
Sekar POV
Aku ketakutan, pasti keluarga Nehan sudah lapor ke pihak yang berwajib. Setelah ganti baju aku pergi ke rumah sakit. Entah baju siapa yang aku pakai. Dari jauh aku melihat bapak dan Rumi menunggu di depan ruang ICU.
Maafkan aku Bu, aku benar- benar gelap mata. Setelah itu keluar dari rumah sakit. Baru sebentar berjalan dari arah berlawanan aku berpapasan dengan Nehan dan temannya. Aku merunduk dan menurunkan tudung kepalaku. Konyol sekali kalau aku sampai ketahuan oleh mereka.
Setelah ini aku akan ke rumah lek Broto. Aku mematikan ponsel dan tidak menggunakan transaksi apapun dalam bentuk m banking. Kalau aku melakukan itu sama saja aku mencari mati.
Semoga saja rumah lek Broto belum di satroni oleh petugas. Turun dari taksi aku minta pengemudinya menunggu sebentar. Secara aku sama sekali tidak memegang uang dalam bentuk cash.
Karena sudah terbiasa keluar masuk rumah lek Broto, aku langsung menuju kamar.
"Lek," sapaku. Lek Broto sedang berdiri melihat keluar jendela kamar.
Aku membuka tudung kepalaku.
"Nduk, kamu..."
Lek Broto melihat ke luar pintu tengok kanan kiri kemudian segera menutup pintu kamar.
"Jangan bicara dulu lek, aku tadi naik taksi kesini. Bayarkan dulu uang taksiku."
"Iya...iya, kamu disini saja."
Lek Broto bergegas keluar, membawa uang secukupnya untuk membayar ongkos taksi.
"Kamu kenapa melakukan itu," teriak lek Broto ketika sudah kembali sambil menutup pintu kamar.
"Jangan banyak tanya lek, aku sendiri juga bingung."
"Sekarang aku butuh solusi. Aku musti bagaimana."
"Ya tentu saja sembunyi. Piye toh Kowe iki?"
[bagaimana sih kamu ini]
"Ya Sekar paham itu Lek. Sekar harus sembunyi. Tapi sembunyi dimana? Sekar nggak punya uang sama sekali."
"Melarikan diri itu butuh uang lek. Gimana caranya Sekar bisa hidup kalau Sekar nggak punya uang?"
"Mau ambil uang di Bank ya nggak mungkin juga. Penggunaan ATM kan bisa dilacak lokasinya."
"Beri aku solusi lek."
Lek Broto tampak berpikir.
"Begini saja, kamu tak antar ke tempat persembunyian. Paklek punya sebuah rumah sederhana yang tidak diketahui siapapun."
"Kamu tunggu disana, paklek bakal kirim kamu uang dan semua kebutuhan dengan suruhan orang."
"Tapi kamu jangan rewel, hidup seadanya disana."
"Aku nurut lek, terserah yang penting aku jangan sampai ketangkep."
"Omong-omong lek, kamu bisa punya simpanan rumah yang Sekar nggak tahu, dapat duit darimana?"
Broto kelincutan, "ya dari uang mu, anggap saja itu tabungan hari tua paklek. Nyatanya sekarang juga kepake."
"Sudah, sekarang kamu siap-siap. Tinggalkan semua barangmu di rumah. Pakai dan bawa baju punyanya paklek buat ganti, nanti kamu beli lagi disana."
"Lek aku pinjam gunting."
"Eh, buat apa?"
"Kamu mau membunuh paklek juga karena ngambil uang kamu buat beli rumah, nggak banyak kok, harganya nggak seberapa."
Aku merengut, "ngaco, ayo mana gunting!"
Lek Broto mengambilkan aku sebuah gunting. Aku lepas hudi yang kupakai. Kutangkup rambutku jadi satu dan kres, rambutku habis kupotong. Sisanya aku potong acak hingga rambutku habis dan kepalaku hampir gundul.
"Wo alah Nduk, wes ayo sana berangkat."
"Sudah ditunggu sama orang suruhan paklek buat ngantar."
Paklek menyerahkan sebuah kresek dan tas sedang padaku. Dalam kresek ada sejumlah uang dan dalam tas ada beberapa potong kaos dan celana.
Orang suruhan lek Broto membawaku pergi naik motor dengan kecepatan tinggi. Di ujung gang aku melihat sebuah mobil polisi melintas, hampir saja.
Awal perjalanan aku masih paham ini arahnya kemana. Tapi semakin lama aku semakin tidak mengenali tempat yang akan aku datangi.
Daerahnya terpencil, memasuki hutan dan jalanan yang naik turun serta masih terjal berbatu. Bisa-bisanya lek Broto beli properti di tempat terpencil begini. Orang tua sialan, mencuri dari uangku buat beli rumah. Tapi sekarang bermanfaat buatku sih.
Sampai di lokasi hari hampir gelap. Rumah yang dibeli paman memang sangat sederhana, khas rumah desa. Dengan lantai semen dan beratap rendah.
Masuk ke dalamnya membuat aku senang, karena aku bisa langsung istirahat. Ternyata meskipun tidak dihuni rumah ini bersih terawat.
Kulemparkan tas diatas kasur dan membanting tubuhku setelahnya. Sekarang aku punya waktu untuk berpikir. Tidak ada waktu buat menyesal, semua sudah terjadi, jadi aku akan menyusun rencana untuk membalas apa yang sudah dilakukan lelaki sialan itu.
__ADS_1
Cinta? cih, cintaku sudah beku. Caranya menyakitiku sangat luar biasa. Dengan niat dan perencanaan yang matang. Enak sekali kalau aku membiarkan begitu saja. Tapi untuk sementara aku menunggu sampai keadaan tenang dulu.
...***...
Nehan POV
Aku memasuki rumah utama. Kondisi sudah lengang, tinggal para abdi yang terlihat sibuk membersihkan rumah. Beberapa keluarga yang tadi tinggal juga pamit undur diri setelah mengetahui kondisi ibu dariku.
Aku langsung menuju kamar bapak. Begitu masuk aku melihat dua anakku yang sedang tidur, hatiku jadi tenang.
"Anak-anak rewel mbok?" tanyaku pada mbok Nah.
"Tidak Ndoro, bagaimana kondisi Ndoro sepuh putri?" pasti abdi yang satu ini sangat sedih karena kedekatannya dengan ibu.
"Ibu masih belum sadar mbok."
"Saya akan ganti baju terus kembali ke rumah sakit."
"Baik Ndoro."
"Saya titip anak-anak ya mbok."
"Baik Ndoro."
Aku melihat suster Eny yang sedang duduk di kursi di pojok kamar, "saya mempercayai anda."
Suster Eny mengangguk, "terimakasih tuan, meskipun saya tahu tuan masih belum percaya seratus persen, tapi saya tetap berterimakasih."
"Saya juga siap mempertanggungjawabkan dosa masa lalu saya. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan."
"Entahlah, mungkin ibu benar, yang penting Lita sehat."
Setelah memberi kecupan singkat pada dua anakku yang terlelap, aku berlalu menuju kamar mandi tamu. Untuk memasuki kamarku sendiri tidaklah mungkin karena di dalamnya ada barang bukti kejahatan.
Setelah mandi aku berganti pakai kaos yang berbahan katun biar nyaman. Terbayang nanti akan butuh waktu untuk menunggu ibu di rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, aku memutuskan berhenti beberapa kali. Membeli makanan dan minuman untuk bapak dan Rumi. Juga beberapa kebutuhan dasar obat-obatan buat bapak.
Untuk kebutuhan Abdi yang menemani bapak biar nanti mereka membeli sendiri, aku tinggal memberi uang saja.
Mendekati tempat Rumi dan bapak menunggu aku deg-degan. Keduanya saling berpelukan, bapak kelihatan menangis dalam pelukan Rumi.
Tak sabar aku berlari mendekat. Pasti ada sesuatu. Hati berdebar, jangan-jangan ibu...
Selama bertahun-tahun kami bersama, baru hari ini aku merasa takut kehilangan ibu. Hanya sebuah rasa yang samar, meski terlambat tapi rasa menyesal itu muncul.
"Ibu, mas..."
"Kenapa ibu?" aku makin gugup.
"Jantung ibumu tadi sempat berhenti Han," bapak menangis sesenggukan.
Bapak kelihatan tua, lemah dan lelah. Sebegitu besar pengaruh ibu atas bapak.
Aku melihat Rumi. Aku jadi membayangkan kalau aku di posisi bapak dan Rumi yang ada di dalam. Duniaku pasti terasa kiamat.
"Bapak sabar, ga usah nangis, banyak doa."
Aku merangkul bapak. Kuletakkan kresek di bangku, "ayo makan dulu," aku buka nasi goreng dan mi goreng yang tadi kubeli.
Kutuntun bapak untuk kembali duduk, "bapak gak lapar, Han," tangan bapak terasa dingin waktu menyentuh kulitku.
"Bapak musti sehat, kalau nanti ibu sadar bapak yang sakit malah membuat ibu sedih," Rumi ikut merayu bapak.
"Bapak gak bisa makan Rum, bagaimana bapak bisa makan, ibumu masih belum sadar Rum."
Rumi aku kedip pakai mata. Biarkan saja bapak, nanti akan di coba lagi dirayu buat makan.
"Bapak pulang dulu ya, ganti baju terus istirahat, biar diantar Bejo," salah satu abdi yang tadi dikirim mbok nah.
Bapak menggeleng.
"Nanti kalau ada apa-apa, Han telepon bapak."
"Jangan paksa bapak untuk pulang, Han."
"Untuk hari ini bapak harus nurut sama Nehan," musti dikerasi sedikit si bapak.
"Kalau bapak sayang sama ibu, sayang sama Nehan, bapak pulang, istirahat di rumah."
"Besok pagi kesini lagi."
Bapak menatapku kosong, tapi akhirnya mengangguk. Aku memberi tanda pada Bejo yang menunggu di tempat sedikit jauh.
"Bawa bapak pulang."
"Baik, Ndoro."
__ADS_1
Sepeninggal bapak aku mengambil ponsel dan menelepon Mbok Nah.
Assalamualaikum Ndoro, Ndoro sepuh putri tidak apa-apa kan?
Aku diberondong pertanyaan padahal mengucap salam saja belum.
Waalaikumsalam, doakan saja ibu bisa melewati masa kritis mbok.
Walah Ndoro tak pikir ada apa-apa.
Mbok, bapak pulang, tolong layani dan perhatikan kebutuhannya. Bapak juga belum makan.
Baik Ndoro, baik.
Aku menutup sambungan telepon.
Melihat Rumi dengan matanya yang sembab aku reflek membuka lebar tanganku, Rumi langsung masuk dalam pelukanku.
"Kasihan ibu."
"Ya, ini semua salahku," aku jadi merasa melow.
"Jangan ngomongin itu dulu. Sekarang yang penting banyak doa buat ibu."
"Sana ah, jauhan," rupanya Rumi baru menyadari kalau sedari tadi kami pelukan.
"Sudah dari tadi juga dipeluk, baru sekarang didorong."
"Keluarga Nyonya Ajeng," terdengar panggilan dari pintu ruangan.
"Mas," kami bergegas mendekat.
"Lebih baik keluarga dikumpulkan. Nyonya Ajeng sadar, masa paling kritis sudah terlewati. Tapi karena usia yang sudah tua kita tidak bisa memastikan kondisinya terus stabil."
Aku lega begitu juga dengan Rumi, kelihatan dari senyum yang muncul di bibirnya.
"Salah satu keluarga boleh masuk ke dalam, paling banyak dua orang ya. Barangkali mau berdoa bersama."
"Lebih baik panggil bapak, mas."
"Kamu telepon bapak, aku mau masuk dulu."
"He'eh," Rumi aku pasrahi ponselku untuk menelepon bapak sementara aku masuk ke dalam.
Ibu berbaring dengan selimut berwarna biru. Banyak selang terpasang pada tubuh tuanya. Kalau melihat dia seperti ini hatiku jadi sakit, dan aku ikut andil dalam kejadian ini.
Mata ibu terbuka meskipun cahayanya redup. Pandangannya mengikuti gerakanku. Aku menggenggam tangannya yang keriput. Selama aku menjadi anaknya, baru hari ini aku memperhatikan wajah ibu berlama-lama.
Sekarang tidak ada lagi wajah ketus yang biasa ditunjukkan ibu. Mata yang selalu tajam, kata-kata yang menusuk tulang, semua hilang. Berganti dengan sesosok tubuh yang ringkih dan lemah.
"Bu."
Ibu mengedipkan mata, tapi aku merasa ibu berusaha menggenggam balik tanganku.
Aku mengangguk, "ibu harus kuat, kasihan bapak."
Ibu kembali mengedipkan mata. Dada ibu naik turun dengan cepat tidak beraturan.
"Nehan minta maaf sama ibu," air mataku menetes, dadaku mulai berat.
Ibu menggeleng samar.
"Nehan berterimakasih karena ibu sudah merawat Nehan selama ini."
Air mata ibu ikut menetes. Aku berusaha menahan diri agar tidak terus menangis. Aku berusaha tersenyum.
"Nehan kangen dimarahi ibu."
Ibu tersenyum melalui matanya. Napasnya makin berat. Sekarang napas ibu hanya sampai di leher. Berat dan terputus-putus.
Maafkan aku ya Allah. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan ibu. Aku ingin memaafkannya dan menghapus semua kesalahpahaman diantara kami.
Diantara tarikan napasnya yang berat aku mulai membisikkan kata-kata untuk memuji sang pencipta. Aku panjatkan doa agar Yang maha kuasa mengampuni semua dosa dan menerima amal ibadahnya meski hanya sebesar biji zahra.
Bapak masuk kamar dengan wajah tersenyum. Tapi senyum itu langsung hilang ketika melihat ibu bernapas dengan satu tarikan panjang. Sesaat kemudian mata ibu terpejam, tangannya yang kugenggam tak lagi membalas genggaman tanganku.
Bapak berteriak histeris. Dokter meminta kami beranjak ke sudut ruangan. Semua pertolongan sudah dilakukan. Tapi ibu benar-benar pergi.
Dokter menyebutkan waktu kematian ibu dan melepaskan semua alat bantu kehidupan yang terpasang.
Bapak berlari mendekati ibu, "kenapa kamu nggak sabar nunggu aku jeng."
Tangis bapak berhenti. Sekarang bapak membelai rambut ibu dengan sayang, "tunggu aku Jeng, maafkan aku yang sering abai padamu. Aku mencintai kalian berdua. Aku mencintai ibunya Nehan tapi kamu adalah wanita pertama untukku."
"Semoga Allah mengampuni semua dosamu Jeng."
Setiap manusia membawa takdirnya sendiri-sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna. Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk bertaubat sebelum napas kita habis dan hubungan kita dengan dunia terputus.
__ADS_1
...***...