Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 41


__ADS_3

Aku membuka mata. Lampu tidur kamar perawatan menyala temaram. Perawat memang melarang pasien atau keluarga pasien untuk mematikan lampu, menghindari ruangan menjadi gelap gulita, sebagai gantinya pasien bisa menghidupkan lampu tidur temaram agar lebih nyaman.


Ada yang berubah dalam kamar. Banyak barang tergeletak, aku mengubah bed dengan posisi setengah duduk, jadi pandanganku lebih leluasa. Ibu tidur di tempat tidur penunggu, sedang Mbok Nah tidur dengan posisi duduk di sebelah kakiku.


Ada perasaan berdosa melihat dua orang yang aku sayangi ini istirahat dengan tidak nyaman karena peristiwa yang terjadi padaku.


Setelah aku perhatikan, ada dua barang baru yang mencolok dalam kamar ini, kursi roda—yang aku yakin itu untukku dan penggaris kayu berbentuk setengah melengkung yang biasa digunakan untuk membuat pola baju—pastinya itu untuk ibu.


Melihat penggaris itu tergeletak begitu saja diatas meja, mengingatkan aku akan kejadian kemarin. Ada rasa kosong dan nyeri dalam hati yang kurasakan saat ini.


Kalau mau bicara terus terang, sebenarnya aku tidak ingin rumah tangga yang aku bina selama delapan tahun ini menjadi sia-sia, tapi Mas Han memang harus diberi pelajaran tentang tanggung jawab dan kejujuran.


Menikah itu bukan hanya sekadar hubungan materiil semata, tetapi juga hubungan batin dan yang paling utama adalah sebuah jalinan timbal balik kepercayaan antar pasangan.


Memang tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, tapi kalau sebuah kaca terlanjur pecah, selembar kertas terlanjur kusut, pasti akan meninggalkan bekas yang tak mungkin hilang, bahkan mungkin hancur hanya karena sebuah kesalahan.


Aku menghela napas dalam, aku mengambil ponsel yang kusimpan dalam tas. Kali ini tidak ada pemberitahuan pesan atau panggilan tak terjawab berjumlah ratusan. Ternyata ada sensasi yang mengusik hati, aku ingin dihubungi hanya sekedar untuk membuktikan bahwa kamu masih memikirkan aku. Aku masih berharga dan kau rindukan hadirku dalam hari-harimu, tapi dengan segera kutepiskan semua pikiran yang terlintas dalam otakku, anakku akan menjadi prioritas utama mulai sekarang.


Aku sentuh perut tipisku, betapa luar biasanya, di dalam sana sekarang sedang terjadi proses panjang pembentuk kehidupan.


"Ndoro sudah bangun?" suara Mbok Nah mengagetkanku.


"Iya, mbok."


Mbok Nah berdiri, mengambil bantalku dan memukulnya perlahan, "biar mimpi buruknya hilang."


Aku tersenyum, "ada-ada saja mbok."


"Mimpi buruknya pergi karena nyaman, letak bantalnya kan dibetulkan."


"Bener juga, hehehe..."


Aku melihat jam dinding menunjukkan angka tiga dua puluh.


"Saya mau siap-siap buat sholat subuh mbok, bisa tolong bantu saya?"


"Ya pasti bisa toh." Mbok Nah menutup tirai yang melingkupi tempat tidurku.


Wanita tengah baya kesayanganku itu mengambil baskom yang disediakan pihak rumah sakit, mengisinya dengan air hangat. Dia melepas bajuku dan membasuhku dengan air yang tadi disiapkan, kemudian mengganti pakaianku dengan pakaian yang bersih, rasanya segar sekali.

__ADS_1


"Kemarin Ndoro sepuh membelikan Alquran kecil, Ndoro mau mengaji?" aku mengangguk, karena mataku tak bisa lagi terpejam, aku memilih mengaji dengan suara pelan, takut membangunkan ibu.


Ibu bangun setelah aku usai menunaikan sholat subuh, "kamu kenapa tidak membangunkan ibu?"


"Aku masih takut ibu akan menerkamku," jawabku.


Ibu melengos, mendekati Mbok Nah, "sudah sholat?" tanyanya.


"Sudah Ibu Nyonya."


"Sekarang Mbok Nah tidur dulu di kasur, semalaman saya lihat mbok Nah tidur sambil duduk."


"Saya sudah tidak mengantuk kok."


"Ini perintah, satu lagi panggil saya mbakyu seperti pak Dul, kalau tidak mau, saya akan pulangkan mbok ke rumah Nehan, saya bisa ngurus Rumi sendiri."


"Lo, jangan...jangan, iya akan saya panggil mbakyu."


"Bagus!" ibu pergi ke kamar mandi meninggalkan kami. Ingin tertawa rasanya melihat wajah Mbok Nah yang pucat ketika mendengar kata dipulangkan.


Kali ini aku baru merasakan bagaimana susahnya harus melakukan semuanya diatas tempat tidur. Baru pada hari ke sepuluh kondisiku mulai pulih, pendarahanku juga Alhamdulillah berhenti.


"Kalau mau buang air besar tetap tidak boleh mengejan, aktifitas tetap terbatas dan tidak boleh lelah."


Ibu manggut-manggut mendengarkan nesahat dokter. Sepuluh hari tidak melihat pemandangan luar kamar membuat aku bersemangat.


"Senang ya bisa keluar kamar?"


Aku mengangguk, "sepuluh hari ini duniaku bentuknya square Bu, tapi hari ini berwarna lagi."


"Semoga setelah memasuki usia sepuluh Minggu kehamilanmu sudah cukup kuat, nak."


"Maafkan Rumi Bu, sebenarnya waktu Rumi mengijinkan bahkan meminta Mas Han untuk menikah lagi tujuan Rumi hanya satu, supaya rumah tangga Rumi tenang, tapi ternyata kebiasaan ibu Mas Han mengganggu tidak berubah. Apalagi Mas Han mulai membohongi Rumi dengan macam-macam alasan untuk menemui istri mudanya diam-diam, padahal Rumi sudah memintanya untuk jujur."


Ibu menghentikan kursi roda di taman, aku diletakkan di sudut yang pas terkena mentari pagi.


"Semuanya sudah terjadi Rum, apapun keputusanmu ibu ikut saja, tapi kalau ibu boleh memberi saran, lebih baik kamu tinggal disini bersama ibu, apalagi kehamilanmu ini termasuk kehamilan yang tidak mudah."


Ibu duduk dengan tumpuan lututnya di depanku, "ibu akan selalu ada buat kamu dan cucu ibu Rum."

__ADS_1


"Kamu jangan pernah merasa sendiri, kalau dulu Nehan adalah tempatmu untuk pulang, ibu akan selalu menjadi tempatmu untuk kembali. Kamu boleh kembali dalam pelukan ibu kapan saja kamu merasa lelah dan tidak mampu menghadapi semua cobaan yang datang."


Aku mengangguk, setitik air mata mengalir di sudut mataku. Aku ingin menjadi ibu yang hebat seperti ibuku.


"Ibu tidak bisa memberi kamu kemewahan seperti keluarga Nehan, ibu harap kamu sanggup hidup apa adanya bersama ibu seperti dulu, tapi...," ibu menjeda kalimatnya."


"Tapi apa Bu?"


"Jangan tolak kalau keluarga suamimu mengirimi kamu uang, biar anakmu tidak hidup susah seperti kamu dulu."


Aku tertawa keras, "aku pikir ibu akan memintaku menolak pemberian mereka Bu dan meminta aku untuk mempertahankan harga diri sebagai wanita, ih...ibu nggak keren, ha...ha...ha."


"Emang harga diri bisa menghidupi kita? lagi pula memberi nafkah untuk anakmu itu kewajiban mereka, jangan membuat mereka berdosa karena keegoisan kita untuk sombong dan sok kuat, apalagi bertujuan untuk menyakiti agar mereka merasa bersalah, mereka juga punya hak untuk merasakan susahnya membesarkan anak."


"Ibu selalu keren...tapi Bu, bagaimana kalau mereka memberi banyak syarat karena kita menerima pemberian mereka?"


Ibu kembali mendorongku berputar mengitari taman, bunga-bunga yang merekah, batang-batang yang meliuk mencari datangnya sinar mentari sebagai nutrisi, mengundang mata dan hatiku untuk menari—ah...aku rindu mawar-mawarku.


"Kita akan berjuang untuk mempertahankan apa yang menjadi hak kita Rum, negara kita ini negara hukum, kamu jangan pernah takut untuk pergi—seperti yang ibu bilang. Tapi kalau kamu memutuskan untuk memperbaiki hubunganmu dengan Nehan, kamu harus lebih kuat dan memiliki nilai tawar tinggi."


"Pantaskan dirimu untuk dicintai, jangan berhenti berkembang, jangan mau dibodohi laki-laki, jadi ketika mereka yang memutuskan untuk pergi, kamu tidak akan punya waktu untuk meratapi nasib, hidup harus terus berjalan. Agar laki-laki yang meninggalkanmu menyesal ketika melihatmu merekah indah."


Ibu benar, tak ada waktu bagiku untuk meratapi nasib. Aku akan mengambil waktu untuk berpikir baru kemudian memutuskan, tak perlu tergesa.


Tiba-tiba ibu berhenti mendorongku, "ada apa Bu?"


"Rum di depan itu, laki-laki ganteng yang berdiri dibelakang mbok Nah disana itu sepertinya ibu kenal, Rum."


Mbok Nah berjalan cepat ke arahku sambil berteriak, "Ndoro, ini ada Den Juna datang berkunjung."


Mas Juna? siapa yang memberi tahu dia aku ada disini? Dengan siapa dia datang? sepertinya aku kenal wanita itu.


"Rum..." Mas Juna melambaikan tangannya kearah ku.


Ibu berbisik, "itu bukannya pacarmu yang dulu waktu kuliah ya, siapa namanya Arjuna, bukan?"


Aku mengangguk, "jangan main api Rum, kamu belum menjadi seorang janda."


"Ibu...." teriakku.

__ADS_1


...***...


__ADS_2