Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 98


__ADS_3

Sekar POV


Aku terkejut setengah mati ketika melihat suster Eny ada di panti tempat Mbak Rumi bekerja. Awalnya aku takut kalau dia akan membongkar rahasia kami. Jadi aku hanya berani memandangnya saja tadi.


Sekarang setelah bisa berpikir tenang, aku menemukan ide yang lebih baik dari pada menghindar. Kenapa tidak aku manfaatkan saja keberadaannya disana.


Kalau aku bisa memanfaatkan dia, aku bisa mengetahui semua aktifitas Mbak Rumi. Aku juga bisa tahu kapan Mas Han berkunjung.


Aku membuka ponselku mencoba menghubungi nomor lama milik suster Eny. Semoga saja nomor teleponnya masih sama.


Beberapa saat aku mencoba menghubungi ternyata yang terdengar hanya voice mail yang bunyinya nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Kurang ajar, ternyata dia sudah mengganti nomor teleponnya.


Untungnya aku masih menginap di losmen sekitar kampung Mbak Rumi, jadi mudah bagiku untuk menguntit dan mengamati siapapun yang aku mau. Aku memang sengaja menunda kepulanganku, aku pikir aku harus melonggarkan sesaknya dadaku karena sakit hati.


Tekadku bulat, wanita itu juga harus merasakan kehilangan yang aku rasakan. Enak sekali dia bisa hidup damai padahal aku merasakan kehilangan yang besar.


Untuk transportasi aku menyewa mobil yang disediakan losmen tempatku menginap. Sebenarnya aku bisa mengendarai sendiri, tapi karena belum begitu paham dengan daerah sekitar, aku memilih untuk disediakan mobil sekalian drivernya.


Setelah berpikir semalaman, pagi ini aku memutuskan untuk mengikuti suster Eny. Menunggu kesempatan suster Eny keluar panti, lalu aku akan menyergapnya. Paling tidak aku harus tahu no teleponnya yang baru.


"Pak, cari tempat untuk parkir mobil biar tidak kelihatan," drivernya aku pesan untuk berhenti sedikit jauh dari panti, jadi tidak terekam kamera CCTV.


Driver membawa mobilnya parkir di tempat agak jauh dari panti. Aku duduk-duduk di warung yang kebetulan letaknya di depan panti.


Dari posisi sekarang aku duduk aku bisa melihat nama panti terpampang besar di depan gedung yang lumayan megah. Hatiku rasanya nyelekit melihat keberhasilan mantan istri suamiku itu.


Memang benar kata orang menunggu menjadi pekerjaan yang membosankan. Belum lagi tatapan curiga pemilik warung yang beberapa kali bertanya. Siapa namanya, darimana asalnya, sampai-sampai aku jengkel dan akhirnya malas menjawab.


Kalau hari ini aku belum bisa menangkap Suster Eny, aku akan kembali keesokan hari dan begitu seterusnya. Tapi untuk melakukan itu aku perlu tempat sembunyi yang berganti tiap hari agar tidak mengundang kecurigaan orang lain. Semoga hari ini aku bisa menemuinya, agar tidak makin merepotkan.


Dua jam kemudian aku melihat pintu gerbang panti terbuka. Suster Eny keluar dari sana. Aku bergegas berlari menyeberang jalan.


"Mbak belum dibayar minumannya," aku memukul kepalaku, ah...bagaimana bisa aku lupa.


Aku memberikan satu lembar uang berwarna biru, sambil berbisik, "ambil kembaliannya, tapi jangan cerita ke orang lain kalau saya duduk lama disini."


Mata pemilik warung seperti tidak terima dengan permintaanku dan ingin membantah. Tapi aku tak peduli, aku bergegas menyeberang jalan untuk mengikuti suster Eny.


"Suster!!!" lantangku.


Suster Eny menoleh ke belakang tapi hanya sekedar melihat kemudian memalingkan wajahnya kembali ke depan dan mempercepat langkah.


"Sialan!" umpatku pelan. Berkali-kali aku hampir jatuh karena high heel yang kupakai. Menyesal tadi dandan cantik, dimana pula otakku, mau nguntit orang dandanannya maksimal begini.


Kuhentikan langkahku dan merunduk, melepas high heel yang mengganggu, kutenteng dengan tangan kiri kemudian kembali mengejar. Kusambar tangannya dan kutarik sampai wanita berbaju putih itu menghadap padaku.


"Jangan pura-pura tuli!" sergahku emosi.

__ADS_1


Dia memandangku tajam kemudian tersenyum penuh percaya diri seperti biasanya, "anda memanggil saya nyonya? apakah saya mengenal anda?"


Ingin kuremat saja wajahnya, bisa-bisanya dia mengatakan itu setelah apa yang kami lakukan berdua.


"Aku yakin kamu masih ingat apa yang kamu lakukan pada anakku!"


Tangannya masih kucengkeram, aku akan pastikan dia tidak bisa melepaskan diri sebelum maksudku tercapai.


"Maaf nyonya, pasien yang saya rawat banyak, mana mungkin saya ingat satu persatu."


Apa?!! aku mengeluarkan cutter, kutempelkan pada punggungnya, kupaksa wanita ini ke tempat sepi. Aku tidak mau ambil resiko kalau ada yang melihat. Dia langsung diam dan menurut. Setelah sampai di sebuah gang sempit di belakang gedung aku berhenti. Menjauhkan cutter dari punggungnya kemudian memutar badannya agar menghadap padaku.


"Berapa orang yang anda mintai uang untuk meluluskan permintaan mereka!"


"Maksud nyonya?"


Pakai pura-pura bodoh pula. Apa dia habis tertabrak truk jadi sekarang amnesia?


"Hah, masih juga berlagak bloon, kamu menerima uangku untuk menyembunyikan anakku, tapi kau malah membunuhnya!" aku tunjukkan amarahku melalui mataku yang menatapnya tajam.


Suster Eny melihat lurus padaku lalu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti sedang mengamati sesuatu.


"Oh...anda nyonya!" kemudian dia tertawa keras tapi terdengar fals di telingaku.


"Anda sangat berubah nyonya, maafkan saya."


"Saya tidak basa-basi nyonya, kalau saya tahu tadi itu anda, pasti saya akan langsung berhenti dan meminta uang lebih banyak untuk tutup mulut."


Tenang sekali wanita ini berucap. Minta uang. memangnya aku bank, seenaknya saja.


"Bukan kamu yang harus aku layani, tapi kamu harus menuruti apa permintaanku."


Mau menjawab apa coba.


"Saya harus melayani anda nyonya, yang benar saja. Pekerjaan saya sudah sangat menyita waktu. Saya tidak punya waktu untuk meladeni kegilaan anda nyonya, maafkan saya."


Apa?! berani sekali dia. Wanita itu bergegas memutar tubuhnya dan akan pergi meninggalkanku. Kriminal sejati, apa dia tidak takut dengan ancamanku tadi.


"Hai kriminal!" teriakku.


Wanita itu berhenti sebentar kemudian melanjutkan langkahnya.


"Aku akan bilang sama pimpinanmu kalau kamu seorang kriminal yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan uang!" aku mengatakannya dengan suara yang makin keras, biar di dengar orang sekalian.


Kali ini wanita berbaju putih itu berhenti. Memutar badan kemudian mendekati aku. Matanya melihatku dengan aura mengerikan, aku mundur beberapa langkah karena merasa harus melindungi diri. Bagaimana kalau dia ingin menyakitiku atau...membunuhku? mengerikan sekali membayangkan hal itu.


Suster Eny meraih atasanku dan menariknya mendekat, aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya, "sampaikan saja kalau berani, jangan pikir kamu menakuti aku. Aku lebih menakutkan dari yang kamu pikirkan."

__ADS_1


Aku mundur lagi ketika dia melepaskan bajuku. Hatiku gentar, melihat reaksinya yang seperti ini rasanya sulit bagiku untuk kembali memanfaatkan keberadaan Suster Eny. Tapi aku memutuskan untuk mencobanya.


"Aku akan memberimu uang yang banyak kalau kamu mau melakukan yang aku pinta," bisikku tepat di telinganya. Meskipun kakiku gemetar aku tidak memperlihatkannya.


Lagi-lagi dia tersenyum. Layaknya senyum psikopat yang biasa membunuh orang.


"Berapa yang akan kau beri?" tantangnya.


"Berapapun yang kau minta!" jawabku merasa mendapat angin segar.


"Kalau aku minta bayaran dengan nyawamu, apakah kamu akan memberikannya padaku?"


Pertanyaan gila, aku gemetar lagi, kali ini aku mundur lebih jauh dari sebelumnya.


"Aku hanya memintamu untuk melapor padaku tentang siapa saja yang berkunjung kemari dan semua kegiatan pimpinan yayasan yang ada disini!" hanya melakukan itu, kenapa bayarannya harus nyawa?


"Hanya itu? sepertinya tawaran itu sangat menarik."


Aku tertawa dalam hati, sekali jadi kriminal ternyata selamanya akan seperti itu, mudah sekali membeli orang ini dengan uang.


"Tapi sebelum aku bersedia, aku ingin tahu dulu apa masalahmu dengan pemimpin yayasan tempatku bekerja."


Aku diam sebentar, mencoba meraba kenapa dia ingin tahu apa masalahku dengan Mbak Rumi. Buat apa dia ingin tahu, tapi kalau dipikir-pikir lagi mana ada orang yang mau melakukan sesuatu tetapi tidak dijelaskan lebih dulu maksudnya apa. Oke lah aku akan beri tahu garis besarnya saja, aku tidak mungkin bercerita kalau aku ingin sedikit bermain dengan Mbak Rumi.


"Kami memiliki suami yang sama," jawabku.


Aku menunggu, tapi ternyata reaksinya biasa saja.


"Oh...karena cemburu."


"Apa kau tahu kalau pimpinanmu itu sudah bercerai?" siapa tahu aku bisa mengorek sedikit informasi, barangkali kalau berita perceraian Mas Han dan Mbak Rumi bohong belaka.


"Saya tidak pernah mengurusi orang lain nyonya. Apalagi Bu Rumi pimpinan saya dan beliau sangat baik kepada saya."


Jawabannya mengecewakan, mendingan aku tanyakan kesanggupannya sekali lagi untuk membantuku, "bagaimana, mau tidak membantuku?"


"Asalkan bayarannya sesuai kenapa tidak?" pucuk dicinta ulam tiba.


"Beri aku nomor teleponmu yang baru, setelah itu kita bicarakan langkah selanjutnya," jawabku mantap.


Suster Eny memberiku sebuah nomor. Aku simpan nomor itu di kontak telepon. Keinginanku untuk membalas makin menggebu. Hatiku sumringah, tunggu pembalasanku mbak. Aku ingin melihatmu menangis darah dan memohon untuk minta diampuni di hadapanku sambil berlutut, baru aku bisa tenang karena kita impas.


Baru saja aku merasa lega, tiba-tiba suster Eny mendekatiku lagi, "lain kali kalau mau mengancam seseorang menggunakan cutter, jangan lupa untuk mengeluarkan mata pisaunya lebih dulu."


Kemudian wanita itu pergi sambil tertawa terbahak-bahak.


...***...

__ADS_1


__ADS_2