
Ken dibawa ke ruang NICU. Kejangnya memang sudah teratasi, tapi untuk observasi yang lebih intensive, diputuskan Ken dirawat di ruang khusus. Dokter bilang itu dilakukan untuk memastikan kalau tidak ada kerusakan pada syaraf otaknya.
Tangisan Rumi sudah reda, tapi hatinya hancur karena dia hanya bisa melihat dari balik kaca. Selang infus, oksigen dan sebuah alat terpasang di kepala bayi kecil itu.
Saking kosong pikirannya, dia hanya menghubungi Bu Narmi. Dia tidak akan menghubungi Nehan karena tidak ingin mengganggu, lagipula tadi dia sudah mengijinkan Nehan untuk pergi. Atau bahkan menghubungi Juna karena sudah merasa terlalu merepotkan.
Gerakan-gerakan kecil Ken membuatnya ingin menerobos masuk ke dalam. Memegang tangan mungil anaknya yang sekarang pasti merasa tidak nyaman dan kesakitan.
"Suster, saya ingin masuk menunggu di dalam," tidak tega rasanya kalau hanya melihat saja.
"Sebentar ibu, pesan dokter bisa ditemani beberapa saat lagi, jika kondisinya stabil, sambil kita observasi."
"Tapi suster..."
"Ibu yang sabar ya, ini demi kebaikan adiknya juga."
Ya, kalau demi kebaikan Ken, Rumi tidak lagi membantah. Dalam keadaan bingung begini membuat Rumi tidak bisa mendengar bunyi ponsel yang terus berdering di saku. Waktu dia sadar, ibu sudah menghubunginya beberapa kali. Yang terakhir ibu mengirim pesan.
Rum, ibu diluar. Kamu keluar sebentar.
"Bunda keluar sebentar untuk ketemu sama uti ya sayang," bisik Rumi dari balik kaca.
Rumi keluar meninggalkan ruangan. Di depan pintu dia melihat Bu Narmi, mbok Nah dan Arjuna.
"Piye putuku, Rum?" Bu Narmi tergopoh menyambut Rumi.
[bagaimana cucuku, Rum?]
"Tadi sempat kejang lagi, Bu. Tapi sekarang sudah baik."
"Wo alah Nduk, piye ya kok ngene iki," bibir Bu Narmi mulai mewek menahan tangis.
[wo alah nak, bagaimana kok bisa begini]
"Ibu yang tenang ya, doakan cucunya kuat, semoga tidak ada yang serius," Arjuna berusaha menenangkan. Dia tidak tega melihat Rumi yang wajahnya pias.
"Ndoro putri..."
"Mbok Nah ikut saya, ibu disini dulu ya," Rumi menarik Mbok Nah sedikit menjauh.
"Mbok, usahakan bagaimana caranya nanti ibu harus pulang. Saya ndak mau ibu terus disini, bukan apa-apa, saya takut ibu nangis terus, nanti Ken sembuh malah ibu yang sakit. Saya juga jadi tambah sedih lihat ibu sedih begitu."
"Tapi kalau saya sama mbakyu Narmi pulang, siapa yang menemani Ndoro putri disini?"
"Ada mas Juna yang menemani saya. Lihat, sekarang saja dia sedang bicara sama dokter. Saya akan telepon Pak Dul untuk menjemput ibu dan mbok Nah."
"Mas Han tadi sudah sampai rumah mbok?"
"Sudah Ndoro. cuman tadi baju bersihnya Ndak kebawa, sepertinya Ndoro Kakung sedang tergesa. Ini tadi kita yang bawa."
"Iya, tidak apa-apa."
Setelah berbincang sebentar. Rumi membuka aplikasi berkirim pesan di ponselnya. Mengirim pesan pada Pak Dul untuk menjemput ibu dan Mbok Nah ke rumah sakit.
"Rum..."
__ADS_1
"Hemm," Rumi melihat Juna di belakangnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Rumi menggeleng, "aku takut, mas," berusaha menahan tangis.
"Ken kejang setelah Mas Han pergi, aku takut."
"Jangan takut ada aku disini, Rum," Juna menarik tangan Rumi dan memeluknya erat.
Rumi segera melepaskan diri, tak mau terlalu lama berada dalam pelukan lelaki yang bukan makhromnya.
"Rum, kamu sudah memberitahu Nehan belum?" gerutu ibu mendekat.
"Belum sempat Bu, pikiran saya penuh. Lagi pula ada yang harus diurus sama mas Han."
"Urusan apa yang lebih penting daripada menunggu anaknya yang sakit...urusan apa!!!"
"Bu, jangan teriak," bisik Rumi.
"Ibu tadi hampir marah waktu Han datang ke rumah membawa baju kotor, tapi ibu tahan. Minta disiapkan baju bersih tapi tiba-tiba ditinggal pergi karena ada urusan penting."
Rumi diam tidak bisa berkata-kata, ibunya emosi. Kalau dia sampai keceplosan apa yang sebenarnya terjadi, ibu akan makin tambah marah.
"Kalau kamu tidak mau menghubungi Nehan, ibu yang akan melakukan!"
"Bu, jangan ganggu Mas Han dulu!"
"Kenapa?! ibu tidak menghubungi mantan suamimu, Rum. Ibu menghubungi ayah dari cucu ibu, jangan larang!!!"
"Diam, Rum!"
Arjuna memandang Rumi lekat. Dia tahu ada yang sedang disembunyikan wanita itu. Tapi dia tidak berani bertanya selama Bu Narmi masih ada disitu.
"Kamu diam disini, biar ibu yang telepon Nehan."
Bu Narmi berjalan menjauh, tahu diri karena di lingkungan rumah sakit tidak boleh berisik.
"Apa yang kamu sembunyikan dari ibu?" tanya Juna lembut setelah ibu menjauh.
"Tidak ada, mas."
"Rum..."
Arjuna tidak tahan melihat tatapan mata yang penuh kesedihan di mata Rumi. Kalau saja Rumi bisa dibuat versi mini. Pasti wanita itu akan dimasukkan saku dan dibawa kemana-mana untuk dilindungi.
"Rumah sakit tempat Sekar dirawat menghubungi, bilang kalau Sekar berusaha bunuh diri."
"Sialan Nehan, demi wanita itu dia meninggalkan anaknya."
"Bukan begitu, mas. Aku yang mendorongnya untuk berangkat. Kasihan Sekar tidak ada wali yang mendampingi."
"Tetap saja Rum, dia bisa menolak, kan..."
Rona amarah tak berusaha disembunyikan olah Juna, "ibu tadi menghubungi aku, untung aku belum balik pulang. Hati aku nggak enak meninggalkan kamu dan Ken. Kata ibu, Pak Dul juga sedang sibuk membeli barang-barang kebutuhan anak-anak panti."
__ADS_1
"Terimakasih mas, maafkan aku yang terus-terusan merepotkan kamu."
Tangan dingin milik Rumi digenggam Juna. Berusaha mengalirkan kekuatan dari sana, "Ken akan baik-baik saja. Tadi aku sudah bicara dengan dokter. Masih dicari apa sebab kejangnya. Memang ada bayi yang akan kejang jika suhu badannya naik."
"Aku tahu, mas."
"Semua tindakan ini diperlukan untuk mencegah kerusakan pada syaraf otaknya Rum. Semoga segera ditemukan apa sebabnya, jadi Ken akan baik-baik saja."
Genggaman tangan keduanya terlepas ketika Bu Narmi kembali datang.
"Nehan sudah ibu hubungi. Dia tidak mau bilang ada dimana, tapi katanya dia akan segera datang jika semua urusannya selesai."
"Dasar laki-laki kurang ajar. Dia boleh mengabaikan kamu sebagai mantan istri. Tapi dia tidak boleh melupakan Ken yang anaknya!"
"Bu..."
"Diam, Rum. Dari dulu kamu terlalu lembek pada Nehan!" suara ibu meninggi.
"Lihat saja nanti kalau Nehan datang..."
"Bu..." Bu Narmi tidak lagi bicara tapi memandang Rumi tajam yang membuat Rumi menutup mulutnya.
Hari hampi sore waktu Pak Dul datang menjemput. Meskipun harus dipaksa, Bu Narmi dan Mbok Nah akhirnya bersedia untuk pulang, dengan banyak syarat dan janji dari Rumi. Harus segera menghubungi kalau ada apa-apa, tidak boleh telat memberi kabar dan sebagainya.
Setelah tinggal berdua, Juna beberapa kali menemui dokter dan bernegosiasi agar diperbolehkan menunggu dalam ruangan berdua. Untungnya dokter paham dengan perasaan orang tua yang anaknya sedang sakit dan memberikan persetujuan.
Hancur hati Juna melihat Ken yang tergolek lemah. Tangannya melambai lemah ketika melihatnya berdiri dibalik kaca.
"Anak kuat harus segera sehat ya," ucap Juna sambil tersenyum. Meskipun Ken tidak mendengar bahkan mungkin tidak paham, tapi Juna yakin itu akan memberi Ken kekuatan.
Rasanya waktu berjalan lambat. Jam tangan yang melingkar di tangan menjadi satu-satunya penanda kalau hari sudah berubah larut malam.
"Aku keluar dulu sebentar mencari makan. Kamu belum makan apapun, kan?"
Ya, perut Rumi mulai terasa perih karena belum kemasukan apa-apa.
Juna tidak bertanya mau pesan apa, karena makanan apapun belum tentu akan dimakan. Ibu mana yang bisa menelan makanan jika melihat putra semata wayangnya berjuang menahan sakit.
Rumi ikut melangkah keluar waktu Juna keluar, "kamu tunggu disini saja."
"Aku ingin ikut keluar," ada sesuatu yang mendorongnya untuk ikut, entah rasa apa ini namanya, "sampai depan ruangan saja."
Tangan Juna terulur, Rumi melihatnya dan menyambut tangan itu. Dia butuh kekuatan, tidak mudah menghadapi semua ini sendirian.
Tepat di depan pintu, tampak sesosok lelaki sedang mondar mandir memperlihatkan kekhawatiran. Dia berhenti ketika melihat Juna dan Rumi bergandengan tangan keluar ruangan. Matanya lurus memandang dua tangan yang saling bertaut itu.
Bukannya melepaskan, Juna menggenggam tangan Rumi makin erat. Air mata Rumi perlahan mengalir. Isak tangis tertahan membuat Juna memandang wanita yang berdiri di sisinya, tapi mata itu memandang mantan suaminya tanpa berkedip.
Wanita yang dicintainya melepaskan genggaman dan berjalan mendekati mantan suaminya. Ketika dua tubuh itu bertemu, bendungan yang ditahan Rumi sejak tadi ambrol. Rumi menangis hebat dalam pelukan Nehan, sedangkan Juna hanya bisa melihat semuanya dalam diam.
"huaaa... huhuhu, kenapa kamu lama sekali datangnya. Aku takut... huhuhu...bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Ken," Rumi memukul punggung Nehan berkali-kali dalam tangisnya.
Dibalik pelukan, Nehan menatap Juna dengan pandangan yang entah apa artinya, dan Juna memilih untuk pergi.
...***...
__ADS_1