
Pemakaman Bu Ajeng baru saja usai. Anak-anak bersama ibu dan suster Eny berada di apartemen sejak kemarin. Rasa lelah yang luar biasa aku rasakan membuatku ingin menyusul mereka, tapi kondisi bapak membuatku menahan diri.
"Kamu ke apartemen saja, bapak tidak apa-apa."
"Biar diantar Nehan, nanti kalau sudah ngantar kamu, biar dia balik kesini."
"Apa perlu Mbok Nah saya suruh tinggal disini pak?"
"Lagipula sudah ada ibu yang merawat Ken dan ada suster Eny yang merawat Lita."
"Nggak usah, lelaki tua seperti bapak ini tidak butuh apa-apa lagi. Di sini juga banyak abdi, kamu lebih membutuhkan tenaga Nah dari pada bapak."
"Kalau kamu nekat mau tinggal, bapak malah merasa jadi beban."
"Bapak ih..."
"Sudah sana!"
Dengan berat hati akhirnya aku mengikuti saran bapak. Tapi sebelum pergi aku memberi banyak pesan pada abdi di rumah yang nantinya akan merawat dan menemani bapak.
Mas Han mengantarku menuju tempat anak-anak. Selama perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan. Dia hanya berhenti sebentar sekedar menurunkan aku.
Kunci apartemen mengeluarkan bunyi khas tit tut sebelum pintu terbuka. Ibu menyambutku di depan pintu dengan wajah penasaran yang tidak bisa ditutupi.
"Piye Rum?" [bagaimana Rum]
"Apanya Bu?"
"Lah kowe iki piye to Rum, yo kuwi wedok gatel sing marai Bu Ajeng ninggal."
[Lah kamu ini bagaimana Rum, ya itu perempuan gatal yang membuat Bu Ajeng meninggal]
"Ibu ngomong apa sih," aku meninggalkan ibu yang terus bicara dan masuk kamar, melihat Ken tidur nyaman, hatiku tentram, "mana sempat kita mikir masalah Sekar."
Aku beralih menuju kamar tamu tempat suster Eny menidurkan Lita.
"Perempuan itu musti tertangkap Rum."
Aku membuka pintu, "iya pasti nanti ketangkap."
Suster Eny tersenyum padaku dan mengangguk waktu melihatku melongok ke dalam kamar, "Lita rewel?" tanyaku.
"Tapi kalau nggak ditanyakan nanti prosesnya lama Rum."
Suster Eny menjawab kemudian, "tidak Bu, Lita anaknya memang selalu anteng."
Aku mengangguk tidak lupa memberi senyum dan menutup lagi pintu kamar. Biar Lita dan suster Eny melanjutkan tidur siangnya.
"Rum!" teriak ibu sambil memukul pundakku.
"Ibu ih."
"Ibu nanya, kamu jawabnya setengah-setengah, sebel ibu."
"Dari datang diikuti kemana-mana malah cuek."
Aku menghela napas terus tersenyum, wanita yang paling aku cintai ini kalau sedang kepo memang harus segera dipuaskan. Kupeluk tubuh ibu erat.
"Sabar lah sebentar. Ayo, masuk kamar Bu."
Ibu berjalan membututiku. Kami masuk kamar tempat Ken tidur.
"Bagaimana..." tanya ibu sambil menepuk sisi kasur memintaku duduk.
"Sejak kemarin kami masih belum membahas tentang Sekar."
__ADS_1
"Kami masih sibuk mengurus jenazah ibu."
Ibu menghela napas, "pasti kasihan bapaknya Nehan."
"Dua-duanya kasihan ibu. Bapak terguncang karena kehilangan dan Mas Han terguncang karena perasaan bersalah."
"Ya begitulah Rum, sejahat apapun seseorang tapi kalau yang meninggal keluarga pasti akan merasa kehilangan."
Raut sedih muncul di wajah ibu ketika kami membicarakan Bu Ajeng.
"Maafkan semua kesalahannya Rum. Kamu tahu kan kalau tidak ada manusia yang sempurna. Kalau dulu dia pernah menyakiti kamu semasa hidup, lupakanlah."
"Seburuk-buruknya Bu Ajeng pasti dia pernah meninggalkan kenangan manis untuk keluarganya."
Aku hanya mengangguk. Meskipun ingin protes tapi tidak aku lakukan. Karena memang selama menjadi menantu Bu Ajeng, sikapnya tak pernah sekalipun manis padaku. Yang ada hanya memerintah ini itu, memintaku melakukan apapun tanpa pernah menimbang perasaanku.
"Ibu tahu apa yang ada dalam hatimu. Meskipun kamu mengangguk, tapi wajahmu itu menunjukkan rasa tidak suka. Yang ikhlas Rum, kalau memaafkan."
"Hahaha, iya...iya."
"Rumi mau mandi dulu, capek Bu mau nyusul Ken ke pulau kapuk." dan ibu mengangguk melihatku menuju kamar mandi.
...***...
Beberapa Minggu kemudian
Sekar POV
"Bangun mbak, jangan cuman tidur. Sudah hidup nunut, makan minta, kalau belum siang nggak mau bangun."
Wanita muda itu sengaja menggebuk-gebuk sisi kasur menggunakan sapu lidi yang biasa digunakan untuk menghalau debu yang menempel.
Terpaksa aku membuka mata karena ujung-ujung sapu beberapa kali menyentuh kakiku dan rasanya sangat tidak nyaman.
"Iya...iya!"
Wanita itu melihatku jijik, "dibangunkan dengan cara sopan? emang bisa?! orang dibangunkan dengan cara seperti ini saja kamu sebentar lagi tidur lagi!" matanya melotot ke arahku.
Sialan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Aku berharap akan diperlakukan dengan baik di pelarianku, karena rumah ini milik paklek Broto. Ternyata aku salah. Ternyata yang dititipi merawat adalah orang-orang yang sudah tua, maka tanggung jawab diserahkan kepada dua anaknya.
Yang satu perempuan, judesnya minta ampun. Yang satu laki-laki seremnya nggak ketulungan. Keduanya belum menikah.
Pernah satu kali aku melawan, aku malah tidak diberi makan. Uang yang aku miliki dari bekal yang diberi paklek hampir habis. Sejak awal datang sudah aku belanjakan untuk kebutuhan perawatan kulit dan baju.
"Mulai besok aku akan berhenti mengantarkan makanan ke rumah ini," ucap wanita itu lagi sambil terus membersihkan rumah. Mataku melirik mengikuti gerakannya.
Tiba-tiba dia berjalan mendekat sambil melotot padaku.
"Jangan harap aku akan bisa bersikap baik padamu karena rumah ini milik Pak Broto."
Aku memundurkan kepalaku berusaha memberi jarak. Napasnya yang bau terasi memenuhi lubang hidungku dan membuatku mual.
"Kalau kau lapar dan ingin tetap makan, cari cara untuk dapat uang."
Wanita itu memundurkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya membersihkan pakaiannya dari debu.
"Aku pergi, hari ini kamu bisa makan dari ku. Di meja sudah ada rantang berisi nasi dan lauk untuk satu hari."
"Untuk besok, jangan harap aku akan membawakan kamu makanan lagi."
Wanita itu pergi keluar kamar tanpa melihatku untuk kedua kali. Aku meremas tanganku, "aaaa...sialan!" teriakku.
"Jangan teriak, aku bisa mendengarnya!"
"Kamu yang sialan, datang tak diundang, minta makan pula, merepotkan!" teriaknya makin lama makin jauh.
__ADS_1
Aku memukul kasur berkali-kali. Mengacak rambutku sendiri.
Aku memutar otak. Tidak bisa terus begini, aku tidak bisa menggunakan ponsel untuk menghubungi lek Broto. Aku musti cari cara buat minta kiriman uang lagi.
Setelah mandi dan makan, aku berdiri dekat jendela. Terlihat laki-laki dari perawat rumah sedang membersihkan kebun. Dia memakai celana hitam selutut, kaos kombor yang diberi luaran berwarna hitam juga, sepertinya pasangan dari celana yang dipakai. Topi Capil hampir menutupi sebagian wajah seramnya.
Aku tidak bisa menebak usianya. Yang jelas dia lebih tua dari adik perempuannya yang judes itu. Wajahnya terlihat seram karena dia pelit senyum dan ada kumis yang melintang diatas bibirnya.
Sepertinya dia tahu kalau aku sedang memperhatikan. Beberapa kali dia mencuri pandang kearahku yang berdiri di dekat jendela kamar.
Ah...aku punya ide. Kalau aku minta tolong padanya untuk menemui paklek kira-kira dia mau nggak ya? Aku tersenyum sendiri. Yang penting dicoba dulu.
"Mas," teriakku sambil melambaikan tangan. Dia mengangkat kepalanya tapi kemudian kembali merunduk.
"Ih sialan," baru kali ini aku dicueki seseorang.
"Woi, mas!" teriakku sekali lagi. Eh dia malah mengambil sabitnya dan pergi dari menuju belakang.
"Ergh...dasar orang udik, nggak mau uang kali orang itu!"
Tiba-tiba di belakangku ada suara memanggil, "ada apa mbak."
Aku terkejut setengah mati, badanku terlonjak dan hampir jatuh terjengkang, tapi tangannya dengan sigap menahan tubuhku.
Kali ini aku jelas melihat wajahnya, karena jarak kami begitu dekat. Ternyata wajah itu benar-benar menyeramkan, ada luka codet di sepanjang pipi kirinya. Karena takut aku bergerak cepat menarik tubuhku dan dia melepaskan tangannya. Jadilah aku benar-benar jatuh ke belakang.
"Aduh!"
"Maaf, mbak." ucapnya sambil menundukkan wajah.
"Bantu saya," ucapku tanpa basa-basi sambil berusaha berdiri.
Dia memandangku dengan heran, "mbak minta bantuan saya?" suaranya terdengar ragu, "Kan bisa berdiri sendiri."
"Bukan membantu berdiri, tapi bantuan yang lain."
Setelah menunggu beberapa saat tapi tidak ada jawaban aku melanjutkan, "pergilah ke rumah lek Broto untukku."
"Aku ingin kamu mengirimkan surat untuknya."
"Surat?" Tanyanya heran.
"Jaman modern begini pakai surat?"
"Kenapa tidak menghubungi ponselnya saja," suaranya dalam dan serak.
"Aku tidak bisa menggunakan alat komunikasi apapun dengan lek Broto."
"Surat pun aku tidak bisa mengirimkannya lewat pos."
"Kalau kamu bersedia, aku akan memberimu imbalan," aku menunggu reaksinya.
"Imbalan apa yang akan kamu berikan?" ujung bibirnya terangkat sedikit, seringainya cukup menakutkan.
"Uang lah, apa lagi?!"
"Aku belum tentu membutuhkan uangmu."
Apa maksudnya itu, aku mengernyit. Memangnya ada bentuk imbalan yang lain?
"Aku akan membantumu, masalah imbalan kita bicarakan nanti."
Senyumku merekah, "baiklah."
Aku tak peduli apa yang akan dia minta dariku nanti. Aku hanya ingin bertahan hidup dalam pelarianku ini. Untuk bekerja kasar tentu saja aku tidak bisa. Bekerja kantoran? mana ada kantor di desa terpencil begini.
__ADS_1
Semua hubunganku dengan modernisasi terputus. Ponsel, ATM dan internet, aku tak bisa menggunakannya lagi. Barang-barang itu riskan digunakan karena bisa melacak keberadaanku. Lagi pula mana ada ATM apalagi sinyal internet. Jadi mengirim orang ke rumah paklek adalah satu-satunya cara untuk menghubungkan aku dengan dunia luar.
...***...