Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 99


__ADS_3

Aku sedang bercanda dengan anak-anak panti ketika Suster Eny tergesa mendekati aku. Wajahnya sedikit pias, seperti baru saja melihat hantu.


"Bu, saya ingin bicara."


Dia berbisik dekat sekali dengan telingaku. Ada apa gerangan, apa yang begitu penting hingga dia memasang wajah serius seperti itu.


"Kita ke ruangan saya."


Aku mendahului berjalan, suster Eny mengikuti dari belakang. Selama menuju kantor kami tidak saling bercakap-cakap, karena meskipun aku sangat ingin tahu, aku berusaha untuk menahan diri.


"Duduk, suster."


Tanpa menunggu diminta kedua kali, suster Eny menempatkan dirinya di depanku.


"Ada apa, sepertinya penting sekali?" tanyaku.


"Wajah suster juga tidak seperti biasanya. Suster habis kena copet atau ketemu penjahat?"


Wanita yang sedang duduk di depanku ini menghela napasnya dalam.


"Saya bertemu dengan orang yang saya hindari Bu."


Aku mengernyit, belum paham apa yang dimaksud suster Eny. Orang siapa, yang mana? Rupanya suster Eny bisa meraba apa yang ada di benakku.


"Wanita yang datang mencari ibu beberapa waktu lalu."


Aku langsung ngeh siapa yang dimaksud perawat ini.


"Sekar?" ucapku ragu-ragu.


Suster Eny mengangguk. Dia menampakkan wajah tidak sukanya di depanku.


"Apa yang dia inginkan? sebenarnya ada ikatan apa antara Anda dengan wanita itu suster?"


Kalau memang benar wanita yang ada di depanku ini butuh perlindungan, paling tidak aku harus tahu ada ikatan masa lalu apa diantara keduanya. Tidak mungkin seseorang menghindari orang lain tanpa sebab.


"Dia meminta saya melakukan sesuatu dan mengancam saya."


Wajahnya makin menunduk. Bahkan dagunya hampir menyentuh leher. Dari sudut pandang ku sepertinya Suster Eny sedang menata hati sebelum mengungkapkan isi hatinya.


"Saya menunggu."


Dia mengangkat wajahnya dan mulai bercerita.

__ADS_1


"Sebelum saya bercerita, saya akan menerima segala konsekuensi yang harus saya terima. Tapi jangan pisahkan saya dari Lita."


Hatiku berdebar mendengar kata-kata suster Eny. Jangan-jangan apa yang selama ini aku pikirkan benar adanya. Tapi aku mengangguk saja, agar aku tahu yang sebenarnya terjadi.


"Saya bertemu dengan Bu Sekar pertama kali ketika dia kontrol kandungannya, kandungannya sudah berusia sekitar tujuh atau delapan bulan."


"Dia berangkat sendiri tanpa suaminya. Dia bilang suaminya tidak peduli dengannya atau anaknya."


"Disitulah kami berkomunikasi pertama kali. Ketika menjelang melahirkan dia menawarkan sebuah pekerjaan kepada saya."


Aku masih mendengar ceritanya dengan sabar dan tidak menyela sama sekali. Aku biarkan suster Eny mengungkapkan semuanya.


"Waktu itu saya tergiur dengan uang yang ditawarkan jadi saya melakukan apa yang diminta nyonya muda itu."


Suster Eny kembali menunduk, "sebuah tugas yang saya sesali kemudian."


Aku masih menunggu dengan sabar, aku membiarkan setiap kali suster Eny berhenti bercerita, untuk menata hati.


"Dia meminta saya menyembunyikan anaknya untuk sementara, agar suaminya tidak lagi kembali ke istri pertamanya yang juga sedang hamil."


"Dia meminta saya berbohong dengan mengatakan kalau anaknya sakit dan tidak bisa dibawa pulang."


"Ketika melihat bayi mungil itu untuk pertama kali, saya langsung jatuh cinta padanya. Saya pikir dia tidak akan bisa tumbuh dengan jiwa yang sehat jika dirawat oleh seorang ibu yang mentalnya labil. Bagaimana bisa Nyonya Sekar meminta saya untuk melakukan kebohongan dengan mengorbankan anaknya hanya untuk mencari perhatian suami."


"Saya ingin merawat bayi cantik itu, toh ibunya tidak mencintainya dengan tulus. Kebetulan waktu itu ada seorang bayi yang ditinggalkan ibunya meninggal dunia, jadi saya bilang pada nyonya Sekar kalau anaknya meninggal dunia."


"Saya berjanji untuk merawat bayi cantik itu dengan baik dan anak yang meninggal juga mendapatkan pemakaman yang layak."


Dadaku berdebar cepat, membayangkan Lita adalah gadis kecil yang seharusnya waktu itu akan menjadi anakku sekarang ada disini bersamaku. Gadis kecil yang dalam mimpiku memegang erat tanganku dan memintaku untuk tidak meninggalkannya, dia sekarang ada disini.


Air mataku mengalir deras. Aku tak mendengar kalimat suster Eny selanjutnya. Yang ada aku berlari kencang meninggalkan suster Eny sendiri dalam ruangan ku.


Anakku ada disini, anak yang pernah kunantikan kehadirannya ada di dekatku.


Langkahku berhenti di depan pintu ruang bermain. Aku pandang lama Lita yang sedang bermain dengan bonekanya. Gadis kecil yang sekarang sudah berusia tiga belas bulan itu tertawa riang.


Aku mendekat dengan langkah perlahan. Meraih tubuh mungil itu dan menciuminya, "anaknya bunda," tangisku makin keras, air mataku mengalir makin deras.


"Ibu, napa anis?" suara lucu itu menegurku karena aku menangis sambil memeluknya. Yang bisa aku lakukan hanya menggeleng dan makin mengeratkan pelukan.


Suster Eny berdiri di belakangku, aku masih memandang gadis kecilku ketika aku bicara padanya, "suster tahu apa yang suster lakukan adalah sesuatu yang melawan hukum?"


"Saya tahu, Bu."

__ADS_1


Aku memutar tubuh dan menatapnya tajam, "Suster siap dengan konsekuensi atas apa yang suster lakukan?"


"Maafkan saya Bu, jangan pisahkan saya dari Lita."


Aku menarik napas untuk menata hati karena kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun. Yang mencegahku langsung memanggil polisi adalah kondisi Lita yang dirawat dengan baik. Selain itu aku juga ingin Sekar menerima akibat dari rencana buruknya. Dia tidak bisa lepas tangan dari masalah ini.


"Bantu saya membongkar semuanya. Saya tidak akan memisahkan anda dari Lita. Tapi tanggung semua akibat perbuatan anda ini suster Eny, kalau anda mendapat hukuman terimalah dengan ikhlas, kemudian kembalilah kesini suatu saat nanti. Saya pastikan Lita akan tetap mengingat anda sebagai ibunya, tapi mulai sekarang Lita akan berada dalam pengasuhan saya."


Suster Eny mengangguk, aku tahu dia begitu mencintai Lita, tapi apapun alasannya dia sudah melakukan tindakan melanggar hukum. Dia sudah merenggut kebahagiaan Lita untuk bersama dengan keluarga yang akan mencintainya. Dia menjauhkan seorang bayi dari kasih sayang orang tuanya.


"Saya akan bantu membongkar semuanya Bu, tapi biarkan Lita tetap disini bersama saya."


Tidak tega juga melihat wajahnya yang memelas. Tapi aku tidak bisa mempercayainya lagi, siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Bisa saja dia membawa Lita lari secara diam-diam di malam hari.


"Saya tahu ibu meragukan saya," matanya mulai menumpuk embun.


"Saya ingin Lita mendapatkan yang terbaik, saya janji tidak akan membawanya lari lagi. Toh sekarang perbuatan saya sudah terbongkar. Saya hanya akan menjadi buronan dan menyusahkan Lita kalau melarikan diri Bu."


Aku menggendong dan memeluk Lita erat dalam dekapan. Memandang suster Eny penuh kecurigaan. Tapi aku akhirnya luluh ketika mendengar suara kecil Lita.


"Ibu, napa anis?" gadis kecilku ini menggerak-gerakkan tubuhnya, "Ita mau tuyun, ibu Ita anis."


Melihat suster Eny menangis, Lita mulai ikut menangis dan makin lama makin kencang, "ibu napa, ibu."


Akhirnya aku turunkan Lita, dia memeluk kaki suster Eny, masih dengan sesenggukan meminta suster Eny untuk berhenti menangis.


"Baik, saya akan belajar mempercayai anda. Tapi kalau sampai anda berulah lagi, saya akan jadikan anda buronan seumur hidup anda sampai tertangkap."


Suster Eny mengangguk, Lita memeluknya erat, tidak rela rasanya melihat gadis kecilku berada dalam pelukan orang lain.


"Dan ingat janji anda untuk membantu saya membongkar semua kejahatan yang dilakukan Sekar. Anda juga harus mempertanggungjawabkan semua dosa masa lalu anda."


"Baik Bu, saya janji."


Dengan langkah berat dan hati terpaksa aku meninggalkan Lita bersama suster Eny. aku bergegas menuju ruangan ku, menenangkan diri. Memikirkan langkah apa yang musti aku ambil selanjutnya.


Kalau aku memberitahu Mas Han, aku tidak yakin dia bisa berpikir waras dan mampu menahan diri. Akhirnya aku menelepon Yuni dan Mas Juna untuk datang besok. Rundingan dengan mereka dulu. Tapi aku juga akan menghubungi mantan suamiku untuk datang di waktu yang berbeda, biar Mas Juna yang memberi tahu. Aku yakin Mas Juna bisa lebih bijak menyampaikan karena sesama lelaki. Ya begitu saja.


Aku menghubungi mereka semua. Mas Juna dan Yuni aku minta untuk datang pagi. Sedangkan Mas Han aku minta untuk datang agak siang. Untungnya ketiga orang itu tidak sedang sibuk. Aku juga bilang kalau masalah yang akan aku bicarakan sangatlah penting, menyangkut nyawa seseorang.


Semoga besok setelah kami berempat bertemu, bisa menemukan jalan terbaik. Semua orang harus menerima balasannya sesuai dengan apa yang dilakukan.


Sekarang aku hanya ingin melihat gadis kecilku sepuasnya. Air mata ini masih terus menetes membasahi pipi. Lihatlah bagaimana takdir Tuhan kembali mempertemukan kita nak. Meskipun aku marah, tapi aku juga berterima kasih pada suster Eny yang sudah merawatmu dengan baik. Jadi aku akan membiarkan kamu mengingat jasanya dan memanggilnya dengan sebutan ibu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2