
Tubuhku lemas, aku duduk di bangku yang terletak didepan kamar perawatan.
"Ndoro Putri tidak masuk? buat apa duduk disini?" Pak Dul melangkah maju untuk membuka pintu, aku menyergap tangannya, yang aku yakin membuat Pak Dul terkejut dan langsung menarik tangannya dari genggamanku.
"Tunggu sebentar disini," pintaku.
Aku menarik napas beberapa kali, meskipun berat aku putuskan untuk pura-pura tidak tahu.
"Mas...," aku masuk dan sengaja membuat suara untuk mengejutkan.
Sekar tidak tampak terkejut, dia kikuk aku tahu, sedangkan Mas Han terlonjak dan dengan satu gerakan cepat dia menjauh dari Sekar.
"Rum," Mas Han mengulurkan tangannya seperti biasa, tapi kali ini aku tidak punya keinginan untuk menyambut tangan itu. Aku hanya meliriknya sekilas, dan melewatinya begitu saja.
Jangan harap aku akan mendekati mereka berdua, untuk berpamitan pun aku sedikit memberi jarak, "aku pulang dulu," mataku menatap Sekar tajam.
"Kamu mau ikut pulang atau masih mau disini mas?" ucapku tanpa melepas pandanganku pada maduku itu.
"Aku...mmm...aku."
Aku putar tubuhku menghadap Mas Han, "sepertinya kamu masih ingin berada disini, baik, aku akan pulang dengan Pak Dul, kamu tunggu disini dulu siapa tahu ada obat yang harus ditebus."
"Iya Rum begitu saja."
"Mas, sebaiknya kamu pulang, sudah ada Siti yang menemaniku disini," suara Sekar makin membuatku emosi, aku yakin dia hanya ingin mencari simpati tapi aku harus menahan diri.
"Haruskah?" aku menunjukkan kekecewaanku pada nada suara yang kubuat sinis, dasar wanita munafik, umpatku dalam hati.
Tak berapa lama Pak Dul memasuki ruangan, "kita pulang saja dulu Ndoro Putri, kasihan Ndoro Sekar kalau ditinggal sendiri, biar Ndoro Kakung disini dulu. Perempuan itu kalau sedang hamil pengennya ditungguin sama suami, istri saya dulu juga begitu waktu hamil anak saya yang pertama."
Ah...Pak Dul, amarahku menguap seketika. Kalimat lelaki setengah baya abdiku itu membuatku sadar kalau Sekar juga memiliki hak yang sama denganku.
"Kita pulang Pak Dul," aku mengambil langkah cepat keluar ruangan. Tidak lagi berpamitan pada Mas Han ataupun mengucapkan kata perpisahan pada Sekar. Kepalaku pusing, otakku tidak bisa diajak berpikir lurus.
"Mari Ndoro Putri."
Mas Han mengejarku, "Rum...," dia meraih tanganku dan menahan langkah cepatku.
Aku menyentakkan tangannya kasar sampai tanganku terlepas dari genggamannya. Tidak ada kata yang mampu keluar dari bibirku. Yang kulakukan hanya memandang wajah Mas Han dengan rasa kecewa yang begitu besar.
Aku berputar dan kembali masuk ke dalam kamar, mendekati Sekar kemudian berbisik tepat di telinganya, "aku tidak ingin Mas Han tahu kalau aku tadi melihat apa yang kalian lakukan."
"Rum..." Mas Han mengejarku kedalam kamar, ketika dia masuk aku sudah kembali melangkah keluar.
"Rum...," aku tinggalkan suamiku dengan teriakannya, aku butuh waktu untuk memahami dan menerima semua ini dengan baik.
__ADS_1
"Ayo Pak Dul," Pak Dul mengejar langkahku yang membuatnya setengah berlari.
Entah dari mana energi yang aku punya sekarang, mungkin karena emosi, adrenalin memberiku energi tambahan untuk memacu langkah.
Setelah berada di dalam mobil, aku lagi-lagi menangis. Rasanya dadaku begitu penuh hingga membuat napasku sesak. Padahal kalau dipikir mereka berdua sudah melakukan lebih dari sekedar berciuman, tapi ketika melihatnya langsung seperti tadi, rasanya hatiku ada diatas talenan dan sedang dipotong kecil-kecil, sakit.
"Kenapa Ndoro Putri nangis lagi?" tanya Pak Dul yang melihatku menangis dari kaca spion.
Aku menggeleng, tenggorokanku tercekat, aku tidak mampu berkata-kata. Aku hanya ingin pulang dan bersembunyi di kamarku. Bodoh, harusnya aku lebih kuat dari ini, harusnya aku tahu kalau ini akan terjadi. Laki-laki itu nalarnya hanya sepanjang kejantanannya, bilang setia tapi kesetiaan hakiki terletak pada nafsu birahinya.
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar, duduk di depan kaca rias dan melihat bayanganku sendiri di cermin. Mata sembab, rambut berantakan, terlihat menyedihkan.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku, Mbok Nah masuk tanpa kuminta, "Ndoro Putri baiknya mandi dulu, biar segar, lanjut sholat ashar terus istirahat."
Abdiku itu membuka almari mengambil sebuah daster tanpa lengan dengan potongan leher rendah, "biar badannya enteng, semua beban hilang, pakai baju yang kainnya adem dan nyaman."
Mataku mengikuti pergerakan Mbok Nah, mulai mengambil dan memilihkan baju, menyiapkan handuk untuk mandi dan memintaku untuk istirahat.
"Pak Dul cerita apa sama Mbok Nah?" tanyaku.
"Tidak cerita apa-apa, cuman bilang kalau Ndoro putri nangis setelah bertemu sama Ndoro Kakung dan Ndoro Sekar di rumah sakit."
"Saya baik-baik saja Mbok," aku berdiri mengambil baju dan berjalan menuju kamar mandi.
"Hehehe," kupaksakan diriku untuk tertawa, "dia tidak akan datang Mbok."
"Percaya sama saya, sebentar lagi Ndoro Kakung akan datang, apapun yang dilihat Ndoro Putri tadi jangan dijadikan ganjalan dalam hati."
"Mbok Nah sok tahu, memang apa yang saya lihat?" tanyaku.
"Saya tidak tahu Ndoro, tapi pasti sesuatu yang tidak mengenakkan, ya sudah, Ndoro mandi dulu, percaya kata-kata saya, Ndoro Kakung itu persis bapaknya, dan saya hafal bagaimana dulu sikap Ndoro sepuh Kakung sama Ndoro sepuh putri."
Aku berlalu masuk kamar mandi. Menutup dudukan kloset dengan baik dan duduk diatasnya. Otakku berusaha merangkai cerita bagaimana tadi Mas Han dan Sekar bisa sampai berciuman. Sekar yang minta kah? atau Mas Han yang memaksa. Atau memang keduanya sama-sama mau.
"Arghh..." menyebalkan, aku mengacak rambutku sendiri.
Aku berdiri dibawah shower, berusaha menghapus bayangan dua manusia yang sekarang sedang bersama itu dari dalam tempurung kepalaku. Aku harus kuat, ini pertarungan ku, dan aku yakinkan aku akan menang.
Baju yang disiapkan Mbok Nah memang nyaman, tanpa lengan, kainnya pun jatuh mengikuti bentuk tubuhku. Aku juga meninggalkan penutup dadaku, biar sesak yang tadi aku rasakan menghilang jadi aku bisa bernapas lega.
Setelah selesai membersihkan diri, aku rebahkan diriku di tempat tidur, mencoba memejamkan mataku yang lelah. Belum juga mataku terpejam aku dengar suara seseorang membuka pintu.
"Mbok Nah boleh istirahat, saya tidak butuh apa-apa lagi," ujarku tanpa melihat siapa yang datang. Aku berbaring memiringkan badanku menghadap dinding, posisi favoritku.
Aku mendengar langkah kaki mendekat, "saya mau istirahat mbok," tidak ada jawaban.
__ADS_1
Karena tidak menjawab akhirnya aku memutar posisi untuk melihat siapa yang datang, "Mas Han?"
"Kenapa kamu tadi tidak menungguku Rum?"
Aku tidak menjawab, reflekku memintaku untuk kembali menghadap dinding.
"Kamu marah sama aku?" tangan Mas Han menyentuh bahuku, perlahan aku menggerakkan lenganku, aku tak ingin disentuh.
Suara hembusan napas Mas Han terdengar sampai telingaku, membuat aku tidak tega untuk terus marah. Tak lama kemudian aku mendengar langkah kaki mas Han menjauh, membuka almari, mungkin mengambil baju, dan terakhir suara pintu kamar mandi ditutup.
Untuk sekejap tadi aku menahan napas, sekarang aku akan mengambil oksigen sebanyak yang aku mau. Kalau nanti Mas Han mendekat apa yang harus aku lakukan?
Aku baru ingat kalau aku tidak mengenakan penutup dada, tergesa-gesa aku bangun mengambil salah satu bra di almari untuk ku pakai, aku tidak mau dianggap menggoda dengan pakaian tipis begini. Daster yang aku pakai aku tarik ke atas, ketika posisi tanganku diatas kepala aku dengar pintu kamar mandi terbuka.
"Berhenti Rum."
Berhenti, apa maksudnya? aku melepaskan tanganku, kain dasterku kembali jatuh ke bawah menutup sempurna tubuhku yang tadi sempat terbuka.
"Kenapa bajunya tidak jadi dilepas?"
"Karena kamu keluar kamar mandi mas," jawabku.
"Sejak kapan keberadaan ku membuatmu urung membuka baju?"
Ini akan menjadi hari yang melelahkan. Aku yang tidak ingin disentuh sedangkan Mas Han sedang memendam gairah di tubuhnya, aku tahu dari nada suaranya.
"Jangan mendekat mas, aku lelah."
"Aku menginginkanmu Rum."
Kupejamkan mataku, bingung harus apa dan bagaimana.
"Aku pernah bilang kan Rum, kalau kamu adalah tempat favoritku untuk pulang dan kembali."
"Jangan menolak ku," Mas Han berjalan mendekat kemudian memelukku dari belakang.
"Aku takut kamu menghilang lagi waktu tadi kamu meninggalkan aku di rumah sakit Rum," tubuh bodohku tidak bisa menolak tiap sentuhan dari Mas Han meskipun hatiku inginnya tidak mau.
Ah...aku menyerah, aku terlalu mencintai laki-laki ini dan terikat padanya. Lagi pula aku yang membuatnya menikah lagi. Semua resahku hilang setelah Mas Han memelukku. Toh wanita itu akan pergi nanti setelah bayinya lahir.
...***...
Ada saat-saat dimana cinta memang membuat kita bahagia, tapi jangan karena itu kita bertindak bodoh, apalagi melakukan sesuatu diluar nalar dengan mengatasnamakan cinta.
Dan jangan pernah takut untuk pergi ketika cinta tidak menghargaimu lagi
__ADS_1