
Nehan jauh lebih baik. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Selain merawat bekas luka pada tubuhnya. Dia juga menjalani terapi fisik secara rutin.
Terapis akan berkunjung setiap hari. Melatih kekuatan otot tangan, kaki dan melatih refleks bagian tubuh yang lain. Termasuk juga latihan dan belajar berjalan lagi.
Dari semuanya ada satu hal yang paling dia syukuri. Yang lain boleh harus dilatih lagi, tapi kalau yang satu itu masih normal seratus persen, tanpa diminta dia akan tegak berdiri tiap pagi.
Tidak ada yang mudah, Nehan harus bekerja keras melakukan semuanya. Berkali-kali dia membanting botol plastik yang dipegang karena lepas dari genggaman. Bukan hanya sekali dua kali dia jatuh lalu bangkit lagi ketika harus melatih kekuatan kakinya.
Sore ini setelah melatih kekuatan kaki dengan seorang terapis bapak mengajaknya berkeliling taman. Nehan didorong menggunakan sebuah kursi roda.
"Kamu yakin tidak mau pindah rumah sakit?"
Nehan menggeleng pasti.
"Saya ingin dekat dengan anak-anak."
"Bapak kan tahu urusan perusahaan bisa saya handel dari mana saja."
"Bapak juga bisa meninggalkan saya. Meskipun belum sempurna, saya mulai bisa melakukan semuanya sendiri pak."
Dari jauh terlihat seorang lelaki melambaikan tangannya. Nehan menghembuskan napasnya kuat-kuat.
"Lama-lama bosan lihat wajahnya datang tiap hari," memalingkan muka.
"Jangan begitu, dia yang paling setia datang selama kamu tidak sadar. Memegang tangan kamu sambil bercerita, tiap hari. Kalau dia tidak menyukai Rumi, bapak bisa mengira dia naksir kamu."
"Cih..."
"Gimana, sudah kuat?" sapa Juna sambil menepuk bahu Nehan.
"Nggak usah basa-basi kamu!"
"Masih sakit hati karena Rumi mau sama aku?!"
"Biar saya yang dorong pak," Juna mengambil alih kursi roda yang didorong bapak.
Bapak mengangguk lalu meninggalkan Juna berdua dengan Nehan. Keduanya berjalan memutar menuju kafetaria.
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Kita ngobrol sambil makan."
Sampai di kafetaria, Juna memilih lokasi yang khusus disediakan bagi pengunjung disabilitas, seperti Nehan yang sekarang memakai kursi roda.
"Mau makan apa?"
"Aku pasien, jatah makanku dari rumah sakit," nadanya ketus seperti emak-emak punya dendam.
"Dengarkan aku, hilangkan dulu jiwa emak-emakmu itu."
Dua lelaki yang sedang memperebutkan wanita yang sama itu tenggelam dalam pembicaraan yang sangat serius. Lalu Juna menunjuk salah satu sudut taman.
"Lihat itu dibawah pohon diujung sana itu. Dia pasti tidak tahu kalau aku tahu," Nehan mengikuti arah yang ditunjuk Juna.
Juna melanjutkan.
"Sebentar lagi dia akan pergi diam-diam."
"Tapi aku pastikan padamu dia akan aku paksa menuju ke pernikahan."
Nehan dan Juna saling pandang. Sementara wanita yang sedang dibicarakan pergi diam-diam.
...***...
"Mas Juna mengajakku makan malam hari Sabtu nanti."
"Juna?" Yuni tampak terkejut.
"Hemm...aku sudah bilang sih, nggak usah pakai dirayain, umur sudah tua. Malu sama anak-anak."
__ADS_1
"Ikut saja Rum. Wajib hukumnya nurut sama calon suami."
"Aku kasihan sama Mas Juna. Nggak enak hati akunya, takut merepotkan."
Yuni membanting tubuhnya ke atas sofa, "ngapain nggak enak sama calon suami. Kalau aku malah seneng diperhatiin begitu. Aku kasih semua-muanya buat dia."
"Kalau mau duduk, duduk aja. Nggak usah badan dibanting begitu. Cepet rusak tahu Sofanya."
"Lah, yayasan punya siapa?"
"Punya kamu lah."
"Berarti sofanya punya..."
"Ya punyamu sih..., tapi bukan begitu maksud aku. Kalau sofa rusak kan aku musti ngeluarin anggaran buat beli baru."
"Nggak usah, aku belikan pakai uang pribadi aku."
"Sombong," cibir Rumi.
"Biarin, ada yang dibuat sombong ini," sambil menjulurkan lidah.
Lalu keduanya kembali serius.
"Tapi memang Juna sempat minta pendapat aku sih. Mau membuat acara romantis, semacam candle light dinner gitu."
Yuni memukul lengan Rumi, yang ikut duduk di sofa, "aku iri sama kamu. Kalau aku jadi kamu pasti aku melayang ke langit ke tujuh."
"Ya kamu saja yang kawin sama Mas Juna," enteng sekali Rumi ngomongnya.
"Emang boleh?!"
"Boleh kalau orangnya mau," tertawa mengejek.
"Sialan."
Yuni menarik tangan Rumi keluar ruangan.
"Beli gaun buat makan malam kamu Minggu depan."
"Buat apa? pakai baju biasa saja."
Tapi bukan Yuni namanya kalau mau ngalah.
Yuni membawa Rumi ke sebuah butik yang letaknya agak jauh dari panti. Banyak gaun yang bisa dipilih. Tapi sekalinya masuk muka Yuni langsung ditekuk.
"Pilihannya nggak ada yang cocok sama bayanganku."
"Namanya juga di daerah Yun," Rumi menyentuh beberapa model gaun dan memperlihatkan pada sahabatnya.
"Yang ini gimana?" tanya Rumi menunjukkan sebuah gaun tertutup warna merah marun.
"Mau membakar restorannya kamu?" sewot Yuni.
"Yang ini?" tanya Rumi lagi.
"Mau ke pengajian?" suara makin tinggi.
"Tau ah, terserah, kamu yang pilihin."
Akhirnya diputuskan gaun yang akan dipakai nanti Yuni yang membelikan di kota.
"Ada yang mau aku omongin Yun, kita makan nasi Padang di depot langganan, yuk?!"
"Ayok, lapar juga ini."
Makanan yang dipesan sudah siap diatas meja. Beberapa lauk pilihan dipesan, karena Yuni suka gelap mata kalau berada di restoran Padang.
"Mau ngobrolin apa?" sambil mengunyah udang saus Padang yang gedenya tiga kali jempol orang dewasa.
__ADS_1
"Tentang aku dan Mas Juna."
"Jangan bilang kamu mau batalin hubungan kalian!" melotot ke arah Rumi.
"Nggak, aku cuman ngerasa bersalah saja sama mas Juna."
"Karena masih ada sisa rasa sama Raden mas edanmu itu?" mode emak-emak nagih hutangnya keluar.
"Aku pengen serius membahagiakan Mas Juna. Dulu aku pernah suka juga sama dia. Kelihatannya dia juga masih cinta sama aku. Waktu aku menerima pinangan Mas Juna kondisi Mas Han sehat walafiat, jadi aku nggak khawatir ninggalinnya. Tapi sekarang..."
"Kamu nggak tega? Mikirin siapa yang ngerawat mantan suami kamu itu nantinya?"
"Itu bukan urusan kamu lagi, Rum...!!!"
"Lama-lama aku geregetan sama kamu. Kamu tahu nggak, bukan cuman kamu yang suka sama Juna tahu Rum!! Kalau kamu nggak beneran cinta, mending kamu lepasin Juna, biar dia ketemu sama orang yang beneran mencintai!" suaranya tinggi, mata nya merah, jari tangan nunjuk-nunjuk wajah Rumi sampai beberapa tetes bumbu Padang mengenai pipi Rumi.
"Kamu cinta sama Juna?" Rumi tidak bisa menutupi keheranannya sambil mengelap pipi yang terciprat bumbu Padang.
Seperti maling yang tertangkap basah Yuni mengalihkan pandangan dan pembicaraan, "bukan itu maksudku," duduk lagi lalu kembali menikmati makanan.
"Aku nggak suka sama siapa-siapa, semoga kamu bahagia sama Juna!"
Rumi masih terkejut. Dia tahu betul watak sahabatnya. Pandai menyembunyikan perasaan dan sok kuat. Padahal suka nangis ngejer kalau sedanv sendirian. Apa selama ini Yuni beneran suka sama Juna? bukan hanya sekedar bercanda seperti perkiraannya?
...***...
Waktu berlalu dengan cepat. Gaun yang dibelikan Yuni siap tergantung depan lemari kaca di kamar Rumi.
Cantik...
Rumi menarik napas panjang.
Tidak boleh ragu, jangan ada langkah mundur ke belakang. Aku hanya harus melihat ke depan.
Setelah dipakai ternyata gaun itu terlihat lebih cantik. Menonjolkan kesan seksi tanpa terlihat murahan. Model bahu off shoulder, mempertontonkan leher jenjang pemakainya. Bagian pinggang yang dibuat pas, membuat Rumi terlihat lebih tinggi.
"Waaa...cantikkk..." teriak Yuni melihat penampilan Rumi.
"Yang cantik bajunya," celetuk ibu lewat di depan pintu kamar. Rumi melengos sedang Yuni tertawa terbahak. Dia langsung diam waktu Rumi melirik tajam.
Make up flawless melengkapi tampilan. Tidak perlu berlebihan untuk menonjolkan kecantikan alami wanita satu anak itu.
Tidak hanya Rumi dan Yuni, tetapi ibu, Ken, dan Lita juga turut ke acara, tentu saja dengan pengasuhnya masing-masing.
"Kenapa Mas Juna gak jemput, Yun? Beberapa hari ini dia susah dihubungi."
"Nggak, dia pesen supaya aku jemput kamu dan anak-anak. Juna menunggu disana, dia bilang akan ada kejutan. Aku nggak tahu sih kejutannya apa. Semoga dia sukses membuat kamu terkejut."
Rumi jadi berdebar. Membayangkan sesuatu yang diluar ekspektasi. Bagiamana kalau tiba-tiba ada penghulu dan Juna akan memintanya langsung menikah saat itu juga. Ah, semoga tidak ada hal-hal yang membuat dia malu seperti itu.
Yuni membawa mereka ke sebuah restoran mewah, berdasarkan ukuran resto daerah setempat. Tidak ada orang lain, hanya ada keluarga yang tadi berangkat.
Kalau melihat situasinya, rupanya Juna membooking restoran itu untuk digunakan sendiri.
Ruangannya dihias cantik. Lampu-lampu temaram membawa suasana menjadi romantis. Lampu sorot menyoroti bagian depan tengah tempat life musik berada.
Ada dua buah pengeras suara siap di sana. Tiba-tiba bapak muncul dari balik panggung.
"Selamat malam, anak cucuku."
Rumi tersenyum, tidak mengira kejutannya akan seperti ini.
"Selamat malam Rum, anakku tercinta. Mungkin kita tidak memiliki hubungan darah. Tapi jalinan emosional yang terikat selama bertahun-tahun membuat bapak merasa berhak menganggap kamu selayaknya anak bapak sendiri."
"Rum, malam ini usiamu bertambah satu tahun. Umurmu memang bertambah tapi kecantikanmu sama sekali tidak berubah, apalagi berkurang. Mungkin karena itu anak bapak tidak bisa move on ya, hahaha..." bapak tertawa renyah.
"Karena malam ini istimewa, bapak akan menampilkan dua artis untuk tampil di depan panggung."
Lampu menyorot menjauhi bapak menuju salah satu sisi panggung. Keluarlah Juna dengan senyum sejuta Watt nya
__ADS_1
...***...