
"Kamu nggak sabaran Rum, mendingan kita tunggu, siapa tahu ibu sama Lek Broto belum pulang," mata Mas Han lempeng melihat jalanan di depan.
"Terlalu lama mas, biar lah ketemu ibu sama Lek Broto, aku sudah biasa menghadapi mereka," kulitku ini rasanya bisa disandingkan dengan kulit badak karena saking seringnya menahan diri mendengar omongan mereka.
"Mas, baiknya kita bawakan apa ya? siapa tahu Sekar ingin sesuatu," aku pernah membaca dan dengar cerita kalau ibu hamil suka menginginkan sesuatu yang kadang nggak masuk akal.
"Kita kesana saja dulu."
"Pokoknya kalau Sekar ingin sesuatu, sebisa mungkin kamu turuti mas."
"Lihat-lihat dia mintanya apa dulu Rum."
"Iya kan...aku bilang sebisa mungkin mas, bukan harus," jawabku cemberut.
Kami berhenti di depan sebuah rumah dengan model minimalis. Meskipun tidak besar tapi termasuk dalam komplek perumahan mewah. Di depan rumah ada pos penjaga yang petugasnya siap membuka dan menutupkan pintu.
Ketika mobil sudah masuk lingkungan rumah, ternyata meskipun bukan tipe yang besar tapi bangunannya modern. Di depan ada taman dan kolam ikan.Di garasi ada sebuah mobil terparkir.
"Mas, bagus juga rumahnya, ini ibu yang belikan?" tanyaku.
"Hmmm," jawab Mas Han singkat.
"Ini belinya pakai uang ibu mas?" tanyaku lagi.
"Hmm."
"Jawabanmu menyebalkan, cuman hmmm...hmmm, aku kan ingin tahu lebih banyak, misalnya kamu ikut memilihkan waktu beli atau___"
"Rum...," aku langsung menutup mulutku, alarm nya sudah bunyi, dari pada kena sembur mending aku diam.
Petugas keamanan yang tadi membukakan pagar menyapa Mas Han hormat, "Silahkan masuk Pak," oh disini sepertinya sudah sedikit modern, tandanya tadi Mas Han dipanggil dengan sebutan pak bukan Ndoro, andai di rumahku juga bisa begitu.
Mas Han mengangguk. Di ruang tengah terdengar dua orang sedang berbincang, "kamu harus ingat Nduk, janjimu dulu sebelum menikahi anaknya Yu Ajeng. Apapun yang kamu terima, harus kamu berikan untukku sebagian."
Mas Han menahan langkahnya, tanganku ditarik sedikit, membuatku terpaksa ikut berhenti. Diam-diam kami duduk di ruang tamu dibalik dinding ruang tengah. Dimana kami bisa mendengar semua perbincangan yang terjadi antara Sekar dan sepertinya dengan lek Broto.
"Iya, paklik jangan kuatir, kalau sekarang saya masih berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Mas Nehan dulu lek."
"Kamu harus pandai-pandai mencuri dan mengikat hati anak itu nduk. Nehan itu hatinya lemah, selalu nurut sama ibu dan istrinya, jadi kamu juga musti bisa mengambil hatinya Rumi sama Yu Ajeng juga nduk."
__ADS_1
Ekspresi Mas Han mengeras, terkejut mungkin, sama terkejutnya denganku. Aku tidak mengira kalau Sekar...bukan hanya Sekar, tapi Lek Broto juga, ingin memperoleh keuntungan dari kami.
Tangan yang tadinya menggenggam tanganku sekarang mengepal keras. Aku memberi tanda dengan mataku dan ucapan tanpa suara, "sabar," aku elus punggung tangannya agar dia tidak marah.
"Kalau bisa kamu minta beberapa aset tanah dan rumah dari suamimu dan ibu mertuamu."
"Pelan-pelan paklek, tidak bisa langsung minta banyak begitu, kalau terlalu kentara kita bisa kena masalah."
"Tapi paklek, sebenarnya saya hanya ingin kuliah ke luar negeri paklek, saya merasa itu sudah cukup buat saya."
"Ya tidak bisa...enak saja kamu, ingat perjanjian mu denganku dulu. Sekarang ketika kamu sudah enak malah mau melupakan jasaku, enak saja."
Kami menunggu jawaban Sekar, tapi sunyi, Sekar tidak menjawab. Aku ingin melihat ekspresi wajah mereka tapi Mas Han menolak ketika aku ajak untuk masuk ke ruang tengah. Matanya nyalang memerah. Ah...Sekar kamu mencari masalah kalau begini ceritanya.
"Kita pulang Rum!" aura gelap menyelimuti wajah Mas Han.
Aku tidak bisa lagi menolak. Tanganku saja ditarik sedikit kasar, aku sampai terhuyung mengikuti langkah suamiku. Aku pikir Mas Han akan langsung mengajakku pulang, tapi aku salah. Dia menarikku ke ruang tengah dan berdiri di depan Sekar dan Lek Broto.
Paklek Broto dan Sekar terkejut melihat kemunculan kami, keduanya langsung berdiri, "Mas Nehan..." wajah Sekar pias. Aku kasihan melihatnya, lagi pula aku tidak mau kehamilan Sekar bermasalah karena tertekan.
"Jadi ini rencana kalian?" suara Mas Han rendah dan dalam, mungkin dia tidak sadar kalau tanganku sakit karena genggamannya.
"Minggir Rum," tangannya dihentakkan, tubuhku terseret kesamping.
Lebih baik aku diam, kalau meredakan amarahnya sekarang, pasti tidak akan berhasil.
Tidak ada sepatah kata yang diucapkan suamiku. Dia hanya berdiri tegap menatap tajam pada Lek Broto dan Sekar. Dalam hati aku berdoa, lebih baik kalian diam, jangan mengucapkan apa-apa lagi.
"Kamu salah dengar Han," Lek Broto berusaha membela diri. Kenapa kamu bicara lek? cari perkara kamu lek.
"Salah dengar?...salah dengar?!" suara Mas Han keras menggelegar memenuhi ruangan, aku sampai berjingkat karena terkejut.
"Maksud paklek, biar Sekar nabung untuk beli aset buat anaknya kelak," sudah paklek diam, paklek akan memperburuk keadaan kalau terus menjawab.
"Mas, lebih baik kita pulang," kali ini lebih baik diajak pulang. Meskipun Sekar terlihat berdiri tenang aku yakin dia ketakutan, buktinya dia diam, sama sekali tidak menjawab
Mas Han memandangku marah, "jangan memintaku datang lagi kesini Rum, jangan lagi!..." Mas Han memutar badan menarik tanganku dan kami pergi begitu saja, padahal aku ingin sekali memegang perut Sekar yang sedang mengandung.
Selama perjalanan pulang Mas Han terus cemberut, mukanya ditekuk, wajahnya memerah, "benar-benar merusak akhir pekanku saja."
__ADS_1
"Mas..."
"Jangan katakan apapun Rum, lebih baik kamu diam."
"Aku cuman mau bilang, aku ingin makan es krim di kedai es krim langganan kita, mas, nggak boleh juga? Ya sudah aku akan diam, dan nggak akan bicara lagi."
Mas Han menarik napas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat, seakan ingin membuang semua jengkel dihatinya bersama dengan hembusan napasnya.
"Gitu amat napasnya?" ucapku berusaha mengurai amarah yang menguasai hati suamiku.
"Kamu kan tadi bilang mau diam Rum?" intonasi suaranya merendah, lebih lembut.
"Iya, ya...lupa, habis sebelahku ada orang yang tiup napasnya kuat banget, aku takut tertiup, terus keluar lewat jendela mobil," aku memang membuka jendela mobil sedikit meskipun AC sudah menyala.
"Tutup jendelanya Rum, ozon bisa lubang kalau udara AC keluar ruangan."
"Iya, aku tutup, tapi suhunya didinginkan dulu, meskipun AC nya nyala kalau ada orang yang hawanya panas, udaranya jadi ikut panas tahu mas, makanya aku minta ke es krim biar adem."
"Iya...kita ke es krim," akhirnya suara Mas Han kembali normal, dia kemudian melanjutkan, "katanya mau diam malah nyerocos dari tadi," kata mas Han berbisik.
"Apa mas?" tanyaku pura-pura tak mendengar.
"Nggak apa-apa."
Lembayung senja menggantung di cakrawala. Kala burung kembali pulang untuk menemui anak-anaknya, aku malah melihat sekumpulan anak manusia keluar menjelajahi malam. Apa yang mereka cari, jati diri, cinta yang hakiki? Bohong kalau mereka bilang bisa mendapatkan semua itu di jalanan. Karena ketenangan hati hanya ada di rumah ketika bersama keluarga.
Seperti sekarang, ketika kekasihku merajuk karena emosi, hanya aku yang bisa menurunkan temperatur hati yang hampir membakar diri. Apalagi di depan kami ada es krim pelangi yang akan membantu mengembalikan kendali yang tadi hampir pergi.
...***...
Es krimnya...es krim, biar seger. Yang lagi marah, biar marahnya menguap kena dingin. Yang lagi kepanasan dan berkeringat, biar badannya segar lagi.
Kalau sudah makan es krim, jangan lupa klik like dan komen yak...
Terimakasih sudah bersedia mampir dan membaca novel dari penulis yang baru lahir ini.
Semoga ceritanya bisa menghibur, karena kalau mau diambil pelajaran di dalamnya, rasanya sangat jauh dari sempurna.
Love U all gaess 🥰😘
__ADS_1