
Sebenarnya Rumi punya jatah cuti yang bisa digunakan setelah menikah. Tapi mengingat meski cuti pun tidak memungkinkan untuk melakukan sesuatu yang asik. Rumi lebih memilih bekerja dari pada diam di rumah.
Seperti biasa Pak Dul menjemput ke rumah. Kali ini Nehan nginthil gak mau lepas. Jadi dia ikut juga ke panti.
"Kamu masih belum menjawab pertanyaanku mas."
"Hmmm, yang mana?" memasang wajah penasaran pura-pura lupa.
"Haduh, lupa atau nggak perhatian sih. Semalam bingung sama sentuh sana, sentuh sini."
Sambil menyentuh bagian-bagian tubuh yang semalam jadi sasaran Nehan.
Pak Dul hanya berani melirik melalui kaca spion sambil senyum-senyum melihat dua Ndoro nya kembali akur.
"Oh...itu."
"Waktu aku tertidur lama aku nggak ingat apa-apa. Cuman ngerasa kaya yang dapat mimpi buruk tiap saat. Capek banget."
"Tapi ada satu hal yang aku ingat. Dan itu yang membuat aku berusaha untuk bangun."
"Kamu dan anak-anak dibawa pergi sama Juna. Aku nggak suka itu."
Rumi menggenggam tangan suaminya.
"Aku senang alasan utama kamu bangun adalah aku dan anak-anak."
"Terus kalau pertanyaan satunya?"
"Yang mana?"
Memberi kode dengan maksud agar Rumi tidak melanjutkan. Malu kalau didengar Pak Dul.
"Itu pertanyaan yang satunya. Kenapa itunya tetap berdiri..."
Nehan bergerak cepat membekap mulut Rumi.
"Mmm...mmm..."
Menarik tangan Nehan sampai terlepas sambil melotot.
"Mas..."
Kenapa sih, pertanyaan itu kan wajar.
"Hahaha..."
"Pak Dul tadi sudah sarapan belum."
"Kalau belum kita berhenti buat makan pagi ya."
Menggerakkan-gerakkan mulut sambil melirik ke arah Pak Dul.
Rumi membekap mulutnya, "maaf," bicara tanpa suara.
Sesampainya di panti, Rumi bergegas masuk ke ruangan. Malu kalau ingat mulutnya tadi. Bagaimana dia bisa lupa ada orang lain dalam mobil.
"Terimakasih Pak Dul."
Meski belum bisa berjalan cepat Nehan berusaha menyusul Rumi. Kakinya memang belum sembuh sempurna, tapi perlahan penggunaan tongkat mulai dikurangi.
"Kenapa cepet banget jalannya."
"Aku kesulitan mengejar kamu. Pengennya kan aku dituntun biar kelihatan mesra."
"Dih...aku malu sama Pak Dul, mas."
"Lagi pula kalau kamu aku tuntun, bukannya kelihatan mesra tapi kamu nya malah kelihatan tua tahu?!"
Nehan nyengir kuda mendengar ocehan istrinya. Benar-benar sebuah obrolan yang tidak berfaedah.
"Aku mau ngajakin kamu room tour hari ini, mas."
Menggerakkan alisnya keatas dan kebawah.
"Room tour?"
Rumi mengangguk cepat.
"Siap-siap ya..."
Rumi mendekati rak buku dan seperti biasanya menyentuh sebuah buku. Lalu terbukalah pintu kamar rahasia.
"Walaaa...." membuka tangannya berlagak seperti seorang pesulap.
"Ooo ini kamar rahasianya?"
"Jadi kamu suka disini berdua sama mantan tunanganmu itu?" nada bicara dibuat sinis.
Apaan sih...
"Siapa yang berduaan sama siapa?!" enak saja kalau ngomong.
__ADS_1
"Nah, kan kamu pernah janjian sama penghianat itu. Aku ingat, aku denger sendiri," nada suaranya makin tinggi.
Rumi mulai terpancing. Dua alis matanya bertaut.
"Mau mancing biar aku marah!!"
Lah...kok marah beneran, Rumi.
"Nggak kok, cuman ingat saja sayang. Kamu kan dulu pernah suruh Juna tidur disini, di kamar rahasia."
Menekan suara ketika mengucapkan kamar rahasia sambil meliuk-liukkan tangan.
"Cih."
Rumi meninggalkan Nehan dan membiarkan laki-laki itu berdiri di depan pintu.
"Masuk nggak, kalau nggak, aku tutup nih pintunya."
"Eh sebentar, jangan ngambek dong. Tunggu sebentar ya."
Nehan bergegas keluar. Di depan kantor dia celingukan mencari Pak Dul dan memanggil keamanan. Memberi pesan dengan tampang serius agar tidak ada orang yang mengganggu, lalu kembali ke dalam ruangan.
Seperti yang dilakukan istrinya tadi, Nehan menyentuh satu dari jajaran buku yang tertata rapi. Dan terbukalah pintu dari kamar rahasia.
Dia melihat Rumi sedang merebahkan diri. Meskipun mata wanita itu terpejam tapi Nehan yakin kalau istrinya itu tidak sedang tidur.
Daripada mengganggu Rumi yang sedang istirahat Nehan memutuskan untuk melakukan room tour secara mandiri.
Apa yang musti ada dalam sebuah kamar rahasia ya...
Nehan memutar mengedarkan pandangan.
Pantry ada...
Dia berjalan mendekati pantry.
Ada oven, pemanas air dan beberapa peralatan makan. Cukuplah kalau diperlukan, tidak perlu keluar kamar.
Ada kulkas
Nehan berjalan mendekati lemari pendingin mini yang ada di situ. Membuka dan melihat isinya.
Hanya ada minuman ringan dan beberapa jenis buah. Benar juga sih...kalau menyimpan banyak makanan bisa tidak fresh lagi, karena jarang ditempati.
Lalu Nehan berjalan mengitari kamar. Di salah satu sudut ternyata ada sebuah pintu yang dibuat sama dengan dinding.
Slading door, pintu rahasia lainnya...
Nehan menilik sekilas, sebenarnya ada ruangan apa dibalik pintu.
Fasilitas kamar mandinya lumayan oke sih...
Kamar mandi...kamar mandi. Tiba-tiba di kepalanya muncul sebuah ide yang tentu saja sesuatu yang nggak-nggak.
Nehan masuk ke dalamnya dan memeriksa. Ternyata isinya lengkap. Ada sabun, shampo dan ada sebuah almari gantung dari aluminium bertutup kaca yang di dalamnya berisi handuk kering.
Seperti mendapat lotere, Nehan bergegas mendekati Rumi.
Dia membanting tubuhnya diatas ranjang. Tidur miring ke salah satu sisi menghadap Rumi dengan siku sebagai penyangga tubuh.
"Rum..."
"Hmmm," menjawab dengan mata terpejam.
"Pintunya bisa ditutup dari dalam nggak?"
"Hah?!" membuka matanya karena terkejut.
"Jangan punya pikiran macam-macam ya mas."
"Aku cuma kasihan sama kamu Rum. Semalam kamu tanggung kan...jadi akan aku selesaikan sekarang."
Satu pukulan keras melayang, "ini kamar umum, siapa saja bisa istirahat disini."
"Aw...Rum," memasang wajah imut dan mulai membelai sana-sini.
"Ya Rum...ya..."
"Nggak, pintunya nggak bisa ditutup dari dalam."
Melirik sedikit sebelum berakting marah.
"Kalau begitu aku akan bilang sama Yuni. Bongkar saja kamar ini. Bahaya buat istri aku. Siapa yang bisa menjamin keselamatan kamu kalau pintunya nggak bisa dikunci dari dalam. Bisa saja kan ada orang lain yang tiba-tiba masuk dan punya niat nggak baik sama kamu disaat kamu istirahat."
Bangkit dari tidur sambil menggerakkan tangannya keatas, kebawah, kesamping kanan dan kiri selama bicara.
Rumi berdecih kesal, "apaan sih mas. Nggak ada yang tahu kalau ada kamar di ruangan ini."
"Tahu nggak, sekarang yang membahayakan aku itu kamu, karena kamu bisa menerkam aku kapan saja."
"Oh, iya?!...menerkam seperti apa? sepeti ini?!"
__ADS_1
Nehan melompat keatas tubuh Rumi. Memaksa Rumi berada dibawah kungkungannya.
Dibelainya rambut Rumi penuh cinta. Mendekatkan wajah dan mengawali dengan kecupan. Satu kali, dua kali...
"Mass..."
"Baik kalau kamu tidak mau disini. Kamu harus ikut aku setelah makan siang."
Nehan beranjak dari ranjang ekstra besar itu. Menarik tangan Rumi untuk keluar.
"Aku nggak akan tahan kalau hanya berduaan denganmu."
Menuntun Rumi dan mendudukkan Rumi di kursi kerjanya. Sedangkan dia sendiri mengambil sebuah tabloid dan membacanya di sofa, menunggu dengan tenang.
Saat makan siang tiba, Nehan tidak mau lagi membuang waktu. Tangan Rumi ditarik menuju mobil yang sudah menunggu. Yang memang sudah dipesan sebelumnya oleh Nehan untuk bersiap.
"Kemana kita?"
Lelaki itu tidak menjawab, hanya fokus melihat ke depan.
"Masih ingat jalannya kan pak?"
"Masih Ndoro."
Nehan mengangguk puas.
Membelah jalanan pas jam makan siang seperti ini memang membutuhkan kesabaran. Apalagi tempat yang dituju sedikit jauh di pinggir kota.
Melewati jalanan berbatu yang di tumbuhi pohon besar sepanjang pinggir jalan. Lamat-lamat Rumi mulai ingat jalanan ini.
"Kita mau ke rumah itu kan?"
Nehan mengangguk, "kamu masih ingat?" tanyanya.
"Masih lah." Rumi menebar senyum merasa tersanjung. Rumah ini akan menjadi miliknya atas namanya. Satu hal yang dulu tidak mungkin dia dapatkan.
"Kalau aku tak akan pernah bisa lupa. Karena waktu itu kamu datang bersama Juna dan tidak mau menerima kunci rumah dariku."
Rahang Nehan mengeras. Tak pernah mengira kalau hal itu akan menjadi kenangan buruk yang begitu membekas.
"Maafkan aku ya, mas."
Meraih tangan Nehan dan memeluk erat. Menyandarkan kepala di bahu kekar suaminya.
"Sudah sampai Ndoro."
Nehan lebih dulu turun dari mobil. Mengulurkan tangan agar disambut oleh wanitanya.
Kali ini wanita cantik itu menyambut dengan senang hati. Rona bahagia terpancar di wajah mungilnya.
"Pak Dul boleh meninggalkan kami."
"Ndoro yakin?"
"Tentu saja."
"Ayo Rum."
Nehan membimbing Rumi memasuki halaman rumah. Kunci pagar yang tidak berfungsi belum sempat diperbaiki.
"Kunci rumah Rum," ucap Nehan sambil membuka tangannya.
"Kunci rumah apa?"
"Ya rumah ini lah Rum."
"Aku nggak bawa mas. Aku lupa aku letakkan dimana."
"Apa, Rum?!"
"Pak Dul...," teriak Nehan melihat mobil yang baru memutar untuk pergi, "Pak Dul..."
Berlari melintasi halaman. Ketika mencapai pagar, mobil Pak Dul sudah berlalu.
"Arghh," Nehan menghentakkan kaki dan tangannya.
"Mas," bisik Rumi tepat di belakang telinga.
"Rum telepon Pak Dul. Minta dia kembali."
"Iya, mas."
"Waduh?!" teriak Rumi panik.
"Kenapa Rum?" sama terkejutnya.
"Baterai nya habis, mas. Kemarin lupa ngisi kita kan sibuk sampai malam."
"Aaaa...hape ku ketinggalan di mobil Rum."
Keduanya memutar tubuh. Berdiri tepat di depan pagar menghadap rumah besar berwarna putih di depannya. Mana tadi lupa belum mampir buat makan.
__ADS_1
Sepertinya malam ini harus tidur di teras kalau orang rumah tidak menyadari pengantin baru ini tidak pulang.
...***...