, anak itu berjalan menjauh dan mendekati suami ku. Dari jauh aku melihatnya merentangkan tangan, dan memeluk suamiku yang berdiri kaku dengan tatapan mata menyala memandangku.


Sekarang aku baru menyadari, anak itu memang seperti kelihatannya, tidak ada sedikitpun yang dia sembunyikan. Aku terdiam kaku melihat sikapnya kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.


Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu di depanku, padahal aku juga istri suaminya.


Mampukah aku mengimbangi permainanmu yang lain? Bahkan sekarang saja aku sudah terbakar api cemburu dan tidak bisa mengendalikan diriku.


...***...


Kamu sendiri yang cari masalah Rum.


Hai...selamat membaca ya, kalau selesai membaca kemudian kalian memberi like dan komen, itu salah satu penyemangat buat author cepat nulis episode selanjutnya.

__ADS_1


Kritik dan saran juga boleh.


Lope You all readers 🥰


__ADS_2